
Apakah yang anda lihat ketika anda melihat diri anda sendiri? Apakah anda menemukan diri anda sebagai seseorang yang membutuhkan pengampunan dari Allah? Benarkah jika anda memang membutuhkan seorang Juru Selamat?
Mungkin saja anda telah dibaptis ketika anda masih kanak-kanak, atau bahkan ketika anda bayi. Atau mungkin anda bahkan sudah lupa kapankah anda dibaptis. Sekarang yang harus dipertanyakan adalah apakah baptisan anda memang sudah layak dan dapat diterima dihadapan Allah? Ini adalah suatu pertanyaan penting yang harus dijawab karena keselamatan anda benar-benar bergantung kepada jawaban yang anda dapatkan dari pertanyaan ini!
Pundak pria besar yang duduk di ujung meja mulai terguncang dan berputar. "Saya telah melanggar setiap perintah Allah," ia menangis. "Saya butuh untuk dibaptis!" Pria ini, seorang veteran Perang Dunia II dan bekas seorang Angkatan Laut, dengan sangat dalam menyadari bahwa ia adalah seorang pendosa yang sangat membutuhkan keselamatan. Sejalan dengan seorang anak muda berusia 20 tahun yang ada dibangku kuliah melaksanakan suatu tur pembaptisan, saya benar-benar terkesima dengan kesungguhan sikap pria ini akan betapa butuhnya dirinya untuk mendapatkan baptisan. Ia benar-benar meneliti dirinya, dan benar-benar membenci apa yang ia lihat dari dirinya sendiri! Ia menyadari tentang betapa ia membutuhkan seorang Juru Selamat.
Bagaimanakah dengan anda? Apakah yang anda temui ketika anda meneliti dan melihat diri anda sendiri? Seberapa perlunya anda membutuhkan pengampunan Allah? Apakah anda adalah orang yang telah mengarahkan kehidupan anda kepada kehidupan "yang sangat baik"? jika ya, apakah baptisan memang diperlukan untuk anda? Apakah anda, secara pribadi, memang membutuhkan seorang Juru Selamat?
Mungkin pada saat ini anda telah dibaptis. Mungkin baptisan anda tersebut terjadi ketika anda masih kecil, dan anda bahkan pada saat ini sudah tidak ingat lagi kapan sesungguhnya baptisan itu terjadi. Atau mungkin anda dibaptis ketika anda sudah dewasa yaitu ketika anda memutuskan "untuk hidup di dalam Kristus". Sekarang anda juga perlu menanyakan apakah baptisan anda sesungguhnya sudah benar-benar layak di hadapan Allah? Hal ini adalah sangat penting oleh karena keselamatan anda bergantung dari jawaban atas pertanyaan ini.
Memahami apakah baptisan yang pernah kita lakukan tersebut memang layak dan diterima di hadapan Allah adalah amat penting untuk disadari melihat suatu kenyataan bahwa sebagian besar umat manusia di bumi ini, bahkan yang sangat rohani sekalipun, ternyata telah DISESATKAN. Rasul Yohanes mendapatkan wahyu untuk menyatakan Setan sebagai "Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia" (Wahyu 12:9 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Adalah sulit bagi kebanyakan orang untuk benar-benar memahami, menyadari, dan bahkan mengakui bahwa mereka sesungguhnya telah benar-benar disesatkan untuk mengikuti doktrin-doktrin dan praktek-praktek keagamaan yang salah.
Oleh karenanya kita perlu untuk sangat berhati-hati dan dengan pikiran terbuka memperhatikan, meneliti dan membandingkan apa yang pada hari ini disebut dengan "kekristenan" dengan seluruh teladan-teladan dan ajaran-ajaran Yesus Kristus yang sesungguhnya. Jika anda melakukannya maka anda akan dengan cepat melihat suatu perbedaan yang BESAR, seperti apa yang dijelaskan oleh Dr. Rufus Jones: "Jika dengan bersungguh-sungguh Kristus telah diteladani oleh pengikutNya sebagai model dan cara hidup yang baru, dan suatu usaha yang serius telah dilakukan untuk menegakkan dan menjalankan kehidupanNya dan ajaranNya secara bersungguh-sungguh sebagai standar dan norma bagi Jemaat, maka dunia Kekristenan akan sebenarnya menjadi sangat berbeda dari apa yang ada jadinya pada saat ini. Segala hal klenik pasti tidak akan masuk seperti apa yang terjadi pada saat ini di dalam dunia "kekristenan", suatu hal yang akhirnya menyimpangkan kebenaran dari jalanNya, ajaranNya, rohNya, kerajaanNya." (The Church's Debt to Heretics, hal 15).
Kalau memang apa yang pernah diajarkan oleh Yesus dan para rasul tidak dapat mewakili "standar" bagi Kekristenan yang benar, maka apakah standarnya? Apakah hal ini adalah perihal yang sering menjadi bahan kontroversi yaitu para "bapa" dari Jemaat Katolik Roma selama zaman-zaman kegelapan/Dark Ages? Ingatlah bahwa Yesus sendiri memperingatkan dengan sangat khusus tentang pemimpin agama yang sesat. Ia mengatakan, "Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." (Matius 15:14 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Ketahuilah bahwa saya tumbuh berkembang dengan tanpa mengetahui apa-apa tentang kebenaran dari Alkitab. Saya dulu adalah penganut gereja Protestan. Saya adalah pemimpin sekolah Minggu. Kedua orang tua saya bahkan mendapatkan pembiayaan pendidikan mereka untuk bersekolah dari gereja yang selalu kami datangi tersebut. Meskipun begitu saya tidak pernah mengetahui tujuan yang sesungguhnya dari keberadaan manusia di bumi ini, bahkan saya sangat menolak dan tidak tertarik akan nubuatan akhir zaman di dalam Alkitab dan saya juga tidak pernah diajarkan tentang kekuatan Roh Kudus untuk mengubah kehidupan kita dan bagaimanakah kita dapat membuat Yesus Kristus untuk menghidupkan kehidupanNya di dalam diri kita! (lihatlah Galatia 2:20). Menakjubkan memang, bagaimanapun juga, pada waktu itu saya dikatakan oleh teman-teman saya sebagai anak yang paling "berpengetahuan" dibandingkan dengan mereka di dalam hal Alkitab dan hal-hal rohani lainnya. Mereka dari kalangan remaja yang rajin ke gereja sering bertanya kepada saya tentang berbagai macam pertanyaan dan seperti yang tadi telah saya katakan bahwa kita kebanyakan bingung tentang perihal tujuan dari keberadaan manusia.
Saya dibaptis ketika saya masih bayi dan tidak berdaya, bahkan pada saat itu saya tidak dapat membedakan mana tangan kanan dan kiri saya, jadi apakah saya pada saat itu sesungguhnya dapat memahami arti dosa dan benar-benar bertobat dari dosa-dosa saya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat? Sehingga pada saat itu apakah saya seorang Kristen yang benar dengan baptisan masa kecil saya?
Tentu saja tidak!
Di dalam jemaat Protestan yang terkenal tersebut saya adalah seperti jutaan orang yang disesatkan lainnya yang tumbuh di dalam "gereja pilihan mereka", TIDAK PERNAH bahkan mempertimbangkan apakah gereja yang saya ikuti tersebut adalah Jemaat Allah yang benar dan apakah mereka benar-benar mengajarkan kebenaran Allah yang sesungguhnya dan bukannya ide-ide dan imajinasi-imajinasi dari manusia yang disesatkan. Untunglah ketika saya berada di akhir usia remaja saya Allah ternyata mulai membuka pikiran saya kepada suatu pengetahuan dan pemahaman tentang apakah yang dimaksud dengan agama yang benar tersebut. Agaknya dari pada sekedar hanya membaca Injil atau Mazmur untuk mendapatkan "inspirasi", saya kemudian mulai MEMPELAJARI Alkitab sama seperti orang yang mempelajari buku sejarah atau buku fisika atau buku kimia, artinya saya kemudian menjadi sangat serius mempelajari Alkitab. Saya memohon kepada Allah agar Ia memberikan kepada saya pemahaman. Selama berbulan-bulan saya tetap membaca, menandai, membaca kembali dan merenungkan seluruh Wasiat Baru, dan kemudian Wasiat Lama, dan mencoba untuk memahami apakah yang sesungguhnya diajarkan oleh Yesus Kristus!
Di dalam saya benar-benar mempelajari Alkitab itulah saya akhirnya mulai memahami bahwa Kekristenan yang benar ternyata bukanlah kekristenan yang hanya mempercayai pribadi Yesus Kristus, tetapi yang juga mempelajari dan menjalankan PESAN Yesus Kristus. Saya menemukan bahwa seorang Kristen yang benar harus benar-benar dan membiarkan Kristus hidup di dalam diri orang tersebut melalui Roh Kudus Allah yang tinggal di dalam diri orang tersebut. Sama seperti ketika Paulus menulis, "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah" (Roma 8:14 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Juga, Paulus menyatakan, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Saya akhirnya juga mulai memahami peringatan Yesus tentang kesiaan-siaan dari mereka yang menyatakan menerima diriNya dengan menyebut namaNya: "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan" (Lukas 6:46). Dan sekali lagi: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21).
Bagaimanakah dengan anda?
Apakah Allah telah membuka pikiran anda dan menyatakan kepada anda bahwa Ia adalah Penguasa alam semesta yang nyata yang menciptakan segala sesuatu? yang mana pada saat ini Ia masih tetap berkuasa dan memimpin segala sesuatu di alam semesta ini? Apakah anda menyadari bahwa Yesus Kristus AnakNya tidak hanya datang ke dunia untuk mati bagi dosa-dosa kita tetapi juga untuk HIDUP dan yang saat ini berada di sisi kanan Allah Bapa di sorga? Sadarkah anda bahwa Kristus sesungguhnya adalah Imam Tertinggi kita yang hidup? Apakah anda memahami bahwa Yesus sesungguhnya akan menghidupkan hidupNya di dalam kita melalui Roh Kudus yang dijanjikan? yaitu JIKA kita benar-benar bertobat dan dibaptis? dan juga bahwa Kristus akan hidup di dalam diri kita dengan kehidupan yang sama yang Ia jalani ketika Ia menjadi manusia? Yaitu kehidupan yang berdasar kepada kepatuhan kepada Allah serta ketetapan dan perintahNya? Hendaklah anda melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab di dalam Ibrani 13:8, "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya".
Kita semua memang membutuhkan bantuan bahkan kita membutuhkan banyak sekali pertolongan. Pahamilah bahwa kita dengan diri kita sendiri tidak akan dapat mengalahkan kesombongan dan hawa nafsu kita, atau bahkan mengalahkan dunia dan Setan. Oleh karenanya Allah menjanjikan kepada kita suatu bantuan dan kekuatan rohani yang kita butuhkan. Yesus mengatakan, "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan dikirim oleh Bapa dalam nama-Ku, Ialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yohanes 14:26). Dan sekali lagi, "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang." (Yohanes 16:13 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Yesus Kristus datang untuk mewartakan suatu PESAN tentang kedatangan Kerajaan Allah. Injil Markus menuliskan, "Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:14-15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Untuk menjadi murid Yesus Kristus yang sesungguhnya dan untuk menerima Roh Kudus anda harus bertobat dari dosa-dosa anda dan PERCAYA di dalam Injil Yesus Kristus. Injil yang benar tentang Kerajaan Allah sesungguhnya mengikutsertakan keinginan seorang manusia untuk mematuhi hukum-hukum dari Kerajaan tersebut yaitu kesepuluh perintah. Ketika seorang pria muda bertanya kepada Yesus tentang bagaimanakah cara untuk mendapatkan hidup abadi, Yesus menjawab: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah. Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendir" (Matius 19:17-19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Disini Yesus dengan jelas menyebutkan Kesepuluh Perintah sebagai Jalan Hidup bagi mereka yang berkeinginan untuk berada di dalam KerajaanNya.
Dan sebagai Imam Tertinggi kita dan Kepala dari Jemaat, Yesus memberikan wahyu kepada rasul Yakobus untuk menjelaskan bahwa seorang umat Kristen yang benar haruslah melakukan seluruh "perihal" hukum Allah. Memanglah, kita harus hidup seperti orang yang akan dihakimi oleh kesepuluh perintah, karena memang kesepuluh perintah tersebut adalah standard dari tingkah laku orang Kristen yang benar!
Rasul Yohanes yang setia sesungguhnya telah memperingatkan mereka yang berusaha untuk "menggerojok" ajaran Alkitab yang berhubungan dengan kepatuhan akan Kesepuluh Perintah dengan mengatakan, "Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran" (1 Yohanes 2:4 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Banyak dari mereka yang mengaku sebagai umat Kristen dan pengabar Injil mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang Allah tetapi yang pada kenyatannya mereka tidak secara benar-benar "mengetahui" Allah. Hendaklah kita memahami bahwa jikalau mereka tidak dan benar-benar menyerahkan diri mereka kepadaNya dengan membiarkan Yesus Kristus untuk menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri mereka melalui Roh Kudus maka mereka tidak akan dapat pernah secara benar-benar mengetahui Allah! Tetapi jika mereka menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada Allah dengan membiarkan Kristus hidup di dalam diri mereka maka mereka akan secara perlahan merasakan karakter Allah dari dalam diri mereka dan dengan inilah mereka akan benar-benar "mengetahui" Allah.
Jadi apakah seorang umat Kristen yang benar akan selalu dapat melaksanakan kesepuluh perintah secara sempurna setiap waktunya? Tentu saja tidak! Rasul Yohanes dengan jelas menuliskan tentang umat Kristen: "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:8-9 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Kegiatan "pembersihan" diri dari dosa ini adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan secara terus menerus bagi seorang Kristen yang benar "untuk BERTUMBUH di dalam karunia dan pengetahuan akan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Orang yang baru saja bertobat dan dibaptis adalah seperti "bayi kecil di dalam Kristus" yang akan masih melakukan kesalahan di dalam kehidupannya. Bahkan kita semua yang telah menjadi umat Kristen masih akan dan dapat berbuat kesalahan. Walaupun begitu kita akan selalu bangkit dan mencoba untuk membersihkan diri kita dari dosa. Kita terkadang memang akan "keluar dari jalur", tetapi kita akan BERTOBAT setiap kalinya dengan bantuan Roh Kudus dan kembali kepada jalan kepatuhan akan Kesepuluh Perintah. Ingatlah bahwa hukum rohani Allah yaitu kesepuluh perintah adalah benar-benar jalan hidup. Orang yang sangat berkenan di hadapan Allah, "Raja Daud yang adalah raja Israel, menyatakan: "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku." (Mazmur 119:97-98 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Jika anda telah didekatkan kepada Allah melalui Roh KudusNya dan berkeinginan untuk menjadi seorang Kristen yang benar, apakah yang harus anda lakukan? Jawaban yang baik telah diberikan oleh Petrus pada hari raya Pentakosta yang pertama di zaman Wasiat Baru. Setelah memahami betapa besarnya dosa-dosa mereka, maka orang Yahudi yang telah bertobat tersebut bertanya kepada Petrus dan juga para rasul lainnya, "Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (Kisah Para Rasul 2:37-39 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Pikirkanlah secara baik-baik tentang instruksi mendasar dari Firman Allah diatas. Kita dibaptis "bagi pengampunan dosa-dosa kita." Dengan jelas, maka kita harus bertobat dari dosa.
Tetapi apakah yang dimaksud dengan dosa tersebut?
Suatu penjelasan yang jelas di dalam Alkitab dapat ditemukan di dalam 1 Yohanes 3:4, "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah". Oleh karenanya maka kita harus bertobat dari melanggar hukum rohani Allah yang tidak lain adalah keSepuluh Perintah! Dan kita juga perlu untuk menyadari bahwa Yesus Kristus datang untuk "memberikan arti yang lebih" kepada hukum Taurat dan membuatnya untuk dihormati (Yesaya 42:21). Di dalam Khotbah di Bukit, Yesus menjelaskan bahwa kita tidak hanya dilarang untuk membunuh, tetapi bahkan dilarang untuk membawa kepahitan dan kebencian di dalam hati kita, oleh karena tindakan tersebut adalah sudah termasuk melakukan sikap "membunuh" di dalam pikiran (Matius 5:21-22). Umat Kristen tidak hanya dilarang untuk melakukan percabulan, tetapi mereka bahkan dilarang "memiliki nafsu mengingini" akan seorang yang lain (ayat 27-28).
Jauh dari "memperlemah" hukum Allah, ajaran Yesus ternyata justru lebih memperkuat "Sepuluh Perintah" dan bahkan membuatnya lebih MENGIKAT!
Ingatlah bahwa hanya melalui Yesus Kristus yang menghidupkan kehidupanNya didalam diri kitalah maka kita dapat dengan lebih mencerminkan semangat dari Kesepuluh Perintah di dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang telah dinyatakan, kita harus benar-benar bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan secara terus menerus.
Melalui Roh Kuduslah maka kasih rohani Allah dapat diberikan kepada kita sehingga hal ini akan memungkinkan kita untuk dapat mematuhi hukum Allah. "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5). Sekarang apakah "kasih Allah" yang diberikan kepada umat Kristen yang benar tersebut? Bagaimanakah "kasih Allah" tersebut berfungsi? Rasul Yohanes menjelaskan, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat" (1 Yohanes 5:3).
Jadi kasih Allah yang sejati mengalir di atas landasan Kesepuluh Perintah seperti air mengalir diatas dasar sungai. Kesepuluh Perintah menceritakan kepada kita tentang bagaimanakah mengasihi Allah dan bagaimanakah mengasihi sesama. Hal ini pada kenyataannya bertentangan dengan apa yang sering diucapkan oleh para pemimpin agama. Dengan jelas di dalam ayat diatas dikatakan bahwa kesepuluh perintah tersebut tidaklah "berat". Agaknya, jika dipatuhi, kesepuluh perintah tersebut menjadi "hukum yang membebaskan" seperti yang kita baca di dalam tulisan rasul Yakobus. Perintah-perintah tersebut akan membebaskan umat manusia dari perang, tindak kejahatan, percabulan, pencurian, anak yang memberontak dan bahkan menjadi solusi bagi masalah-masalah manusia yang lainnya yaitu jika perintah-perintah tersebut dilakukan oleh semua umat manusia!
Di dalam Kerajaan Allah yang tidak lama lagi akan datang, umat manusia akan mematuhi Kesepuluh Perintah sebagai suatu jalan hidup. Itulah juga mengapa terdapat kedamaian, kemakmuran dan kesenangan di dalam pemerintahan millenium dari Yesus Kristus di bumi! "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang." (Mikha 4:1-3).
Kembali kepada khotbah Petrus pada hari raya Pentakosta yang pertama di zaman Wasiat Baru, Petrus menginstruksikan orang-orang pada saat itu untuk bertobat. "Bertobat dari dosa" berarti lebih dari hanya "menyesal". Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa pertobatan yang sebenarnya tersebut mengikutsertakan suatu pengakuan dari diri anda bahwa anda adalah benar-benar seorang PENDOSA dan bahwa anda telah melanggar dan MENGHANCURKAN hukum Allah lagi dan lagi, baik di dalam pikiran dan huruf. Hal ini berarti bahwa anda tidak hanya mengakui bahwa anda telah berbuat salah, tetapi bahwa anda memang telah bersalah! Sama seperti yang dijelaskan oleh rasul Paulus: "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik" (Roma 7:18 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Dan ia menyatakan sekali lagi, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (ayat 24-25).
Ketika anda telah sampai kepada suatu tingkat kesadaran akan pentingnya suatu pertobatan yang bersungguh-sungguh seperti ini, maka inilah saatnya anda untuk dibaptis! Anda memang butuh dengan secara jujur "menghitung biaya" sama seperti yang diinstruksikan oleh Yesus: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu" (Lukas 14:26-28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Tanyakanlah kepada diri anda sendiri: "Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah" (Yohanes 12:43 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI)?
Apakah Allah benar-benar nyata bagi diri anda? Apakah anda benar-benar menomorsatukan Allah diatas segala sesuatu? Atau apakah anda memiliki "idola" tersembunyi, sesuatu yang, pada kenyataannya, lebih anda nomorsatukan dari pada Allah serta hubungan anda dengan Yesus Kristus?
Ingatlah bahwa pertobatan berarti BERUBAH. Apakah anda, secara individu, siap untuk menerima di dalam iman pengorbanan Yesus Kristus bagi dosa-dosa anda dan kemudian benar-benar menyerahkan diri anda untuk membiarkan Kristus datang dan "mengambil alih" serta MENGUBAH seluruh hidup anda?
Alkitab telah banyak mencatat tentang kisah perubahan hidup para manusia yang sangat dramatis. Sesungguhnya bagaimanakah mereka dapat membuat suatu "perubahan" total di dalam kehidupan mereka tersebut? Dan apakah mungkin bagi anda untuk membuat suatu perubahan yang cukup besar di dalam kehidupan anda? Ingatlah bahwa sebenarnya terdapat dua kunci vital yang sering disia-siakan orang. Bahkan tidak jarang dari mereka yang telah mengetahuinya justru malah mensalah artikannya. Mereka tidak tahu peranan penting dari dua kunci vital tersebut.
Di dalam Kisah Para Rasul 2 kita akan membaca kejadian-kejadian yang terjadi disekitar masa permulaan jemaat Wasiat Baru. Simon Petrus memberikan khotbah yang sangat lantang dan tajam kepada ribuan orang yang berkerumun untuk merayakan Masa Raya Pentakosta. Beberapa dari orang-orang tersebut adalah mereka yang pada tujuh setengah minggu sebelumnya berdiri di tengah gerombolan orang banyak yang memadati Bangsal Pengadilan Pilatus. Pada saat itu mereka berteriak "Salibkan Dia!" ketika Pilatus menawarkan untuk membebaskan Yesus dari Nazaret. Sekarang, PERCAYA akan kebenaran dari pesan Petrus, mereka merasa bersalah dengan sangat atas apa yang telah dilakukan oleh mereka. Hal ini adalah suatu perasaan mendalam akan rasa "malu" dan "bersalah", yang mana kemudian mereka dengan rendah hati bertanya kepada Petrus: "Apakah yang harus kami lakukan?" (Kisah Para Rasul 2:36-39 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ia menjawab mereka dengan mengatakan bahwa mereka harus BERTOBAT. Iman dan pertobatan adalah kunci vital yang mana tanpanya maka tidaklah mungkin kita akan mengalami sesuatu perubahan yang nyata.
Iman adalah penting bagi tahapan pertobatan. Iman yang kita bicarakan disini adalah iman yang hidup dan nyata. Iman seperti ini akan memimpin seorang manusia untuk memiliki suatu pikiran dan keinginan yang mantap untuk membuat suatu keputusan kembali kepada Allah. Dengan iman seperti ini, seorang manusia akan sangat percaya kepada Allah yang NYATA dan di dalam janji-janji yang Ia buat yang tercermin di dalam tindakan! "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika kita benar-benar percaya dan bergantung kepada Allah maka Ia akan dapat membuat diri kita untuk secara benar-benar dan tanpa persyaratan menyerahkan diri kepadaNya.
Ibrani 11 sering disebut sebagai "bab iman" di dalam Alkitab. Di dalam Ibrani 11:13 kita mempelajari bahwa orang-orang beriman baik itu wanita maupun pria MELAKUKAN beberapa hal yang pasti. Yang mana dengan memahami apa yang dilakukan oleh para orang beriman tersebut maka kita akan mendapatkan suatu pemahaman akan iman yang dapat mengubah kehidupan seorang manusia. Kita diberitahukan bahwa mereka "Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini."
Pertama, kita harus melihat dan memahami janji-janji yang Allah buat, yang diyakinkan oleh baik nilai-nilai dan nyatanya janji-janji tersebut. Dan setelahnya kita harus berusaha mendapatkan dan mempertahankannya baik-baik. Ketahuilah bahwa amatlah penting dan tak ternilai bagi kita untuk memiliki dan mempertahankan janji-janji Allah tersebut. Jika kita tidak menghargai dan bersenang akan apa yang ditawarkan oleh Allah, maka kita tidak akan dapat bertahan dan bersabar ketika kita harus melalui banyak masa-masa yang naik dan turun di dalam kehidupan kita. Karena para orang beriman yang disebutkan di dalam Ibrani 11 tersebut, baik mereka yang laki-laki maupun wanita, telah mendekap dan mempertahankan dengan baik-baik apa yang telah Allah janjikan. Mereka telah menunjukkan dengan kata-kata dan tindakan bahwa mereka tidak dapat menjadi bagian dari dunia ini.
Kita tidak dapat menjadi serupa dengan dunia ini dan pada saat yang bersamaan berkeinginan untuk dapat berjalan bersama dengan Allah (Yakobus 4:4). Karena untuk menjadi serupa dengan dunia ini, maka seseorang pastilah harus terlebih dahulu memahami nilai-nilai dari dunia tersebut serta menerimanya di dalam kehidupan mereka. Yohanes menyimpulkan nilai-nilai dari dunia ini didalam "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:16 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ingatlah bahwa zaman ini beserta segala kebobrokan dan kemerosotan nilai-nilai yang ada didalamnya sudah pasti akan berlalu. Yang mana kemudian akan digantikan dengan dunia yang baru yang akan datang berdasarkan nilai-nilai abadi. Dunia yang baru tersebut, dunia yang akan datang, akanlah menjadi dunia yang permanen.
Oleh karenanya jika kita benar-benar percaya akan janji Allah mengenai dunia yang akan datang tersebut maka kita akan berkeinginan untuk kembali kepada Allah dengan segenap hati kita serta mempelajari tentang bagaimanakah kita bisa tinggal di dalam keharmonisan dengan diriNya untuk selama-lamanya. Iman yang hidup akan menghasilkan tindakan yang salah satunya adalah pertobatan yang sejati dari seorang manusia yang memiliki iman tersebut. Hal ini pulalah yang dialami oleh para pendengar Petrus ketika mereka bertanya: "apakah yang harus kita lakukan?". Sungguh orang-orang tersebut tanpa berkompromi telah menawarkan suatu tindakan yang sangat ingin mereka lakukan tanpa membatasi diri mereka untuk melakukannya. Mereka juga tidak mulai menyalahkan yang lain, justru sebaliknya mereka datang di dalam kesederhanaan dan sikap yang dapat diajar dan bahkan penyerahan diri di dalam hati dan pikiran. Pada saat itu Petrus mewartakan Injil dan mereka percaya akan pesannya. Mereka telah membuktikan dan menemukan iman ketika mereka dari dalam lubuk hati berkeinginan untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan iman tersebut. Dan oleh karenanya maka pada hari itu mereka menanyakan suatu pertanyaan, "apakah yang harus kami lakukan?". Sesungguhnya suatu pertanyaan yang samalah yang harus kita pertanyakan jika kita memang berkeinginan untuk mendapatkan suatu perubahan hidup yang dramatis.
Hukum Allah menceritakan kepada kita tentang bagaimanakah Allah itu (1 Petrus 1:15-16). Bagaimanapun juga, kita semuanya telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, kita telah terjatuh di dalam kemampuan untuk masuk ke dalam keluarga Allah. Oleh karenanya, apakah yang dapat kita lakukan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada satupun dari perbuatan baik yang bisa kita lakukan, baik itu di saat ini maupun di saat mendatang yang dapat mengganti atau menghapuskan apa yang pernah kita lakukan di masa lampau. Hal ini bahkan sangat jelas dapat kita lihat dari hukum-hukum manusia itu sendiri. Sebagai contoh jika anda ditahan oleh karena suatu kasus pembunuhan. Apakah janji anda bahwa anda tidak akan mengulangi lagi perbuatan jahat anda di masa yang akan datang akan dapat membuat atau menyatakan anda menjadi orang yang tidak bersalah? Tentu saja jawabannya adalah tidak oleh karena jika kita mematuhi hukum tersebut di masa mendatang, kita semata-mata hanya melakukan apa yang memang wajib dan harus kita lakukan. Tidak ada satupun dari tindakan kita yang mematuhi hukum tersebut akan dapat memperdamaikan tindakan pelanggaran hukum yang pernah kita lakukan.
Kita semua telah berdosa (Roma 3:23) dan upah dari dosa adalah maut (Roma 6:23). Allah membuat pembebasan kita dari upah dosa dan kutukan hukum menjadi mungkin dengan memberikan Yesus Kristus yang adalah satu-satunya yang diperanakkanNya untuk meninggal menggantikan kita. Dan oleh karenanya maka kita akhirnya dapat diperdamaikan kepada Allah dengan kematian anakNya (Roma 5:10).
Allah mengambil suatu keputusan agar kita dapat hidup secara harmonis dengan diriNya dengan jalan memperdamaikan kita yang terpisah akibat dosa. Ia telah menunjukkan kasihNya yang besar dengan memberikan pengorbanan kehidupan AnakNya sendiri untuk membayar upah dari tindakan-tindakan kita yang tidak baik didalam pikiran, sikap dan perbuatan (Yohanes 3:16). Bagaimanapun juga, kita harus menanggapi kasih karunia Allah melalui iman dan pertobatan. Keinginan Allah adalah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, TIDAK didalam dosa-dosa kita. "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (Roma 6:1-2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika kita menerima pemberian Allah yang ditawarkan secara cuma-cuma yang tidak lain adalah hidup yang kekal, yang kita tidak akan pernah mendapatkannya melalui perbuatan kita atau bahkan layak mendapatkannya di dalam kehidupan kita, maka kita sesungguhnya harus menanggapi diriNya dengan berbalik dari jalan-jalan kita kepada jalan-jalanNya. (Kisah Para Rasul 2:38).
Suatu sikap yang benar-benar berserah bagi kehidupan dan keinginan kita adalah suatu sikap pertobatan. Jika kita menyadari betapa indahnya masa depan yang ditawarkan oleh Allah dan dengan bersungguh-sungguh percaya kepada firmanNya, maka kita akan mencari Allah dan jalan-jalanNya dengan segala kerelaan dan kesungguhan hati kita. Itulah yang sesungguhnya dilakukan oleh para pria dan wanita yang beriman di dalam Ibrani 11 yang akhirnya membawa perubahan-perubahan di dalam kehidupan mereka. Anda melihat bahwa iman yang hidup selalu terhasilkan didalam tindakan/perbuatan! Ingatlah bahwa pertobatan adalah suatu tanggapan dari iman yang hidup. Sementara pertobatan ini dimulai dari dalam diri seseorang, ternyata hal ini juga dicerminkan dari perubahan di luar diri seseorang tersebut. Jika kita benar-benar membenci jalan-jalan hidup kita di masa yang lampau, maka kita pasti akan berkeinginan untuk berbalik dari jalan-jalan tersebut.
Oleh karena itu, tanyakanlah sekarang kepada diri anda: apakah anda dipimpin oleh Allah untuk pada akhirnya menyadari bahwa diri anda ternyata bersalah, yaitu dihadapanNya? Apakah anda juga akhirnya berada pada suatu situasi dimana anda benar-benar berkeinginan untuk meninggalkan keadaan diri anda yang tidak baik, egois, dan duniawi? Dan sekali lagi, apakah anda siap untuk bertobat? Bukan saja dari segala hal yang tidak baik yang pernah anda lakukan tetapi juga dari keadaan diri anda yang sesungguhnya? Raja Daud memahami bahwa hal ini sesungguhnya adalah apa yang dibutuhkan oleh Allah. Ia mengatakan, "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah" (Mazmur 51:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sebelum seorang manusia benar-benar dan sungguh-sungguh berubah, maka ia terlebih dahulu harus direndahkan dan dipukul oleh Allah sehingga ia akan sadar bahwa ia adalah manusia yang tidak berdaya di hadapan Allah. Ia akan menjalani suatu masa ketika ia akan direndahkan dan dibimbing untuk memahami dosa-dosanya terhadap Allah. Sehingga akhirnya orang tersebut akan bertobat dan merubah jalan hidup, hati, pikiran serta keinginannya dengan tekat yang bulat untuk menuju jalan hidup Allah.
Ketika saat itu datang maka seorang manusia akan berhenti berargumentasi/membantah serta mengeluarkan alasan terhadap dan kepada Allah atau pelayanNya yang melakukan pekerjaanNya. Orang tersebut akan berhenti mencari alasan untuk tidak mematuhi perintah Allah dan dengan bersungguh-sungguh akan hidup berdasarkan setiap perkataan Alkitab. Ia tidak akan merasa "sakit hati" bahkan pada saat ia dinyatakan kesalahannya dan diperbaiki dan diperingatkan dan dinasehati oleh para pelayan pilihan Allah. Sebaliknya, ia akan memberikan hidupNya kepada Allah seperti apa yang diperintahkan oleh rasul Paulus: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Roma 12:1-2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Dan seperti yang diperintahkan oleh Paulus, bahkan cara pikir kita pun harus diubah dengan "pembaharuan" pikiran kita!
"Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh." dituliskan oleh Paulus di dalam 1 Korintus 12:13. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Mesias akan menawarkan dua baptisan, Roh Kudus dan Api (Matius 3:11-12). Mereka yang tidak "ditempelkan ke dalam" keluarga Allah melalui Roh Kudus, akan benar-benar dimasukkan kedalam lautan api sampai tidak ditinggalkan "akar dan cabang" mereka (Malakhi 4:1). Yesus Kristus membandingkan Roh Kudus dengan "mata air dimana aliran air hidup mengalir" (Yohanes 4:14; 7:38-39).
Paulus menjelaskan di dalam Kolose 2:12 bahwa baptisan menyimbolkan suatu penguburan dari "manusia lama" kita yang secara simbolis telah meninggal. Kita oleh karenanya muncul sebagai makhluk yang baru, yang bangkit dari kubur air pada saat baptisan. Hal ini menggambarkan iman kita di dalam kebangkitan, yang tidak lain adalah tujuan akhir kita untuk menjadi suatu ciptaan makhluk yang baru.
Di dalam Roma 6:4-5 kita membaca:"Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya". Baptisan bukanlah suatu ritual yang kosong atau acara magis. Melainkan baptisan adalah suatu simbol yang sangat penting dan bukannya suatu hal yang dapat kita anggap enteng atau tanggapi dengan tidak serius.
Ditentukan oleh iman dan pertobatan, baptisan adalah suatu tanda luar dari komitmen kita. Hal ini mewakili suatu permulaan yang baru. Manusia lama kita dengan semua dosa-dosa masa lampau kita telah dengan secara simbolis dikuburkan dan akhirnya manusia baru telah datang. Air baptisan menyimbolkan suatu kenyataan bahwa kita dicuci bersih dari dalam diri kita oleh Roh Kudus. Pengorbanan Kristus telah membayar dosa-dosa kita sehingga kita muncul dari baptisan secara bersih untuk berdiri dihadapan Allah. Bagaimanapun juga, hal ini sebenarnya bukanlah akhir, melainkan suatu permulaan dari proses perubahan diri yang nyata!
Setelah baptisan, kita menemukan bahwa adalah kebiasaan cara hidup dari keministeran/kepelayanan Kristus pada abad pertama untuk melakukan penumpangan tangan (Kisah Para Rasul 8:18; Ibrani 6:2). Penumpangan tangan ini menyimbolkan suatu keadaan yang khusus ketika Allah memisahkan orang-orang yang dipilihNya. Setelah baptisan orang akan memperoleh Roh Kudus Allah dengan cara mendapatkan penumpangan tangan. Dan dengan inilah maka mereka dipisahkan dan dikuduskan dan disucikan. Di dalam Kisah Para Rasul 19:1-6 kita membaca bahwa di Efesus Paulus bertemu dengan beberapa orang yang mempercayai pengajarannya yang mana mereka sebelumnya telah dibaptis. Namum mereka belum benar-benar memahami Injil ketika mereka dibaptis dan mereka belum menerima Roh Kudus atau bahkan mengetahuinya. Akhirnya setelah memberikan bimbingan kepada mereka, Paulus kemudian membaptis mereka ulang di dalam nama Yesus dan menumpangkan tangan kepada mereka sehingga mereka menerima Roh Kudus Allah. Dan seperti apa yang terjadi pada hari Pentakosta yang pertama di zaman Wasiat Baru, Allah menunjukkan melalui suatu mukjizat yang menakjubkan sehingga diterimalah oleh mereka Roh Kudus. Sekarang timbullah pertanyaan yaitu mengapakah perihal penerimaan Roh Kudus ini sangat perlu?
Petrus mengatakan kepada para pendengarnya pada hari Pentakosta bahwa setelah pertobatan dan baptisan mereka akan "...maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus." (Kisah Para Rasul 2:38). Sesungguhnya apakah yang akan terjadi di dalam kehidupan kita setelah kita menerima Roh Kudus?
Petrus menjelaskan bahwa adalah melalui Roh Kudus, kekuatan ilahi Allah, maka kita dapat "...mengambil bagian dalam kodrat ilahi..." (2 Petrus 1:4). Adalah melalui Roh Kudus maka Yesus Kristus akan tinggal di dalam diri kita dan memperkuat diri kita sehingga kita dapat hidup dengan cara sama seperti bagaimana Kristus telah hidup ketika Ia berjalan -jalan di bumi sebagai seorang manusia (Galatia 2:20; Filipi 2:5).
Semenjak Kristus tinggal di dalam diri kita melalui Roh Kudus, maka tubuh kita akan dikatakan sebagai bait Allah (1 Korintus 6:20). Memiliki Roh Kudus Allah di dalam diri kita akan membuat kita menjadi seorang yang suci, atau yang di dalam istilah Alkitabnya adalah "orang kudus". Patutlah disadari bahwa kita (maupun hal yang lain selain Allah melalui Roh KudusNya) tidak akan dapat membuat diri kita menjadi suci. Allah adalah suci dan hanya Ia yang dapat menanamkan kesucian. Jika kita benar-benar bertobat dan berbalik kepada Allah di dalam iman, maka Ia berjanji bahwa Ia tidak hanya akan mengampuni kehidupan masa lampau kita, tetapi juga akan menanamkan Roh KudusNya di dalam diri kita. Roh Allah, diberikan kepada kita sebagai suatu pemberian, diinginkan untuk mengubah kehidupan kita dengan memperbaharui pikiran-pikiran kita (Titus 3:5; Roma 12:2). Kita akan menjadi suatu ciptaan yang baru karena Allah sedang mengubah kita dengan menuliskan hukum-hukumNya di dalam hati dan pikiran kita (Ibrani 8:10).
Meskipun Roh Kudus adalah kekuatan Allah yang dapat membuat proses pengubahan ini menjadi mungkin, bagaimanapun juga kita juga memiliki bagian yang harus kita kerjakan. Ternyata kita harus melatih Roh Kudus Allah yang ada di dalam diri kita, kita harus mengikuti pimpinan daripada Roh Kudus, atau pendeknya, kita harus berjalan bersama dengan Allah. Roh Kudus Allah akan memimpin dan memperkuat diri kita tetapi tidak untuk merasuki dan mengendalikan diri kita. Kita harus mencari dan memiliki keinginan untuk hidup mengikuti pimpinan Allah di dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa usaha-usaha kita yang terlepas dari Roh Kudus Allah hanya akan membawa kesia-siaan. Walaupun begitu kekuatan Allah yang tidak disertai dengan usaha-usaha kita untuk mengobarkannya adalah semata-mata merupakan kekuatan/energi yang kuat, yang berpotensi dan bersifat ilahi tetapi yang tidak melakukan suatu kegiatan pun. Hal ini adalah seperti kekuatan listrik yang berada pada posisi padam; potensi untuk menerangi ruangan sesungguhnya memang ada, tetapi oleh karena rangkaian listrik tersebut terbuka maka tidak ada suatu aliran listrik pun yang dapat mengalir. Ingatlah selalu bahwa dengan tinggalnya Roh Kudus Allah di dalam diri kitalah maka kelengkapan dan penyelesaian keselamatan kita menjadi mungkin.
Dengan iman dan pertobatan, kita diadili, dan melalui pencurahan darah dari Yesus Kristus kita akhirnya dibuat tidak berdosa di hadapan Allah (Roma 5:9). Kemudian, semenjak kita sekarang berbalik kepada Allah, maka Ia menyucikan diri kita. Allah telah membuat diri kita suci dengan cara meletakkan Roh Kudus di dalam diri kita. Roh Kudus diberikan kepada kita sehingga kita dapat memahami hal-hal yang rohani. Demikian pula kita akan diperkuat sehingga kita akan dapat hidup di dalam hidup yang ilahi. Sebagai seorang Kristen, kita harus terus bertumbuh didalam kasih dan pengetahuan (2 Petrus 3:18). Jika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, maka kebenaran Allah yang dinyatakan didalam hukumNya akan menjadi penuh di dalam kehidupan kita. (Roma 8:4).
Dan sementara kita dibenarkan oleh kematian Kristus, maka kita pun akhirnya juga diselamatkan oleh hidupNya (Roma 5:9-20). Kristus pada saat ini hidup dan berada di samping kanan Bapa! Ia dengan aktif memperantarai kita sebagai Imam Tertinggi kita yang hidup yaitu pada saat kita terjatuh dan berdosa (Ibrani 4:14-16). Ia menghidupkan kehidupanNya dengan cara mengalahkan dosa di dalam daging diri kita melalui Roh Kudus yang diam di dalam diri kita(Galatia 2:20). KemenanganNya yang mutlak atas kematian melalui kebangkitan adalah suatu bukti yang nyata bahwa kita pada akhirnya akan diberikan kehidupan yang kekal pada saat kedatanganNya kembali (1 Korintus 15:20-23).
Melalui baptisan dan penerimaan Roh Kudus maka anda akan secara otomatis dibaptis kedalam Jemaat Allah yang benar. "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh." (1 Korintus 12:13 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini dilakukan adalah karena Jemaat Allah tersusun atas orang-orang yang diisi dengan dan dipimpin oleh Roh Kudus (Roma 8:14).
Tetapi hendaklah diingat bahwa anda tidak dapat dengan diri anda sendiri "bergabung" dengan jemaat milik Allah! Pada kenyataannya Allah sendirilah yang akan "mendekatkan" atau "memanggil" dan menempatkan diri anda di dalam jemaatNya dengan memberikan Roh KudusNya kepada diri anda. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesus, "Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman" (Yohanes 6:44 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Allah memiliki Jemaat yang teratur dan yang selalu seperti itu! Yesus Kristus mengatakan di dalam Matius 16:18, "Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya". Hendaklah anda memahami bahwa pernyataan "Hades"/kubur/alam maut tidak akan menguasai atau mengalahkan Jemaat Allah yang benar dapat dipahami dalam dua cara: yang pertama adalah bahwa Allah tidak akan PERNAH mengijinkan JemaatNya untuk dihancurkan atau benar-benar lenyap. Yang kedua adalah bahwa harapan yang mendasar dari semua orang Kristen yang benar ialah kebangkitan dari kematian. Jadi meskipun seorang umat Kristen meninggal, maka mereka akan hidup kembali pada saat sangkakala ketujuh ditiup, yaitu ketika Kristus kembali lagi ke bumi sebagai Raja atas segala raja! "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1 Korintus 15:51-52 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Paulus memberikan kepada kita suatu pernyataan bahwa mereka yang ada di dalam Jemaat adalah sesungguhnya "tubuh" rohani Yesus Kristus (1 Korintus 12:27). Sama seperti tangan, kaki, mata, telinga dan pikiran dari tubuh jasmani kita yang harus bekerja sama secara tepat, demikian pula dengan tubuh rohani, Jemaat Allah, yang harus diatur. Yang mana masing-masing anggotanya akan bekerja sama untuk melakukan atau mengemban tugas yang diperuntukkan bagi Jemaat tersebut. Yesus Kristus hidup, Ia adalah KEPALA yang aktif dari Jemaat yang benar (Efesus 1:22-23). Ialah yang menentukan dan memberikan tujuan serta misi JemaatNya. Setelah kebangkitanNya dan sesaat sebelum kenaikanNya ke sorga, Yesus memerintahkan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:18-20 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Jadi fungsi utama dari Jemaat yang benar adalah untuk pergi ke segala bangsa dan mengabarkan suatu pesan yang sama yang Yesus Kristus kabarkan tentang kedatangan Kerajaan Allah! Kemudian Jemaat akan "mengajarkan" orang tentang segala sesuatu yang Kristus ajarkan kepada para muridNya. Yang mana hal tersebut adalah seluruh jalan Allah yang berdasarkan dari kepatuhan dari dalam hati kepada hukum rohani Allah yang agung dan atas penyerahan diri yang sepenuhnya untuk membiarkan Yesus Kristus menghidupkan hidupNya didalam setiap pribadi di dalam umat Allah.
Kita semuanya butuh untuk diberi instruksi, diajari, diberi semangat dan dibimbing menuju Kerajaan Allah. Oleh karenanya kita diperintahkan: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat" (Ibrani 10:24-25 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Perhatikanlah bahwa anda tidak boleh meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah dengan sesama! Dapat dilihat bahwa ternyata kita harus dan wajib bertemu pada setiap hari Sabat dan hari-hari suci sama seperti yang dilakukan oleh Yesus dan para rasul di masa mula-mula. (Lukas 4:16; Kisah 17:2).
Meskipun beberapa orang membanggakan diri mereka dengan menjadi "orang Kristen yang bebas" dari jalan/peraturan Allah. Tetapi pada kenyataannya seluruh kisah dari kitab Para Rasul menggambarkan suatu pertemuan Jemaat yang rukun dan harmonis yang mana kesemuanya itu berjalan dengan sangat baik! Kita semua membutuhkan persekutuan, kasih, teladan dan semangat dari sesama jemaat Kristen yang benar. Orang yang benar-benar berkomitmen untuk hidup berdasarkan setiap perkataan firman Allah. Patutlah diketahui bahwa di dunia ini sesungguhnya terdapat Jemaat Allah yang benar yang memang hidup berdasarkan firman Allah. Jemaat yang benar ini disebutkan sebanyak dua belas kali dengan nama "Jemaat Allah" di zaman Wasiat Baru, dan Jemaat inilah yang dapat memberikan kepada manusia persekutuan, pertumbuhan dan kepelayanan rohani yang baik.
Menolak untuk bertemu dengan mereka yang bertumbuh dan yang melakukan pekerjaan Allah adalah suatu hal yang sangat berkebalikan dengan apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus Kristus dan para rasul di zaman awal. Kita semuanya harus belajar untuk saling MENGASIHI antara satu dengan yang lainnya, untuk MEMAAFKAN satu dengan lainnya dan untuk BERTUMBUH didalam kasih tersebut melalui Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Oleh karena firman Allah menceritakan kepada kita, "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 Yohanes 4:20-21 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Firman Allah membuat hal perjanjian anda dengan Pencipta anda ini menjadi jelas yaitu bahwa baptisan umat Kristen pada kenyataannya adalah suatu keputusan yang dibuat oleh seorang dewasa yang dilakukannya setelah proses pertobatan yang dalam dari penilikan diri dan hati yang bersungguh-sungguh. Sekali lagi, baptisan sesungguhnya menggambarkan peristiwa kematian dan penguburan dari tubuh lama kita yang egois. Yang mana di dalam keputusan dan tindakan ini kita membuat suatu PERJANJIAN dengan PENCIPTA kita untuk menerima pencurahan darah Yesus Kristus sebagai pembayaran dari dosa-dosa kita. Demikian pula kita juga pada akhirnya benar-benar memahami diri Kristus sebagai Tuhan, Tuan dan Raja kita yang akan datang yang harus kita PATUHI!
Dari pihak Allah, kita dijanjikan suatu pemberian yang indah dan paling berharga yang tidak lain adalah "Roh Kudus" (Kisah Para Rasul 2:38). Menerima Roh Kudus Allah juga berarti menanamkan karakter dan alam diri Allah di dalam diri kita. Hal ini dijelaskan oleh rasul Paulus: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Dan, seperti yang kita baca di dalam Galatia 5:22-23, bahwa "buah" atau hasil dari Roh Kudus di dalam hidup kita adalah "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."
Roh Kudus Allah akan memberikan kepada kita kasih dan kekuatan rohani untuk mematuhi Allah, untuk mengendalikan nafsu kita, dan untuk berjalan didalam perintah-perintahNya sebagai suatu jalan hidup. "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat" (1 Yohanes 5:3 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jadi bukanlah diri kita di dalam kekuatan manusia kita yang dapat melakukan perintah Allah, melainkan Kristus yang menghidupkan didalam diri kita kehidupanNya melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kitalah yang dapat melakukannya.
Yesus Kristus mengatakan di dalam Matius 24:13 "Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat". Jika kita berharap untuk mewarisi Kerajaan Allah yang telah Ia persiapkan bagi mereka yang mengasihi diriNya maka kita harus tetap setia sampai akhir. Kita akan dapat melakukan hal ini dengan terus menerus tinggal di dalam Kristus (Yohanes 15:3). Sekarang bagaimanakah anda dapat tinggal di dalam Kristus? Perhatikanlah apa yang dijelaskan oleh Yohanes didalam 1 Yohanes 2:3-6, "Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."
Untuk tinggal atau berjalan bersama memiliki arti untuk tetap tinggal kuat dan berdiri di dalam kebenaran Allah. Ingatlah, Alkitab menunjukkan bahwa Kebenaran tidaklah hanya sekedar suatu daftar dari doktrin-doktrin untuk diperdebatkan, melainkan suatu jalan hidup yang harus dipatuhi dan dijalani (Galatia 3:1; 2 Petrus 2:2, 21).
Hampir semua dari mereka yang menyebut diri sebagai umat Kristen berpikir bahwa keselamatan adalah semata-mata suatu hal yang hanya terjadi cukup sekali saja. Bahkan banyak dari mereka yang menyatakan diri sebagai pelayan/wakil Allah ternyata telah merendahkan janji-janji Allah dan tujuan-tujuanNya. Mereka menawarkan suatu karunia yang murah yang tidak membutuhkan orang untuk melakukan sesuatu hal. Mereka telah menjanjikan "kebebasan" dengan mengajarkan bahwa hukum Allah adalah suatu beban dan tidak perlu untuk dipatuhi. Di dalam kenyataannya doktrin "kasih karunia" mereka yang gampang tersebut akan menyebabkan manusia hidup di dalam dosa. (2 Petrus 2:19).
Sebaliknya Yesus mengatakan bahwa mereka yang ingin datang ke hadapanNya haruslah benar-benar siap untuk meninggalkan segala sesuatunya, bahkan kehidupan mereka sendiri (Matius 16:24-25). Kristus membutuhkan tidak lebih dari komitmen dan kesungguhan yang total, serta penghormatan dari mereka yang akan menerima diriNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya" Kristus mengatakan "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" Kata Kristus. (Matius 7:13, 21). Melakukan kehendak Bapa adalah PERJANJIAN yang kita buat dengan PENCIPTA kita pada saat baptisan. Alkitab menunjukkan suatu tujuan yang agung dan menakjubkan bagi mereka yang mewarisi keselamatan Allah. Hal ini juga menyatakan kepada kita suatu proses yang mana Allah mereproduksi diriNya didalam kita. Pengubahan adalah kunci untuk proses tersebut. Pengubahan yang benar mengikutsertakan penyerahan diri yang total atas kehidupan kita dari keinginan kita kepada Allah yang maha.
Bagi mereka yang berbalik kepada diriNya didalam cara ini, Allah akan mengampuni dan mengubah pribadi kita dari dalam dan bahkan memungkinkan kita untuk menerima tujuan hidup kita yang utama yaitu masuk ke dalam KerajaanNya yang agung sebagai salah satu dari anak-anakNya. Akankah kita mengalami kesulitan-kesulitan dan bahkan pengejaran-pengejaran yang disebabkanoleh karena kita berusaha untuk hidup di dalam perintah dan instruksi Allah? yaitu ketika kita berusaha untuk meninggalkan dan keluar dari tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan dunia disekitar kita? Jawabannya adalah anda pasti akan mengalaminya! Tetapi janganlah kita pernah lupa apa yang pernah dikatakan oleh rasul Paulus bahwa "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Perjanjian antara kita dengan Pencipta kita pada saat baptisan akanlah juga mencakup suatu komitmen bahwa kita akan mengadakan proses perubahan karakter diri kita di sepanjang kehidupan kita. Disanalah kita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam cara kita merasakan kehidupan, mengerjakan sesuatu hal dan khususnya diri kita. Pengubahan yang bersungguh-sungguh akan menyebabkan diri kita, "...untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara" (Roma 8:29).
Allah mengatakan kepada kita bahwa kita tidak bisa hanya sekedar "tertarik" kepada kebenaranNya, tetapi kita harus BERTINDAK atasnya! "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin" (Yakobus 1:22-23 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Oleh karenanya maka tidaklah mengherankan jika ribuan dari anda yang membaca buklet ini akan mulai menyadari bahwa ternyata Allah mulai membawa anda untuk lebih mengenal jemaatNya dan berhubungan dengan jemaatNya pada saat ini. Ketahuilah bahwa anda sesungguhnya telah dan sedang mempelajari tujuan dari keberadaan hidup manusia dan jalan hidup yang diperintahkan oleh Allah melalui program acara televisi dan majalah Tomorrow's World, suatu pekerjaan yang dilakukan oleh The Living Church of God. Mungkin sekarang adalah saatnya bagi anda untuk BERTINDAK atas Kebenaran yang sangat indah yang telah anda pelajari ini. Janganlah kita memperlakukan kebenaran Allah dengan murah! Janganlah menunda dan mengulur-ulur waktu lagi sejalan dengan anda memahami apa yang menjadi tujuan Allah di dalam kehidupan anda. Janganlah menunggu sampai anda berpikir bahwa anda telah mengalahkan dosa-dosa anda atau sampai anda memiliki pemahaman yang "sempurna" akan kebenaran atau pertobatan yang "sempurna". Karena anda tidak akan pernah memulai melakukan perjalanan menuju kesempurnaan sebelum anda dibaptis dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan oleh Allah untuk memimbing dan memperkuat anda!
Jadi sekali anda bertobat dengan bersungguh-sungguh dan telah "memperhitungkan segala hal yang akan anda hadapi" serta menyadari kebutuhan anda untuk dibaptis, maka biarlah kami mendengar suatu berita dari anda. The Living Church of God memiliki minister-minister dan perwakilan-perwakilan yang terlatih di berbagai tempat di seluruh dunia. Jika anda ingin meminta berbagai penjelasan tentang baptisan dan hal-hal seputar baptisan, maka mereka akan menelpon anda dan membuat suatu pertemuan dengan anda bagi konseling baptisan. Patutlah diketahui bahwa mereka tidak akan datang ke tempat anda secara dan dengan tiba-tiba, melainkan mereka akan menghubungi anda terlebih dahulu dan kemudian menyusun tempat di mana mereka dapat bertemu anda.
Anda juga tidak akan dipaksa untuk "bergabung" dengan organisasi apa pun! Pada kenyataannya, para pelayan kita akan sangat senang berbincang-bincang dengan anda, menjawab pertanyaan anda dan memberi anda beberapa materi pelajaran rohani untuk dibaca dan dipelajari sebelum anda kemudian akan benar-benar dibaptis. Seperti juga anda, kami ingin memastikan apakah anda memang benar-benar siap untuk dibaptis. Kunjungan awal kami ini akan memberikan kepada anda kesempatan, mungkin yang pertama kalinya di dalam hidup anda, untuk berkonsultasi dengan pelayan Allah yang sesungguhnya dan yang benar-benar memahami serta mengajarkan KEBENARAN Allah yang sepenuhnya.
Sungguh anda dapat menelpon atau menulis surat kepada kami bahkan pada saat ini.
Alamat dan nomor telpon kami di seluruh dunia dapat anda lihat di halaman belakang dari buklet ini. Sekali lagi, kami dari The Living Church of God sungguh senang untuk mendengar kabar dari anda dan dapat melayani anda. Semoga Allah memberikan kepada anda pemahaman, kasih dan semangat untuk BERTINDAK terhadap KEBENARAN yang indah yang telah diberikan kepada anda.