Agustus 2003

Hari-hari raya apakah yang paling penting di dalam kalendar umat Kristiani? Pastilah kebanyakan orang akan mengira bahwa hal tersebut adalah Natal dan Paskah Easter. Sayangnya bukanlah ini kenyataannya karena patutlah diketahui bahwa sesungguhnya para pengikut Yesus Kristus di zaman awal tidaklah merayakan satu pun dari dua hari raya tersebut. Melainkan mereka mengikuti teladan Yesus dengan merayakan Hari-Hari Raya yang dirayakan oleh Yesus Kristus sendiri bahkan!
Patutlah juga diketahui dan dipahami bahwa Hari-Hari Raya yang dirayakan oleh Yesus Kristus dan pengikutNya tersebut sesungguhnya bukanlah semata-mata perayaan-perayaan atau hari-hari raya orang "Yahudi". Melainkan pada kenyataannya hari-hari raya tersebut menggambarkan secara berurutan segala rencana yang dimiliki oleh Allah bagi semua umat manusia. Allah sendiri bahkan memerintahkan Hari-Hari Raya ini bagi seluruh umatNya untuk diperingati.
Mengapakah hampir kebanyakan umat Kristiani merayakan Natal, Paskah Easter serta Halloween tetapi tidak merayakan hari-hari raya yang dengan jelas diperintahkan oleh Alkitab? Sesungguhnya seberapa pentingkah perihal merayakan hari-hari raya tersebut bagi seorang manusia? Dapatkah perihal merayakan hari-hari raya tersebut benar-benar membedakan manakah seorang umat Allah dan manakah yang bukan? Apakah hal tersebut juga nantinya akan berdampak kepada harapan akan hidup yang kekal yang kita miliki? Dan apakah hal itu juga nantinya akan memberikan pengaruh yang besar atas pemahaman kita tentang Allah, yaitu tentang Allah manakah yang kita sembah serta tujuan besar apakah yang sedang dikerjakanNya bagi dunia?
Memang kebanyakan dari kita hanya "tumbuh" saja di dalam lingkungan gereja Protestan atau Katolik dan pada dasarnya kita sering menyia-nyiakan berbagai macam hal yang diajarkan kepada kita tentang Allah, Kristus dan agama. Pada kenyataannya hanya terdapat sedikit orang saja baik yang sudah dewasa yang memiliki rasa penasaran atau ingin tahu untuk bertanya-tanya perihal tentang Allah. Jarang sekali ada orang yang berkeinginan untuk benar-benar mempelajari dan membuktikan dengan sungguh-sungguh mengapakah mereka mempercayai apa yang mereka percayai. Kelihatannya mereka lebih mudah untuk "mengikuti orang kebanyakan" dan menerima apapun yang diajarkan.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah seperti itukah anda?
Apakah anda telah dengan ceroboh pernah berpikir bahwa Alkitab sesungguhnya mengajarkan kepada kita untuk merayakan Natal dan Paskah Easter? Apakah anda telah berpikir bahwa Kristus, yang adalah teladan kita, dan jemaat kerasulan di zaman awal juga merayakan Natal dan Paskah Easter?
Jika ya, maka anda tidak dapat lebih salah lagi!
Hampir seluruh ahli theologia dan sejarah yang jujur pastilah mengetahui bahwa Natal dan Paskah Easter pada kenyataannya dimasukkan ke dalam dunia "Kekristenan" beberapa tahun setelah kematian para rasul!
Di dalam artikel berjudul "Christmas", ensiklopedia Britanice mengatakan: "Sejarah dari hari raya ini tidaklah jauh dari sejarah hari raya Epiphany (q.v.), sehingga hal-hal yang berkenaan dengannya harap dibaca di dalam artikel dalam heading tersebut (Epiphany)..........gereja agung telah mengadopsi Natal/Christmas beberapa saat setelah Epiphany; dan sebelum abad ke 5 tidaklah terdapat suatu kesepakatan umum tentang kapankah hari raya ini harus dikalendarkan, apakah pada tanggal 6 Januari, atau 25 Maret atau 25 Desember........Di tahun 1644, berdasarkan keputusan Parlemen, kaum puritan Inggris melarang segala kepelayanan atau perayaan keagaaman dari hari raya ini. Hal ini didasari bahwa hari raya ini adalah perayaan berhala, dan sebagai gantinya hari dimana hari raya ini dirayakan haruslah orang melakukan puasa. Bagaimanapun juga, Charles II menghidupkan kembali hari raya ini, tetapi orang Scot tetap berpegang kepada pandangan kaum Puritan" (vol. 6, edisi 11, halaman 293-294).
Ensiklopedi Katolik menceritakan kepada kita: "Natal bukanlah merupakan hari-hari raya Gereja di zaman awalnya. Irenaeus dan Tertullian menghilangkannya dari daftar mereka atas hari-hari raya; Origen, yang agaknya memandang kepada kepemerintahan Natalitia yang kehilangan kekuatan, menegaskan (di dalam Lev. Hom vii di dalam Migne, P.G., XII, 495) bahwa di dalam Alkitab hanyalah para pendosa, dan bukan para orang kudus, yang merayakan hari kelahiran mereka.....Di Inggris, dengan berdasarkan keputusan Parlemen, Natal dilarang di tahun 1644; hari itu haruslah menjadi hari puasa dan hari dimana aktivitas pasar dilakukan; toko-toko harus dibuka; yang mana puding buah plum dan kue-kue daging cincang diperlakukan sebagai sesuatu yang terkutuk dan bersifat berhala. Kaum konservatif menolak; di Canterbury peristiwa berdarah terjadi; dan setelah peristiwa the Restoration Dissenters/Peristiwa Pembaharuan Yang Dilakukan Para Pengkhianat, orang-orang tetap menamakan hari raya Yuletide sebagai "Hal Yang Bodoh" (vol 3, halaman 724, 728).
Suatu kunci penting yang harus diingat ketika kita berusaha untuk memahami segala hal yang terjadi adalah dengan menyadari bahwa kebanyakan pendeta dan kaum sekolahan "Kristen" pada kenyataannya tidaklah dengan bersungguh-sungguh mencoba untuk mengikuti teladan Kristus dan para rasul! Sejalan dengan Gereja Kristen tumbuh di dalam Kekaisaran Roma, maka kita akan menemukan suatu kenyataan bahwa mereka pada kenyataannya berusaha untuk membuat agama mereka untuk lebih "dapat diterima" oleh tradisi-tradisi berhala yang ada di sekitar mereka. Hal ini mereka lakukan di dalam usaha mereka untuk memenangkan hati orang-orang yang melakukan tradisi berhala, dan juga, beberapa kali, untuk menghindari ancaman penganiayaan. Seperti yang di kemukakan oleh De. Rufus M. Jones: "Jikalau memang segala teladan Kristus dipatuhi dan dilakukan oleh para pengikutNya sebagai suatu model dan pola cara hidup yang baru yang disertai dengan suatu usaha yang serius untuk merealisasikan hidup dan ajaranNya sebagai standar dan norma bagi Gereja, maka dunia Kekristenan pastilah akan menjadi suatu dunia yang sangat berbeda dengan apa yang ada pada saat ini. Maka ajaran 'klenik/bida'ah', yang sudah ada sejak dulunya sampai sekarang, akanlah dipertimbangkan sebagai suatu hal yang sangat melenceng dari jalanNya, ajaranNya, rohNya, kerajaanNya.........Sayangnya apa yang kita sebut sebagai "Kekristenan Galilea" ternyata memiliki usia yang pendek. Dan walaupun terdapat berbagai macam usaha yang positif untuk menghidupkan dan membuatnya hidup kembali bahkan dengan melihat bahwa di sana-sini para nabi telah menekankan segala sesuatu yang berada diluar agama Galilea ini adalah 'klenik/bida'ah' tetapi sayangnya garis sejarah ternyata mengambil arah yang berbeda dan memberikan penekanan yang sangat berbeda pula" (The Church's Debt to Heretics, halaman 15-16).
Seorang penulis Protestan, Jesse Lyman Hurlbut-yang menuliskan tentang suatu periode waktu antara 313 M dan 476 M-menyadari: "Bentuk-bentuk dan upacara-upacara berhala secara perlahan mulai merambah memasuki acara hari-hari raya gereja dengan perubahan nama dan penyembahannya. Sekitar 450 Masehi patung-patung dari orang kudus dan martir pun mulai muncul di gereja-gereja, yang pada mulanya hanya sebagai pengingat/memorial tetapi yang kemudian berubah menjadi hal yang dikagumi, dihormati dan disembah" (The Story of the Christian Church, halaman 79).
Jadi, meskipun para pemimpin "kekristenan" abad awal memberikan kesempatan kepada ajaran-ajaran berhala disekitar mereka untuk memasuki kehidupan mereka, hendaklah kita selalu mengingat atas apa yang telah diperingatkan oleh Allah kepada kaum bapa. Sesungguhnya Allah memperingatkan para kaum bapa disekitar kita untuk tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan bangsa-bangsa berhala disekitar mereka dengan mengatakan: "maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Aku pun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka" (Ulangan 12:30-31).
Yesus Kristus memperingatkan para pemimpin agama di zamanNya, "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri" (Markus 7:9). Perhatikanlah dengan baik tentang komentar Yesus yang berkenaan dengan perihal menolak perintah Allah dengan melakukan tradisi manusia. Disinilah sesungguhnya kunci pokok untuk mengetahui hari-hari apakah yang disucikan oleh Allah. Semenjak tidak terdapat seorang pun yang merayakan/memperingati hari-hari yang diperkenalkan oleh kebudayaan berhala serta hari-hari raya Alkitab yang Allah perintahkan dan yang diperingati oleh Kristus dan Para Jemaat Kerasulan, maka anda sendirilah yang harus memilih apakah anda akan memperingati "peringatan masal Kristus" yang menggambarkan Kristus sebagai seorang anak kecil yang tak berdaya, dan dikelilingi oleh konsep-konsep berhala dari pohon Yule, pohon Natal, Santa Claus dan Rudolph sang rusa berhidung merah. Atau sebaliknya anda merayakan hari-hari raya Alkitab yang menggambarkan, langkah-demi langkah, suatu rencana Allah yang agung yang sedang dikerjakan oleh Allah di bumi ini. Anda harus memilih antara mengikuti Kristus dan para rasul seperti di zaman awalnya, atau mengikuti "para bapa" Katolik dari zaman kegelapan yang dengan gencar menyuntikkan segmen-segmen dari ajaran berhala yang terkenal kedalam dunia kekristenan.
Seperti yang telah saya jelaskan didalam buklet yang berjudul Which Day is The Christian Sabbath?/Hari yang manakah Sabat umat Kristen?, jika anda berada di suatu pulau padang pasir dan hanya memiliki kalendar suci dan sebuah Alkitab, maka dapatlah dipastikan bahwa anda hanya akan merayakan hari Sabat dan hari-hari Suci Alkitab karena hanya hari-hari itulah yang diperintahkan dan dibicarakan oleh Alkitab sebagai contohny Alkitab tidak pernah menuliskan kata "Christmas/Natal". Dan bahkan tidak ada suatu tulisan apa pun di dalam Alkitab yang memerintahkan kita untuk merayakan hari kelahiran Kristus, bahkan kita pun tidak mengetahui kapankah Kristus dilahirkan! Jikalau hari kelahiranNya pun diketahui tetap Alkitab tidak pernah memerintahkannya untuk dirayakan oleh pengikutNya. Dan kata "Easter" dengan tidak secara sengaja di tuliskan di dalam Versi King James, yaitu di dalam Kisah Para Rasul 12:4. Sesungguhnya para kaum sekolahan mengakui bahwa kata "Paskah" sesungguhnya diterjemahkan dengan lebih benar ke dalam kata "Passover" yang mana kata ini tidak memiliki hubungan apapun dengan Easter. Dan pada kenyataannya secara nyata para kaum sekolahan mengenali bahwa kata "Easter" adalah suatu derivasi nama dari nama dewi Ishtar atau "Isis" yang adalah dewi seks dan kesuburan dari Timur Tengah kuno. Hal ini jugalah yang menjadi asal dari "telur-telur Paskah" yang tidak lain suatu penyembahan berhala dari seks dan kesuburan.
Memanglah amat menarik untuk menyadari suatu kenyataan bahwa meskipun kita tidak diajarkan tentang hari-hari raya Allah di sekolah Minggu, tetapi ternyata hari-hari raya yang diperintahkan oleh Allah tersebut disebutkan dengan sangat sering di dalam Alkitab! Hari-hari ini dengan jelas diperintahkan di dalam Wasiat Lama dan juga diperingati dan dirayakan oleh Kristus dan para rasul di dalam Wasiat Baru. Pada kenyataannya teladan Kristus dan para rasul telah benar-benar mensahkan hari-hari raya tersebut bagi umat Kristen.
Lukas menceritakan kepada kita, "Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah" (Lukas 2:40-41). Kemudian bacaan Alkitab tersebut menceritakan kepada kita tentang bagaimanakah "Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya." (ayat 43). Semua kaum sekolah sesungguhnya mengetahui bahwa frasa kata "hari-hari" yang dibicarakan pada ayat tersebut diatas tidak lain adalah hari raya Roti Tak Beragi yang datangnya setelah Paskah. Jadi meskipun Yesus kuat di dalam roh dan dapat mendiskusikan prinsip-prinsip rohani pada level yang sangat tinggi dengan para kaum doktorat Yahudi tentang masalah hukum Allah ternyata Ia juga menggabungkan diri dengan orang tuaNya untuk merayakan Masa Raya Roti Tak Beragi.
Selama kepelayananNya kita akan menemukan bahwa Yesus juga merayakan masa raya Tabernakel/Pondok Daun di Yerusalem. Ia mengatakan kepada saudara kandung jasmaniNya: "Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." (Yohanes 7:8). Disini kita bisa dengan jelas melihat bahwa sesungguhnya Anak Allah telah memerintahkan kepada mereka yang adalah saudaraNya untuk pergi memperingati Masa Raya Tabernakel/Pondok Daun! Kemudian, Yesus sendiri pergi dengan secara sembunyi-sembunyi, pada mulanya, jadi agar tidak menimbulkan pengejaran (ayat 10). Kemudian "Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ " (ayat 4).
Pada akhir hidup Yesus, Lukas menceritakan kepada kita: "Maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: "Pergilah, persiapkanlah Perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita" (Lukas 22:7-8, 15). Jadi sebagai seorang dewasa yang memberikan teladan, Yesus merayakan Paskah/Passover.
Demikian juga kita akan menemukan bahwa Jemaat Kerasulan mulai terbentuk pada suatu masa raya Allah yang disebut hari Pentakosta, yaitu suatu masa raya ketika Roh Kudus dicurahkan: "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat." (Kisah Para Rasul 2:1). Sekarang cobalah kita pikirkan, apakah yang akan terjadi jika para murid menolak untuk merayakan hari-hari raya Allah dan bahkan tidak berkumpul di tempat pada hari ketika Roh Kudus dicurahkan?
Beberapa orang sesungguhnya dapat saja berpikir bahwa mungkin hari Pentakosta ini adalah satu-satunya hari raya yang dirayakan oleh Jemaat yang mula-mula. Sayangnya tidaklah demikian kenyataannya. Di dalam Kisah Para Rasul 20:16 kita akan membaca: "Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus, supaya jangan habis waktunya di Asia. Sebab ia buru-buru, agar jika mungkin, ia telah berada di Yerusalem pada hari raya Pentakosta.". Dan Paulus merayakan hari Pentakosta juga di Efesus: "Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang" (I Korintus 16:8-9).
Dengan jelas kita dapat melihat bahwa ternyata rasul Paulus juga memerintahkan jemaat bukan Yahudi yang berada di Korintus untuk merayakan hari raya Roti Tak Beragi. Sedangkan berbicara tentang Wasiat Baru, Paulus menuliskan: "Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta (bermasa raya), bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran" (1 Korintus 5:7-8). Paulus dengan jelas berbicara tentang "merayakan Masa Raya" Roti Tak Beragi.
Suatu nubuatan akhir zaman ternyata dengan sangat jelas menyatakan bahwa nantinya semua bangsa di bumi akan belajar untuk memperingati masa raya Pondok Daun! Perhatikanlah tentang hal masa depan apakah yang Allah wahyukan kepada nabi Zakharia untuk dituliskan "Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan TUHAN, maka jarahan yang dirampas dari padamu akan dibagi-bagi di tengah-tengahmu. Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu. Kemudian TUHAN akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan.....Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan. Dan jika kaum Mesir tidak datang dan tidak masuk menghadap, maka kepada mereka akan turun tulah yang ditimpakan TUHAN kepada bangsa-bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Itulah hukuman dosa Mesir dan hukuman dosa segala bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun" (Zakharia 14:1-4: 16-19).
Semenjak setiap manusia di bumi akan segera mempelajari untuk merayakan hari-hari raya Alkitab ini, mengapakah kita tidak memulainya dari sekarang? Mengapakah kita tidak belajar untuk mulai mematuhi Allah dan mulai merayakan masa rayaNya semenjak saat ini? Mengapakah kita tidak mau menjadi sang "perintis" rohani dan membantu membangun suatu teladan bagi jutaan orang yang lain yang mana mereka akan memahami pemahaman ini segera setelah kembalinya Kristus ke dunia?
"Bagaimanapun juga," anda mungkin akan berkata, "kita telah diajarkan bahwa hari-hari raya tersebut adalah hari-hari raya orang Yahudi! Dan karenanya apakah umat Kristen harus merayakan hari-hari raya Yahudi?"
Baiklah sekarang ingatlah baru saja saya menjelaskan bahwa segera segala bangsa baik itu Yahudi dan bukan Yahudi, akan merayakan hari-hari raya Alkitab. Hal ini dilakukan bukan karena hari-hari raya tersebut adalah milik orang "Yahudi", tetapi karena Allah memerintahkanNya (segala bangsa di muka bumi). Semua umatNya di zaman Wasiat Baru merayakannya, Kristus merayakannya dan menjadikannya teladan untuk kita ikuti. Demikian pula para rasul di zaman awal juga merayakannya.
Suatu kunci yang vital untuk memahami perihal ini adalah dengan benar-benar memahami instruksi Yesus kepada wanita Samaria. Ia mengatakan kepada seorang perempuan yang bukan Yahudi tersebut: "Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi" (Yohanes 4:22).
Patutlah kita mengetahui yaitu bahwa meskipun orang Yahudi sering menolak ajaran Allah atau menumpuki ajaran Allah dengan tradisi-tradisi manusia, tetapi satu hal yang menjadi kenyataan adalah bahwa orang Yahudi sungguh memelihara pengetahuan akan Allah sang Pencipta dan juga Alkitab yang ada di zaman Kekristenan Wasiat Baru yang pada saat ini disebut Wasiat Lama/Perjanjian Lama. Dengan jelas, orang Yahudi diberikan "wahyu Allah" (Roma 3:1-2), yang mana hal ini juga termasuk hal-hal yang berhubungan dengan hari-hari suci Allah dan cara menyusun kalendar suci untuk menetapkan waktu peringatan masa-masa raya suci tersebut. Pendek kata, orang Yahudi benar-benar "mengetahui" siapakah Allah yang mereka sembah. Dan melalui Kristus and suatu pemahaman yang benar dari Wasiat Lama, maka kita dapat diberitahukan bahwa keselamatan adalah dari "orang Yahudi". Sehingga disamping segala kelemahan manusia dan tradisi buatan manusia ternyata orang Yahudi telah dengan bersungguh-sungguh memelihara hukum rohani Allah yang tidak lain adalah Kesepuluh Perintah, Sabat yang benar dan Hari-Hari Suci tahunan. Mereka mengerti bahwa sang Penciptalah yang telah memerintahkannya. Di dalam kenyataannya, bangsa Yahudilah yang menurunkan Yesus Kristus yang tidak lain adalah Mesias yang dinubuatkan.
Rasul Paulus diwahyukan untuk menuliskan: "Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah." (Roma 2: 28-29). Jadi seluruh umat Kristen yang benar adalah orang-orang "Yahudi" secara rohani! Dan kita terikat untuk merayakan hukum-hukum rohani dan hari-hari suci yang Allah berikan kepada Israel yang mana hal ini ditegaskan kembali melalui teladan Kristus dan Jemaat Perjanjian Baru. Inilah juga yang dituliskan oleh rasul Paulus: "Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah" (Galatia 6:15-16).
Dengan jelas, "umat Israel Allah" adalah umat Allah yang sebenarnya. Mereka adalah orang yang secara rohani melakukan sunat dan membiarkan Kristus untuk menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri mereka melalui Roh Kudus. Jadi kita memang harus mengeluarkan dan membuang segala prasangka dan berhenti memanggil hal-hal yang Allah berikan kepada umatNya bagi segala ras dan bangsa berbau "keYahudian"!
Sudah seharusnya umat Kristen yang sebenarnya merayakan hari-hari suci yang Allah sucikan. Memanglah benar bahwa kita harus mengikuti teladan Yesus dan para rasul. Pemahaman dan perayaan hari-hari raya Allah akan sungguh-sungguh membuka pikiran kita terhadap rencana dan tujuan Allah yang agung yang sedang dikerjakanNya di bumi ini. Ingatlah bahwa Allah memang memiliki suatu rencana yang besar bagi setiap umat manusia. Allah menyatakan hal ini kepada kita melalui surat Paulus kepada jemaat di Efesus: "Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:9-11).
Banyak umat Kristen yang merayakan apa yang mereka sebut sebagai "Perjamuan Terakhir"/"Lord's Supper"/"Eucharist" atau segala perayaan/acara yang mengikutsertakan roti dan anggur yang menyimbolkan pengorbanan Kristus. Beberapa bahkan mulai memahami mengapa mereka melakukan hal ini dan seperti yang saya katakan bahwa kalau diperhatikan secara teliti maka kita akan menemukan perbedaan-perbedaan dari cara perayaan masing-masing cabang Kekristenan.
Dan nanti kita akan melihat bahwa perayaan ini sesungguhnya hanyalah merupakan langkah pertama dari rencana Allah yang agung. Dan karena kebanyakan umat Kristen tidak merayakan rencana Allah yang lainnya maka tidaklah mengherankan jika mereka sama sekali tidak memahami rencana Allah yang sangat indah lainnya! Di dalam seluruh Alkitab terdapat banyak hal-hal yang Allah lakukan dengan menggunakan pernyataan dari pola angka tujuh. Kita dapat melihatnya bahwa sejak dari mulanya, Allah menciptakan suatu periode satu minggu yang berisi tujuh hari (Kejadian 1). Dan selanjutnya Allah menyatakan hari ketujuh tersebut sebagai Sabat SuciNya (2:1-3). Allah juga memberikan secara tepat 7 Hari Raya Tahunan untuk menyatakan rencana dan tujuanNya bagi umat manusia secara garis besar (Imamat 26). Di dalam Wasiat Baru, kita akan menemukan tujuh Jemaat dari kitab Wahyu (Wahyu 2-3). Kita juga membaca tentang tujuh meterai, tujuh sangkakala, tujuh tulah, dan lain sebagainya. Jadi tidaklah mengejutkan jika RencanaNya dinyatakan di dalam tujuh langkah semenjak tujuh adalah angka Alkitab yang menyatakan kesempurnaan atau penyelesaian.
Oleh karenanya jika kita benar-benar memahaminya maka amatlah konyol ketika seorang manusia hanya memperingati satu masa raya Allah saja tetapi mengabaikan yang lainnya! Sebagai "pendahuluan" dari apa yang nantinya akan datang, marilah kita secara singkat melihat kepada seluruh masa raya tahunan Allah, yang tidak lain adalah hari-hari suci tahunan Allah yang jumlahnya ada tujuh. Sejalan dengan kita mengetahuinya maka kita akan dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang rencana dan tujuan Allah pada masa-masa raya ini.
Yang pertama adalah peringatan yang berkaitan dengan penderitaan dan kematian Kristus bagi kepentingan kita. Alkitab menamakannya "Passover". Hal ini menggambarkan penerimaan kita akan tubuh Kristus yang terkoyak dan darahNya yang tertumpah yang Ia persembahkan sebagai Juru Selamat kita. Dan ingatlah bahwa hal ini hanyalah langkah awal di dalam Rencana Allah bagi kita! Selanjutnya kita butuh untuk bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan (2 Petrus 2:18) dan mulai untuk mengeluarkan segala jalan-jalan dosa kita dan tingkah-tingkah laku kita yang penuh dosa dari kehidupan kita. Proses "mengalahkan" ini digambarkan dengan Hari Raya Roti Tak Beragi.
Yang ketiga, kita semua berada di dalam Jemaat yang dilahirkan secara rohani, "kumpulan kecil" (Lukas 12:32). Sebenarnya kita hanyalah "buah sulung" dari masa panenan rohani yang agung yang akan terjadi setelah masa kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Ketahuilah bahwa Masa Raya Allah yang ketiga yang disebut Masa Raya Pentakosta/"Buah Sulung" sesungguhnya menggambarkan suatu fakta bahwa hanya sedikit saja panenan rohani yang pada saat ini sedang dipanen oleh Allah. Allah pada kenyataannya tidak berusaha untuk "menyelamatkan" seluruh dunia pada saat ini karena jika tidak begitu maka Allah pastilah sudah membuka pikiran setiap manusia untuk memahami kebenaranNya. Jutaan orang yang tidak percaya baik dari masa lalu maupun masa kini di berbagai tempat seperti di Cina, India dan berbagai macam tempat lainnya pastilah akan sudah memahami Allah yang benar dengan baik. Dan dengan kesungguhan yang sejati mau menerima anakNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita!
Yang keempat adalah kejadian-kejadian yang hebat di akhir zaman ini dan kembalinya Kristus ke dunia yang digambarkan oleh masa raya Sangkakala (Imamat 23:24). Ketahuilah bahwa pada kenyataannya sangkakala benar-benar digunakan oleh bangsa Israel kuno sebagai tanda perang. Di zaman kita, pada saat kejadian klimaks dari seruntutan peperangan dan berbagai kejadian gejolak dunia, Yesus Kristus akan kembali dan orang mati akan dibangkitkan "pada saat sangkakala terakhir" (1 Korintus 15:51-52).
Kemudian, segera setelah kembalinya Kristus, Setan secara supranatural akan dikekang dan diletakkan di dalam jurang tak berdasar "lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya" (Wahyu 20:3). Akhirnya, dengan dikekangnya Setan, maka manusia akan menjadi "satu" dengan Allah dan hal ini dengan jelas digambarkan oleh Masa Raya yang kelima-Hari Raya Pendamaian.
Setelah Kristus kembali maka Allah akan mencurahkan Roh KudusNya untuk mulai menerangi umat manusia dengan pemahaman yang benar akan rencanaNya yang agung. Pada saat itu, Allah akan berkata, "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yesaya 11:9). Hal ini digambarkan dengan perayaan yang menggembirakan dari Masa Raya yang keenam di dalam rencana Allah. Masa raya ini dinamakan masa raya Pondok Daun tujuh hari atau "Masa Raya Pengumpulan" (Keluaran 34:22).
Kalendar masa raya/hari suci Allah tersebut sesungguhnya didasarkan atas musim-musim panen bangsa Israel. Dan seperti yang telah diindikasikan bahwa hal ini sesungguhnya menggambarkan kepada kita tentang masa panenan rohani yang telah direncanakan oleh Allah untuk Ia lakukan. Untuk pertama kalinya akan dilakukan panenan musim semi yang kecil yang digambarkan dengan "Masa Raya Buah Sulung" dan akhirnya yaitu di penghujung dari zaman ini akan dilakukan panenan musim gugur yang besar yang digambarkan dengan "Masa Raya Pengumpulan".
Sekarang sampailah kita pada masa raya rohani yang ketujuh yang adalah juga merupakan masa raya yang terakhir dari ketujuh masa raya yang Allah berikan kepada umatNya. Pada poin ini anda mungkin saja bertanya-tanya tentang "hal apakah yang sesungguhnya masih dapat tersisa dan digambarkan di dalam dan tentang rencana Allah?" Sungguh seperti apa yang sudah ditunjukkan pada bagian sebelumnya yaitu bahwa pada akhir dari pemerintahan 1000 tahun Kristus maka akan terdapat banyak sekali umat manusia bahkan milyardan jumlahnya yang berasal dari masa lalu. Yang mana mereka semuanya itu adalah orang-orang yang belum dan tidak memahami dengan sungguh-sungguh segala hal yang berhubungan dengan Allah yang benar, demikian juga dengan tentang Yesus Kristus atau tentang tujuan Allah bagi kehidupan mereka. Sehingga apakah yang akan terjadi kepada milyardan orang yang belum "diselamatkan" tersebut semenjak "Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak memandang bulu?" (Roma 2:11). Masa Raya Allah ketujuh yang suci tersebut adalah masa raya yang menggambarkan saat ketika Allah akan membuka pikiran orang-orang yang jumlahnya sangat besar tersebut untuk pertama kalinya sehingga mereka dapat memahami firman dan kehendakNya dan lebih jauh agar mereka juga mendapatkan kesempatan untuk dapat membuat nama mereka tertulis di dalam "kitab Kehidupan" (Wahyu 20:11-12).
Dengan perayaan Masa Raya yang ketujuh yang kita sebut "Hari Besar Yang Terakhir" (Yohanes 7:37) maka kita menyelesaikan gambaran dari seluruh rencana Allah yang agung. Dimulai dengan penerimaan kita akan Kristus sebagai sang Juruselamat sampai dengan penggambaran akan masa kedatanganNya yang kedua kalinya yang berlanjut sampai dengan masa Hari Besar Terakhir. Sungguh masa Hari Besar Terakhir adalah suatu masa yang menggambarkan saat ketika seluruh umat manusia akan pada akhirnya memiliki kesempatan yang sesungguhnya untuk mendapatkan keselamatan. Ingatlah bahwa masa-masa raya yang diberikan dan yang diwahyukan oleh Allah tersebut memang menggambarkan suatu rencana yang nyata dari Allah. Masa raya keagamaan berhala yang disuntikkan oleh Setan sebagai pengganti dari masa-masa raya yang sebenarnya dari Allah sungguh pada kenyataannya bernilai murah dan tidak dapat dibandingkan dengan masa raya Allah itu sendiri. Masa raya yang palsu tersebut sayangnya telah menimpa orang-orang yang dibutakan. Masa raya yang bukan berasal dari Allah tersebut adalah masa raya yang menggambarkan allah yang palsu, Kristus yang palsu dan akhirnya memimpin kepada penerimaaan injil yang palsu yang secara langsung bertentangan dengan pesan asli yang dikabarkan oleh Kristus dan para Rasul!
Dari ketujuh masa raya ini, dua diantaranya berlangsung selama tujuh hari dan lima lainnya berlangsung selama 1 hari. Jadi jumlah total dari hari-hari suci dari satu tahun ini adalah 19 hari. 7 dari 19 hari tersebut adalah termasuk hari istirahat yang khusus atau "Sabat". Sabat-Sabat tahunan yang jumlahnya tujuh ini dikenal sebagai masa raya tahunan Allah. Ketujuhnya adalah hari Pertama dan Terakhir dari Masa Raya Roti Tak Beragi, Masa Raya Pentakosta, Masa Raya Sangkakala, Masa Raya Pendamaian, hari Pertama dari Masa Raya Pondok Daun dan Hari Besar Terakhir.
Seperti yang kita lihat di dalam buklet ini, hari raya Allah sesungguhnya adalah lebih dari hari yang mana kita berhenti dari melakukan kegiatan kerja normal kita; hari-hari tersebut adalah lebih dari hanya sekedar hari libur nasional. Sedangkan hari-hari raya Yahudi yang lain, seperti Hanukkah dan Purim, walaupun memegang peranan yang penting di dalam kehidupan sipil dari bangsa Yahudi dan penting bahkan bagi banyak orang Yahudi sampai hari ini, sayangnya mereka bukanlah termasuk masa raya Allah seperti yang dituliskan di dalam Imamat 23. Mereka adalah perayaan nasional yang tidak lain seperti hari Thanksgiving yang ada dan yang di rayakan di Amerika Serikat dan Kanada, tetapi tidak di Inggris. Kita tidak akan dapat melihat dan berharap seorang warga negara Inggris untuk merayakan hari Thanksgiving orang Kanada karena memang hari perayaan itu bukanlah hari perayaan negara Inggris. Demikian juga orang tidak mungkin mengharapkan seorang bukan Yahudi memiliki hari libur nasional yang berhubungan dengan negara Yahudi. Terlebih lagi oleh karena Allah tidak memerintahkan hari-hari libur itu untuk dirayakan seperti yang Ia perintahkan bagi masa-masa raya yang tertulis di dalam Imamat 23.
Sekarang, marilah kita meneliti ulang dan meneliti dengan singkat arti dan tujuan dari setiap masa raya keagamaan yang jumlahnya tujuh tersebut yang Allah berikan bagi setiap orang untuk dirayakan. Ingatlah bahwa pemahaman dan perayaan dari masa-masa raya ini akan membantu kita untuk mengingat rencana Allah yang besar akan penyelamatan. Allah memang berkeinginan untuk menerangi dan akhirnya menyelamatkan banyak sekali umat manusia.
Allah telah memutuskan untuk menciptakan umat manusia sesuai dengan gambar dan rupaNya, untuk memiliki bentukNya, yang mana manusia ini nantinya akan menjadi anak-anak laki-lakiNya dan perempuanNya yang sebenarnya, yang akan memiliki alam keilahianNya (2 Petrus 1:4) demikian juga karakter diriNya yang diletakkan di dalam diri mereka melalui Roh Kudus.
Manusia, sebagai agen moral bebas, memiliki kebebasan untuk memilih yang baik dan yang jahat. Allah memang akan mengijinkan manusia, dibawah pengaruh setan, untuk melakukan dosa dan untuk menggembara di dalam kehidupan mereka dengan cara mereka sendiri selama 6000 tahun. Manusia baik pria dan wanita akan belajar dan mempelajari pelajaran-pelajaran kehidupan melalui pengalaman dan penderitaaan. Hal ini akan berlangsung sampai kepada suatu saat ketika Allah "memanggil" seorang manusia secara supranatural kepada pemahaman akan firmanNya serta pertobatan yang sejati (Yohanes 6:44).
Semenjak dosa di dalam segala bentuknya adalah pemberontakan melawan Allah maka dosa adalah sungguh sesuatu yang menakutkan. Dan semenjak Allah telah menyatakan bahwa "upah dosa adalah maut" (Roma 6:23) maka semenjak mulanya pula Allah telah memutuskan bahwa hanya kematian anakNya sendirilah yaitu Yesus Kristus yang akan dapat benar-benar memperdamaikan segala kejahatan dosa. "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya..... 7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya."(Efesus 1:4,7).
Allah berkata kepada orang Israel kuno bahwa "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa" (Imamat 17:11). Jadi Allah telah merencanakan bahwa darah AnakNya sendirilah yang akan dicurahkan. Kristus akan menjadi Domba Paskah yang utama yang akan memperdamaikan seluruh umat Kristen yang benar kepada Allah Bapa. "Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus" (1 Korintus 5:7). Dan juga, "Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Roma 5:9).
Beberapa minggu sebelum mereka datang ke gunung Sinai dan sebelum Perjanjian Lama diajukan, Allah memberitahu bangsa Israel untuk menyisihkan anak domba jantan yang tidak bercela (Keluaran 12:3-6). Anak domba ini akan dijadikan "anak domba Paskah" dan disembelih pada sore hari tanggal 14 Abib bulan yang pertama dari kalendar suci Allah.
Allah telah memutuskan untuk memusnahkan seluruh keturunan sulung di Mesir. Hal ini terjadi karena Firaun menolak untuk membiarkan umatNya pergi meninggalkan Mesir. Di lain pihak Allah memerintahkan bangsa Israel untuk mematuhi diriNya dan menyembelih serta memakan anak domba Paskah. Ia juga memerintahkan mereka untuk menyisakan sedikit dari darah anak domba Paskah untuk dibubuhkan di pintu-pintu mereka serta palang-palang pintu tempat tinggal mereka, dan kemudian "Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya" (ayat 13-14).
Jadi lebih dari 1400 tahun sebelumnya, Allah telah memimbing suatu bangsa yang jumlahnya sekitar 3 juta orang untuk melakukan suatu tindakan pendahuluan dari peristiwa pengorbanan yang besar yang mana anakNya sendiri yaitu Yesus Kristus akan lakukan bagi kepentingan umat manusia. Ingatlah bahwa peristiwa penyembelihan anak domba Paskah sesungguhnya secara langsung menggambarkan peristiwa pengorbanan Kristus, yang mana hal tersebut adalah merupakan langkah awal di dalam rencana Allah untuk membuat umat manusia menjadi anak-anakNya.
Paskah menggambarkan suatu kenyataan bahwa kita "oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya" (Roma 3:24-25).
Setiap umat Kristen yang benar sesungguhnya diperintahkan oleh Allah untuk merayakan Paskah! Masa Raya ini dirayakan sekali dalam setahun seperti yang diperintahkan oleh Allah, yaitu pada saat malam di mana Yesus akan disalibkan. Rasul Paulus menjelaskan: "Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" (1 Korintus 11:23-26).
Pada saat peringatan Paskah umat Kristen akan saling mencuci kaki sesamanya sama dengan apa yang Yesus perintahkan (Yohanes 13:5-15). Di zaman Yesus, seorang hamba akan mencuci kaki seorang tamu di dalam rumah tuannya. Dengan mengambil peranan sebagai seorang hamba, Yesus membawa dan memanggil umat Kristen kepada kerendahan hati dan memberikan suatu pengingat bahwa kita harus memiliki sikap hidup untuk saling mengasihi antara satu dengan yang lainnya sama seperti yang diberikan oleh Kristus kepada kita.
Di dalam perayaan Paskah terdapat juga acara memakan roti yang mana hal ini menggambarkan tubuh Kristus yang telah "di cabik-cabik" bagi kita (1 Korintus 11:24). Firman Allah dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus menderita suatu deraan atau "penyiksaan" sebelum Ia disalibkan. Ahli sejarah menceritakan kepada kita bahwa penyiksaan yang dilakukan Roma tersebut dilakukan terhadap Yesus dengan menggunakan pecut kulit yang diberi serpihan logam yang tajam dan di desain untuk mencabik dan menghancurkan daging tubuh. Oleh karena kekerasan dari siksaan ini menyebabkan banyaknya darah yang terhilang dari tubuh maka banyak penjahat yang meninggal bahkan sebelum mereka disalibkan.
Mengapakah Yesus harus menempuh hal yang sangat mengenaskan ini?
Pada kenyataannya, sekitar 700 tahun sebelum peristiwa ini terjadi, Allah sesungguhnya telah memberikan nabi Yesaya suatu wahyu untuk menggambarkan tentang hal-hal yang akan terjadi dan alasan mengapakah hal-hal tersebut terjadi: "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh"(Yesaya 53:4-5).
Jadi oleh bilur-bilur Yesus itulah kita disembuhkan! Lebih tepat frasa ini diterjemahkan, maka secara teknis frasa ini dapat dengan lebih tepat diterjemahkan "Ia telah menanggung kesengsaraan kita" semenjak "Ia menanggung penyakit kita." Di dalam Wasiat Baru rasul Matius menggambarkan Yesus menyembuhkan banyak orang yang sakit dan kemudian mengatakan hal ini sebagai pemenuhan dari nubuatan Yesaya: "Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:16-17).
Jadi ketika kita memakan roti yang dipecah-pecahkan pada saat Paskah maka kita menegaskan kembali tentang penerimaan kita akan tubuh Kristus yang terkoyak bagi kesembuhan jasmani kita. Hendaklah kita menghargai segala simbol yang penting dari pengorbanan Juru Selamat kita ini dengan kerendahan hati, kekaguman, dan iman yang dalam di dalam Allah yang agung yang telah memungkinkan kesembuhan jasmani kita dan pengampunan rohani kita terjadi!
Selanjutnya pada pelayanan Paskah, kita akan mengambil bagian di dalam meminum anggur yang menyimbolkan darah Yesus Kristus yang tercurah bagi pembayaran dosa-dosa kita. Amatlah penting untuk memahami bahwa Kristus adalah Pencipta kita dan oleh karenanya maka kehidupanNya jauh lebih bernilai daripada kehidupan kita semua bahkan jika digabungkan sekalipun. Injil Yohanes menceritakan kepada kita tentang Yesus Kristus: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.....Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya" (Yohanes 1:1-3, 10-11). Jadi Individu yang telah bersama-sama dengan Bapa dari awalnya telah "mengosongkan" diriNya (berhubungan dengan Filipus 2:7) dan melepaskan keagungan dan kekuatan keilahianNya dan menjadi Juru Selamat kita. Pada permulaannya adalah Kristus sendiri yang menciptakan umat manusia dan segala sesuatunya. Hal ini dilakukan oleh Kristus bagi Bapa. Efesus 3 menceritakan kepada kita bahwa Allah "menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus" (ayat 9).
Tidaklah mengherankan bahwa Alkitab berbicara tentang darah Yesus Kristus yang "berharga"! Karena darahNya adalah darah Pribadi Agung yang telah menciptakan langit yang luas, bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya bagi Bapa.
Ketika kita meminum anggur merah yang menyimbolkan kerendahan hati dari sang Pencipta kita maka sudah seharusnya kita dipenuhi dengan perasaan yang dalam dari rasa hormat dan penyembahan terhadap Allah dan Juru Selamat kita. Jika kita benar-benar bertobat dari dosa-dosa kita dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita maka kita harus memiliki iman yang total bahwa kita tidak ditebus dengan "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1 Petrus 1:18-19).
Melalui pengorbanan Paskah dari Kristus maka diri kita dibenarkan, diampuni dari dosa-dosa lampau kita dan "dibuat layak" di dalam hubungan kita dengan Allah. "Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Roma 5:9). Sekarang setelah kita pada saat ini telah diampuni dari dosa-dosa kita, bagaimanakah kita dapat menjadi "seorang pemenang" yang dapat mengeluarkan dengan sungguh-sungguh segala dosa dari kehidupan kita?
Masa Raya Roti Tak Beragi sesungguhnya menyediakan jawaban atas hal ini. Ketahuilah bahwa masa raya ini menggambarkan langkah yang berikutnya di dalam rencana Allah. Lihatlah bahwa sesudah memerintahkan Paskah Allah kemudian memberitahu Musa: "Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel. Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apa pun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan. Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya" (Keluaran 12:15-17).
Perhatikanlah! Semenjak masa raya Roti Tak Beragi adalah saat ketika Allah mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir yang adalah simbol atau "lambang" dari dosa maka penyimbolan dari masa raya ini tidak lain menggambarkan umat Kristen yang keluar dari Mesir rohani-dari dosa!. Ragi itu sendiri, tentu saja, adalah juga suatu simbol dari dosa. Ketika Yesus memperingatkan murid-muridNya tentang ajaran-ajaran orang Farisi yang penuh dengan dosa dan liku-liku, Ia berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduk" (Matius 16:6). Pada kenyataannya ragi memang dapat mengakibatkan roti "mengembang/puff up" yang mana hal ini sama seperti dosa itu sendiri atau seperti keinginan pribadi yang dapat menyebabkan diri kita mengembang dan "melakukan hal-hal yang kita senangi sendiri". Ragi akan cenderung menyebar ke seluruh adonan sama seperti dosa yang tak kentara yang tiba-tiba menyebar ke seluruh Jemaat! Oleh karenanya rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: "Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus" (1 Korintus 5:6-7).
Banyak sekali orang Kristen yang percaya bahwa kita "diselamatkan" ketika dosa-dosa kita di ampuni. Dan, juga, pada saat hal itu terjadi maka kita dikatakan diselamatkan dari upah dosa masa lampau kita sehingga kita tidak akan dapat terjatuh kembali. Sayangnya hal ini bukanlah apa yang dikatakan oleh Alkitab. Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa walaupun diri kita sudah diampuni dari upah dosa kita di masa lampau, ternyata kita masih tetap dapat terjatuh dan kehilangan keselamatan (Ibrani 6:4-8: 10:26-31; 1 Korintus 9:27). Jadi ingatlah bahwa keselamatan adalah suatu proses. Kita pada saat ini "sedang dalam proses diselamatkan" (1 Korintus 1:18) dan nantinya kita "akan diselamatkan" jika kita bertahan sampai kesudahannya (Matius 24:13). Rasul Paulus menjelaskan: "Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya" (Roma 5:10). Oleh karenanya jika kita hanya merayakan Paskah maka kita akan meninggalkan rencana Allah secara tidak lengkap. Dengan kata lain kita hanya membiarkan Yesus tergantung mati di kayu salib dan itulah akhir daripada kisah! Walaupun begitu hendaklah kita mengingat bahwa Juru Selamat kita telah bangkit kembali! Dan melalui kebangkitanNyalah maka kita dapat diselamatkan.
Yesus berkata kepada para pengikutNya: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah" (Matius 19:17). Ia juga mengatakan kepada kita untuk "bertobat" (Markus 1:15). "Bertobat" adalah berpaling secara sungguh-sungguh dari dosa dan mengalihkan tujuan hidup kepada jalan kebenaran. Dengan kata lain Allah membutuhkan kita untuk membuat suatu perjanjian dengan diriNya dengan mengeluarkan dosa dari kehidupan kita, berhenti melanggar hukum rohaniNya dan mulai untuk mematuhi hukumNya. Dan kemudian Ia mengharapkan kita untuk selalu melaksanakannya.
Rasul Paulus menuliskan: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Banyak yang akan mengatakan bahwa ayat inilah yang membuktikan kepada kita bahwa kita tidak perlu untuk melakukan sesuatu hal apapun selain daripada menerima kasih karunia yang diberikan secara gratis tersebut, oleh karenanya maka kita tidak perlu untuk melaksanakan perintah Allah. Tetapi sungguh hal ini adalah cara pandang yang sempit, khususnya ketika anda melihat ayat selanjutnya di mana rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (ayat 10). Pada kenyataannya, seluruh jalan hidup kita harus berubah dari tidak mematuhi Allah menjadi mematuhi Allah. Walaupun Allah sesungguhnya mengetahui bahwa kita tidak akan dapat melakukan dengan sempurna oleh karena kita masih di dalam bentuk daging, (Roma 7:18, 24; 1 Yohanes 1:8-10) bagaimanapun juga Ia masih tetap menginginkan kita agar bertumbuh di dalam karakter diriNya melalui suatu proses perjuangan melawan dan mengalahkan dosa (berhubungan dengan 1 Korintus 9:24-27; Wahyu 2:11; 3:21; 21:7). Kehidupan masa lalu kita yang penuh dengan dosa harus "disalibkan bersama dengan Kristus" (Galatia 2:20). Di dalam baptisan, kita dimasukkan ke dalam air yang menyimbolkan kehidupan dan karakter diri kita pada masa lalu yang dikuburkan bersama dengan Kristus, dan kemudian kita diangkat dari dalam air, yaitu dibangkitkan dari "kubur air" baptisan sebagai simbol dari "kebangkitan" untuk menjalani kehidupan baru di dalam Kristus. Dan karenanya maka mulai dari saat itu kita harus menjalani hidup berdasarkan jalanNya. Masa raya Roti Tak Beragi sesungguhnya menggambarkan proses ini yaitu bahwa jika kita selalu berusaha untuk hidup di dalam jalanNya dengan mengeluarkan dosa dari kehidupan kita.
Jadi rasul Paulus memerintahkan jemaat yang bukan Yahudi di Korintus: "Karena itu marilah kita berpesta (bermasa raya/memperingati masa raya), bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran" (1 Korintus 5:8).
Dengan jelas maka hal ini adalah suatu perintah Wasiat Baru untuk merayakan masa raya Roti Tak Beragi! Dengan jelas dan tegas perintah ini diberikan kepada Jemaat bukan Yahudi, dan oleh karenanya maka tidak ada sesuatu pun yang berbau "Yahudi" disini! Di dalam ayat 7, Paulus menggabungkan masa raya Roti Tak Beragi dengan Paskah oleh karena jarak keduanya sangat berdekatan, masa raya Paskah terjadi sesaat mendahului masa raya Roti Tak Beragi. Ingatlah pula bahwa Paskah berhubungan dengan pengampunan dari dosa-dosa masa lalu dimana masa raya Roti Tak Beragi berhubungan dengan "mengikuti" jalan Allah, dengan bantuan Allah, untuk bertumbuh di dalam kasih karunia dan di dalam pengetahuan "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Efesus 4:13).
Jadi bagaimanakah umat Kristen merayakan masa raya ini? Sejalan dengan kita merayakan masa raya ini pada setiap tahunnya maka pengikut yang benar dari keKristenan Wasiat Baru haruslah melakukan suatu tindakan mengeluarkan ragi (dan produk-produk roti yang sudah diberi ragi) dari rumah dan tempat tinggal mereka. Selama tujuh hari mereka akan tidak memakan ragi. (Ingatlah bahwa pada keadaan normalnya ragi tidaklah memiliki sesuatu yang salah, hanya saja selama masa raya ini ragi melambangkan dosa). Dan ketika mereka menjalani masa raya ini, jika mereka ternyata masih menemukan ragi yang secara tidak sengaja tertinggal di dalam rumah mereka maka mereka harus segera mengeluarkannya (Keluaran 13:7).
Sementara mereka mencari dan mengeluarkan ragi atau melakukan "kegiatan pembersihan musim semi ini" maka mereka akan mengingat bahwa, sama seperti serpihan/remahan roti yang dapat jatuh di dalam dan ke dalam celah-celah kecil di sekitar rumah, maka dosa dapat bersembunyi di dalam sudut-sudut yang tersembunyi di dalam kehidupan mereka. Memang, mereka akan terkejut jika mereka menemukan bahwa di beberapa tempat di rumah tinggal mereka ternyata masih terdapat dan tertinggal ragi! Umat Kristen harus meminta kepada Allah untuk benar-benar membersihkan mereka dan menggosok bersih mereka secara rohani-bahkan untuk menunjukkan beberapa hal di dalam pikiran mereka di mana dosa masih sering bersarang.
Selama tujuh hari, angka kesempurnaan, para pengikut yang benar dari Kekristenan Wasiat Baru diharapkan untuk melakukan kegiatan mengeluarkan ragi dari rumah mereka dan dari segala harta benda mereka. Mereka harus memfokuskan diri untuk benar-benar mengeluarkan dosa. Mereka harus mengingatkan diri mereka sendiri melalui kepatuhan di dalam tindakan atas segala hal yang diperintahkan oleh Allah. Dan bahwa mereka menunjukkan tanggung jawab yang berkesinambungan di hadapan Allah untuk mengalahkan diri mereka sendiri, dunia dan Iblis. Dan inilah arti yang sebenarnya dari masa raya Hari Roti Tak Beragi!
Seperti yang telah kita lihat bahwa setiap masa raya yang diperintahkan oleh Allah sesungguhnya dibangun diatas dasar masa raya yang sebelumnya. Hal inilah yang pada akhirnya memberikan kepada kita gambaran tentang Rencana Agung Allah bagi umat manusia. Paskah menggambarkan penerimaan kita akan tubuh Kristus yang terkoyak dan darahNya yang tercurah yang mana hal ini adalah bagi pengampunan diri kita dan pendamaian antara diri kita dengan Allah. Roti Yang Tak Beragi menggambarkan tentang kebutuhan diri kita untuk keluar dari dalam dosa dan untuk bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan.
Di dalam menggambarkan tentang bagaimanakah umat Kristen Wasiat Baru dapat menjalani hidup mereka jauh diatas apa yang dilakukan oleh Israel jasmani yang bersifat kedagingan di masa lalu, penulis kitab Ibrani menceritakan kepada kita: "Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya." (Ibrani 4:1-2). Melalui penerimaan Roh Kudus mana umat Kristen Wasiat Baru akan dapat memiliki iman yang sejati di dalam Allah. Bahkan mereka akan dapat semakin dalam memahami tujuan yang Allah miliki dan mereka pun diberikan suatu ukuran dari karakter Allah sendiri untuk membantu mereka mengalahkan dosa dan bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan.
Berbicara tentang janji-janji Allah yang agung, Petrus menuliskan bahwa "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia" (2 Petrus 1:4). Melalui kekuatan Roh KudusNya Allah meletakkan di dalam diri kita karakter alamiNya sendiri serta karakterNya yang agung yaitu sejalan dengan kita berjalan bersama dengan diriNya dan bertumbuh secara rohani. Hal ini yang akan dapat memungkinkan kita untuk benar-benar mengalahkan dosa. Inilah suatu hal yang sangat berkebalikan dengan apa yang terjadi pada orang Israel kuno yang tidak pernah menerima janji tentang Roh Kudus.
Masa raya yang datangnya setelah masa raya Roti Tak Beragi adalah masa raya Hari Pentakosta atau Masa Raya Dari Yang Sulung (Keluaran 34:22). Masa raya ini mengingatkan kita kepada suatu kenyataan bahwa pada saat ini Allah hanya memanggil sebagian kecil saja dari panenan rohani "buah sulung". Walaupun begitu Allah akan memberkati tuaian yang kecil ini dengan memberikan kita kekuatan melalui Roh KudusNya sehingga kita dapat mengalahkan dan bertumbuh secara rohani di tengah-tengah "zaman yang jahat sekarang ini." (Galatia 1:4).
Di dalam memerintahkan masa raya Buah Sulung kepada bangsa Israel kuno, Allah memberitahukan kepada mereka untuk membawa suatu unjukan dari "buah sulung/hasil pertama" dari bulir-bulir panenan musim semi kepada para imam (Imamat 23:10). Sang imam harus mengacungkan unjukan ini-pada suatu upacara yang suci-untuk diterima oleh Allah dan oleh karenanya mendapatkan berkat Allah pada masa panen musim semi. Yang mana secara rohani hal ini menggambarkan Kristus yang telah dibangkitkan diterima oleh Allah sebagai "yang pertama dari yang sulung"-manusia pertama yang dengan benar-benar dilahirkan olah Allah dengan suatu kebangkitan. "Upacara Pengacungan/Pengunjukan" dilakukan pada hari Minggu sesudah masa Sabat mingguan pada saat masa raya Roti Tak Beragi (ayat 11). Jika anda membandingkan Matius 28:9 dengan Yohanes 20:17, maka anda akan melihat bahwa Kristus ternyata pergi kepada Bapa setelah kebangkitanNya yang terjadi pada sore sebelumnya (1 Korintus 15:20, 23; Roma 8:29; Kolose 1:15, 18).
Bangsa Israel haruslah menghitung sebanyak 50 hari yang di mulai pada hari Minggu saat peristiwa pengacungan dilakukan: "Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu; sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN. Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi TUHAN" (Imamat 23:15-17). Hari raya Pentakosta memiliki arti "kelima puluh". Dengan menghitung dengan tepat 50 hari mulai dari hari Minggu yang telah ditentukan yaitu pada saat persembahan acungan dilakukan maka penghitungan mereka akan selalu berakhir pada suatu hari Minggu tujuh minggu setelahnya jadi jatuhnya tidak mungkin pada hari yang lainnya pada bulan hitungan tujuh minggu tersebut berakhir. Jadi masa raya Pentakosta selalu jatuh pada hari yang sama dari perhitungan yang kelima puluh itu. Dan jika memang masa raya ini harus dirayakan pada hari yang lain daripada yang telah ditentukan pastilah Alkitab akan sudah dengan jelas menyatakannya, dan bahkan kita pun tidak perlu untuk "menghitung", tetapi bukanlah demikian kenyataannya!
Kemudian, pada hari Pentakosta atau "Buah Sulung", mereka pun juga diperintahkan untuk membawa dua "ketul" roti unjukan sebagai "hulu hasil kepada Tuhan" (ayat 17). Ketul "buah sulung" tersebut dengan jelas menggambarkan dua umat Allah dari Wasiat Lama dan Baru-semenjak bahkan nabi-nabi Wasiat Lama memiliki Roh Kudus Allah (berhubungan 1 Petrus 1:10-11).
Suatu pelajaran yang penting dari "buah sulung" adalah bahwa Allah hanya memanggil sejumlah kecil manusia saja-"sang sulung"-pada zaman ini. Dan seperti yang telah kita tuliskan bahwa panenan awal musim semi di Israel adalah suatu masa panenan kecil dibandingkan masa panenan besar yang tiba di musim gugur.
Jadi hari raya Pentakosta inilah hari tersebut secara rohaniahnya. Yesus Kristus berkata: "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:13-14). Dan Yohanes menuliskan tentang peringatan Kristus yang sangat jelas: "Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman...... Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." (Yohanes 6:44, 65).
Bagi jutaan orang Kristen "arus deras" yang sudah terbiasa diajarkan bahwa Allah pada saat ini sedang "menyelamatkan" dunia pastilah akan merasa tidak nyaman jika ternyata mereka menemukan suatu kenyataan bahwa sebenarnya Allah tidak berusaha untuk melakukan hal-hal yang seperti itu! Kenyataannya jika memang Allah menyelamatkan dunia pada saat sekarang ini maka pastilah milyardan manusia yang telah hidup selama beribu-ribu tahun di India, Cina, Afrika dan di tempat lainnya sudah akan mendapatkan "panggilan" mereka kepada kekristenan. Sayangnya tidaklah demikian pada kenyataannya semenjak terdapat banyak bahkan sangat banyak manusia yang hidup dan mati tanpa pernah mendengar nama Kristus!
Masa Raya Pentakosta atau "Buah Sulung" sesungguhnya mengingatkan kepada kita tahun demi tahun bahwa hanya sedikit saja orang yang dipanggil untuk keluar dari dunia pada saat ini. Mereka yang dipanggil itu adalah "buah sulung". Masa Raya Pentakosta juga mengingatkan kita pada suatu masa panenan yang jauh lebih besar dari jiwa-jiwa manusia di masa mendatang seperti yang akan kita lihat. Dan seperti yang kita baca tentang "pencurahan" Roh Kudus pada hari raya Pentakosta yang pertama di zaman Wasiat Baru, kita akan dapat memahami bahwa meskipun kecil jumlahnya, tetapi kita "yang merupakan individu-individu yang telah dipanggil kepada terangNya" pada saat ini memiliki kekuatan Roh Kudus untuk melakukan Pekerjaan Allah. Demikian juga kita dapat mengalahkan diri kita sendiri dengan bantuan yang tidak pernah sebelumnya diberikan kepada umat manusia.
Rasul Petrus memberitakan: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (Kisah Para Rasul 2:38-39). Kemudian kita akan membaca apa yang diwahyukan oleh Allah bagi rasul Paulus untuk ia tuliskan di dalam Roma 5: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (ayat 5).
Sesungguhnya kasih semacam apakah yang dicurahkan oleh Roh Kudus tersebut? Rasul Yohanes menyatakannya dengan jelas; "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat," (1 Yohanes 5:3). Melalui Roh Kuduslah maka kita akan mendapat kasih rohani Allah-suatu kasih yang harus kita miliki untuk dapat memenuhi hukum rohani Allah yang agung, Kesepuluh Perintah, dan juga membangun karakter Allah di dalam diri kita. Setiap tahunnya, Masa Raya Pentakosta mengingatkan kita akan panggilan kita yang unik dan akan kekuatan yang kita diberikan melalui Roh Allah untuk membuat "panggilan dan pilihan kita mantap" (2 Petrus 1:10).
Ketiga Masa Raya pertama yang diperintahkan oleh Allah hadir di musim semi. Mereka semuanya menggambarkan aspek-aspek rohani dari Rencana Allah. Sedangkan empat masa raya yang terakhir jatuhnya pada bulan yang ketujuh-suatu bulan yang melambangkan penyelesaian atau kesempurnaan serta kelengkapan dari rencana Allah di bumi.
Masa Raya Sangkakala terjadi di hari pertama dari bulan ketujuh di dalam kalendar suci Allah. Masa raya ini masuk di dalam kejadian-kejadian terakhir dari rencana Allah. Masa raya ini menggambarkan keikutsertaan Allah yang besar di dalam urusan kehidupan manusia-yang puncaknya akan terjadi pada saat peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kalinya sebagai Raja di atas segala raja. Perhatikanlah perintah Allah yang ditujukan kepada bangsa Israel kuno: "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai, yakni hari pertemuan kudus" (Imamat 23:24).
Di Israel, peniupan sangkakala digunakan sebagai suatu tanda bagi orang-orang untuk berkumpul dan bertindak-demikian juga peniupan sangkakala juga memiliki arti sebagai suatu tanda peperangan (Bilangan 10:1-10). Oleh karenanya, ditempatkan sebelum kejadian-kejadian terakhir di zaman akhir, Masa Raya Sangkakala dengan jelas memberikan tekanan kepada kejadian dan kekacauan dunia, serta peperangan yang sebentar lagi akan datang. Dan seperti yang ditunjukkan dengan jelas oleh semua nubuatan Alkitab maka kesemua kejadian tersebut akan terjadi sejenak sebelum peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali terjadi.
Haruslah diperhatikan bahwa sangkakala-sangkakala itu juga digunakan untuk mengiringi pentahbisan seorang raja baru, seperti yang ada pada kejadian raja Israel Salomo (1 Raja-Raja 1:34, 39). Dan pemerintahan Salomo yang damai, setelah masa pemerintahan raja Daud ayahnya yang penuh dengan peperangan, adalah suatu contoh dari pemerintahan Raja Damai, Yesus Kristus yang tidak lama lagi akan datang (berhubungan dengan 1 Raja-Raja 4:25; I Tawarikh 28:5).
Zaman jahat yang dikendalikan sendiri oleh umat manusia ini sesungguhnya akan berakhir dengan kehancuran masal. Memang, sesungguhnya Alkitab telah mengatakan banyak hal yang berhubungan dengan Perang Dunia yang menakutkan yang akan datang melanda seluruh dunia tidak lama lagi. Untuk mempelajari tentang saat yang mengenaskan yang disebut "Masa Kesesakan" (Matius 24:21) dan kendala-kendala yang disebabkannya, anda dapat memesan buklet kami yang berjudul Binatang dari Kitab Wahyu/The Beast of Revelation dan juga buklet kami yang berjudul Amerika Serikat dan Inggris di dalam Nubuatan/The United States and Great Britain in Prophecy. Ingatlah bahwa kedua buklet tersebut kami tawarkan secara gratis.
Untunglah bahwa ketika sebelum semuanya berakhir, Allah akan ikut campur tangan untuk mencegah umat manusia saling menghancurkan diri mereka sendiri (ayat 22). Masa kekuasaan manusia akan berakhir dan digantikan dengan masa pemerintahan Tuhan yang mana tidak semua manusia akan menanggapinya dengan senang hati. Allah sang Pencipta akan memaksa umat manusia yang suka memberontak untuk menghentikan keinginan mereka yang keras kepala agar kedamaian datang di dalam kehidupan mereka. Mereka akan dipaksa untuk mendapatkan kedamaian. Allah sang Pencipta kita akan ikut campur dengan menunjukkan kekuatanNya dan mengingatkan kita semua bahwa memang Ialah yang menjadi Pemimpin langit dan bumi.
Perhatikanlah nubuatan yang diwahyukan oleh Yoel: "Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari TUHAN datang, sebab hari itu sudah dekat;" (Yoel 2:1). Jadi peniupan sangkakala disini mengumandangkan suatu "pesan/alarm" bahwa "hari Tuhan yang di nubuatkan" telah dekat!
Di dalam menggambarkan suatu saat ketika bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan di bawa ke tanah Israel, nabi Yesaya memberitahukan: "Pada waktu itu sangkakala besar akan ditiup, dan akan datang mereka yang hilang di tanah Asyur serta mereka yang terbuang ke tanah Mesir untuk sujud menyembah kepada TUHAN di gunung yang kudus, di Yerusalem." (Yesaya 27:13).
Tentu saja, "sangkakala tulah" digambarkan di dalam Wahyu 8 dan 9. Terjadi setelah Masa Kesesakan, tulah-tulah yang hebat ini akan benar-benar mengoyakkan bumi seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan sejenak setelah Binatang dan Nabi Palsu yang dinubuatkan tersebut (hal ini berhubungan dengan 13: 15-18) menghancurkan jutaaan kehidupan manusia dengan teknologi persenjataan perang mereka, maka Allah yang agung kemudian akan turun tangan dan akan menunjukkan kekuatanNya serta mengingatkan umat manusia yang suka memberontak bahwa Ia adalah Allah Penguasa yang berkuasa atas langit dan bumi. "Dan ketujuh malaikat yang memegang ketujuh sangkakala itu bersiap-siap untuk meniup sangkakala. Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau" (Wahyu 8:6-7).
Akhirnya Yesus Kristus akan dengan kekuatanNya yang hebat menyelamatkan umat manusia yang suka memberontak. Dan Ia pun akan juga membawa kedamaian yang nyata bagi dunia. "Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." (11:15)
Jadi Kristus akan kembali pada saat sangkakala yang ketujuh! "Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain" (Matius 24:29-31).
Apakah sesungguhnya yang penting dalam hal ketika Kristus mengirimkan para malaikatnya untuk mengumpulkan orang-orang pilihanNya pada saat itu? Seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus berkenaan dengan kembalinya Kristus pada saat sangkakala yang terakhir: "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Korintus 15:20). Sekarang perhatikanlah apa yang lebih jauh ia nyatakan: "Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya" (ayat 21-23). Dan kapankah hal tersebut akan terjadi? Paulus menuliskan: "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (ayat 51-52). Agaknya tidak ada yang lebih menggembirakan daripada kenyataan yang indah ini.
Dapatkah kita menggambarkan/membayangkan suatu cahaya yang sangat menyilaukan yang manusia bahkan tidak dapat memandangnya? Itulah sesungguhnya bagaimana wajah Kristus akan tampak ketika Ia kembali di dalam kemuliaanNya. Dapatkah kita menggambarkan serta membayangkan kejadian peniupan sangkakala yang dahsyat yang benar-benar akan menggoncangkan dunia? Dan juga menggambarkan/membayangkan kedatangan Kristus sebagai Raja atas segala raja? Dapatkah kita menggambarkan/membayangkan orang-orang kudus Allah bangkit untuk bertemu dengan Kristus di udara dan kemudian turun bersama-sama dengan diriNya ke bukit Zaitun untuk bersama dengan diriNya di dalam memerintah planet Bumi yang penuh dengan pemberontakan ini? (berhubungan dengan Zakharia 14:1-4, 9; Wahyu 2:26-27).
Semuanya ini akan terjadi pada saat sangkakala ketujuh di tiup! Masa Raya Sangkakala memang menggambarkan dua hal yang sangat bertolak belakang, yang pertama masa raya ini menggambarkan masa peperangan dan dijatuhkannya tulah yang menakutkan di akhir peradaban manusia, namun di lain pihak masa raya ini juga menggambarkan masa keikutsertaan Allah yang agung di dalam mengembalikan tatanan pemerintahan Allah di dunia yang akhirnya akan membawa kedamaian dan kebahagiaan yang murni bagi untuk umat manusia yang telah disesah. Mereka pada pada akhirnya akan siap untuk "mendengarkan" Allah dan mengikuti jalan-jalan kebenaranNya.
Setelah bangsa-bangsa "digoncangkan" dan Kristus kembali ke dunia di dalam kekuatan yang besar, maka langkah berikutnya dari Rencana Besar Allah adalah membawa orang-orang di bumi untuk menjadi "satu" dengan Allah sehingga akhirnya mereka akan dapat berkeinginan untuk mempelajari jalan-jalan Allah dan di berkati.
Ketahuilah bahwa pada saat ini bangsa-bangsa memberontak melawan Allah dan jalan-jalanNya karena mereka telah disesatkan. Di dalam kebijakanNya dan kasihNya yang tak terbatas Allah memang telah menciptakan manusia sebagai agen moral bebas. Allah juga mengetahui bahwa umat manusia memang menginginkan untuk mencoba melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri sebelum mereka akhirnya ingin mempelajari dan menyadari bahwa jalan Allahlah yang benar. Oleh karenanya, Allah telah mengijinkan umat manusia untuk disesatkan dan untuk sungguh-sungguh "terputus" dari Allah selama 6000 tahun sepanjang sejarah mereka.
Di dalam firmanNya, Allah dengan jelas menceritakan kepada kita bahwa Setan adalah "ilah" dari zaman ini. "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah" (2 Korintus 4:3-4). Paulus juga menuliskan: "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka." (Efesus 2:1-2).
Setan sang Iblis, yang oleh Yesus dipanggil "pangeran dari dunia ini" (Yohanes 14:30) sesungguhnya sedang aktif bekerja keras untuk menyesatkan umat manusia. Setan adalah "pangeran dari udara" yang "melakukan penyiaran" di udara sama seperti siaran radio dan televisi. Hanya saja yang ia siarkan dan kumandangkan adalah berbagai macam sikap dan ide yang salah dan sesat. Ia membuat umat manusia merasa bahwa Allah "itu tidak hidup" atau "tidak nyata", Allah adalah suatu kekuatan yang ethereal/halus/tidak nyata, dan oleh karenanya umat manusia tidak perlu mematuhi hukum Allah beserta jalan-jalanNya. Mereka tidak perlu untuk mematuhi keSepuluh Perintah dan merayakan hukum Sabat mingguan serta Masa Raya tahunanNya seperti apa yang sesungguhnya dilakukan oleh Kristus dan para rasul yang mereka tinggalkan sebagai teladan untuk kita lakukan.
Rasul Yohanes menuliskan: "Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." (Wahyu 12:9).
Rasul Petrus diwahyukan untuk memperingatkan kita: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama". (1 Petrus 5:8-9).
Oleh karenanya, pada permulaan pemerintahan Kristus, untuk mewujudkan suatu kedamaian yang nyata dan keadaan iman yang baik di dalam hati manusia maka Setan si Iblis akan disingkirkan! Perhatikanlah perintah yang berkenaan dengan hari Pendamaian di dalam Imamat 23:27-28: "Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan [berpuasa, tidak makan dan minum] dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu ". Hari ini haruslah menjadi hari "pengingat" untuk selama-lamanya bagi umat Allah. Dan seperti yang telah kita ketahui, bahkan rasul Paulus sebagai rasul yang diutus kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi ternyata dengan jelas merayakan hari raya Pendamaian. Hal ini ia lakukan ketika ia berada di dalam kapal tawanan Roma di tengah laut Mediterania, beberapa tahun setelah beberapa orang berpendapat bahwa masa raya ini telah "disalibkan" (Kisah Para Rasul 27:9)! Jadi dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa masa raya ini tetap ada dan bahkan rasul Paulus pun tetap merayakannya.
Indikasi yang jelas tentang arti dari hari raya Pendamaian diberikan di dalam Imamat 16. Disini kita akan menemukan suatu ritual Wasiat Lama dimana dua kambing dihadapkan di hadapan Imam Tertinggi. Di Israel, "membuang undi" adalah suatu cara agar Allah memutuskan/menentukan pilihan. Jadi Harun harus "membuang undi" untuk menentukan hal apakah yang akan diwakili oleh masing-masing kambing (Imamat 16:8). Seekor kambing akan mewakili "Tuhan" Allah Israel yang pada masa-masa setelahnya mengosongkan diriNya dan menjadi Juru Selamat kita (1 Korintus 19:4). Sedangkan kambing yang lainnya akan mewakili Azazel, suatu istilah yang seperti dijelaskan oleh banyak referensi Ibrani memiliki arti "musuh", Satan si Iblis!
Kambing yang mewakili "Tuhan" haruslah mati. Allah mengatakan kepada Harun untuk "mempersembahkannya sebagai persembahan dosa" (Imamat 16:9), yang mana hal ini benar-benar menggambarkan Yesus Kristus yang telah memberikan hidupNya bagi dosa-dosa kita. Sedangkan berhubungan dengan "kambing yang mewakili Iblis", Allah memerintahkan: "dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun" (ayat 21-22). Sedangkan orang yang menggiring kambing ini menuju "padang gurun" diperintahkan untuk membasuh badan dan bahkan pakaiannya (ayat 26) oleh karena, secara simbolis, ia telah berhubungan secara langsung dengan iblis, Satan!
Ia telah digunakan untuk memisahkan Setan dari umat Allah. Ia telah digunakan untuk menggiring kambing "yang mewakili Iblis" ke padang gurun, yang mana secara simbolis hal ini menggambarkan bahwa Setan diletakkan di suatu tempat yang jauh sekali sehingga ia tidak akan dapat menyakiti atau menyesatkan umat Allah lagi!
Kapankah kegiatan seremonial dan hari puasa tersebut terjadi? "Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan" (ayat 29). Dan meskipun bangsa Israel kuno memahami bahwa upacara ini sesungguhnya adalah bagian dari peringatan Hari Raya Pendamaian, namun hanya beberapa orang saja yang memahami arti rohaninya yang nyata bagi umat Kristen pada zaman Wasiat Baru. Dan oleh karenanya bagaimanakah mungkin sang Mesias dapat mati bagi dosa-dosa mereka semenjak mereka buta akan akan arti dari kambing yang pertama yang pada kenyataanya menggambarkan sang Mesias?
Bagaimanapun juga, Wasiat Baru menunjukkan bahwa hal inilah yang memang benar-benar terjadi pada saat Kristus kembali. Kedatangan Kristus sebagai Raja diatas segala raja digambarkan di dalam Wahyu 19:11-21. Kemudian, di dalam Wahyu 20, kita akan membaca bahwa seorang Malaikat yang kuat akan ditunjuk untuk mengenyahkan Satan. "lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya. Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun" (ayat 2-3). Dengan jelas kita dapat melihat bahwa Setan atau "Azazel" sang musuh pada akhirnya akan disingkirkan dari hadapan manusia sehingga ia tidak dapat menyesatkan umat manusia selama seribu tahun pemerintahan Kristus!
Itulah alasan mengapa umat manusia akan dapat dengan cepat menjadi "satu" dengan jalan-jalan Allah, yaitu oleh karena sudah tidak ada lagi pengaruh dari Setan. Dan itu pulalah mengapa selama masa pemerintahan Kristus yang agung, "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya." (Yesaya 11:9).
Dan Yesaya secara lebih jauh menjelaskan bagaimanakah, pada saat itu, kebutaan dari umat manusia akan benar-benar disingkirkan. "Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya" (25:7-8). Dengan dihancurkannya "sistem siaraan Setan" maka kebutaan umat manusia akan disingkirkan, dan karenanya maka umat manusia akan dapat menjadi "satu" dengan Allah. Kristus membayar upah dosa kita dan Setan si Iblis akan benar-benar disingkirkan ke dalam jurang maut yang disimbolkan dengan "padang gurun" (Wahyu 20:3). Setan akan tetap disekap seperti ini sebagai bagiannya di dalam dosa kita.
Allah adalah adil! Ia akan menempatkan di kepala Setan segala kesalahan yang ia perbuat yaitu segala penyesatan terhadap umat manusia melawan Allah, segala pikiran sesat yang ia berikan kepada manusia sehingga manusia berpikir bahwa Allah itu "tidak adil" dan bahwa hukum-hukumNya dan jalan-jalan kebenaranNya itu tidak baik. Pada akhirnya, umat manusia akan belajar untuk menghormati Allah dan jalan-jalanNya, yaitu untuk dengan tulus mengasihi dan menyembah Allah yang benar dari Alkitab. Pada poin ini, "pendamaian" bagi dosa manusia lengkaplah sudah.
Setelah Setan disingkirkan maka langkah berikutnya di dalam rencana Allah adalah pemerintahan seribu tahun dari Yesus Kristus sebagai Raja di atas segala raja yang hal ini mengikutsertakan Kristus dan para orang kudus yang akan dibangkitkan oleh Allah untuk mengajar semua umat manusia akan jalan-jalanNya. Hal ini juga mencakup "masa panenan musim gugur" yang besar dari para orang kudus. Hal ini adalah suatu saat ketika setiap manusia pada akhirnya akan hidup dan mempelajari jalan-jalan Allah dan untuk memiliki kesempatan yang penuh untuk melayani dan mematuhi sang Pencipta tanpa harus mendapatkan atau mengalami penyesatan yang berasal dari Setan.
Di dalam Imamat 23:34, Allah memerintahkan masa raya Pondok Daun ini kepada orang Israel kuno. "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya". Jadi Masa Raya Tabernakel akan berlangsung selama tujuh hari. Yang mana hal ini menggambarkan saat/hari "seribu tahun" ketujuh atau periode masa 1000 tahun dari sejarah manusia yang sebentar lagi akan terjadi. Di dalam Imamat 23, masa raya ini di namakan masa raya Tabernakel atau "Pondok Daun" untuk mengingatkan Israel bahwa mereka hanyalah "orang yang menumpang lewat" di suatu negeri. Secara rohani hal ini mengingatkan kepada kita sebagai umat Kristen, sama seperti ayah kita Abraham yang adalah "orang asing dan pendatang di bumi ini" (Ibrani 11:13) untuk memusatkan tujuan kita kepada Kerajaan Allah.
Di dalam Keluaran 23 kita akan menemukan suatu Masa Raya musim gugur yang digambarkan sebagai "Hari Raya Pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang" (ayat 16). Jadi masa raya ini menggambarkan dan memperingati masa panen musim gugur di dalam kehidupan bangsa Israel, yang mana hal ini menggambarkan bagi umat Kristen suatu masa panen rohani dari jiwa-jiwa yang siap dituai selama seribu tahun pemerintahan Kristus!
Seperti yang telah kita lihat bahwa pada masa itu bumi akan menjadi "penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yesaya 11:9). Dan "tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus". Akan terdapat suatu kedamaian dan kegembiraan yang sangat besar yang belum pernah dialami oleh dunia sebelumnya: "Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh." (35:9-10).
Rasul Petrus menyebut periode ini "waktu/masa pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu" (Kisah Para Rasul 3:21). Dengan jelas kita dapat melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak nubuatan di dalam Wasiat Lama dan Baru yang berbicara tentang saat kembalinya Kristus. Pada saat itu seluruh dunia akan memahami firman Allah. Juga pada saat itu kedamaian dan keamanan akan memenuhi seluruh bumi semenjak umat manusia akan mempelajari hukum-hukum kebenaran Allah serta melaksanakan jalan hidupNya secara keseluruhan:
"Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yesaya 2:2-4).
Ketika bangsa Israel modern keluar dari perbudakan mereka akhir zaman: "Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi...... Sebagai ganti bahwa kamu mendapat malu dua kali lipat, dan sebagai ganti noda dan ludah yang menjadi bagianmu, kamu akan mendapat warisan dua kali lipat di negerimu dan sukacita abadi akan menjadi kepunyaanmu" (Yesaya 61:4,7).
Pemerintahan seribu tahun Kristus adalah suatu masa yang dinubuatkan oleh Yeremia: "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (Yeremia 31:31-33).
Jadi hukum rohani Allah yang agung yaitu Kesepuluh Perintah pada kenyataannya tidak pernah ditiadakan! Hukum Allah sesungguhnya malah telah "diagungkan" oleh Yesus Kristus dan dibuat lebih mengikat sehingga kita tidak hanya melakukannya di dalam huruf tetapi juga secara rohani. Jadi kita tidak hanya menjauhkan diri kita dari pembunuhan, tetapi kita juga menjauhkan diri kita dari permusuhan, perasaan benci, dan sikap serta keinginan membunuh (Matius 5:21-22). Kita diajarkan tidak hanya untuk meninggalkan percabulan tetapi juga untuk tidak mengingini seorang wanita! (ayat 27-28).
Di dalam masa Seribu Tahun hukum Allah akanlah dituliskan di dalam hati dan pikiran umat Allah di seluruh dunia. Patutlah diingat bahwa hukum-hukum Allah mengekspresikan karakter Allah yaitu karakter yang Ia tuntut untuk kita kembangkan sehingga kita dapat menjadi imam dan raja untuk selama-lamanya di dalam kerajaanNya! Berkat ini akan bisa dimiliki oleh semua umat manusia selama "Masa Raya Pengumpulan yang indah!, yang tidak lain adalah masa pemerintahan Kristus selama 1000 tahun di bumi. Wahyu 20 menceritakan kepada kita: "Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya." (ayat 6).
Jadi semua orang Kristen yang benar harus mempersiapkan diri pada saat ini dengan mempelajari dan melakukan hukum-hukum Allah serta jalan hidupNya sehingga nanti mereka akan dapat mengajarkan segala hal yang mereka pelajari tersebut kepada orang lain di dalam pemerintahan Kristus yang akan segera datang. Rasul Paulus menasihati umat Kristen yang benar: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari" (1 Korintus 6:2-3).
Akankah orang "Kristen yang benar" atau umat Israel merayakan Masa Raya Pondok Daun? Perhatikanlah Zakharia 14:1-4: "Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan TUHAN, maka jarahan yang dirampas dari padamu akan dibagi-bagi di tengah-tengahmu. Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu. Kemudian TUHAN akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan." dan di ayat 9: "Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya." Dan diayat 16-19:"Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan. Dan jika kaum Mesir tidak datang dan tidak masuk menghadap, maka kepada mereka akan turun tulah yang ditimpakan TUHAN kepada bangsa-bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Itulah hukuman dosa Mesir dan hukuman dosa segala bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun".
Ayat-ayat diatas dengan tepat menjelaskan bahwa semua bangsa akan pada akhirnya belajar untuk merayakan masa raya Pondok Daun di bawah pimpinan Yesus Kristus yang mana hal ini akan segera datang. Bahkan bangsa Mesir yang mungkin pada permulaannya akan menolak segala sesuatu yang berbau "Yahudi", pada akhirnya akan belajar memperingati Masa Raya Pondok Daun dan semua Masa Raya yang Allah perintahkan.
Apakah saat ini adalah satu-satunya saat penyelamatan? Banyak sekali minister, pendeta dan umat Kristen "garis besar" yang akan mengatakan "ya".
Sayangnya orang-orang tersebut sesungguhnya gagal untuk menyadari betapa dalam dan besarnya penyesatan yang dilakukan oleh Setan kepada umat manusia yang telah dilanda kebingungan. Seperti yang telah kita lihat, Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Setan "menyesatkan seluruh dunia" (Wahyu 12:9). Setan adalah "ilah" dari zaman ini (2 Korintus 4:3-4). Orang-orang biasanya mengikuti jalan-jalan Setan dan bukannya jalan-jalan Allah.
Hari Besar Terakhir pada kenyataannya menggambarkan kebenaran yang menakjubkan bahwa Allah tidak sedang berusaha untuk menyelamatkan dunia pada saat sekarang ini! Karena jikalau Allah sang Pencipta alam semesta memang "sedang" di dalam usahaNya untuk menyelamatkan umat manusia pada saat ini maka Ia sesungguhnya sudah harus berhasil melakukannya. Milyardan orang di Asia, Afrika, dan di berbagai tempat lainnya sudah seharusnya menjadi umat Kristen yang baik pada saat ini dengan sendirinya! Tetapi kenyataan mengatakan sebaliknya, masih terdapat banyak sekali orang di sepanjang sejarah manusia yang tidak memahami kekristenan atau bahkan tidak pernah diperkenalkan kepada kekristenan. Hal ini masih tetap berlangsung sampai hari ini!
Sesungguhnya apakah yang menjadi jawaban yang nyata dari permasalahan ini?
Pada mulanya, Anak Allah menyatakan dengan jelas: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;..........Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu." (Yohanes 10:1, 7). Dan Ia mewahyukan rasul Petrus untuk menyatakan tentang diriNya: "Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan -- yaitu kamu sendiri --, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:11-12). Jadi jika anda menyatakan diri sebagai umat Kristen maka anda harus benar-benar menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan Tuhan anda. Anda juga akan oleh karenanya menyerahkan diri anda kepadaNya dan membiarkanNya untuk mengatur kehidupan anda. Seperti apa yang Kristus perintahkan maka anda akan melakukan Kesepuluh Perintah sebagai suatu jalan hidup (Matius 19:17). Anda akan membiarkan Kristus menghidupkan hidupNya yang patuh di dalam diri anda melalui Roh Kudus (Galatia 2:20). Dan jika anda tidak melakukannya, maka anda bukannlah seorang Kristen dan anda sendiri mungkin dibutakan. Inilah sesungguhnya prinsip yang sangat sederahana yang harus kita ketahui.
Banyak umat manusia telah dibutakan kepada pengetahuan tentang Allah dan Kristus yang benar. Namun sekali lagi, firman Allah menceritakan kepada kita: "Sebab Allah tidak memandang bulu" (Roma 2:11). Dan rasul Petrus menyatakan, ketika Allah mulai memanggil orang-orang bukan Israel untuk bertobat: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang." (Kisah Para Rasul 10:34).
Apakah Allah berlawanan dengan diriNya sendiri? Tentu saja tidak! Karena Allah tidak pernah mengatakan bahwa Ia tidak sedang berusaha untuk menyelamatkan setiap orang "pada saat ini!" Allah telah mengatakan: "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9). Adalah kehendak Allah bahwa kita semuanya "bertobat" namun demikian mereka belum melakukannya pada saat ini! Perhatikan juga bagaimanakah rasul Paulus menuliskan "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1 Timotius 2:3-4).
Jadi hal ini hanyalah masalah waktu.
Karena seperti yang kita ketahui bahwa di dalam saat yang ditentukan oleh Allah sendiri maka semua manusia yang pernah hidup akan diberikan suatu pemahaman yang nyata dari rencana Allah yang besar beserta tujuanNya. Sedangkan akan terdapat banyak umat manusia yang akan menerima kebenaran Allah yaitu ketika mata mereka benar-benar dicelikkan untuk memahami kebenaran Allah tersebut. Ingatlah bahwa hal ini bukanlah "kesempatan kedua" seperti yang banyak dipikirkan oleh orang melainkan hal ini akan menjadi kesempatan pertama yang murni bagi orang-orang ini untuk memahami Allah dan Yesus Kristus yang benar beserta tujuan agung yang dimiliki oleh Allah dan Kristus!
Alkitab dengan jelas membicarakan suatu saat yang disebut saat "penghakiman" bagi umat manusia. Dimana di dalam penggunaannya istilah "penghakiman" tidak memiliki arti penghukuman melainkan "keputusan", suatu saat dari pencobaan dan ujian (berhubungan dengan 1 Petrus 4:17). Perhatikan pernyataan Yesus Kristus sendiri bagi kota-kota di zamanNya yang menolak diriNya dan ajaranNya: "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu" (Matius 11:21-22).
Kota-kota berhala yang tidak pernah mendengar tentang Kristus akan memiliki kesempatan "untuk memahami kebenaran dan dimaafkan kesalahan mereka" pada saat hari penghakiman. Perhatikan bagaimana bahkan kota Sodom termasuk di dalam kategori ini: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." (ayat 24).
Jika Allah memang menghakimi orang-orang ini dengan suatu standar yang sama seperti lainnya, seperti yang dengan jelas dinyatakan oleh Alkitab, maka bangsa-bangsa berhala tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidup yang kekal karena dengan jelas mereka tidak menerima Kristus sebagai Juru Selamat mereka dan juga tidak mematuhi jalan-jalan Allah. Oleh karenanya satu-satunya jawaban adalah bahwa mereka pada suatu periode penghakiman di masa mendatang akan diberikan suatu kesempatan untuk benar-benar memahami tujuan Allah yang agung dan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka dan setelahnya maka mereka, pada saat itu, akan "dihakimi" berdasarkan bagaimanakah mereka menanggapi kesempatan pertama kali mereka yang murni tersebut untuk mendapatkan keselamatan.
Tetapi apakah Alkitab benar-benar menyatakan bahwa saat yang demikian tersebut memang akan benar-benar terjadi?
Jawabannya adalah YA! Alkitab memang dengan jelas menyatakannya! Di dalam Wahyu 20, setelah menggambarkan masa Seribu Tahun/Millenium dan masa sejenak setelahnya yaitu masa ketika Setan dilepaskan untuk "sedikit waktu" (ayat 3), Allah menggambarkan tentang suatu masa "penghakiman" bagi orang-orang yang telah meninggal sebelum sebelum masa Seribu Tahun/Millenium yaitu mereka yang belum pernah bertobat. Perhatikanlah apa yang dituliskan oleh rasul Yohanes setelah ia menggambarkan suatu masa yang dinamakan "tahta putih yang agung": "Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya" (ayat 12-13).
Ketika orang-orang mati ini terlihat "berdiri" maka tidak lain hal ini adalah suatu peristiwa kebangkitan! Dan perhatikanlah bahwa ayat 12 juga mengatakan kepada kita bahwa "kitab-kitab" di buka. Kata Yunani biblia, yang biasanya diterjemahkan menjadi "Bible/Alkitab", ternyata digunakan disini. Jadi orang-orang ini, untuk pertama kalinya akan mendapatkan kesempatan untuk dibuka hati dan pikiran kepada Alkitab. Mereka juga akan memiliki kesempatan untuk menerima keselamatan yaitu untuk mendapatkan nama mereka dituliskan di dalam "kitab Kehidupan". Di dalam "Periode Penghakiman Tahta Putih Yang Agung", mereka akan benar-benar "dipanggil". Setan akan sekali lagi disingkirkan. Pikiran mereka akan di buka kepada pemahaman yang sesungguhnya. Di dalam periode penghakiman ini, bahkan penduduk Sodom dan ratusan kota-kota berhala yang telah disesatkan di masa lampau akan mendapatkan suatu kesempatan yang lebih baik dari orang-orang yang hidup pada zaman Kristus. Kota-kota berhala kuno ini belum pernah memahami Allah yang benar atau jalan-jalanNya pada masa lampau. Oleh karenanya mereka tidak bertanggung jawab atas "penyesatan " yang terjadi atas diri mereka!
Kaum laki-laki dan wanita dari masa lampau yang sangat banyak ini mungkin akan benar-benar giat di dalam Kebenaran sekali mereka diberi kesempatan untuk memahaminya. Mungkin saja mereka akan menjadi umat Kristen yang lebih baik, pelayan Allah yang lebih baik daripada kita yang ada pada saat sekarang ini yang terkadang menyia-nyiakan Kebenaran Allah yang sangat berharga yaitu dengan tidak bersungguh-sungguh melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Betapa jelasnya hal ini!
Allah akan membangkitkan jutaan manusia yang telah hidup dan meninggal jauh sebelum zaman Kristus datang untuk pertama kalinya dan membawa mereka kepada pemahaman yang penuh akan keselamatan. Milyardan manusia lainnya yang pernah hidup dan meninggal semenjak Yesus Kristus datang atau mereka yang sekarang masih hidup tetapi yang dibutakan dari pengetahuan akan Allah yang benar dan tujuanNya akan mendapatkan kesempatan untuk memahami Kebenaran dan mendapatkan pertobatan yang nyata! Mereka akan diberi Roh Kudus Allah, yaitu keadaan alami dan karakter Allah yang akan ditanamkan kepada diri mereka setelah mereka benar-benar bertobat dan dibaptis, suatu hal yang sama dengan apa yang kita terima dan alami sebagai umat Kristen pada saat sekarang ini. Demikian juga mereka akan memiliki suatu kesempatan selama beberapa waktu untuk "bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (2 Petrus 3:18).
Mereka akan memiliki suatu kesempatan akan mendapatkan keselamatan yang penuh, kehidupan abadi di dalam Kerajaan dan Keluarga Allah. Hal ini hanyalah masalah waktu yaitu saat dari "panggilan" mereka yang terjadi lama setelah kita menerima panggilan! Namun demikian patutlah diketahui bahwa mereka pun pasti akan benar-benar mendapat panggilan mereka!
Setelahnya maka setiap manusia yang pernah hidup akan mendapatkan suatu kesempatan yang murni untuk mendapatkan keselamatan! Oleh karenanya Masa Raya Allah yang ketujuh, "hari kedelapan" yang misterius, datang setelah Masa Raya Pondok Daun, tetapi sebagai suatu masa raya yang terpisah (Imamat 23:36). Masa raya yang ketujuh ini menggambarkan masa yang sangat indah yang akan datang setelah masa Seribu Tahun yaitu suatu saat ketika semua umat manusia pada akhirnya akan diberikan suatu kesempatan untuk memahami Kebenaran.
Hal ini adalah jelas suatu saat yang oleh Yesus diacukan didalam Yohanes 7: "Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." (ayat 37-38). Pada masa tahta putih yang agung "setiap manusia" yang pernah hidup akan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk dibuka mata mereka dan mendapatkan kesempatan untuk menjawab dan melayani Allah dan untuk menerima Roh KudusNya.
Dengan hadirnya masa raya Allah yang ketujuh maka lengkaplah gambaran dari Rencana Allah. Ingatlah bahwa untuk menyadari hikmat dan belas kasih Allah di dalam rencanaNya maka kita harus benar-benar meresapi dan merenungkan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus didalam Roma 11:32-33: "Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya."
Jika Allah yang hidup membuka pikiran kita kepada kebenaranNya maka kita akan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menanggapi kebenaran tersebut (Yakobus 1:22; 4:17). Untuk membantu anda di dalam melakukan hal tersebut, anda dapat menghubungi Living Church of God yang mensponsori buklet ini serta majalah dan acara televisi Tomorrow's World. The Living Church of God memiliki dan telah menugaskan minister-minister dan jemaat-jemaat lokal serta video group diseluruh dunia yang selalu berkumpul bersama di dalam kebaktian rutin di setiap hari Sabat dan saat-saat masa-masa raya Allah yang suci.
Jika anda tertarik untuk merayakan hari-hari raya ini bersama dengan kami, maka anda dapat menulis surat atau menelpon kantor the Living Church of God terdekat. Seluruh alamat kantor dan nomor telpon kami terdapat pada akhir bagian buklet ini. Kami tidak akan datang mengunjungi anda jikalau anda tidak memintanya terlebih dahulu. Jika anda berkeinginan maka perwakilan kami akan dengan senang hati membuat suatu appointment yang disesuaikan dengan tempat dan waktu anda. Anda tidak akan dipaksa untuk "bergabung" atau sejenisnya. Minister atau perwakilan kami akan memberikan kepada anda penjelasan untuk memperdalam pengetahuan anda yaitu dengan meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca, dan merenungkan serta berpikir tentang apakah anda memang berkeinginan untuk hidup oleh setiap firman Allah.
Dan sekali anda mulai menghadiri kebaktian dengan jemaat Allah dan benar-benar merayakan Sabat mingguan dan tahunanNya, maka anda akan lebih mengetahui tentang bagaimanakah anda menjadi semakin paham akan kebenaran Allah.
Menghadiri kebaktian, mendengarkan kebenaran Allah yang disampaikan disetiap hari Sabatnya serta mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang berbahagia dan maju ke depan dengan iman yang baik akanlah menjadi suatu hal yang benar-benar menggembirakan. Di dalam semuanya ini, anda akan menjadi seorang "perintis" rohani. Anda akan menunjukkan kepada Pencipta anda bahwa anda berkeinginan untuk "melangkah di dalam iman" yaitu untuk mematuhi firmanNya di tengah segala macam halangan dan tantangan serta kecaman yang mungkin terjadi.
Dengan melakukan hal ini maka anda sesungguhnya mempersiapkan diri anda bagi kebangkitan yang pertama, yang adalah suatu "kebangkitan yang lebih baik" (Ibrani 11:35). Dan jika anda benar-benar memantapkan kehidupan rohani anda yang seperti ini maka nantinya anda akan mendengarkan kata-kata yang menyegarkan ini dari Yesus Kristus: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25:21)
Kami berharap untuk mendengar kabar dari anda segera.