Membangun Pernikahan yang Berbahagia - Roderick C. Meredith

Maret 2001

Sesungguhnya, terdapat "kunci-kunci" yang penting dan prinsip-prinsip yang sudah sangat terbukti dapat membantu pernikahan yang benar-benar BERBAHAGIA! Kesuksesan kita di dalam pernikahan sebenarnya tergantung dari keinginan kita untuk MENGGUNAKAN kunci-kunci ini di dalam kehidupan kita.

Pembukaan

Sudah banyak wanita yang datang kepada saya dengan mencucurkan air mata serta berkata: "Suami saya sudah tidak berkeinginan untuk berbicara kepada saya lagi! Ia sudah terasa sangat jauh bagi saya. Ia tidak mau lagi berbagi cerita dan hal-hal sedikit pun. Dan meskipun kita tinggal di satu rumah dan makan makanan yang sama, tetapi saya merasa sangat kesepian sekali!"

Memang, kehancuran pernikahan dan keluarga di dalam masyarakat kita sudah menjadi legenda terkenal yang sering terjadi. Data statistik telah menunjukkan suatu kenyataan yang menyedihkan dan memang amatlah menyedihkan untuk melihat banyaknya pasangan yang tinggal bersama tanpa mengecap keindahan perkawinan. Karena keretakan rumah tangga seperti ini lebih cepat terjadi dan jarang diketahui, prosesnya lebih cepat daripada keinginan untuk menikah itu sendiri.

Bahkan, kaum Pers akhir-akhir ini melaporkan bahwa terdapat sekitar 19,4 juta (9,8 persen dari jumlah total penduduk) orang dewasa Amerika yang pada saat ini bercerai. Dengan kata lain, satu dari sepuluh orang Amerika berada dalam keadaan bercerai! Disamping itu, banyak juga yang lainnya yang dulunya bercerai telah menikah kembali. Kalau diperkirakan maka sekitar 10 juta orang Amerika di dalam hidupnya pernah entah satu kali atau lebih mengalami apa yang kita namakan trauma perceraian, sedangkan 10 juta yang lainnya mengalami penderitaan yang sangat dalam akibat perceraian seperti: anak-anak, keluarga dekat, teman dan kerabat. Amatlah menyedihkan untuk mengatakan bahwa perceraian adalah "hal yang sering terjadi pada orang Amerika!"

Apakah yang dikatakan oleh Allah?

Memahami pemikiran Allah tentang perceraian serta arti dan TUJUAN yang sesungguhnya dari pernikahan adalah hal yang penting untuk dipahami. Karena sejarah menunjukkan kepada kita bahwa jika suatu bangsa yang masyarakatnya membiarkan keluarga-keluarganya tercerai berai, maka akan dengan cepat bangsa atau masyarakat tersebut mulai terdisintegrasi/hancur. Hampir seluruh ahli sejarah mencatat bahwa "keretakan keluarga" adalah salah satu dari gelaja-gejala, jika bukan penyebab, dari kehancuran dari kekaisaran Roma. Sedangkan di dalam surat kabar, kita sering membaca artikel-artikel yang banyak menggambarkan bagaimana orang-orang muda yang tinggal di keluarga-keluarga tanpa ayah cenderung lebih sering terlibat kasus obat-oabtan, tindakan seks dan kriminalitas. Yang mana angka tindakan mereka yang merugikan tersebut jauh lebih tinggi daripada mereka yang dibesarkan di keluarga yang stabil.

Pada kenyataannya, sekitar 20 juta anak dibawah usia 18 tahun di Amerika Serikat hidup dengan seorang orang tua saja. Hal ini mewakili 28 persen dari seluruh anak-anak yang ada. Mayoritas dari kelompok ini, 84 persen, hidup dengan ibu mereka. Dengan kata lain, sekitar 17 juta anak-anak Amerika hidup di keluarga tanpa ayah!

Tidaklah mengherankan kejahatan remaja meningkat dengan lebih tinggi selama 25 tahun terakhir. Tidaklah mengherankan jika kita telah menghasilkan suatu generasi yang kelihatannya tidak takut untuk berbuat salah. Mereka kelihatannya tidak memiliki hati nurani. Mereka tentu saja bangga dan dengan senang memperlihatkan kebrutalan mereka, pemberontakan mereka melawan aturan-aturan masyarakat dan melawan hukum-hukum Allah. Dan seperti yang banyak diteliti orang, inilah generasi yang "ada di hadapan anda". Di dalam nubuatan yang mengandung dua macam penggenapan, dimana dalam kasus ini nubuatan tersebut mengarah kepada saat sekarang ini, nabi Yesaya diwahyukan untuk menuliskan: "Aku akan mengangkat pemuda-pemuda menjadi pemimpin mereka, dan anak-anak akan memerintah atas mereka. Maka bangsa itu akan desak-mendesak, seorang kepada seorang, yang satu kepada yang lain; orang muda akan membentak-bentak terhadap orang tua, orang hina terhadap orang mulia" (Yesaya 3:4-5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Di dalam Wasiat Baru, rasul Paulus menuliskan "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!" (2 Timotius 3:1-5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Orang-orang seperti ini yang tidak tahu berterima kasih, tidak suci, tidak mau memaafkan dan tidak patuh kepada orang tua kelihatannya pasti akan memiliki pernikahan yang tidak kuat, tidak stabil, dan tidak mengenal kasih!

Apa yang kita butuhkan kemudian adalah kunci-kunci untuk membangun pernikahan dan prinsip-prinsip hidup yang terpusat kepada Allah seperti bagaimana Ia akan menyuruh kita hidup bersama-sama dengan bahagia sebagai suami dan istri. Berikut ini adalah prinsip-prinsip keilahian selama 50 tahun di dalam konseling pastoral dan keluarga, banyak membaca dan belajar, dan 44 tahun dari pernikahan yang berbahagia.

Membangun sebuah pernikahan yang terpusat kepada Allah

"Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga." (Mazmur 127:1 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Dalam membaca buklet ini, anda perlu untuk mengulang membaca buklet ini untuk membuktikan bagi diri anda sendiri tentang keberadaan Allah! Karena tentu saja kita tidak begitu saja "tercipta". Pikiran manusia kita dengan jelas diciptakan oleh sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Hukum yang nyata sesungguhnya ada di sekitar kita, seperti hukum gravitasi, inersia dan termodinamika, semuanya itu membutuhkan seorang Pemberi hukum. Rancangan yang sangat agung dari tubuh manusia, dan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan langit-langit, semua ini membutuhkan seorang Perancang. Nubuatan Alkitab yang terwahyukan, yang telah dan sedang dipenuhi, semuanya membutuhkan pribadi Allah yang benar-benar nyata, Allah yang mengatur Alam Semesta dan benar-benar ikut serta di dalam segala hal yang ada di dalam ciptaanNya, Allah yang merencanakan suatu Tujuan yang agung di bumi ini!

Sejalan dengan anda mengetahui bahwa Allah adalah sangat nyata, anda akan semakin mengetahui bahwa Ia sungguh-sungguh mengetahui apa yang terbaik bagi anda, dan untuk setiap sisi kehidupan anda, termasuk pernikahan anda. Karena Ia adalah satu-satuNya yang menciptakan kita sebagai laki-laki dan perempuan. Ia adalah satu-satuNya yang menciptakan tubuh dan pikiran kita, dan yang secara khusus merancang perbedaan-perbedaan di antara kita, perbedaan cara-cara berpikir antara laki-laki dan wanita dalam melihat dunia di sekeliling mereka.

Pencipta yang agung menciptakan laki-laki bagi wanita dan wanita bagi laki-laki. Ia tentu saja mengetahui dengan lebih baik dibanding semua ahli psikologi dan penasehat pernikahan tentang bagaimana pikiran dan tubuh kita berfungsi, bahkan jika mereka semuanya digabungkan. Alkitab menceritakan kepada kita, "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Kemudian kita akan membaca, "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (ayat 18 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Seorang laki-laki saja tidaklah lengkap. Adam merasa bahwa dirinya tidak lengka dan benar-benar kesepian. Ia tidak memiliki seorang pun dari jenisnya untuk di ajak bicara atau untuk diajak berbagi dalam berbagai macam hal. Ia tidak memiliki orang untuk dicintai dan untuk dikagumi, untuk dimiliki dan untuk dipeluk, tidak ada seorang pun baginya untuk dapat menyelami dirinya, orang dimana ia dapat merasa bahwa kepada orang itulah ia diperuntukkan.

Tetapi Allah Bapa kita memahami hal ini.

Karenanya Allah membuat Adam tertidur dan kemudian ia benar-benar mengambil tulang rusuk Adam dan menciptakan seorang wanita dari bagian tubuhnya tersebut! Tentu saja Allah dapat menciptakan Hawa dengan cara yang lain tetapi hal itu tidak Ia lakukan karena Ia ingin menunjukkan kepada laki-laki dan wanita bahwa mereka benar-benar diciptakan untuk saling mengisi dan melengkapi. Jadi Allah mengambil sesuatu dari Adam yaitu organ tubuh yang paling dekat dengan hatinya yaitu tulang rusuk dan dengan begitulah diciptakanlah Hawa. "Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (ayat 23 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Di dalam bahasa Ibrani aslinya, ayat ini ditulis: "Lalu berkatalah manusia itu: "Ia akan dipanggil Ishah [dari kata Ish] karena ia telah diambil dari Ish [manusia]. Jadi Allah membuat seorang "penolong" yang sepadan dengan Adam. (ayat 20)-seorang yang bisa ia hubungi, yang bisa ia ajak untuk berbagi pikiran, rencana, harapan dan impiannya.

Tujuan Allah di dalam perkawinan

Adalah penting untuk mengetahui bahwa dari mulanya Allahlah yang menciptakan laki-laki dan wanita. Mereka diperuntukkan untuk saling berbagi kehidupan bersama di dalam kasih dan cinta. Dan apapun yang dikatakanoleh para ahli modern pada saat ini, hendaklah kita mengetahui bahwa wanita diciptakan untuk menjadi "penolong" bagi laki-laki yang mana ia akan menemukan kesenangan dan kelengkapan hidup di dalam membantu, melengkapi dan menemani suaminya di dalam hidup mereka sebagai suami istri. Wanita akan merasa senang dan lengkap hidupnya di dalam memelihara dan membesarkan anak-anak dan mengatur rumah tangganya.

Tetapi Iblis akan melakukan apapun untuk melenyapkan konsep yang indah ini dari pikiran anak-anak muda pada saat sekarang ini. Melalui ahli psikologi dan konsultan perkawinan, melalui media dan bahkan melalui sistem pendidikan, Setan dengan sibuknya menyerang rencana Allah yang berhubungan dengan keluarga. Setan dengan bersemangatnya memompa konsep bahwa umat manusia tidak diciptakan oleh Allah yang nyata dan yang benar-benar ada. Ia menginginkan kita untuk mempercayai bahwa kita sesungguhnya tercipta "secara tiba-tiba" yaitu dengan berevolusi. Dengan melakukan hal ini maka Setan dengan kata lain ingin menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada tujuan yang agung dari kehidupan yang dimiliki oleh manusia dan bahwa laki-laki dan wanita tidak begitu berbeda di dalam banyak hal, yang mana hal ini menghasilkan suatu pemikiran bahwa sesungguhnya fungsi laki-laki dan wanita tidaklah berbeda, demikian juga tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin keluarga.

Sekarang, Setan bahkan telah memulai untuk mempengaruhi beberapa segmen tertentu dari masyarakat kita untuk menerima suatu ide bahwa sebuah "keluarga" tidaklah perlu tersusun atas seorang suami dan seorang istri. Sebuah keluarga bisa saja tersusun atas sepasang manusia yang berjenis kelamin sama yang "hidup bersama". Bagaimana pun juga, jika anda mempercayai Alkitab, perhatikan apa yang dikatakan Yesus tentang pernikahan: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:4-6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Disini jelas Yesus meletakkan Allah di dalam penjabaran tentang apakah sebuah keluarga tersebut. Yesus menunjukkan bahwa Allah menciptakan wanita pertama untuk laki-laki pertama. Ia kemudian menyebabkan mereka untuk hidup bersama, sebagai seorang laki-laki dan istrinya, yaitu untuk menjadi "satu daging" di dalam hubungan yang ditentukan oleh Allah. Semenjak saat inilah Allah menginginkan semua pernikahan yang ada di muka bumi mengikuti contoh yang telah diberikanNya ini.

Bahkan secara lebih jauh Yesus menjelaskan bahwa hanya karena "kekerasan hati" manusia Allah mengijinkan seorang suami dan seorang istri untuk bercerai. Hal itu pun diperkenankan hanya pada kasus ketidaksucian hubungan seks. Yesus dengan jelas mengacukan kepada "kisah penciptaan" di dalam kitab Kejadian sebagai suatu kenyataan. Yesus mengetahui bahwa Allah "menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?" ayat 4. Sekali lagi, dalam hal yang berhubungan dengan pernikahan Yesus mengatakan, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." ayat 6. Jika pemahaman yang indah ini ada di dalam lubuk pernikahan anda, yaitu bahwa Allahlah yang mentahbiskan pernikahan, maka anda pasti akan memiliki suatu kesempatan yang lebih baik di dalam mencapai kesuksesan di dalam pernikahan anda.

Tanggung jawab seorang suami

Tentu saja, seorang pria tidak seharusnya menikahi seorang wanita jikalau ia tidak dan benar-benar secara murni mencintainya. Tetapi, buruknya, banyak pria yang tidak pernah mempelajari arti sesungguhnya dari kata "cinta". Pengertian mereka akan "cinta" sering kali bercampur aduk dengan "nafsu" karena film-film murahan dan teladan yang salah. Bagi kebanyakan dari mereka, "cinta" adalah keinginan seksual yang didasari atas gairah nafsu binatang untuk "mendapatkan" kenikmatan dari lawan jenis. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan dan jauh dari kebenaran!

Jadi pengertian "cinta" bukanlah seperti itu karena cinta yang sejati tersebut mencakup suatu usaha untuk memberi dan untuk berbagi rencana, harapan dan impian di antara dua orang yang ingin membangun kehidupan bersama sampai kematian memisahkan mereka. Dan jika mereka tidak dapat membicarakan sesuatu permasalahan dan cara pemecahannya dengan baik, atau saling tersenyum dan berbagi sedikit kesenangan, keintiman dan keterpautan bersama ketika cobaan kehidupan yang besar datang maka akan hilanglah cinta mereka.

Rasul Paulus memerintahkan "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." (Kolose 3:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini perlu kita ingat melihat beberapa suami sering membiarkan diri mereka dengan cepat menjadi "pahit" karena istri mereka tidak memenuhi kriteria yang mereka inginkan, yaitu sebagai seorang malaikat pujaan yang sempurna sesuai dengan imajinasi manusia mereka!

Tetapi ketahuilah, bahwa seorang istri tidaklah pernah diciptakan untuk menjadi seorang idola! Ia tidak pernah diciptakan untuk menjadi lebih sempurna dari suaminya di dalam kehidupan ini! Ia juga tidak diperuntukkan untuk menjadi seseorang yang dapat secara bersamaan memenuhi berbagai macam kategori sebagai seorang pengatur rumah, seorang ibu, seorang teman dan seorang dewi seks Holywood yang serba sempurna!

Melainkan, wanita dirancang dan diciptakan oleh sang Pencipta kita semua untuk menjadi buah hati, penolong dan sumber inspirasi bagi seorang pria yang berkeinginan untuk membagikan apa yang ada di dalam dirinya dengan wanita tersebut, yaitu untuk berbagi rencana-rencananya, harapan-harapannya dan impian-impiannya dengan wanita tersebut. Pria yang menginginkan wanita untuk memberikan semangat dan bimbingannya di dalam sikap percaya diri dan kasih! Untuk mengarahkan dan bukannya mengendalikan rumah tangga!

Kita sering melihat di dalam masyarakat kita, khususnya di dalam dunia modern kita, dimana kaum pria pada umumnya sering menyerahkan segala urusan yang berhubungan dengan hal-hal rohani dan cara memimpin anak-anak untuk tertarik kepada hal-hal yang berhubungan dengan Allah dan Jemaat kepada "kaum wanita yang lemah" ini. Pahamilah bahwa hal ini tidaklah benar, dan seorang pria yang gagal melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah ini sama dengan seorang pria yang menjual hak lahiriahnya! Ketahuilah bahwa Allah sudah dari dulu sungguh-sungguh menginginkan kaum pria untuk melaksanakan tanggung jawab mereka di dalam kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menjadi pemimpin rohaniah di dalam rumah tangga mereka masing-masing.

Perhatikan pernyataan yang dipimpin oleh Allah ini: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah" (1 Korintus 11:3 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Setiap pria yang hidup memiliki kesempatan untuk menjadi wakil Allah secara langsung atas rumah tangganya-di dalam mengajar, memberikan instruksi, pimpinan dan inspirasi kepada istrinya dan anak-anaknya untuk mempelajari dan mematuhi kata-kata di dalam Alkitab dan untuk menyembah dan melayani Allah yang menciptakan mereka. Hampir kebanyakan istri dan anak-anak akan secara langsung dan gembira menanggapi jika diberikan setengah kesempatan ini! Haruslah kaum pria menyadari hal ini, mereka harus dapat memberikan suatu teladan yang dinamis dari rasa pengabdian yang tinggi kepada Pencipta mereka dengan mempelajari firmanNya, memimpin doa baik pada saat makan maupun pada saat doa keluarga. Mereka harus dapat melakukan hal-hal ini sebaik ketika mereka melakukan doa pribadi dengan berlutut di dalam kamar tidur atau ruang tempat pribadi lainnya.

Manusia seharusnya memberikan suatu teladan disiplin pribadi di dalam takut akan Allah. Ia seharusnya dapat menunjukkan bahwa ia adalah cukup laki-laki dan cukup kuat untuk mengalahkan nafsunya dan mengendalikan nafsunya. Dengan mengalahkan kebiasaan merokok, mengendalikan nafsu minum dan lainnya, dengan membatasi emosinya dan mengarahkan emosi dan nafsunya ke dalam saluran-saluran yang benar, dengan mengontrol dan memperhatikan tutur katanya agar sesuai dengan "hukum kebaikan", maka ia dapat memberikan teladan yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak-anak laki-laki dan perempuannya ketika mereka tumbuh dewasa. Adalah juga menjadi teladannya untuk memberikan penghormatan, pengagungan dan kasih akan istrinya yang bijak dan peka.

Jadi jika anda benar-benar mempelajari Alkitab untuk melihat apa yang dikatakan tentang pernikahan, dan jika dengan bantuan Allah anda berusaha untuk mengikuti ajaran-ajaran, prinsip-prinsip, dan teladan-teladan Alkitab di dalam pernikahan maka anda pun akan diberkati. Jika pasangan yang baru menikah mau berlutut dan benar-benar mencari Allah untuk memimpin dan membimbing pernikahan mereka dengan mempelajari firmanNya dan mengikutinya maka mereka akan memiliki "sorga di bumi", atau paling tidak itulah yang akan mereka alami di dalam pernikahan mereka!

Mungkin hal ini akan mengejutkan mereka yang tidak mengenal jalan-jalan Allah tetapi itulah kenyataannya. Saya telah melihat dengan nyata segala keindahan dan berkat dari semua prinsip Allah yang dilakukan di dalam pernikahan, baik di dalam pernikahan saya sendiri dan mereka yang percaya kepada Allah. Jadi jika kita melakukan dengan benar apa yang diperintahkan oleh Allah tentang pernikahan maka segala prinsip Allah tentang pernikahan itupun akan berfungsi dengan baik.

Hal ini memimpin kita kepada suatu kenyataan bahwa setiap orang dari kita patut dan wajib untuk menjadikan Allah sebagai pusat dari pernikahan kita! Yaitu dengan sepenuh hati mencari untuk menemukan kehendakNya di dalam setiap aspek pernikahan anda dan kemudian mengikutinya!

Komitmen dan Kepercayaan

Salah satu bagian penting di dalam upacara pernikahan tradisional adalah pengucapan kata-kata "sampai kematian memisahkan kita." Meskipun hal ini penting tetapi banyak orang muda yang kurang menggubriskan hal ini. Sesungguhnya setiap pernikahan haruslah didasarkan atas pemahaman ini. Seperti yang kita lihat, bahwa Allahlah yang mensahkan pernikahan. Adalah Yesus Kristus yang berfirman, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ingatlah bahwa Allah tidak memberikan alasan apapun bagi manusia untuk berpisah. Meskipun para ahli psikologi, penasehat perkawinan, dan minister Kristen memberikan "segala jenis pelarian" untuk melakukan perpisahan bagi mereka yang telah menikah, tetapi ketahuilah bahwa Allah tidak! Dan walaupun Allah pun mengetahui bahwa "ketidaksucian hubungan seks" (porneia di dalam bahasa Yunani) adalah suatu hal yang dapat menyebabkan perceraian tetapi Allah menginginkan agar pernikahan menjadi suatu Komitmen/Janji/Ikrar Seumur Hidup! Perhatikan bacaan Alkitab yang penting dari Allah kepada umat manusia ini: "Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!" (Malakhi 2:13-16 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Di dalam ayat-ayat diatas, Allah berbicara tentang pernikahan sebagai suatu hubungan "perjanjian". Ia menunjukkan bahwa salah satu dari tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan "keturunan ilahi." Jadi amatlah jelas bahwa untuk mewujudkan hal ini maka diperlukanlah suatu hubungan yang stabil dan penuh kasih. Tiga kali di dalam bacaan ini Allah membicarakan tentang seseorang yang bertingkah "kejam" dan menghancurkan sebuah pernikahan.

Karenanya, diantara segala hal yang ada, pernikahan adalah merupakan suatu "ujian". Pernikahan adalah suatu ujian untuk melihat seberapa setianya anda kepada perintah Allah yang berhubungan dengan perkawinan dan kepada pasangan hidup anda dengan siapa anda berbagi hubungan perkawinan yang disucikan tersebut. Seberapa besar anda ingin "memberikan" diri anda bagi sesama anda? Seberapa sabar, baik dan rendah hatinya anda berusaha untuk membuat pernikahan anda berhasil? Ingatlah bahwa Allah "membenci" perceraian (ayat 16). Allah memang tidak membenci orang yang bercerai, tetapi Ia membenci dan merendahkan keegoisan, nafsu, kesombongan, pemusatan diri sendiri dan pengkhianatan yang selalu muncul ketika berakhirnya hubungan pernikahan oleh perceraian.

Ajaran Allah yang indah dan kuat dari rasul Paulus haruslah diperhitungkan pada setiap pernikahan: "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. " (Efesus 5:22-25 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa pernikahan adalah suatu jenis hubungan seperti hubungan yang dimiliki oleh Kristus dan Jemaat. Di dalam hubungan pernikahan setiap pasangan haruslah menyerahkan diri mereka secara total kepada pasangan mereka masing-masing dan kepada kehendak Allah. Hubungan pernikahan haruslah menjadi suatu hubungan yang bertahan/berlangsung lama, tetap terus bertahan "sampai kematian memisahkan kita". Hal ini perlu dilakukan untuk menggambarkan kasih, perhatian yang selalu mengalir dan yang akan menghasilkan KEPERCAYAAN DAN KESTABILAN yang ada antara kristus dan jemaatNya.

Pernikahan Yang Sukses Membutuhkan Usaha

Untuk memiliki hubungan seperti yang diinginkan dan disahkan oleh Allah di dalam pernikahan anda, anda berdua harus berusaha untuk mendapatkan dan mewujudkannya! Anda harus benar-benar memberikan pikiran dan kekuatan anda untuk membangun pernikahan anda sama seperti seorang ilmuwan yang baru saja menemukan suatu penemuan baru. Pasangan yang benar-benar sukses dan bahagia tidak akan menyia-nyiakan pernikahan mereka. Pasangan Kristen yang sebenarnya akan secara rutin berdoa bagi pernikahan mereka. Mereka mempelajari Alkitab dan sumber-sumber lainnya untuk meningkatkan pernikahan mereka. Dan mereka akan membuat suatu komitmen kerja sama untuk membuat pernikahan mereka terus bertahan-"sampai kematian memisahkan kita".

Semuanya ini membangun di dalam pernikahan mereka suatu kestabilan dan perasaan "percaya". Apalagi, sang penulis Amsal menuliskan, "Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya." (Amsal 31:10-12 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Betapa indahnya gambaran dari seorang istri yang berkenan dihadapan Allah yang memiliki pelayanan dan komitmen yang penuh dengan hal mengasihi! Seorang istri yang seperti itu haruslah sangat dihargai dan dijadikan harta yang indah.

Seorang pria yang memiliki seorang istri yang benar-benar penuh kasih tentu saja harus "menyerahkan hidupnya" sepenuhnya bagi pasangannya dengan mencintainya, menghormatinya, melindunginya, memberikan baginya dan melayaninya di setiap hal sebisa mungkin. Dan jika ia mengalami kesulitan hidup, ia tidaklah boleh atau pernah membiarkan pikirannya atau emosinya dipengaruhi oleh perasaan cinta kepada wanita lain. Yesus Kristus menyatakan pikiran yang penuh dipengaruhi oleh nafsu ini sebagai zinah: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Jika hal pengkhianatan semacam ini dilakukan maka hal ini tidak hanya akan melukai istrinya tetapi kemungkinan juga pernikahan mereka. Hal ini akan membawa suatu dukacita dan kerundungan yang sangat dalam, amarah terpendam dari suami wanita lain tersebut.

Allah yang menciptakan laki-laki dan wanita mengatakan: "Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri" (Amsal 6:32 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Kata asli bahasa Ibrani dari frasa kata "tidak berakal budi" lebih tepat diterjemahkan "tidak memiliki perasaan". Karena tingkah laku yang amat menyakitkan, busuk dan benar-benar egois ini akan secara langsung "mengoyakkan hati" dari suami tercinta yang mengetahui bahwa ia telah dikhianati dan tidak dihormati dengan cara yang seperti ini. Hal yang sama juga terjadi dengan seorang istri yang menemukan dirinya dikhianati oleh suaminya. Kepedian dan kekecewaan yang amat dalam ini terjadi karena perasaan cinta dan kepercayaan yang mendalam dari ikrar dan perasaan cinta yang dalam, dari penyerahan diri kepada keluarga secara tiba-tiba DIHANCURKAN! Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika bacaan ini dilanjutkan dengan perkataan "Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam; ia tidak akan mau menerima tebusan suatu pun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyak pun pemberianmu." (ayat 34-35 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Kita semuanya yang telah menikah atau yang akan menikah nantinya, sudah seharusnyalah membuat suatu ikrar/janji yang besar untuk menghormati janji-janji pernikahan kita di dalam segala hal! Kita harus mempelajari baik-baik dan sungguh-sungguh firman Allah yang berhubungan dengan pernikahan, berdoa setiap hari bagi pernikahan dan keluarga kita, berterima kasih kepada Allah secara rutin atas pasangan kita yang kasih dan setia, dan dengan bantuan Allah berusaha melakukan semuanya itu dengan sepenuh tenaga, berusaha untuk membangun suatu rasa cinta, percaya dan kestabilan yang dalam di dalam pernikahan kita. "Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari." (Pengkhotbah 9:9 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sungguh, di dalam kehidupan fisik ini tidaklah terdapat berkat yang lebih besar dari pernikahan yang sangat di sucikan ini!

Komunikasi Yang Dari Hati

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, bahwa banyak wanita yang datang dengan berlinang air mata kepada saya di dalam keputus asaan dengan berkata: "Suami saya tidak mau berbicara kepada saya sehingga kami menjadi tidak dekat. Ia tidak mau lagi berbagi cerita kepada saya. Ia sering kali hanya duduk terdiam saja di meja pada saat makan atau ia lebih senang membaca koran atau melihat TV di malam hari!"

Hendaklah kita menyadari bahwa contoh diatas adalah suatu keadaan yang sering terjadi di dalam jutaan pernikahan yang ada. Walaupun tidak jarang dari pasangan suami istri yang ada sering merasa paling tidak hanya salah seorang dari mereka saja yang berusaha mempertahankan komunikasi yang baik di dalam pernikahan. Tetapi di dalam kenyataannya, yang mana dalam hal ini biasanya wanita, merasa bahwa mereka dan pasangan mereka sesungguhnya tidak memiliki komunikasi yang baik, mereka menjadi sering merasa sendiri dan frustasi. Mereka merasa bahwa walaupun mereka dan suami mereka tinggal di dalam satu rumah, jarang bertengkar baik secara fisik maupun kata-kata, ternyata merasa adanya kekurangan keterbukaan yang nyata, kedekatan, perasaan berbagi yang total dari kehidupan suami istri, serta perasaan cinta yang seharusnya ada dan terjalin.

Seseorang yang memperhatikan hal ini mengutip perkataan seorang wanita yang mendiskusikan tentang pernikahannya yang berjalan selama sepuluh tahun: "Sangatlah mengenaskan hati. Sebelum saya menikah, saya biasanya pergi ke restauran-restauran dan hanya dengan mengamat-amati keadaan sekeliling saya sudah dapat menebak siapakah orang yang sudah menikah dan belum. Baik pasangan-pasangan yang sedang makan dalam suasana hening atau wanita yang sedang bercakap-cakap sementara sang pria makan dan berpura-pura jika sang wanita tidak berada disana. Saya bersumpah bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi kepada diri saya tetapi yang pada kenyataannya tidaklah demikian. Hal-hal tersebut benar-benar terjadi pada saya."

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah mengapakah kasus-kasus seperti di atas tersebut dapat terjadi? Mengapakah para suami dan istri mereka serta kebanyakan orang yang lain tidak lebih bersungguh-sungguh dalam berkomunikasi antara satu dengan lainnya?

Ketahuilah bahwa mencintai berarti berbagi sehingga setiap suami sudah seharusnya memiliki kebiasaan bercakap-cakap dengan istrinya tentang rencana-rencananya dan harapan-harapannya, berbagi tentang segala pikiran dan keinginan-keinginannya yang paling dalam, dan bukannya hanya membicarakan hal-hal yang negatif saja! Sudah seharusnya seorang suami membuat istrinya benar-benar menjadi "bagian" dari dirinya. Sikap dan pendekatan seperti inilah yang sesungguhnya memiliki arti yang sangat besar bagi seorang wanita dari apa yang dapat disadari oleh kebanyakan pria! Tetapi sayangnya hanya sedikit suami yang berbagi kehidupan mereka dalam cara yang seperti ini terhadap pasangan mereka.

MENGAPA?

Pasangan yang baru menikah seringkali memberikan perhatian yang sangat besar dalam usaha mereka untuk saling mempelajari dan menyesuaikan sikap dan pilihan mereka. Pada saat itu, mereka sangat berbahagia untuk saling bertukar pendapat pada berbagai macam hal yang ada.

Tetapi setelah beberapa bulan, bagaimanapun juga, pendapat-pendapat yang pernah mereka saling tukarkan mulai berubah, sikap-sikap dan pendirian-pendirian yang dulunya saling dipahami serta ketertarikan dan kekaguman tentang "rasa ingin tahu akan diri pasangan kita secara lebih mendalam" mulai pudar.

Dan sejalan dengan berjalannya pernikahan dan hadirnya anak-anak, ketertarikan dan pembicaraan istri akan perlahan mengalami perubahan dengan lebih sering menceritakan segala hal seputar anak-anaknya, dan khususnya segala kejadian rinci tentang anak-anak yang sedikit banyak mengurangi atau menghilangkan ketertarikan akan suaminya. Kebanyakan pasangan sering menyia-nyiakan sikap pasangannya atas beberapa topik ataupun bahkan mereka merasa tidak perlu untuk membicarakannya atau mendiskusikannya.

Hampir kebanyakan suami hanya ingin memperhatikan dan mendengarkan berita-berita yang baik saja tentang anak mereka. Mereka sering merasa terganggu atau bosan jika sang istri mulai menceritakan segala permasalahan yang berhubungan dengan pemeliharaan keluarga mereka. Ketahuilah bahwa para istri sesungguhnya sangat membutuhkan dan merindukan suami mereka justru ketika anak-anak mereka masih kecil. Hal ini terjadi ketika mereka tidak memiliki seorang pun yang cukup dewasa untuk dapat diajak bicara yaitu pada saat suami mereka tidak di rumah karena bekerja. Para istri semacam ini sungguh sangat membutuhkan saat bagi mereka ketika mereka dapat berbicara kepada suami mereka di saat malam hari. Tetapi yang terjadi adalah banyak suami yang malah menyembunyikan diri mereka di balik koran atau secara pelan-pelan menyalakan TV. Mereka kelihatannya lebih senang melakukan hal-hal seperti itu daripada mendengarkan cerita istri mereka tentang masalah-masalah keluarga yang bagi kebanyakan mereka bagaikan kisah yang membosankan dan diulang-ulang.

Sungguh seorang pria patut memperlakukan istrinya bagaikan "buah hati yang manis". Ia perlu untuk menyebarkan dan menanamkan suasana cinta, romantis dan intim di dalam rumah mereka, seperti mencium istri mereka ketika mereka pulang dari kerja, merangkul tangannya ketika mereka berjalan, dan merangkul istri mereka banyak kali dalam sehari secara bebas dan dengan perhatian yang sungguh-sungguh.

Cinta sejati tentu saja mengikutsertakan perasaan hormat yang dalam dan berkelimpahan. Seorang pria harus bergembira dan berterima kasih bahwa wanita yang adalah istrinya telah memutuskan untuk menyerahkan apapun baginya sampai kematian memisahkan mereka berdua. Ia harus menghargai kenyataan itu, serta segala hal baik yang dilakukan oleh istrinya seperti bantuan mereka, kesabaran mereka, dan pelayanan mereka. Seorang suami harus memberi semangat dan memberikan yang terbaik bagi istrinya. Janganlah mereka secara terus menerus dan berkali-kali mengomeli istri mereka dengan kritik-kritik yang merendahkan diri istri mereka. Yang mana kesemua hal ini hanya akan menjatuhkan perasaan istri mereka dan akhirnya istri mereka pun juga akan melakukan hal yang sama.

Seorang pria harus menghormati kenyataan bahwa istrinya adalah seorang manusia dewasa yang diciptakan sesuai dengan rupa Allah. Ia perlu untuk menyadari bahwa sesuai dengan rencana Allah kita yang agung, suatu hari nanti istrinya sangat diinginkan oleh Allah untuk menjadi makhluk roh yang suci yang memerintah bersama dengan Kristus atas bumi ini, bahkan mengatur malaikat (1 Korintus 6:3)!

Dengan pemahaman dan rasa hormat yang seperti ini, maka setiap suami Kristen hendaklah secara sungguh-sungguh berbagi segala hal dan rencana yang ada di dalam pikiran dan hidupnya dengan manusia yang ia kasihi yang telah ia pilih untuk menjadi pasangan hidupnya. Janganlah kata-kata "Istriku adalah sahabat terbaikku" hanya menjadi kata-kata klise tetapi haruslah kata-kata tersebut dijadikan sebuah kenyataan di dalam hidup mereka. Seorang sahabat sejati akan membangun rasa percaya diri di dalam diri kita, memberi semangat kita melalui masa-masa sulit dan melindungi kita dari perasaan kesepian. Pasangan-pasangan yang dapat berdiskusi dengan jujur tentang segala hal yang mereka anggap penting termasuk hubungan mereka sendiri akanlah lebih berbahagia dan akan cenderung memiliki pernikahan yang lama. Walaupun berisiko tetapi amatlah lebih baik bagi para pasangan untuk menyatakan segala hal yang ada di dalam benak hati mereka masing-masing, serta mengeluarkan segala permasalahan ke permukaan daripada membiarkannya menumpuk dan membusuk. Yang mana hal ini hanya akan menyebabkan sakit hati dan kesalah pahaman belaka.

Berkomunikasi di dalam suatu Cara yang Positif

Ingatlah bahwa jika pasangan anda menceritakan kisah-kisah menyakitkan dan keprihatinannya yang paling dalam, hal ini tidak berarti bahwa anda yang "mendengarkan" secara langsung diharapkan untuk memberikan "pendapat/penilaian" atau nasihat anda. Sering kali pasangan anda hanya ingin mencurahkan isi hatinya saja. Adalah lebih baik untuk menjadi seorang yang dapat diajak untuk mencurahkan isi hati dimana jika diharapkan anda bisa memberikan sedikit pandangan dan komentar anda akan kisah yang ia ceritakan sehingga dengan berjalannya waktu, pasangan anda dapat mengumpulkan dan mempertimbangkan nasihat dan komentar anda tersebut. Tetapi ingatlah bahwa biarlah pasangan anda yang memutuskan segala tindakan berdasarkan pertimbangan dan inisiatifnya sendiri dan bukannya pertimbangan dan inisiatif anda. Tetapi anda harus menunjukkan kasih dan perhatian anda dalam hal ini. Anda perlu untuk benar-benar menyisihkan waktu anda untuk "mendengarkan" pasangan anda, dimana anda menunjukkan ketertarikan anda akan apa yang dikatakan dan yang sedang dialami oleh buah hati anda tersebut. Di dalam proses ini, belajar untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan membuat pasangan anda merasa nyaman untuk menceritakan lebih adalah penting. Hal ini akan membuat anda benar-benar memahami situasi yang sedang dihadapi oleh pasangan anda. Pertanyaan-pertanyaan itu contohnya seperti: "Tolong lanjutkan ceritamu!", "Saya mengerti. Inikah yang engkau maksudkan?", "Saya tidak menyadarinya. Tolong bantu saya memahaminya dengan lebih sungguh-sungguh sehingga saya dapat berbagi perasaan tentang apa yang anda pikirkan," Demikian juga anda dapat mengatakan kata-kata penuh kasih yang sama.

Dan janganlah pernah, JANGANLAH ANDA pernah mengambil keuntungan dari keterbukaan hati pasangan anda dengan menceritakan segala hal yang paling dalam di dalam hati dan pikirannya! Kalau anda melakukannya maka ia tidak akan pernah lagi menceritakan hal-hal yang ada di dalam hati dan pikirannya yang paling dalam. Hendaklah anda menghormati keintiman berbicara yang anda bagikan di dalam pernikahan anda sebagai suatu kepercayaan yang kudus. Dan hendaklah anda juga menyimpannya sebagai suatu hal yang rahasia bagi anda berdua saja. Janganlah pernah menggunakan hal yang paling rahasia dari pasangan anda tersebut sebagai "pentung" untuk menyerang dan menjatuhkannya di dalam argumentasi yang mungkin terjadi pada hari-hari selanjutnya atau situasi-situasi lainnya.

Di sisi lain, mengadakan pendekatan kepada pasangan anda dengan memberikan pujian dan dorongan semangat adalah penting. Tetapi pastikanlah bahwa pujian anda tersebut tulus dan terarah. Ingatlah bahwa dengan memberikan pujian kepada istri anda atas makanan khusus yang secara istimewa dipersiapkannya, memberikan pujian kepada suami anda atas usahanya bangun pagi dan menyemarakkan suasana rumah adalah teladan-teladan dari perhatian yang bijaksana dan pemberian dorongan yang amat baik yang sangat nyata. Hal ini dapat membahagiakan dan memberikan inspirasi yang indah bagi pasangan anda untuk membangun rasa cinta dan penghargaan di dalam pernikahan anda. Pikirkanlah secara mendalam tentang apa itu "penghargaan." Kita semuanya pasti akan selalu teringat dan mengingat ungkapan penghargaan dan ucapan terima kasih yang selalu diberikan oleh ibu kita. Dan oleh karena hal itulah, ibu kita selalu mendapatkan cinta dan penghargaan yang lebih dari keluarga. Dan hal itu pulalah yang memberikan suatu kebahagiaan dan kestabilan yang besar bagi pernikahan orang tua saya yang panjang dan berbahagia.

Jadi ingatlah hal tersebut baik-baik, khususnya di dalam pernikahan bahwa anda sudah seharusnya berusaha untuk menjaga komunikasi yang positif karena seorang pasangan hidup yang secara terus menerus "memulai" untuk mengeluhkan dan mengkritik pasangan hidupnya akan menciptakan suatu komunikasi yang negatif dan yang sangat berkebalikan dengan apa yang sedang kita bicarakan! Kritikan-kritikan yang negatif akanlah menghancurkan pernikahan dan sudah selayaknya kita hindari jauh-jauh. Seorang pria pastilah benar-benar bodoh jika ia terus menerus mengkritik dan mengkoreksi istrinya! Istri tersebut pastilah tidak akan dapat bertingkah laku sebagai seorang buah hati yang panuh kasih jika ia terus menerus "dijatuhkan" dan dikoreksi oleh suaminya. Alkitab pun menyatakan dengan jelas bahwa seorang istri itu akan sama salahnya jika ia terus menerus mengeluh, mengekang atau mengkritik suaminya. "Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar" (Amsal 21:9 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Jadi sekali lagi hendaklah kita mengingat bahwa komunikasi, informasi dan rasa berbagi akan rencana dan impian dengan penuh kasih dan kepositifan antara suami istri adalah suatu hal yang paling pokok dari suatu pernikahan yang berbahagia. Pikirkanlah hal tersebut baik-baik! Bahkan Allah juga "berbagi" akan segala harapan dan rencanaNya dengan kita makhluk yang lemah! "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku." (Yohanes 15:15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika Yesus Kristus yang hidup sangat memperhatikan hal berbagi dengan membagikan "segala hal" yang Ia dengar dari Allah Bapa dengan kita, tidakkah kita pun harus berusaha dengan sekuat kita untuk lebih terbuka dalam mengutarakan pikiran-pikiran dan impian-impian kita kepada pasangan-pasangan kita?

Bekerja dan Bermimpi Bersama

Di dalam anda berjalan, berbicara, tertawa dan menangis, hendaklah anda bersama-sama mengenang pikiran-pikiran dari seorang lelaki muda yang sedang duduk di bukit dengan menatap langit dan memimpikan masa depan. Diskusikanlah dan analisalah impian-impian lelaki muda tersebut dengan indahnya dan dengan penuh pengertian antara anda dan pasangan anda. Kemudian bekerjalah dan berdoalah bersama untuk membuat segalanya terjadi.

Di dalam cara yang sama, mengenang harapan dan cita-cita dari seorang gadis muda yang senang berjalan sendiri pada saat matahari terbenam melintasi ladang-ladang ayahnya dengan memimpikan seorang suami dan rumahnya sendiri di suatu hari nanti dimana anak-anaknya akan tinggal. Dimana ia juga akan mendapatkan rasa aman, hangat dan senang. Sehingga pastikanlah anda bekerja bersama dengan pasangan anda untuk mewujudkan impian-impian tersebut menjadi kenyataan.

Belajarlah untuk saling menanggapi secara terbuka dan penuh kasih. Janganlah menyimpan rahasia yang tidak perlu. Janganlah juga menyimpan dendam. Ingatlah bahwa kehidupan anda adalah kehidupan anda saja, kekasih anda adalah kekasih anda saja, cinta anda adalah cinta anda saja. Belajarlah untuk berpikir dan berjalan dalam mewujudkan cita-cita, berusaha memecahkan segala permasalahan yang anda hadapi sebagai suami istri secara bersama-sama sebagai suatu tim yang kompak. Pemberian dorongan, semangat serta kehangatan di antara anda dan pasangan anda akan menambahkan suatu pemahaman, tujuan dan kebahagiaan yang lebih kepada kehidupan anda yang mana hal ini tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Karena apa yang difirmankan Allah itu adalah benar: "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Pernikahan Berarti Memberi

Lebih dari apa yang pernah dilakukan oleh seorang manusia mana pun, Yesus Kristus telah memberikan contoh yang baik dari kasih Allah dan Ia telah melakukannya dalam banyak cara yang berbeda. Sedangkan salah satu dari cara terbesar dan sangat nyata yang Ia lakukan adalah bahwa Ia memberikan hidupNya dengan bersungguh-sungguh dan mencurahkan darahNya untuk menjadi sang Juru Selamat kita.

Seperti yang telah kita lihat bahwa hubungan antara Kristus dan Jemaat yang benar sesungguhnya menggambarkan hubungan antara suami dan istri. Setelah melalui suatu hidup yang memberi dan melayani, diakhir hidupNya Yesus Kristus bahkan memberikan diriNya sendiri bagi Jemaat. Dan karenanya maka seluruh suami diperintahkan: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." (Efesus 5:25-28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Biasanya, masing-masing dari kita secara alami akan berpikir tentang kebutuhan masing-masing. Kita sering memikirkan keinginan kita sendiri untuk memenuhi apa yang menyenangkan diri kita. Tetapi semenjak Allah telah membuat kita sebagai "satu daging" di dalam pernikahan, kita butuh belajar untuk berpikir dengan cara yang telah Allah berikan, yaitu dengan secara konstan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dari pasangan kita dan bagaimanakah memelihara "separuh dari bagian diri" kita tersebut! Hal ini mencakup berpikir, berencana dan berdisiplin diri. Hal ini juga termasuk MEMBERIKAN diri sendiri kepada manusia lain. Dan hal ini adalah arti sesungguhnya dari pernikahan tersebut!

Salah satu dari perkataan Yesus Kristus yang paling penting tidaklah terdapat di dalam keempat Injil rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, tetapi di dalam pernyataan rasul Paulus yang ditulis di dalam Kisah Para Rasul: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Di dalam pernikahan, adalah lebih "diberkati" untuk memberi karena di dalam banyak kasus "lebih banyak anda memberi lebih banyak anda mendapat." Seperti anda benar-benar berusaha untuk mendorong, untuk melayani, dan untuk memberi, maka anda akan menemukan bahwa pasangan anda akan cenderung membalas. Anda berdua haruslah saling memberi dan melayani sehingga anda berdua akan disenangkan dan bahkan digembirkan dengan apa yang diciptakan oleh jaringan kehangatan dan penghargaan ini.

Setiap suami haruslah dengan berhati-hati berpikir tentang bagaimanakah ia dapat meningkatkan kesenangan dan kepenuhan hidup istrinya. Mungkin ia akan dapat membantunya dengan cara membantu mencuci piring dan melakukan pekerjaan rumah pada beberapa kesempatan. Mungkin dialah yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang cukup berat seperti mengangkat benda-benda yang berat. Mungkin ia juga dapat memberikan istrinya lebih banyak waktu untuk beristirahat tidur, lebih banyak berlatih, lebih banyak berekreasi atau berganti irama kehidupan. Jika keluarga dapat memperoleh hal ini, mungkin seorang suami dapat mengajak sang istri keluar untuk makan malam satu atau dua kali seminggu, atau sekali-sekali mengadakan perjalanan "bulan madu" untuk membawa istrinya keluar dari pekerjaan dan rutinitas hidup sehari-hari. Tentu saja ia dapat memperkaya kehidupan istrinya dan kehidupannya dengan membawa sang istri ke sebuah konser, museum seni, kuliah pendidikan dan tempat-tempat berkesan lainnya. Jadi hendaklah seorang suami mencari cara yang tepat untuk "memberi" istrinya.

Sebaliknya, seorang istri harus juga sering berpikir tentang bagaimanakah ia dapat memperkaya kebahagiaan suaminya dan keadaan kehidupan jasmani, emosi dan intelektual suaminya. Mungkin seorang istri dapat tidur sejenak di siang hari atau setelah datang dari kerja, atau mandi sejenak dan berganti pakaian sehingga dia kelihatan dan merasa segar dan cantik di setiap sore hari sama seperti yang ia lakukan ketika ia masih berpacaran dengan suaminya. Ia dapat mendorong suaminya untuk membagikan pendapat-pendapatnya tentang hal-hal yang sedang terjadi atau tentang-tentang hal-hal rohani. Di dalam banyak cara sesungguhnya seorang istri dapat menanggapi dengan baik ketertarikan suaminya, dan berusaha membuatnya merasa "berbahagia/bangga" atas kemampuan dan dirinya dan benar-benar merasa berbahagia karena telah menikahi seorang istri yang sangat mencintainya.

Anda mungkin pernah mendengar bahwa pernikahan haruslah mencapai proporsi 50-50/fifty-fifty dimana anda melakukan setengah jalan dan pasangan anda melakukan yang setengahnya. Tetapi siapakah yang akan melakukan setengah jalan lagi jika anda tidak setuju dengan pasangan anda? Jawabannya adalah cinta sejati, yang mana hal ini berarti memberikan tanpa mengharapkan apapun sebagai balasan-memberi secara seratus persen dan tidak mengharapkan suatu balasan yang anda "harapkan" untuk didapat.

Kristus berbicara tentang prinsip ini dengan mengatakan bahwa kita hendaklah berjalan lebih jauh ketika Ia mengatakan: "Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Matius 5:41 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ya, bahkan jika anda secara manusiawi tidak merasa senang untuk melakukannya, jalanlah lebih jauh dan lakukanlah hal tersebut bagi pasangan anda. Allah akan menambahkan apa yang anda rasa kurang di dalam diri anda. Mintalah kepada Allah untuk membantu anda memberi perhatian, cinta dan rasa hormat yang lebih kepada pasangan anda dan dengan berjalannya waktu anda akan diberkati dengan upah dan keuntungan dari keadaan pernikahan yang membaik.

Jadi pikirkanlah tentang jalan/cara apakah yang apakah yang dapat anda berikan kepada pasangan anda. Beberapa hadiah atau kata-kata penghargaan yang tidak terlalu bertele-tele akan membuat keadaan berbeda. Suatu pelukan atau ciuman yang spontan yang hanya membutuhkan suatu usaha kecil dari anda dapat memiliki arti sebagai pemberian yang sangat besar di mata pasangan anda. Suatu pertanyaan sederhana: "bagaimana harimu?" yang anda ajukan dapat menjadi suatu pemberian selamat datang yang menandakan perhatian anda kepada pasangan anda, juga memberikan suatu kesempatan untuk berbagi pikiran dan perasaan yang pribadi.

Saya mengetahui sepasang suami istri yang sibuk tetapi yang bagaimana pun juga masih menyempatkan waktu untuk saling menunjukkan cinta dan perhatian kepada masing-masingnya. Di suatu sore, sementara sang istri sedang mempersiapkan makan malam, ia bertanya kepada suaminya: "Apa ada yang lain yang engkau perlukan?" Suaminya tersenyum dan berkata: "Saya butuh cintamu". Ia tersenyum, mendorong kursi sehingga akhirnya sang istrinya jatuh dipangkuannya. Kemudian mereka berpelukan dan berciuman. Inilah spontanitas yang indah, keinginan untuk saling memberi satu dengan lainnya, dan membantu untuk menciptakan situasi cinta dan damai.

Memang tidak perlu selalu menekankan keromantisan dan keidealisan, tetapi yang harus diketahui adalah bahwa siang dan malam, tahun demi tahun, pasangan yang berbahagia akan berjuang untuk saling "memberi" antara satu dengan lainnya. Masing-masingnya akan berusaha untuk membantu pasangannya mencapai potensinya sebagai manusia secara penuh seperti yang diinginkan oleh Allah di dalam cara apapun untuk memungkinnya terjadi. Karena kita tidak akan "memiliki" sebuah pernikahan yang berbahagia jikalau kita tidak belajar untuk memberi/menciptakan sebuah pernikahan yang berbahagia!

Belajar Untuk Memaafkan

Suatu perintah mutlak yang harus dimiliki di dalam pernikahan yang berbahagia adalah keinginan untuk memaafkan. Ketika dua orang manusia membagikan kehidupan mereka sepenuhnya di dalam pernikahan yaitu ketika mereka tinggal bersama-sama setiap pagi dan malam, maka terkadang pastilah terjadi beberapa perpecahan diantara mereka. Hal ini patut kita sadari, karena kita ini pada kenyataannya, hanyalah manusia. Sedangkan sejauh ini jalan yang terbaik untuk memecahkan masalah ini adalah jalan Allah.

Mendongkol, memikirkan serta menimbulkan pikiran-pikiran buruk tentang pasangan anda di dalam pikiran anda atau menghubung-hubungkan alasan-alasan pasangan anda yang salah/tidak tepat adalah hal yang benar-benar tidak ada gunanya. Hal ini hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah, lebih banyak ketidakpuasaan/perasaan tidak senang dan kemungkinan akan bahkan mendatangkan perceraian. Tentu saja, seperti yang telah kita bicarakan, anda butuh untuk berbicara tentang kepedihan anda dan kesalahpahaman anda. Mencoba untuk benar-benar mendengarkan hal-hal/pandangan-pandangan yang dimiliki dan dikatakan oleh pasangan anda-dengan tidak hanya duduk dan berpikir tentang apa yang akan saya katakan selanjutnya! Jangan hanya berpikir tentang bagimanakah anda akan membalas pasangan anda dan "menjadikan kedudukan sama/seri".

Sekarang pikiranlah tentang keadaan yang sama/seri?

Sesungguhnya anda kedudukannya sama/seri dengan siapa? Jika anda benar-benar memahami dan menerima kenyataan bahwa anda dan pasangan anda adalah "satu daging" dan dipersatukan oleh Allah bagi kehidupan, sehingga jika anda ingin membalas pasangan anda akan pandangan/pendapat yang dilontarkan oleh pasangan anda tersebut, bukankah hal ini tidak lain memiliki arti bahwa anda berusaha untuk "menyamakan kedudukan" dengan diri anda sendiri? Atau dengan kata lain anda menyakiti diri anda sendiri! Memanglah benar bahwa usaha untuk menyamakan/membalas setiap argumentasi pasangan anda tanpa mendengarkan terlebih dahulu adalah sama dengan "menyakiti" diri anda sendiri. Kelakuan anda tersebut akan berefek dalam menyakiti diri anda sendiri.

Jadi jika anda dan pasangan anda telah melalui suatu argumentasi keluarga atau diskusi yang cukup serius tentang beberapa hal yang menyakitkan, baik nyata atau imajinasi belaka dan anda masih merasa belum ada titik temu, merasa marah terhadap pasangan anda, apakah yang harus anda lakukan? Sekali lagi, anda butuh melakukan apa yang Allah katakan bagi anda untuk dilakukan di dalam situasi-situasi seperti ini, hal itu adalah MEMAAFKAN orang lain!

Janganlah kita mengatakan perkataan-perkataan yang sering kita lontarkan seperti, "Tetapi hal itu adalah benar-benar kesalahannya!", "Selain itu, mereka belum benar-benar meminta maaf kepada saya, jadi bagaimana saya dapat memaafkan mereka?". Jadi bagaimana anda dapat memaafkan pasangan anda? satu jawabannya yaitu melalui doa yang bersungguh-sungguh dari dalam hati dan melalui bimbingan Allah. Jadi dengan berdoa dan dibimbing oleh Allah maka anda akan dapat belajar untuk memaafkan semua jenis orang bagi kesalahan yang telah mereka perbuat bagi anda baik nyata atau tidak nyata; misalnya anda akan dapat memaafkan ketika ada seorang pengendara yang secara tiba-tiba memotong jalan anda menuju jalan keluar tol, atau ada anak tetangga yang memainkan musik rocknya terlalu dengan keras di tengah malam, atau tetangga wanita menggosipkan diri anda.

Berbicara tentang kejadian-kejadian buruk, atau bahkan yang lebuh buruk dari yang pernah anda alami, Yesus Kristus yang adalah satu-satuNya teladan bagi kita berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Hendaklah kita semua menyadari bahwa hampir kebanyakan orang tidak "bermaksud" untuk menyakiti kita. Mereka tidak "bermaksud" untuk melakukan hal yang jahat. Mereka hanyalah manusia. Mereka meneriakkan kata-kata yang menyakitkan tanpa berpikir atau melakukan tindakan yang merugikan/berbahaya tanpa berpikir secara jauh tentang hal yang mereka lakukan tersebut sehingga banyak kali hal tersebut "menyakitkan".

Oleh karena itu, hendaklah kita mengingat bahwa Kristus yang telah memberikan hidupNya kepada kita memerintahkan, "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sehingga jika kita memang harus memaafkan setiap orang dengan cara seperti ini, betapa lebih besarnya anda harus mengampuni pasangan anda yang sangat berharga bagi diri anda tersebut? yang sekarang ini telah menjadi bagian dari daging dan tulang anda?

Bagaimana jika suami anda tetap sering mengotori halaman atau membiarkan gemuk kotoran berbelepotan di garasi? bagaimanakah jika istri anda sekali atau dua kali seminggu secara tidak sengaja menghanguskan panggangan?

Oleh karena itu, belajarlah untuk mendekati pasangan anda secara baik-baik dan penuh pemahaman dan perhatian untuk membicarakan hal tersebut. Dan jikalau kelemahan manusia ini selalu ada, bahkan sampai bertahun-tahun, maka yang harus anda lakukan adalah selalu mengampuninya. Diatas semuanya itu, manakah yang lebih baik, sesekali mengalami panggangan terbakar atau hidup sendirian, melakukan kegiatan memasak sendirian dan tidak memiliki teman untuk diajak bicara atau memiliki seseorang untuk dibelai dan membelai di malam musim dingin yang membeku? Janganlah lupa apa yang Yesus perintahkan: ""Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius 18:21-22 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Kemauan Untuk Mengampuni

Kita semuanya perlu untuk secara teratur memohon kepada Allah di dalam doa untuk memberikan kita "kemauan/roh untuk mengampuni". Beberapa orang kelihatannya memiliki saat yang sangat sulit untuk mengampuni orang lain. Dan kelihatannya mereka lebih senang untuk menyimpan segala "sakit hati" dan "dendam" selama bertahun-tahun sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk disimpan.

Ingatlah, kemarahan anda kepada orang lain sering kali tidak disadari oleh diri orang tersebut sehingga mereka pun jarang sekali merasa sakit akibat amarah anda itu. Dan yang jelas, amarah anda tersebut akan menyakiti diri anda. Pada umumnya, segala kemarahan dan kehancuran yang ada akan sangat menyulitkan anda untuk hidup. Para ahli profesional telah menemukan suatu kenyataan bahwa emosi yang negatif akan sering menyebabkan luka, sakit perut, tekanan darah tinggi, stroke atau bahkan serangan jantung. Sehingga emosi negatif anda akan benar-benar dapat membunuh anda!

Oleh karena itu, mohonlah kepada Bapa di sorga untuk membantu anda menghindari kecenderungan untuk menyimpan amarah atau emosi negatif tersebut dan mempelajari untuk mencintai dan untuk memaafkan semua manusia, khususnya pasangan anda sendiri! Cobalah untuk mengubah pola pikir anda sehingga anda tidak akan disakiti dengan mudah. Ingatlah bahwa Allah dipanggil "Bapa yang penuh ampunan" (2 Korintus 1:3 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sejalan dengan anda menyadari kebutuhan anda sendiri untuk dimaafkan lagi dan lagi, maka mohonlah kepada Allah untuk membantu anda memaafkan orang lain.

Rasul Petrus diwahyukan untuk memberikan perintah kepada setiap orang untuk "menghormati" istri mereka, "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" (1 Petrus 3:7 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Petrus kemudian juga memberikan perintah bagi kita untuk dilaksanakan di dalam kehidupan keKristenan kita, dan khususnya di dalam pernikahan kita: "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya." (ayat 8-11 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Kita semua perlu untuk melihat pernikahan sebagai suatu "tempat pelatihan" yang mengajarkan kita tentang cara bagaimana kita dapat memberi, berbagi dan memaafkan orang lain secara terus menerus. Sejalan dengan kita mempelajari ayat-ayat diatas dengan berhati-hati, maka menjadi jelas bahwa Allah menginginkan kita untuk mempelajari untuk memperlakukan pasangan kita dengan baik dan sopan, yaitu dengan secara khusus memperlakukan mereka dengan kebaikan dan kesopan santunan. Walaupun begitu, di hampir setiap pernikahan, biasanya setiap pasangan akan dengan cepat belajar untuk menyia-nyiakan pasangannya. Setiap pasangan cenderung untuk menjatuhkan dan berbicara secara tidak terhormat dan kasar kepada pasangan mereka. Masing-masing pasangan bisa lupa tentang bagaimana mudahnya sesungguhnya untuk menyakiti pasangan mereka melalui kata-kata dan tindakan-tindakan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu. Masing-masing mungkin juga melupakan bagaimana pentingnya di dalam pernikahan untuk "mencari kedamaian dan mengejarnya".

Pikirkanlah hal tersebut. Pikirkanlah tentang bagaimana sulitnya hal itu bagi pasangan anda untuk menghadapi segala tindakan keegoisan diri dan kebiasaan yang menjengkelkan yang anda dan (kita semua) miliki. Jika keadaan berbalik, maka maukah anda hidup dengan diri anda?

Tidak ada seorang pun dari kita akan berbahagia jika kita membawa kesakitan dan kemarahan diantara kita, khususnya terhadap pasangan kita. Jadi dengan bantuan Allah, hendaklah kita belajar untuk benar-benar memaafkan pasangan kita di dalam kehidupan sehari-hari dan maju ke depan bersama-sama untuk membangun hubungan yang benar-benar dekat/setia dan penuh kasih.

Membangun Kerajaan Keluarga Anda

Di dalam membangun sebuah pernikahan yang berbahagia, kita juga perlu untuk mengikutsertakan usaha untuk membangun "suatu kerajaan keluarga". Terdapat suatu pepatah lama yang berbunyi: "Rumah seorang pria adalah istananya." Sudah seharusnyalah seorang pria menerapkan kiasaan yang ada di dalam pepatah lama ini di dalam keluarganya. Pria tersebut adalah rajanya, istrinya adalah ratunya, dan anak-anaknya adalah para pangerannya dan para putrinya yang mana para pangeran dan para putri tersebut membutuhkan pelatihan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka di masa depan. Dengan menyadari hal yang penting ini, maka orang tua akan secara antusias bekerja sama untuk meyakinkan bahwa para pemimpin masa depan ini telah secara benar dan sungguh-sungguh dipelihara, dibimbing, didisiplin dan dilatih hal-hal penting yang harus mereka laksanakan di dalam tahun-tahun mendatang.

Kesatuan dari dua konsep yang cerdas dan berbahagia di dalam pernikahan yaitu kesatuan tubuh, hati dan pikiran yang terbuka serta penuh kasih di dalam pasangan yang telah menikah dengan usaha untuk menciptakan "kerajaan keluarga" yang penting ini akan dapat menghasilkan suatu kesempatan dan keadaan bagi pria dan wanita untuk dapat menemukan kepenuhan yang sempurna seperti yang digambarkan sang pemazmur: "Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu" (Mazmur 128:1,3 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Setelah anda mengenal dan memahami konsep-konsep penting yang berhubungan dengan arti dan tujuan pernikahan ini, maka bukankah sekarang adalah saat yang tepat bagi anda untuk memikirkan membangun pernikahan dan rumah tangga anda berdasarkan arti dan tujuan pernikahan tersebut?

Sehingga sepasang suami istri tidaklah menjadi bosan dan tidak tertarik untuk saling membagikan pikiran-pikiran mereka melainkan keduanya harus dengan giat dan bersama-sama memberikan perhatian yang baik di dalam membahas, mengusahakan dan membangun miniatur "kerajaan keluarga". Haruslah mereka memiliki suatu ketertarikan yang sama di dalam mengajari dan meningkatkan kualitas rumah tangga mereka, kedudukan finansial mereka serta di dalam merencanakan masa depan yang tidak lain adalah masa depan mereka bersama.

Karena di dalam pernikahan yang berbahagia tidaklah boleh dimiliki sikap "ini adalah rumahku", "mobilku", atau bahkan "uangku." Melainkan, sikap yang harus dimiliki adalah "ini adalah rumah kami, pendapatan kami, masa depan kami."

Bangunlah "istana" anda bersama-sama

Dan juga sikap saling membantu dan menolong sudah seharusnya secara terus menerus mengarah dan direncanakan kedepan bagi peningkatan "istana" anda yang adalah rumah anda. Perasaan-perasaan, pemahaman dan keahlian yang dimiliki oleh istri di dalam hal dekorasi, mengatur taman dan hal-hal rumah tangga lainnya sudah seharusnya diperhitungkan dan diperhatikan. Setiap perihal pembelian besar seperti rumah atau mobil sudah seharusnya menjadi suatu proyek keluarga, yang memerlukan adanya kesempatan dan peranan dari suatu pertukaran pengalaman antara suami dan istri.

Beberapa orang terkadang mengatakan, "Tidak, tidak ada yang perlu dibicarakan." Tetapi saya bertanya, "apakah sungguh-sungguh tidak terdapat sesuatu yang pelu dibicarakan?"

Jawabnya adalah ADA bahkan segala sesuatunya perlu untuk dibicarakan dan dipertukarkan. Itulah jawaban sebenarnya.

Tanpa menjadi bodoh dan tidak realistis tentang hal tersebut, para suami dan istri haruslah berpikir bagi diri mereka berdua sebagai "partner/rekan" di dalam suatu petualangan yang besar, di dalam membangun suatu karir, suatu bisnis, dan suatu kehidupan bersama. Mereka sudah seharusnya berbicara tentang hal-hal yang rinci yang berhubungan dengan persekutuan mereka, teman-teman mereka, rekan-rekan bisnis dan relasi-relasi mereka. Dengan masuknya suami dan istri kedalam diskusi yang luas dan kompleks maka mereka perlu dan harus merencanakan strategi untuk saling menolong. Juga mereka perlu untuk mendiskusikan bagaimana mereka dapat mewujudkan segala tujuan hidup mereka mendekati kepada kenyataan.

Setelahnya adalah anak-anak, hendaklah kita memperhatikan mereka dengan lebih seksama maka anda akan mengetahui bahwa mereka sesungguhnya adalah teman diskusi, berencana, memecahkan masalah dan bertukar pikiran yang sangat baik. Mengapa? Karena mereka adalah sumber yang baik untuk bertukar pikiran atas harapan dan impian yang akan dicapai dan yang ada. Dan mereka melakukannya dari dalam hati.

Putuskanlah tujuan-tujuan keluarga secara bersama-sama dengan teratur yang akan menghasilkan suatu "kebersamaan" yang penuh arti. Sedangkan bagi pasangan suami dan istri yang bekerja, mungkin mereka akan mengharapkan untuk saling berdiskusi tentang bagaimanakah cara untuk menyisihkan uang yang cukup sehingga setelah beberapa tahun sang istri dapat berhenti bekerja dan mereka dapat memiliki dan membesarkan anak. Setelahnya, mereka berdua butuh untuk berdiskusi bersama tentang bagaimanakah mereka dapat secara finansial dan lainnya merencanakan saat untuk pensiun, baik hanya sang suami, atau sang istri atau keduanya. Bagaimanakah mereka dapat melakukan rencananya tersebut? Dimanakah mereka dapat pindah tempat tinggal untuk mengurangi pembiayaan? Cara hidup yang bagaimanakah yang akan memberikan mereka berdua kepenuhan yang mereka butuhkan sejalan dengan datangnya saat-saat tersebut? Dapatkah mereka mengembangkan suatu bisnis rumahan dimana mereka dapat terus mendapatkan pendapatan walaupun tidak banyak? atau bahkan setelah satu diantara mereka pensiun?

Jika suami dan istri masing-masing memikirkan diri mereka berdua sebagai suatu "tim", maka pernikahan mereka akan dapat memiliki arti yang besar. Mereka masing-masing akan dapat menyumbangkan apa yang mereka miliki bagi kelangsungan "kerajaan keluarga" mereka. Mereka masing-masing akan memberi, membangun dan berbagi petualangan yang besar dari hidup mereka bersama di dalam cara yang khusus.

Pada bagian terakhir ini kita akan membicarakan hal "roman/percintaan". Meskipun roman/percintaan adalah suatu hal yang mempertemukan sepasang anak muda, hal ini sering membuat mereka lupa akan peran-peran penting dari aspek-aspek lain di dalam pernikahan yang kebanyakan telah kita bicarakan.

Namun, kita tidak boleh meninggalkan "roman/percintaan/kemesraan" dari gambaran penikahan. Hal ini didasari suatu kenyataan bahwa tidak peduli seberapa lama dua orang telah menikah, tidak peduli seberapa "tua" mereka kelihatannya, kebutuhan yang mendalam dari manusia akan cinta dan perhatian yang mesra tetap ada disana di dalam hampir semua individu. Keinginan untuk mencium dan memeluk, "untuk memiliki dan untuk merangkul", adalah sama pentingnya dengan kebutuhan setiap manusia untuk bernafas, menghirup dan menghembuskan nafas.

Keinginan tersebut tidaklah salah!

Karena Allah yang agung, yang telah menciptakan kita sebagai pria dan wanita, telah mendesain organ-organ seksual di dalam diri kita. Ia telah membuat kita laki-laki dan perempuan untuk saling tertarik antara satu dengan lainnya. Ia menciptakan di dalam diri kita perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang memimpin kepada ekspresi seksual. Apakah perintah tertulis pertama Allah kepada Adam dan Hawa? "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Perhatikan bahwa ketika Allah memberikan instruksi tentang "hubungan seksual" dan reproduksi manusia kepada orang tua pertama kita, Ia "memberkati" mereka. Karena jika digunakan dengan benar di dalam batas-batas pernikahan, seks adalah sungguh suatu berkat. Di dalam hal jasmani, seks membawa kelengkapan persatuan dari hati, pikiran, emosi dan tubuh dari dua orang manusia yang mencintai satu dengan lainnya dengan sangat dalam yang mana mereka berkomitmen/berjanji pada diri mereka satu dengan yang lain bagi HIDUP. Seperti yang telah kita lihat, bahwa kesatuan bersama mereka menggambarkan kesatuan total yang akan pada suatu hari didapatkan antara Kristus dan Jemaat Allah yang benar (Efesus 5:22-25).

Melihat pentingnya kesatuan antara laki-laki dan wanita yang disucikan oleh Allah di dalam pernikahan maka Allah melindungi hubungan yang suci ini dengan salah satu dari Kesepuluh Perintah! Pencipta kita memerintahkan: "Jangan berzinah" (Keluaran 20:14). Yesus Kristus pun memperbesar atau mengagungkan perintah ini dengan membuatnya lebih mengikat: "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:27-28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Bagaimanapun juga, jika di dalam pernikahan, seks digunakan sebagai suatu cara penegasan ulang dari rasa cinta, rasa percaya, semangat untuk saling memberi antara masing-masing individu di dalam pernikahan maka jadilah hal tersebut sebagai sesuatu yang indah dan suci di mata Allah. Jadi jelaslah sudah bahwa seks tidak boleh dipandang murahan dan brutal seperti apa yang sering ditampilkan di dalam film-film modern, televisi dan media yang lain. Hal ini hanya menjatuhkan arti yang sesungguhnya dari hubungan seks, yang mana oleh Allah dikehendaki untuk menjadi ungkapan jasmani dari cinta sepasang manusia yang telah menikah yang sesungguhnya menggambarkan Kristus dan Jemaat.

Saya berharap bahwa kita semua dapat melihat suatu kenyataan bahwa Satan akanlah menggunakan cara yang sangat cerdik, jahat dan licik dalam menjatuhkan dan membuat beberapa berkat Allah menjadi murahan dengan menghasut kita untuk menyalahgunakan sesuatu. Inilah juga yang ia lakukan ketika ia menghasut jutaan orang kedalam penyalahgunaan seks yang sesungguhnya adalah pemberian Allah yang indah. Setan dapat menghancurkan dasar-dasar kebenaran yang diberikan oleh Allah kepada masyarakat yang sehat, di rumah dan di keluarga. Hal itulah yang sesungguhnya sedang terjadi bagi masyarakat barat kita pada saat ini! Tetapi ingatlah bahwa di lain pihak Allah menginginkan pasangan muda yang menikah untuk saling mencintai dengan sepenuhnya. Firmannya menceritakan kepada kita: "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah" (Ibrani 13:4 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Sekali lagi, Alkitab memerintahkan kita: "Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.

Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing?" (Amsal 5:18-20 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).

Ketika pasangan muda untuk pertama kalinya menikah, mereka biasanya menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas-aktivitas romantis. Mereka serng dengan sangat lama berjalan dibawah sinar bulan . Mereka mengadakan acara makan di kafe yang romantis, mungkin juga pergi dansa, bergandengan, tertawa bersama dan berusaha untuk benar-benar memahami dan menghargai pasangan hidup mereka. Mereka akan selalu tampil bersih, rapi, penuh dandan dan mungkin memakai parfum atau kolonyet yang wangi. Di dalam setiap jalan, mereka akan memberikan "langkah keputusan ke depan yang terbaik" dalam menghadapi kehidupan.

Tetapi setelah masa pernikahan dan bulan madu, kebanyakan semangat para pasangan mulai mengendor. Para suami tidak selalu mandi dengan teratur sebelum pergi ke tempat tidur. Sang istri akan membiarkan rambutnya kelihatan seperti kain pel atau mengenakan pakaian yang tidak rapi di sekeliling suaminya. Ia mungkin juga "lupa" untuk mandi atau mungkin untuk mengenakan pakaian yang indah dan terlihat spesial bagi suaminya ketika sang suami pulang kerja. Yang mana dengan semakin banyaknya istri yang bekerja maka semakin sulitlah bagi wanita untuk melakukan hal ini.

Bagaimanapun juga, baik suami maupun istri haruslah mencoba untuk "tetap mempertahankan api asmara agar selalu berkobar"! Mereka harus melakukan apapun yang mereka dapat lakukan untuk dapat tetap menunjukkan kepada pasangan hidup mereka perhatian dan rasa hormat yang khusus yang mereka lakukan ketika mereka dulu berpacaran dan ketika mereka dulu menikah. Seorang suami yang penuh kasih akan mencium istrinya dengan ciuman "sampai bertemu lagi/goodbye kiss" di pagi hari ketika ia pergi bekerja, serta memberinya pelukan yang khusus dan mencium ketika ia kembali dari kerja. Juga ia akan berterima kasih dan mencium istrinya lagi "untuk hidangan malam penutup yang lezat". Mungkin pula ia akan membantu sang istri untuk membersihkan piring dari meja makan, mengendap dan memeluknya ketika istrinya sedang berdiri di tempat pencuci piring, dan juga hal-hal romantis lainnya. Masing-masing pasangan harus berusaha untuk mencurahkan perhatian dan penghargaan kepada pasangannya. Kemudian, "bagian terakhir" akan datang dengan mudah dan alami. Jadi jika masing-masing pasangan dapat menghargai dan menimbulkan rasa saling mencintai pada setiap harinya maka hal ini akan membuat pernikahan mereka menjadi indah dan menggembirakan!

Hendaklah anda memberikan pikiran dan perhatian yang khusus kepada aspek-aspek penting di dalam pernikahan anda. Janganlah anda membiarkan apapun menghalangi anda untuk mewujudkan atmosfir/suasana yang penuh kasih dan romantis di dalam rumah anda. Janganlah membiarkan "kekhawatiran akan pekerjaan" memahitkan pernikahan anda. Janganlah membiarkan kekhawatiran yang berlebihan akan anak-anak, urusan pemeliharaan rumah atau hal lainnya menghentikan anda untuk menciptakan suasana mesra dan romantis dan gembira di dalam rumah dan pernikahan anda karena hal itulah yang sesungguhnya diinginkan oleh Pencipta anda untuk hadir di dalam rumah dan pernikahan anda!

Para suami, janganlah sewot, atau mengeluh atau terlalu menuntut istri kalian. Kasihi dan semangatilah dia agar dia selalu ingin memperhatikan dan menanggapi kebaikan anda selalu. Berusahalah untuk selalu "memberikan" diri anda kepada pasangan anda di setiap hal yang anda dapat lakukan dan buatlah hidupnya lengkap dan gembira.

Para istri, berikanlah perhatian yang baik untuk selalu menjadi "sweet heart/buah hati" suami anda. Kembalikanlah perhatiannya dan berusalah untuk memberikan inspirasi dan semangat di segala hal yang anda bisa. Di dalam hukum-hukum Allah, berusalah dengan segala cara untuk membuat dia merasa berbahagia dan lengkap. Tersenyumlah baginya, "bercandalah" dengannya, berilah dia ciuman dengan penuh perhatian dan buatlah dia gembira karena ia menikahi anda.

Di dalam semuanya ini dan lainnya, setiap pribadi dari anda haruslah belajar untuk mengasihi dan untuk "memberi semangat" pasanga anda dari lubuk hati anda yang paling dalam. Berlututlah untuk beroda dan mintalah Allah untuk membantu anda menjadi pasangan hidup yang baik seperti yang memang diharapkan dari anda! Dan berilah Allah ucapan terima kasih karena menyediakan anda seorang pasangan hidup yang sejati, seorang kekasih, teman, rekan yang mana anda dapat secara penuh berbagi berkat dari keberadaan jasmani ini.

Mintalah Allah untuk membantu anda menggunakan seluruh "kunci" menuju suatu pernikahan yang berbahagia. Kemudian, disamping segala cobaan dan ujian yang akan datang kepada kita semua, anda akan memiliki seseorang yang benar-benar "spesial" untuk memberi semngat anda dan membantu anda di dalam segala hal. Dan di dalam hubungan yang disatukan oleh Allah ini yang kita sebut pernikahan, anda akan belajar dengan cara yang indah tentang bagaimanakah mematuhi perintah besar kedua dari Pencipta kita: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39).