November 2004

Masyarakat modern pada saat ini memiliki konflik terhadap Kesepuluh Perintah. Apakah kesepuluh perintah tersebut "telah ditiadakan" oleh perintah yang maha tinggi atau oleh usaha manusia terhadap ilmu pengetahuan? Haruskah kesepuluh perintah tersebut dipasang di tempat-tempat umum, atau disimpan dipajang hanya di dalam gereja? Apakah mereka merupakan suatu beban bagi orang mendapatkan "pencerahan" atau justru menjadi suatu berkat bagi mereka yang mematuhinya?
Raja Daud berkata, "Oh, berapa aku mencintai TauratMu!" dan menyebutnya sempurna; rasul Paulus menyebutnya suci, adil dan baik; Yesus menghormati, membesarkan, mematuhi dan memerintahkan kita untuk mematuhi Kesepuluh Perintah. Tetapi bagi hampir kebanyakan orang, Kesepuluh Perintah tetap menjadi suatu teka-teki yang tidak pernah dipahami. Pada buklet inilah akan dijelaskan secara gamblang tentang hukum yang hidup yang tidak dapat dihentikan ini. Dengan segera hukum ini akan menjadi hukum yang mendasar dan utama dari dunia masa depan yang damai, makmur dan berbahagia!
Lebih dari 40 tahun yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menuliskan edisi yang pertama dari buklet ini, Kesepuluh Perintah. Topik tentang Kesepuluh Perintah ini akhirnya diadaptasikan ke dalam bentuk buklet dari artikel berseri majalah yang dikirimkan kepada ratusan ribu orang yang memintanya selama beberapa dekade. Majalah tersebut sudah tidak dicetak kembali selama lebih dari satu dekade, tetapi pada saat ini saya telah meng"update"nya bagi para pemirsa dan pelanggan Tomorrow's World. Buklet ini masihlah tetap sama seperti yang ditawarkan 40 tahun yang lalu. Hal ini memang tidak mengherankan karena buklet ini menggambarkan hukum Allah yang tidak pernah berubah, sama seperti yang Ia katakan, "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah," (Malakhi 3:6).
Bahkan kaum sekolahan sekular mengetahui bahwa umat Kristen di zaman awal mendasarkan kehidupan mereka dengan mengikuti hukum rohani Allah yang agung, yaitu Kesepuluh Perintah. Ketika mereka mengatakan, "Tuhan Yesus Kristus", mereka mengenali bahwa kata "Tuhan/tuan" memiliki arti "atasan"-Pribadi yang anda harus patuhi! Yesus mengingatkan mereka lagi dan lagi tentang hubungan yang penting ini, seperti yang ada di dalam Lukas 6:46: "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"
Adalah harapan dan doa saya agar anda mempelajari buklet ini dengan bersungguh-sungguh, dan menghargai hukum Allah sebagai hukum yang akan dijalankan di dalam Pemerintahan Seribu Tahun yang sebentar lagi akan datang. Adalah suatu berkat bagi keluarga dan bangsa-bangsa yang mematuhinya, yang mengikuti teladan yang sempurna dari Juru Selamat kita, Yesus Kristus.
Zaman ini adalah zaman yang tidak berdasarkan hukum. Kejaharan dan kekerasan meningkat dalam tingkat yang sangat menakutkan karena diantara jutaan orang disana secara praktek tidak menghormati bagi hukum dan suatu kekuasaan, baik Allah maupun manusia! Pada tingkat internasional, bangsa-bngsa hidup di dalam ketakutan karena mereka sangat mengetahui bahwa apa yang sering disebut "jaminan" dan perjanjain kedamaian tidaklah seberharga kertas dimana perjanjian tersebut dituliskan. Tidak ada hukum, tidak ada rasa hormat bagi kekuasaan diantara bangsa-bangsa di dunia. Ini adlah dunia dimana kita hidup!
Manusia sudah tidak memiliki rasa hormat yang dalam terhadap hukum karena mereka telah melupakan sumber dari segala hukum dan kekuasaan! Alkitab anda mengatakan, "Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan." (Yakobus 4:12). Sang pemberi hukum tersebut adalah Allah yang maha kuasa. Di dalam usaha pencarian manusia pada saat ini untuk mendatangkan "pikiran yang damai" atau suatu "agama yang mententramkan" dengan cara mereka, manusia telah benar-benar melupakan Allah yang memerintah alam semesta ini! Sebagai hasilnya, maka tidaklah mengherankan jika beberapa dari anak-anak muda kita, yaitu para calon pemimpin masa depan memiliki suatu sikap yang tidak berhukum/menentang hukum. Salah satu dari pakar pendidikan dunia telah memperingatkan sekelompok pemimpin militer tentang masalah ini. Ia adalah mendiang Dr. Rufus von Klein Smid, mantan rektor Universitas Southern California. Ia mengatakan: "Saya tidak memiliki permasalahan dengan penekanan yang kita berikan pada saat ini di bidang ilmu pengetahuan, melainkan dengan dukungan yang kita berikan kepada sekolah-sekolah mulai dari 1 September sampai 30 Juni tentang perihal bahwa Allah itu seolah-olah tidak ada." Dr. von Klein Smid menuliskan bahwa "hilangnya nilai-nilai moral" pada kehidupan pemuda kita sesungguhnya bersumber dari sikap/pandangan tersebut. Jika anda meninggalkan Allah di dalam kehidupan anda, maka tidak akan ada lagi suatu standar bagi tingkah laku yang nyata. Hal ini akan menghasilkan kebingungan rohani, kemurtadan dan kepedihan di dalam hati manusia. Di hampir seluruh aliran/denominasi agama pada saat sekarang ini, terdapat suatu kecenderungan untuk memodernkan dan mendemokrasikan Allah, serta untuk menyingkirkan kekuasaanNya untuk memerintah ciptaanNya, termasuk kita sebagai makhluk ciptaanNya. Terdapat hanya sedikit manusia yang benar-benar takut akan Allah di bumi kita pada saat ini! Menciptakan "allah" dari hasil imajinasi mereka sendiri, manusia dengan jelas tidak memiliki penghormatan yang tinggi dan dalam atas allah yang semacam itu. Mereka tidak memiliki rasa takut kepada "allah" mereka. Mereka pasti tidak akan mematuhi makhluk hasil imajinasi mereka tersebut! Tetapi lain halnya dengan Yesus Kristus, Ia sesungguhnya membawa pesan tentang Allah yang menciptakan bumi ini! Ia adalah Allah yang memberkati manusia yang patuh kepada hukum-hukumNya, tetapi menghukum mereka yang tidak patuh. Yesus Kristus yang dari Alkitab selalu memberitakan injil dari Kerajaan Allah (Markus 1:14; Lukas 4:43). Di dalam istilah modern, Ia memberitakan berita "bahagia" dari pemerintahan Allah, yang tidak lain adalah kepemerintahan Allah. Ia berkata, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Markus 1:15). Sebelum anda dapat benar-benar percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat anda, serta membiarkan darahNya tercurah untuk menutupi dosa-dosa anda, maka anda harus bertobat. Tetapi sekarang muncul suatu pertanyaan yaitu harus bertobat dari apakah anda? Jawabannya dengan jelas adalah bahwa anda harus bertobat dari dosa! Sekarang apakah yang dimaksud dengan dosa?
Meskipun terdapat banyak ide yang berbeda maupun kesamaan-kesamaan dari denominasi-denominasi agama yang ada, Alkitab anda sesungguhnya dengan jelas menyatakan: "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah." (1 Yohanes 3:4). Dosa adalah pelanggaran hukum rohani Allah, yaitu Kesepuluh Perintah. Itulah sesungguhnya definisi daripada dosa! Sebelum Allah mengampuni dosa-dosa masa lalu anda, anda harus terlebih dahulu bertobat dari pelanggaran hukumNya! Anda harus belajar untuk takut dan menghormati Allah sebagai Pemimpin yang Agung dari alam semesta ini, dan sebagai Raja dan Pemimpin anda. Salomo, manusia yang paling bijaksana yang penah hidup di bumi, mendapatkan wahyu untuk menuliskan: "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan" (Amsal 1:7). Rasa takut akan Allah yang seperti ini bukanlah suatu rasa ketakutan yang ngeri, melainkan suatu rasa hormat dan pengagungan yang dalam bagi kekuasaan dan kepemerintahan Allah atas kekuatanNya, kebijaksanaanNya, dan kasihNya. Tanpa iman kepada Allah yang nyata dan agung, umat manusia tidaklah akan menjadi sempurna. Jika kehidupan mereka terputus dari Allah yang menciptakan hukum dan aturan, maka umat manusia akan menjadi makhluk yang tidak memiliki tujuan hidup, kosong, frustrasi, dan bingung. Sedangkan jalan untuk keluar dari kekosongan dan kebingungan hidup manusia modern sering dipandang sederhana, dan bahkan usang oleh beberapa orang. Padahal pada kenyataannya, jalan tersebut adalah nyata dan akan pasti berhasil jika dilakukan! Hal tersebut tidak lain adalah bahwa umat manusia harus keluar dari menyembah allah yang palsu dan salah. Umat manusia harus kembali kepada Allah yang berasal dari Alkitab, yaitu Allah yang mencipta dan yang memerintah alam semesta ini. Di dalam menyimpulkan jalanNya yang bertujuan untuk memenuhi keinginan manusia untuk memiliki hidup yang berbahagia, dan penuh tujuan, Allah memberikan firman yang penting ini di akhir kitab Pengkhotbah: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." (Pengkhotbah 12:13). Tanpa adanya hubungan yang hidup dan vital dengan Allah, yaitu berjalan dengan jalanNya serta mematuhi perintah-perintahNya, maka umat manusia akan menjadi frustasi dan tidak lengkap hidup dan keberadaannya. Kepatuhan terhadap perintah-perintah Allah akan membawa kedamaian dan kepenuhan serta kebahagiaan bagi semua bangsa dan orang di dunia. Inilah sesungguhnya jawaban dari seluruh permasalahan kita, baik secara pribadi dan bersama. Ini adalah jalan hidup yang akan diajarkan oleh Yesus Kristus ketika Ia kembali untuk memerintah dunia ini (Mikha 4:2).
Nabi Daud adalah seorang manusia yang berkenan di hati Allah (Kisah Para Rasul 13:22). Ia digunakan sebagai suatu tipe dari Kristus, dan yang akan memerintah secara langsung di bawah Kristus atas seluruh bangsa Israel pada masa seribu tahun yang tidak lama lagi akan datang (Yehezkiel 37:24). Pada saat itulah Kristus akan membawa kedamaian di bumi. Daud menuliskan: "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari." (Mazmur 119:97). Daud mempelajari dan mempertimbangkan dengan benar hukum-hukum Allah di sepanjang harinya! Ia mempelajari bagaimanakah melakukan hukum tersebut pada setiap keadaan di dalam kehidupan. Hal ini memberikan Daud kebijaksanaan. "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku." (ayat 98). Hukum Allah menyatakan kepada Daud tentang jalan yang harus dijalaninya karena hukum Allah adalah suatu jalan kehidupan. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (ayat 105). Diseluruh Mazmur 119, Daud mengumumkan tentang bagaimanakah ia mengasihi hukum Allah, dan menggunakannya sebagai pembimbing di dalam kehidupannya.
Bagaimanakah dengan anda? Apakah anda seperti Daud? Mungkin saja tidak. Kebanyakan dari anda telah diajarkan bahwa pada saat ini hukum Allah sudah tidak berlaku lagi yaitu sudah ditiadakan. Atau anda tidak benar-benar memahami bahwa hukum Allah adalah satu-satunya jalan kehidupan yang dapat membawa umat manusia kepada kebahagiaan dan sukacita yang sesungguhnya. Anda tidak menyadari bahwa hukum Allah pada kenyataannya menyatakan karakter dan keadaan alami daripada Allah sendiri. Allah memerintahkan kita: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Ingatlah bahwa orang Kristen yang benar, yaitu "kumpulan kecil" Yesus, digambarkan sebagai mereka yang "Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus." (Wahyu 12:17). Dan Allah menggambarkan karakter dari para orang kudusNya sebagai berikut: "Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus." (Wahyu 14:12). Jika anda terhitung sebagai orang kudus yang akan terluput dari tujuh malapetaka terakhir, maka anda harus memiliki iman yang hidup ini, yaitu iman yang patuh di dalam Allah yang maha besar melalui Yesus Kristus yang menghidupkan kehidupanNya di dalam anda! Anda perlu untuk memahami dan melakukan hukum rohani Allah seperti yang dinyatakan di dalam Kesepuluh Perintah! Anda kami mohon untuk benar-benar mempelajari buklet ini dengan melihat setiap ayat-ayat Alkitab yang dikutip. Kami berharap anda untuk hidup oleh hukum rohaniNya yang suci.
Untuk memahami dengan baik serta merasakan dampak yang nyata dari Kesepuluh Perintah, hendaklah kita memperhatikan tentang bagaimanakah Allah memberikan hukum tersebut pada mulanya. Ingatlah bahwa Musa dan bangsa Israel sungguh-sungguh mempertahankan dan memelihara suatu pengetahuan yang menyatakan bahwa Allah mereka adalah Allah Pencipta langit dan bumi. Ia adalah pemimpin besar bumi yang telah menyebabkan tragedi Air Bah pada zaman Nuh, bapa leluhur mereka. Dan sekarang Allah yang benar, Allah Israel, telah membebaskan mereka dari kekangan Mesir dengan keajaiban/mukjizat yang hebat; Ia telah membawa mereka keluar dari Mesir dan melintasi Laut Merah dengan air laut yang mendinding (Keluar 14).
Semenjak saat mereka melintasi Laut Merah, Allah telah mulai berhubungan dengan mereka dan mengingatkan mereka akan hukum-hukumNya yang pada saat sebelumnya mungkin hanya sebagian saja yang mereka ingat atau miliki. Sebelum mereka mencapai gunung Sinai, Allah menghilangkan segala keraguan mereka tentang hari SabatNya dengan melakukan serangkaian mukjizat untuk mengingatkan mereka (Keluaran 16). Allah benar-benar memastikan dan mengingatkan mereka tentang hari apakah hari Sabat mereka. Di dalam Keluaran 18, Musa telah menghakimi bangsa tersebut sesuai dengan hukum Allah dan perintahNya (ayat 16). Sekarang pada saat mereka akan tiba ke bukit Sinai, Allah menyatakan-tidak untuk memberikan kepada mereka hukum yang baru-tetapi untuk memasuki suatu perjanjian atau persetujuan dengan mereka. Yang mana perjanjian atau persetujuan ini akan membuat mereka menjadi umat khususNya, dan Ia akan menjadi Allah mereka yang hukum, peratuan dan putusanNya akan mereka patuhi. Semenjak baik dahulu maupun sekarang Kesepuluh Perintah selalu menjadi hukum rohani Allah (Roma 7:14), maka hukum tersebut menjadi bagian dari persetujuan antara Allah dan Israel.
Jauh sebelum peristiwa di Sinai, Allah secara khusus memberkati Abraham yang dikenal sebagai, "bapa semua orang percaya" (Roma 4:11), karena "Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." (Kejadian 26:5). Jadi Abraham dengan jelas memahami dan mematuhi ke Sepuluh Perintah.
Semenjak Kesepuluh Perintah adalah hukum Allah yang suci dan rohani, maka Allah mengumumkan/menyatakan hukum tersebut dengan kekuatan yang besar dan ditulisNya dengan tanganNya sendiri. Hal ini tidak terjadi pada hukum-hukum lainnya di dalam perjanjian. Perhatikanlah situasi di dalam Keluaran 19, Allah memerintahkan orang untuk membersihkan diri mereka dan bersiap untuk menyongsong hari ketiga ketika Ia akan turun keatas mereka, (ayat 10-11). "Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan." (ayat 16). Disini Allah menunjukkan kekuatanNya sebagai sang Pencipta dari bumi ini, yaitu sejalan dengan Ia mulai berbicara dengan suaraNya sendiri ketika Ia menyatakan Kesepuluh Perintah! Sejalan dengan sang Pencipta turun diatas gunung Sinai di dalam keagungannya, "Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat." (ayat 18).
Di dalam keadaan dari keagungan, keindahan dan kekuatan seperti ini, Allah berbicara tentang Kesepuluh Perintah kepada orang-orang di bawah gunung yang gemetar di dalam kekaguman mereka atas diriNya. Di dalam kekuatanNya yang besar yang menggelegar di seluruh wilayah seperti bunyi guntur, suaraNya telah benar-benar menggetarkan orang-orang ini. (Mazmur 104:7).
Jadi Allah mulai berbicara tentang Kesepuluh Perintah-menyatakan kepada bangsaNya hukum-hukum kehidupan yang akan membawa kesuksesan, kebahagiaan dan kedamaian atas Allah dan manusia. Di zaman di mana penuh dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh manusia, beserta pikiran-pikiran agnostik (suatu paham yang percaya bahwa adalah tidak mungkin untuk mengetahui apakah Allah itu ada atau tidak) dan serba materi, adalah penting untuk memahami bahwa pertama kalinya Allah tidak berbicara tentang "hubungan antar umat manusia". Melainkan Allah berbicara tentang kepatuhan dan penyembahan terhadap diriNya sebagai Pencipta dan Pengatur sorga dan bumi, dan juga diriNya sebagai Allah dari mereka yang melayani dan mematuhi diriNya! "Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Keluaran 20:1-3). Itulah perintah yang pertama, dan yang merupakan perintah terbesar. Pelajarilah susunan penulisan perintah ini dengan hati-hati, dan renungilah seperti Daud! Frasa "Aku adalah Tuhan Allahmu" adalah suatu frasa kata yang memiliki pengertian dan pengungkapan yang sangat dalam jika dibandingkan saat pertama kali anda membacanya. (Semakin anda membaca, memperhatikan dan merenungi, semakin dalam arti dari frasa kata tersebut). Kata "Aku" yang ada di dalam perintah yang pertama ini adalah bukti yang nyata dari "Dia" yang sedang berbicara dengan kekuatan yang sangat besar. Allah yang mengatakan "Aku" dengan tegas dan kuat membuktikan tentang keberadaanNya sebagai sang Pencipta yang agung dari langit dan bumi. Di dalam kemuncullanNya, Ia telah menunjukkan kekuatanNya sebagai Pencipta dengan mengirimkan guruh dan guntur yang menggoncangkan Gunung Sinai seolah-olah seperti sebuah rak piring yang basah!
Sekarang kita telah melihat kekuatan dan keagungan yang digunakan oleh Allah untuk menyatakan diriNya ketika Ia mengumandangkan Kesepuluh Perintah di Gunung Sinai. Marilah sekarang kita melihat setiap perintah, yaitu di mulai dari perintah yang pertama, dan aplikasinya di dalam kehidupan pribadi anda. Karena jika anda mengaku sebagai umat Kristen, ingatlah bahwa Yesus Kristus, Pendiri dari Kekristenan, mengatakan bahwa kita harus hidup dari setiap firman Allah (Matius 4:4). Dan tentu saja, melalui bantuan Allah, anda harus berjalan berdasarkan perintah Allah yang agung jika memang anda ingin memasuki hidup yang abadi (Matius 19:17). Bagaimanakah sesungguhnya perintah yang pertama ini dijalankan di dalam kehidupan anda? Sang Pencipta mengatakan, "Aku adalah Tuhan Allahmu". Apakah Allah pencipta, Allah Israel dan Alkitab adalah benar-benar Allah yang anda layani dan patuhi? Atau apakah anda terperdaya untuk membuat dan menciptakan "ilah-ilah" palsu anda sendiri? Atau apakah anda pada saat ini sedang melakukan penyembahan yang salah berdasarkan "tradisi manusia"? yang mana dalam hal ini Yesus mengatakan bahwa penyembahan kita terhadap Allah menjadi penyembahan yang sia-sia? (Markus 7:7). Inilah hal-hal yang harus anda pikiran!
Bagi umat Kristen, Allah mengatakan bahwa Ia adalah satu-satuNya Pribadi yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir, yaitu keluar dari perbudakan. Di seluruh Alkitab, Mesir digunakan untuk melambangkan dosa. Sesungguhnya, seluruh orang yang tidak bertobat diperbudak di dalam sistem berhala yang terorganisir di dunia ini, dan juga kepada nafsu pribadi mereka. Dan ketika seseorang benar-benar bertobat dan insaf, maka Allah akan membawa dirinya keluar dari segala kekangan tersebut dan ia dengan senang hati melakukannya. (Dengan sangat di ingini ia keluar dan meninggalkan segala jalan dosa!). Oleh karenanya, anda sekarang butuh untuk menilik apakah anda benar-benar telah keluar dan meninggalkan tradisi-tradisi dan jalan-jalan hidup dunia yang salah ini dan apakah anda telah bertobat dari nafsu dan dosa-dosa pribadi anda.
Allah memerintahkan: "Janganlah terdapat allah lain di hadapanKu." Sekarang bagaimanakah dengan anda? apakah anda menyenangi/mencintai akan sesuatu hal melebihi Allah? Apakah waktu anda, kesenangan anda, pelayanan anda lebih dihabiskan untuk sesuatu yang lain daripada Allah? Berhala apakah yang telah anda tempatkan antara anda dan Allah? Berhala apakah yang lebih anda pilih daripada menghabiskan waktu berharga anda untuk mempelajari firman Allah dan untuk hidup menurut firmanNya tersebut? Allah berfirman: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:1). Diseluruh halaman-halamannya, Alkitab mengumumkan bahwa Allah adalah Pencipta yang nyata dari bumi dan alam semesta ini. Ia adalah satu-satunya yang memberikan kehidupan dan nafas bagi seluruh ciptaan (Kejadian 1). Apakah anda secara jujur berpikir dan menyembah Allah sebagai Pencipta anda dan Satu-Satunya Pribadi yang memberi anda nafas kehidupan yang anda hirup? Sudah seharusnya anda melakukannya semenjak hal ini adalah bagian dari penyembahan Allah yang benar. Anda tidak dapat memiliki berhala dihadapanNya!
Penyesatan terbesar yang ada pada saat ini bukanlah tentang paham komunis atau atheis (tidak berTuhan), melainkan tentang doktrin yang salah dan sesat dari teori dan ajaran evolusi yang diberitakan oleh ilah sesat yaitu ilmu pengetahuan. Evolusi adalah suatu usaha untuk menjelaskan dan mengajarkan tentang adanya ciptaan tanpa adanya Pencipta. Ajaran ini benar-benar menolak Allah yang benar beserta keadaan alami dan kedudukanNya! Dan pada kenyataannya, hal ini adalah dasar dari hampir seluruh "dunia pendidikan" di bumi ini! Tetapi ketahuilah bahwa hikmat dari dunia ini adalah kebodohan bagi Allah (1 Korintus 1:20). Di dalam Alkitab, Allah tidak hanya dikatakan sebagai Pencipta, tetapi juga sebagai satu-satunya Pribadi yang memelihara dan yang memerintah ciptaanNya. Ia dikatakan sebagai Pribadi yang ikut campur di dalam urusan para pelayanNya, yaitu dengan membimbing, memberkati, serta membebaskan mereka. Daud mengatakan: ""Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku" (Mazmur 18:2). Dengan jelas ratusan kali Daud meminta kepada Allah untuk ikut campur dan membebaskan dirinya dari kesulitan dan kehancuran. Bagaimanakah dengan anda? Apakah anda juga memohon kepada Allah tentang keikutsertaannya di dalam kesulitan dan kehidupan anda? atau apakah anda percaya di dalam kekuatan anda sendiri dan manusia?
Di dalam Matius 6:9, Yesus menceritakan kepada kita untuk menyebut Allah sebagai "Bapa" kita ketika kita berdoa. Di seluruh Wasiat Baru, Ia dinyatakan sebagai Pribadi yang harus kita temui di dalam menghadapi segala cobaan dan masalah kehidupan. Seperti bapa jasmani kita, Allah Bapa memperhatikan anak-anakNya dan memberkati serta melindungi mereka. Ia juga menyesah setiap anak yang Ia cintai (Ibrani 12:6). Dari permulaannya Allah telah menjadi Bapa yang agung dari umat manusia. Di dalam menciptakan manusia, Allah mengatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26). Jadi pahamilah bahwa umat manusia tersebut di buat di dalam gambaran jasmani Allah, yaitu bentuk luar Allah. Pada kenyataannya, Allah memberikan kepada umat manusia suatu tanggung jawab dan kekuasaan seperti diriNya, yaitu untuk berkuasa dan memerintah segala ciptaan di bumi ini. Walaupun begitu, kita manusia pada saat ini masih diberikan kemampuan yang terbatas untuk membuat atau "mencipta" sesuatu yang baru (sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di dalam bentuk yang kita ciptakan tersebut). Di dalam keadaan yang terbatas ini, umat manusia sesungguhnya telah menunjukkan beberapa kemampuan Allah sendiri! Hal ini terjadi oleh karena Allah merencanakan dan memiliki tujuan agar kita semuanya menjadi seperti Dia, agung sama seperti Ia agung adanya (1 Yohanes 3:2)! Pahamilah bahwa umat manusia nantinya akan benar-benar dilahirkan dari roh, disusun atas roh dan terdiri dari roh (Yohanes 3:6). Kita nantinya akan menjadi bagian dari keluarga Allah yang dilahirkan dari roh dan berperan di dalam memerintah seluruh alam semesta. Allah telah mengatakan dan berencana yaitu bahwa manusia yang dapat mengalahkan hawa nafsu di dalam kehidupan ini dan belajar untuk mematuhi dan melakukan hukum-hukumNya melalui bantuan Roh KudusNya di dalam diri mereka, akan di buat menjadi seperti diriNya, yaitu dilahirkan ke dalam keluarga dan kerajaanNya! Dan setelah melalui kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ujian di dalam mengalahkan hawa nafsu dan usaha untuk selalu bertumbuh secara rohani, maka setelah kita dilahirkan dari roh, kita akan dapat melakukan hak istimewa dari Allah sendiri! Kita akan memiliki kualitas untuk ditambahkan menjadi anggota Kerajaan Allah yang memerintah! (Jika anda ingin mengetahui secara detail tentang kelahiran rohani ini, pesanlah buklet kami yang berjudul "Your Ultimate Destiny").
Sayangnya, di dalam kehidupan ini ilmu pengetahuan dan peradaban manusia bersaing dengan Allah dan akhirnya menjadi ilah yang palsu! Ilmu pengetahuan modern berusaha dengan kuat untuk memberikan umat manusia kekuatan jauh diatas kemampuan mental dan rohaninya untuk menangani hal-hal seperti ini! Seperti yang dikatakan oleh presiden Eisenhower di dalam acara inauguralnya (pidato awal pada masa permulaan jabatan): "Ilmu pengetahuan kelihatannya siap untuk memberikan kepada kita sebagai pemberiannya yang paling akhir, yaitu kemampuan untuk melenyapkan kehidupan manusia dari planet ini." Dan sekarang setelah mereka sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan benar-benar akan dapat menghancurkan bumi, para ahli pada saat ini sedang "asyiknya" berusaha untuk menguasai dan menjajah ruang-ruang angkasa! Sementara itu peradaban kita yang ada di bumi ini melanjutkan ajaran berhala mereka dengan berpendapat bahwa umat manusia adalah pemegang tampuk tertinggi di dalam menentukan apakah yang salah dan benar. Dengan kata lain umat manusia meletakkan diri mereka sendiri di posisi Allah dan hukum-hukumNya! Sadar atau tidak, sikap keduniawian yang tidak baik ini, suatu sikap yang menolak Allah ini, pada kenyataannya telah masuk ke dalam setiap fasa dan sisi dari peradaban kita pada saat ini!
Hampir dari kebanyakan orang yang hanya pergi ke gereja satu kali seminggu, dan yang tidak serius memperhatikan agama mereka, sesungguhnya tidak benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan penyembahan yang benar. Mereka berpikir bahwa "penyembahan" adalah suatu hal yang anda lakukan seminggu sekali di gereja, dengan tidak menyadari bahwa hal tersebut akan berdampak kepada setiap pikiran, kata-kata, dan tindakan di dalam kehidupan kita setiap hari! Di dalam setiap hal yang anda lakukan, baik itu di dalam anda berpikir, berkata-kata atau bertindak, anda sesungguhnya melayani Allah, atau jikalau tidak maka anda melayani hawa nafsu anda sendiri! Satu kunci penting bagi situasi ini adalah tentang bagaimanakah anda menggunakan waktu anda. Ketahuilah bahwa waktu anda adalah kehidupan anda! Alkitab memerintahkan kita untuk "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:16). Berapa lamakah waktu yang anda habiskan setiap minggunya untuk belajar dan merenungkan firman Allah beserta hukumNya seperti yang dilakukan oleh Daud? Berapa lamakah waktu yang anda habiskan untuk berdoa dengan bersungguh-sungguh dan berserah kepada Allah yang maha kuasa? Seberapakah banyaknya waktu yang anda habiskan di dalam mendiskusikan Alkitab bersama sesama anda, mengajari keluarga anda tentang firman Allah, serta bertulis kepada sesama anda untuk membangun keadaan rohaninya sebanyak yang anda dapat habiskan untuk aktivitas sosial lainnya?
Hampir kebanyakan umat Kristen tidak menganggap perihal ibadah/agama mereka sebagai sesuatu hal yang tidak begitu penting di dalam kehidupan mereka. Tetapi di dalam keadilan dan kasih, kita mengatakan bahwa harinya akan tiba ketika mereka akan sadar akan hal itu bahwa ibadah/agama adalah agama dan penyembahan yang palsu! Sesungguhnya, apakah yang diperintahkan oleh Allah bagi anda untuk dilakukan? Ketika Yesus Kristus Juru Selamat anda mendapatkan pertanyaan ini, Ia menjawab: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40).
Pahamilah bahwa nasib dari segala bangsa dan individu di dunia ini memang bergantung pada dua perintah ini! Jika manusia mematuhi dua perintah ini sesuai dengan bagaimanakah Alkitab menyatakannya maka sungguh mereka akan diberkati! Dan sebaliknya jika mereka tidak mematuhi kedua perintah ini maka mereka akan dikutuk dan akan menjadi hancur di dalam kebingungan dan kefrustrasian mereka sendiri! Seperti yang Yesus katakan bahwa tulisan para nabi sesungguhnya berisi perihal tentang kepatuhan bangsa-bangsa akan hukum Allah, yaitu apakah mereka berkeinginan untuk mematuhi hukum tersebut atau tidak. Setiap nubuatan yang dituliskan menentang suatu bangsa menunjukkan bahwa Allah pada kenyataannya telah melihat bangsa tersebut sebagai suatu bangsa yang tidak mematuhi hukumNya. Allah telah melihat mereka sebagai suatu bangsa yang menjauhkan diri dari kepatuhan akan perintahNya! Tetapi ketahuilah bahwa hukum-hukum Allah sesungguhnya adalah benar-benar hukum yang berlaku dan berjalan di dunia di mana kita hidup ini, sama seperti hukum gravitasi!
Yesus mengatakan bahwa perintah yang terbesar adalah perintah yang menyatakan kepada manusia untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan pikiran mereka. Dengan kata lain, anda harus menyembah dan melayani Allah dengan segenap diri anda! Kapan saja anda berpikir, berbicara, atau mendengar segala sesuatu yang baik, indah atau menakjubkan, anda harus berpikir tentang Allah! Ingatlah bahwa Yakobus telah menyatakan: "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." (Yakobus 1:17). Karena anda mengasihi diriNya, karena anda mengetahui jalanNya adalah benar, karena anda benar-benar menyembahNya, anda sudah selayaknya harus merenungkan jalan Allah dan firmanNya setiap hari sama seperti Daud. Anda harus mempelajari Alkitab anda dengan tetap untuk hidup atas setiap firman Allah. Anda harus berdoa kepada Allah dengan tetap, dengan kesungguhan dan dengan segala hari, sama seperti Yesus melakukannya, memberikan kita suatu teladan. Kapanpun anda menemukan bahwa Allah memerintah anda did alam drimanNya untuk melakukan sesuatunya, anda harus dengan cepat mengatakan: "Ya Tuhan," dan tidak berargumentasi, "alasan" atau dengan cerdik menghindar masalah ini, sama seperti umat Kristen yang sesat pada hari ini.
Mengetahui bahwa Ia menciptakan anda dan bahwa kehidupan anda memang benar-benar diperuntukkan bagiNya, maka anda sudah seharusnya mempersembahkan tubuh anda sebagai persembahan yang hidup seperti apa yang dikatakan oleh Allah (Roma 12:1). Anda sudah seharusnya melayani dan mematuhi Allah di dalam segenap jiwa anda dengan hati yang ingin dan setia. Serta untuk mempersiapkan diri anda secara sungguh-sungguh untuk dengan lebih jauh melakukan pekerjaan mewartakan kepada orang lain tentang pesan dari pemerintahan Allah yang akan datang yang akan membawa kedamaian yang nyata di bumi ini. Anda sudah seharusnya selalu mendasarkan dan memusatkan sikap dan tingkah laku anda kepada Yesus Kristus teladan anda dengan memperhatikan bagaimanakah sikapNya ketika Ia dipanggil untuk memberikan hidupNya sendiri: "bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Inilah yang sesungguhnya di maksud dengan penyembahan yang benar! Inilah yang sesungguhnya cara untuk mematuhi perintah yang pertama, yakni perintah yang besar!
Di dalam khotbah di Bukit, Yesus mengajarkan: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga" (Matius 5:19). Di dalam seluruh pesanNya, Yesus menjelaskan, memaparkan dan memperbesar Kesepuluh Perintah. Ia menunjukkan bahwa hukum rohani ini adalah suatu hukum yang hidup, sama seperti hukum gravitasi atau inersia/kelembaban. Yang mana jika anda melanggarnya, maka kecelakaanlah yang akan menimpa anda! Oleh karenanya, kita telah melihat bahwa ketika manusia atau bangsa-bangsa melanggar perintah yang pertama "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Keluaran 20:3), maka mereka pada kenyataannya mengundang penderitaan dan keburukan kepada diri dan kemakmuran mereka sendiri. Manusia memisahkan diri dari sumber kehidupan mereka, dari tujuan hidup mereka, dan dari hukum-hukum yang dapat memberikan mereka kebahagiaan, kedamaian dan sukacita. Manusia yang hubungan dan hidupnya terputus dari Allah adalah pribadi yang hampa, frustrasi dan sengsara. Baik karena keganasan perang, kesulitan pribadi, sakit atau tingkah laku yang tidak baik, nasib dari terputusnya umat manusia dari Allah adalah kematian yang sangat menyedihkan, dengan tidak adanya harapan atau janji akan kehidupan kekal setelahnya (Roma 6:23; Wahyu 21:8).
Manusia akan menjadi tidak lengkap dengan terputusnya hubungannya dengan penyembahan Allah yang benar, padahal dia harus menyembah Allah yang benar saja: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Keluaran 20:3). Perintah yang kedua menceritakan kepada kita tentang bagaimanakah cara menyembah Allah yang benar, juga tentang kesalahan apakah yang harus kita hindari di dalam penyembahan kita, dan upah berkat yang akan dialami oleh keturunan-keturunan kita sebagai hasil penyembahan kita terhadap Allah yang maha agung. "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku." (Keluaran 20:4-6).
Pikiran jasmani menginginkan sesuatu untuk membantunya di dalam menyembah Allah. Manusia di dalam keadaan dagingnya menginginkan objek jasmani yang dapat "membantu" mereka untuk menyembah, dan "untuk mengingatkan" mereka akan Allah yang tidak dapat mereka lihat. Tetapi ingatlah bahwa ternyata inilah suatu hal yang tidak boleh kita lakukan berdasarkan perintah ini, Yesus mengatakan: "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:2 3). Perhatikan bahwa hanyalah penyembah "yang benar" yang akan dapat menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran. Banyak lainnya yang berusaha untuk memiliki beberapa bentuk penyembahan tetapi oleh karena mereka membatasi penyembahan mereka dengan suatu konsep yang salah tentang Allah, maka penyembahan mereka menjadi sia-sia. "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (ayat 24). Manusia ingin membuat berbagai macam bentuk objek untuk mewakili Allah, dan hal ini benar-benar menolak apa paling yang penting di dalam diri Allah. Allah adalah pokok dari segala kekuatan, kebijaksanaan, dan kasih. Allah tidaklah terbatas. Ketika seorang manusia membuat suatu gambaran/kesan mental dan fisik dari Allah menurut pikirannya sendiri, maka dengan demikian ia membatasi, di dalam pikiran dan penyembahannya, pribadi Allah yang tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi!
Banyak kali di dalam mengulang Kesepuluh Perintah, Allah selalu memperingatkan bangsa Israel untuk melawan segala bentuk penyembahan berhala. "Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu." (Imamat 26:1). Allah secara terus menerus melawan setiap bentuk penyembahan berhala atau image yang digunakan di dalam penyembahan. Perhatikanlah bahwa di dalam hal ini Allah tidak mengutuk karya seni atau patung, tetapi Ia mengutuk jika patung tersebut menjadi suatu objek penyembahan yang "dihormati" dan "diagungkan". Di dalam perintah aslinya dari Keluaran 20:4-6, Allah tidak mengutuk setiap gambar dan patung, tetapi, "jangan engkau sujud menyembah kepadanya atau beribadah atau melayaninya". Jadi adalah penggunaan karya seni atau patung sebagai suatu bentuk dari penyembahan atau "alat bantu" di dalam penyembahanlah yang di kutuk oleh Allah! Dasar utama dari segala penyembahan berhala adalah pribadi yang ingin memenuhi keinginan pribadinya sendiri dan yang ingin memberontak untuk menyerahkan dirinya kepada Allah di dalam penyembahan yang benar sesuai dengan jalan yang telah Ia perintahkan! Dengan tidak sungguh-sungguh mengetahui Allah yang benar, atau memiliki Roh KudusNya, maka umat manusia sering kali berpikir bahwa mereka membutuhkan alat "bantu" atau "media" yang dapat membantu mereka menyembah Allah berdasarkan konsep yang dipengaruhi oleh pikiran mereka sendiri sebagai manusia. Perintah yang kedua ini melarang manusia untuk menggunakan alat "bantu" atau "media" jasmani di dalam menyembah Allah yang tidak nampak.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui Allah sebagai Bapa atau yang hidup di dalam hubungan sangat dekat dengan diriNya di dalam kehidupan sehari-hari mereka yang membutuhkan gambar atau image untuk membantu mereka berdoa. Jika seseorang berpikir bahwa ia membutuhkan alat bantu seperti ini, hal ini dengan jelas dan sederhana menyatakan bahwa ia belum mengetahui Allah dan belum menerima Roh Kudus Allah. Ingatlah bahwa untuk menyembah Allah di dalam roh, anda harus memiliki Roh Kudus. "Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Allah hanya akan memberikan Roh KudusNya setelah pertobatan dan baptisan yang benar dari seorang manusia, kepada mereka yang "mematuhiNya" (Kisah Para Rasul 2:38; 5:32). Hanya sedikit saja orang di saat sekarang ini yang benar-benar menyerahkan diri mereka untuk patuh kepada Allah, berjalan bersama dengan diriNya, serta membiarkanNya untuk memimpin setiap pikiran, perkataaan serta tindakan mereka. Oleh karenanya, kebanyakan dari manusia tidak benar-benar mengetahui Allah. Bagi mereka Allah kelihatan seperti jauh, tidak nyata, dan kabur. Sebaliknya, mereka lebih senang/condong melihat "alat bantu" di depan mata mereka yang mereka kira dapat membantu mereka untuk menyadari bahwa Allah itu memang ada dan mendengarkan doa-doa mereka!
Ribuan umat Kristen menggunakan gambar-gambar dari apa yang mereka kira sebagai Yesus Kristus di dalam penyembahan mereka, dan bahkan mereka memasang gambar-gambar tersebut di dalam rumah mereka. Sesungguhnya, apakah yang dikatakan oleh Alkitab tentang gambar-gambar seperti itu? Pertama-tama, perintah yang kedua sendiri dengan jelas melarang umat manusia untuk menggunakan segala sesuatu untuk menggambarkan/mewakili Allah atau yang dapat dengan mudah dijadikan obyek penyembahan. Tentu saja, karena Yesus Kristus adalah Allah (Ibrani 1:8), maka dengan secara langsung umat manusia juga dilarang untuk menggunakan segala alat bantu/bahkan gambar untuk menggambarkan diriNya! Dan lagi, bagi mereka yang masih tetap berkeinginan untuk bersih keras berargumentasi tentang hal gambar Kristus ini, ketahuilah bahwa gambar-gambar tersebut tidak memiliki persamaan apa pun dengan tampang Yesus Kristus yang adalah seorang Yahudi ketika Ia menjadi manusia (Ibrani 7:14)! Segala ciri-ciri jasmani yang ada di hampir setiap gambar yang katanya gambar Kristus dengan jelas tidak memiliki ciri-ciri jasmani seorang Yahudi! Sebagai Sang Firman Allah, Kristus memberikan wahyu kepada rasul Paulus untuk menuliskan, "Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang," (1 Korintus 11:14). Sayangnya, gambar-gambar yang katanya gambar Kristus tersebut ini menunjukkan gambar seorang pria dengan rambut panjang dengan ciri-ciri feminin yang lembut dan tampang sentimentil, pandangan mata yang sok suci. Karena itu ketahuilah bahwa gambar Kristus tersebut bukanlah gambaran Kristus yang sebenarnya dari Alkitab anda!
Pada kenyataannya, tampang Yesus sangatlah maskulin, sebagai seorang muda, Ia adalah seorang tukang kayu yang bekerja di luar rumah. Dan Ia terus menghabiskan waktunya di luar rumah bahkan sepanjang masa kepelayananNya. Oleh karenanya maka segala apa yang digunakan untuk menggambarkan Yesus Kristus dari mulai salib, dan gambar-gambarnya sungguh bertentangan dengan pernyataan firman Allah yang suci tentang diriNya! Mereka memberikan suatu gambaran yang salah tentang Yesus Kristus di dalam segala hal tentangnya. Sesungguhnya wajah Yesus harus memiliki tampang yang tegas dan legam akibat panas matahari. Ia tidak bertampang feminin/kewanitaan, melainkan ia memiliki rambut yang pendek seperti seorang pria. Ia tidak memiliki ciri-ciri aristokrat yang feminin, Yesaya mendapatkan wahyu dariNya untuk menggambarkan tampang manusiaNya: "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya." (Yesaya 53:2). Sebagai seorang manusia, Yesus adalah seorang tukang kayu muda Yahudi yang normal dan sehat dan bahkan mungkin memiliki tampang yang sangat maskulin dan prima di masa awal usia tiga puluhanNya. Dengan kesungguhan dan kepercayaan yang dipegang, Ia mulai memberitakan pesan dari Kerajaan Allah yang akan segera datang untuk memerintah seluruh dunia ini. Bagaimana pun juga, jika kita memikirkan tentang tampang Yesus, setidaknya kita harus berpikir tentang keadaanNya pada saat ini. Wahyu 1:14-16 memberikan gambaran tentang diriNya: "Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik." Sebagai Allah, wajah Yesus pada saat ini benar-benar bersinar dengan radiasi dan kekuatan, dan oleh karenanya anda tidak akan dapat memandang wajahNya secara langsung sebagai manusia daging! Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka tidak menyembah gambar-gambar atau patung-patung Yesus tersebut dan mungkin saja memang begitu kelihatannya. Tetapi ketahuilah bahwa gambar dan konsep yang salah tentang Kristus tersebut tanpa diragukan akan benar-benar masuk di dalam pikiran mereka ketika berpikir tentang Kristus atau ketika mereka sedang berdoa. Sehingga hadirlah gambar-gambar dan patung-patung ini di tengah-tengah hubungan mereka dengan Kristus. Sungguh gambar-gambar dan patung-patung tersebut telah memisahkan para penyembah dari Kristus! Dan oleh karenanya jika anda menggunakan gambar-gambar yang seperti itu, maka anda telah melanggar perintah yang kedua! Karena dengan jelas anda telah membatasi konsep pemikiran anda tentang Kristus yang hidup, yang mana pada saat ini Kristus diagungkan dengan duduk di sebelah kanan Allah di sorga, dan di dalam kekuatan yang agung wajahNya bersinar seperti matahari!
Salah satu dari bentuk penyembahan berhala modern yang umum terjadi adalah dengan memberhalakan gereja atau masyarakat. Bagi banyak orang, yaitu masyarakat dari dunia ini, peraturan, kebiasaan dan tradisi mereka sesungguhnya benar-benar dijadikan allah oleh mereka. Pada kenyataannya, banyak orang yang takut untuk melakukan sesuatu hal yang dianggap berbeda atau "aneh". Mereka merasa lebih ingin untuk menjadi serupa dengan dunia dan mengikuti jalan-jalannya. Tetapi Allah memerintahkan kita: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Perintah ini kelihatannya sulit untuk di patuhi, khususnya bagi orang yang berpikir bahwa orang lain pasti benar di dalam pikiran mereka, dan apa yang mereka katakan dan lakukan. Alkitab menceritakan bahwa banyak orang di zaman Yesus yang melakukan cara penyembahan yang salah, "Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah." (Yohanes 12:43).
Jika anda dengan secara buta mematuhi kebiasaan dan tradisi keluarga, gereja atau masyarakat anda, dan bukannya perintah dari firman Allah, maka anda sudah berdosa dengan melakukan penyembahan berhala. Anda telah meletakkan segala hal tersebut pada tempat Allah yang benar! Bahkan ritual suatu kebaktian gereja dapat menjadi berbahaya, karena sebagaimana diperbaikinya ritual pada institusi-institusi yang ada, kebanyakan hal ini bermula dan berakhir pada pemikiran jasmani manusia dan hal ini bukanlah pengganti yang baik bagi penyembahan yang benar bagi Allah "di dalam roh". Alkitab secara langsung menyatakan orang-orang di zaman kita sebagai mereka yang "secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5).
Allah yang benar adalah Dia sang Pencipta dan Pemimpin yang abadi dari alam semesta ini. Bagaimanakah seharusnya anda menyembah diriNya? Ia menjawab: "Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku." (Yesaya 66:2). Anda harus menyembah Allah secara langsung dan dengan kerendahan dan keinginan dari hati. Anda harus mempelajari firman Allah, serta berkeinginan untuk diperbaiki olehnya, demikian juga anda harus gentar akan kekuasaan firman Allah disepanjang hidup anda! Dengan hati yang terbukti berserah kepadaNya melalui pertobatan dan kepatuhan, maka sudah seharusnya anda banyak berdoa kepada Allah di dalam satu minggunya. Berdoa dengan tenang sejalan anda akan memulai aktivitas keseharian anda. Anda harus mengenalNya dan mencintaiNya sebagai Bapa anda. Sejalan dengan penjelasan yang diungkapkan di dalam buklet ini yaitu bahwa, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat," (1 Yohanes 5:3). Oleh karenanya, anda akan secara sungguh-sungguh mengasihi dan menghormati Pencipta anda dengan menjalankan kehidupan yang patuh berdasarkan jalan-jalan Kesepuluh Perintah, sama seperti apa yang dilakukan oleh Yesus.
Sejalan dengan Henok, Nuh dan Abraham "berjalan bersama Allah", maka anda pun harus belajar untuk melakukan hal yang sama, yaitu "berjalan bersama Allah", dan dengan baik meningkatkan hubungan dengan diriNya. Dan juga menghasilkan buah bagiNya di seluruh kehidupan keseharian anda. Dan di dalam pimpinan Roh Kudus, maka anda tidak akan pernah lagi, bahkan untuk berpikir untuk menggunakan patung atau berhala atau gambar sebagai alat "bantu" doa dan penyembahan terhadap Allah Pemimpin Agung alam semesta yang tidak lain adalah Bapa anda sendiri di sorga!
Kita telah melihat bahwa Allah melarang umat manusia membuat suatu bentuk apapun yang dipergunakan untuk mewakili diriNya: "Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku." (Keluaran 20:5-6). Tidak seperti kebanyakan terjemahan modern, naskah Masora sesungguhnya memelihara poin penting yang menyatakan bahwa belas kasihan Allah diluaskan menyebar sampai ke ribuan generasi (Mazmur 105:11).
Karena Allah adalah Bapa kita, maka Ia benar-benar mengusahakan kesejahteraan abadi kita. Ia memiliki rasa cemburu untuk mempertahankan kita dan oleh karenanya Ia tidak akan membiarkan anak-anakNya untuk menyembah berhala/ilah-ilah yang sesat. Dan hal ini tentu saja adalah untuk kebaikan kita! Jika kita tetap melakukan penyembahan yang berhala dan sia-sia, maka Allah mengatakan bahwa Ia akan membalaskan ketidak baikan kita atas anak-anak dan cucu-cucu dan cicit kita. Terdapat banyak sekali hal yang terkait di dalam pernyataan dan prinsip ini tetapi hanya terdapat satu arti yang langsung dan jelas di dalam konsteks ini. Jika di dalam penyembahannya manusia menggunakan suatu berhala atau gambar untuk mewakili Allah sehingga menjurumuskannya di dalam penyembahan yang salah, maka sesungguhnya mereka tidak hanya menyakiti diri mereka sendiri tetapi juga anak-anak dan cucu-cucu mereka. Prinsip yang harus diingat disini adalah bahwa ide penyembahan mereka yang salah dan sesat akan diteruskan kepada anak-anak mereka. Hal ini akan sungguh-sungguh merusak dan menghancurkan kehidupan dan kebahagiaan anak-anak mereka tersebut! Adalah hal yang buruk dan serius perihal meneruskan konsep yang sesat tentang Allah kepada anak-anak anda. Hal ini adalah salah satu hal buruk yang dapat dilakukan oleh seorang orang tua kepada anaknya! Sudahlah jelas bagi orang yang mempercayai Alkitab bahwa penyembahan berhala dan "ilah-ilah" yang sesat telah benar-benar menghancurkan kehidupan jutaan umat manusia. Dengan terputusnya dari pengetahuan sang Pencipta, jutaan umat manusia tidak mengetahui bahwa mereka telah disesatkan oleh Setan (Wahyu 12:9), dan yang terhasilkan adalah bahwa mereka mengalami banyak peperangan, rumah tangga yang retak, kelaparan yang sangat, perbudakan, dan segala kesusahan dan kehancuran umat manusia yang jauh dari apa yang pernah bisa di bayangkan!
Tetapi bersama dengan peringatan ini, Allah juga memberikan suatu janji belas kasihan bagi mereka yang berkeinginan untuk menyembah Allah seperti apa yang telah Ia perintahkan. Di dalam kasus ini, Ia adalah Allah yang pengasih dan penuh belas kasihan, serta yang menunjukkan belas kasihan kepada ribuan orang yang mencintai diriNya dan yang melakukan perintah-perintahNya. Suatu hal yang kontras adalah bahwa Allah hanya akan memberikan pembalasan terhadap kesalahan para bapa kepada generasi ke tiga atau empat mereka, sebelum akhirnya Ia memberikan suatu penghukuman yang berbelas kasihan dan memimpin kepada kebenaran. Ia menunjukkan belas kasihan kepada ribuan generasi! Allah memanggil manusia untuk menghadap kepada diriNya di dalam keberadaan alam rohNya, yaitu untuk menyembah Pencipta mereka secara langsung. Manusia memang memiliki Allah yang agung dari alam semesta ini sebagai Bapa pribadi mereka. Mereka bahkan dapat berjalan bersama dengan diriNya dan berbicara dengan diriNya setiap hari. Dan jika manusia berhenti menyembah Allah dengan benar dan menghentikan hubungan yang sangat dekat denganNya, maka sesungguhnya ia sedang menghancurkan karakternya sendiri, yaitu pelanggaran perintah Allah. Inilah sesungguhnya arti dan kekuatan dari perintah kedua.
Apakah Allah adalah Pribadi yang benar-benar paling utama di dalam kehidupan pribadi anda? Hasil suatu polling jajak pendapat yang dilakukan pada 1.500 murid universitas menunjukkan bahwa mereka memiliki dua nilai dari apa yang mereka sembah: yang pertama adalah terhadap diri sendiri, keluarga dan teman; dan yang kedua adalah kepada umat manusia (secara umum) dan kemudian Allah. Dari sini dapatlah di lihat bahwa Allah mendapatkan kedudukan yang paling bawah di dalam pikiran para orang muda yang "terpelajar" tersebut! Walaupun begitu, di dalam polling pendapat yang sama, 90 persen dari mereka yang diberi pertanyaan menunjukkan adanya kepercayaan di dalam Allah. Kejenuhan rohani dan ketidak hormatan akan Allah, serta kecuekan rohani terhadap pekerjaan dan kekuasaan Allah sesungguhnya adalah suatu indikasi yang jelas akan suatu tren yang berkembang, bahkan dikalangan orang yang pergi ke gereja dan umat Kristen sekalipun. Orang memang suka berbicara tentang agama dan Allah, namun mereka tidak mau menghormati kekuasaan dan namaNya. Di dalam penyakit kanker rohani inilah terdapat biji kehancuran peradaban Barat!
Di dalam mendiskusikan perintah yang pertama dan kedua, kita mengetahui bahwa kita harus menjaga diri kita dan menjauhi segala hal yang memimpin kita untuk membuat ilah/berhala dari hal apapun dan menempatkannya pada posisi Allah yang benar. Demikian juga kita telah mempelajari bahwa Allah memerintahkan kita untuk menyembahNya secara langsung, berjalan bersama dengan diriNya, berbicara denganNya, serta untuk benar-benar mengenal dan menyembahNya di dalam roh dan kebenaran, dan untuk menghindari penggunaan gambar, atau obyek jasmani apapun yang dapat digunakan sebagai "alat bantu" untuk menyembah atau "mengingatkan" kita akan Allah Pencipta yang agung. Sedangkan perintah yang ketiga adalah perintah yang berkenaan dengan nama Allah, pekerjaan dan kedudukanNya sebagai Pemimpin yang agung dari alam semesta: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7). Di dalam Alkitab, nama seorang indivu tersebut memiliki arti. Nama asli Ibrani dari Abram diganti menjadi Abraham. Hal ini dilakukan oleh karena nama Abraham memiliki arti "bapa dari banyak bangsa". Abraham ditakdirkan untuk menjadi "bapa dari banyak bangsa" (Kejadian 17:5). Demikianjugalah hal ini dengan nama Allah.
Setiap nama atau gelar yang berasal dari Allah pada kenyataannya menyatakan beberapa atribut dari karakter yang agung. Di dalam mempelajari firman Allah, kita akan mempelajari hal-hal yang baru tentang alam dan karakter Allah di dalam setiap nama baruNya di mana Ia menyatakan diriNya. Allah memberikan nama kepada diriNya sesuai dengan alam keadaanNya sendiri! Jika seorang manusia menggunakan nama Allah dengan cara yang tidak pantas dan hormat, maka orang tersebut menolak Allah dan karakterNya. Hal ini adalah merupakan pelanggaran perintah yang ketiga. Allah menyatakan melalui Yesaya: "Dengarlah firman ini, hai kaum keturunan Yakub, yang menyebutkan dirinya dengan nama Israel dan yang adalah keturunan Yehuda, yang bersumpah demi nama TUHAN dan mengakui Allah Israel -- tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati" (Yesaya 48:1).
Bangsa yang mana nubuatan ini ditujukan adalah bangsa yang menggunakan nama Allah tetapi yang gagal untuk mematuhi wahyu Allah yang terkandung di dalam namaNya. Mungkin mengejutkan kelihatannya, yaitu bahwa banyak orang beragama yang mengucapkan nama Allah berulang-ulang baik di dalam khotbah dan doa. Pada kenyataannya, mereka menyia-nyiakan nama Allah untuk suatu tujuan atau kegunaan yang tidak baik! Perintah aslinya berbunyi: "Tuhan tidak akan membiarkan orang yang menyia-nyiakan namaNya tidak bersalah." Kata Ibrani yang diterjemahkan ke dalam frasa "tidak bersalah" juga dapat diterjemahkan sebagai "tak bercacat". Sehingga dengan kalimat yang lain, perintah aslinya akan berbunyi, "Tuhan tidak membiarkan seorang individu yang menyia-nyiakan namaNya "tak bercacat"". Ujian terhadap ketidak cacatan rohani dari seorang manusia adalah dengan mengetahui bagaimanakah sikap orang tersebut terhadap nama Allah! Kita tidak bercacat atau bercacat ditentukan dari bagaimanakah kita menyebut nama Allah, apakah kita menyebut namaNya bagi dan di dalam kebenaran atau apakah kita menyebut namaNya bagi suatu hal yang sia-sia? Sadarkah anda apakah artinya hal ini? Dengan jelas hal ini memiliki arti bahwa adalah lebih baik bagi seorang manusia, jika ia memang benar-benar di dalam keraguan-raguan agama, untuk tidak menggunakan kata Allah di dalam perbendaharaan katanya, dibandingkan dengan seorang umat Kristen yang berbicara tentang Allah tetapi yang menolakNya di dalam kehidupan kesehariannya!
Di dalam doa Bapa kami, kita diperintahkan untuk "menghormati" nama Allah. Sedangkan perintah ketiga berhubungan secara langsung dengan menghormati nama Allah. Inilah salah satu poin terbesar dari hukum rohani Allah yang abadi bagi hal yang sangat penting ini! Bagaimanapun juga, baiklah pertama kali kita menjelaskan, terutama bagi mereka yang memiliki pemikiran yang salah, bahwa perihal menghormati nama Allah tersebut bukanlah berusaha mengucapkan nama Allah di dalam bahasa Ibrani atau Yunaninya atau belajar mengucapkannya di dalam bahasa-bahasa asli Alkitabnya! Beberapa sekte mempermasalahkan hal ini. Beberapa menyatakan bahwa "Jehovah" adalah nama dari Bapa, atau "Yahweh" atau "Yahveh", sementara yang lainnya menggunakan beberapa variasi nama yang berbeda. Pada kenyataannya, semenjak semua orang menyadari bahwa vokal/huruf hidup di dalam bahasa Ibrani tidak dituliskan, maka tidak seorang pun yang mengetahui secara tepat tentang bagaimanakah sesungguhnya nama Ibrani Allah harus diucapkan! (Untuk membuktikan bahwa "Allah" adalah sesungguhnya nama Bapa, anda dapat memesan artikel reprint kami yang berjudul "The Truth About Sacred Names")
Menggambarkan kebesaran suatu nama, Moulton-Milligan' s Vocabulary of the Greek Testament menyatakan: "Dengan suatu penggunaan yang sama dengan Ibraninya.........[onoma, "nama"] dituliskan di dalam Wasiat Baru untuk menunjuk kepada "karakter", "nama", "kekuasaan" dari orang yang diindikasikan" (halaman 451). Dan bahkan lebih penting, patutlah diketahui bahwa Allah sendiri mewahyukan Daniel dan Ezra untuk menggunakan kata di dalam bahasa Aramaik untuk menyatakan diriNya. Hal ini terdapat di dalam sembilan bab Alkitab yang mereka tulis di dalam bahasa ini. Demikian pula penulis Wasiat Baru terwahyukan untuk menggunakan kata-kata dari bahasa Yunani untuk menyatakan Allah. Oleh karenanya, maka hal yang sangat penting tentu saja tidak terletak pada bunyi dari kata yang digunakan untuk menggambarkan Allah, tetapi justru pada arti yang dikandung oleh nama-nama tersebut! Dan karenanya, para ahli bahasa Alkitab yang cukup terhormat ini menunjukkan bahwa suatu nama pada kenyataannya menjelaskan tentang pekerjaan, kekuasaan dan bahkan karakter dari orang yang diwakili oleh kata tersebut. Nama-nama Allah menunjukkan kepada kita perihal seperti apakah Allah tersebut, yaitu bahwa mereka menyatakan karakterNya! Sekarang apakah anda benar-benar tahu seperti apakah Allah tersebut? Hormatkah anda kepada pekerjaan-pekerjaan dan namaNya seperti yang sudah selayaknya harus anda lakukan? Hendaklah anda kembali kepada Alkitab dan lihatlah!
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kejadian 1:1). Di dalam ayat pertama Alkitab ini, Allah menyatakan diriNya dengan nama Ibrani "Elohim". Terdapat hanya satu Allah-tetapi memiliki lebih dari satu anggota di dalam Kepala Allah atau Keluarga Allah! Kata yang sama yaitu "Elohim" juga digunakan di dalam "Berfirmanlah Allah [Elohim]: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." (Kejadian 1:26). Disini sangat jelas dapat dilihat, yaitu di dalam konteks bacaan ini sendiri, bahwa terdapat lebih dari satu pribadi yang menggunakan nama Allah-Elohim. Di dalam Wasiat Baru hal ini menjadi jelas dengan dinyatakannya bahwa Allah Bapa telah menciptakan segala sesuatunya oleh dan melalui Yesus Kristus yang memang telah bersama-sama dengan Allah dan yang dari mulanya adalah Allah (Yohanes 1:1-14, Efesus 3:9).
Di dalam bacaan ini dengan jelas dinyatakan bahwa Allah itu terdiri lebih dari satu pribadi. Mereka adalah Allah Bapa dan "sang Firman"/sang Juru Bicara yang kemudian menjadi Yesus Kristus ketika dilahirkan ke dalam manusia daging. Hubungan Bapa-Anak ini menunjukkan bahwa Allah adalah sebuah keluarga. Sedangkan cara tentang bagaimanakah kata Elohim digunakan pada bacaan-bacaan awal Alkitab, yaitu pada kitab Kejadian dan beberapa tempat lainnya menandakan bahwa Allah adalah sebuah keluarga atau kerajaan yang anggotanya adalah Pencipta! Ketahuilah bahwa adalah menarik jika kita mengetahui bahwa Elohim adalah suatu kata yang memiliki sifat jamak di dalam bentuknya tetapi yang dapat digunakan di dalam bentuk tunggal ataupun jamak sesuai dengan konteksnya. Allah, sebagai Pencipta, adalah Pemimpin atas ciptaanNya. Kita menemukan bahwa sejenak setelah peristiwa penciptaan pria dan wanita pertama, Allah memberikan kepada mereka berdua berkat dan perintah: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28).
Jadi ingatlah bahwa Allah yang benar adalah memang Pemimpin/Penguasa, yang harus anda patuhi karena Ialah yang menciptakan anda dan yang memberikan anda nafas kehidupan! Di dalam berhubungan dengan Abraham, Allah terkadang memanggil diriNya "El Shaddai", yang artinya "Allah yang Maha Kuasa". Dan karenanya haruslah kita mengingat bahwa Allah adalah sumber dari segala kekuatan! NamaNya haruslah diagungkan oleh karena nama tersebut berhubungan dengan Pribadi yang merupakan sumber dari segala kekuatan dan kekuasaan. Nama yang biasanya diterjemahkan ke dalam kata "Tuhan" di dalam Wasiat Lama, pada kenyataannya diterjemahkan dari huruf Ibrani YHWH, yang terkadang dituliskan sebagai YAHWEH atau YAHVEH. Kata ini adalah kata Ibrani asli yang memiliki arti "Yang Abadi" atau "Yang Selalu Ada". Kata ini digunakan dan diartikan di dalam Kejadian 21:33: "Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal." Kata Ibrani ini, yang sering diterjemahkan sebagai "Jehovah" pada beberapa versi revisi, sebenarnya menunjuk kepada karakter Allah yang abadi/selalu hidup dan juga kepada pekerjaan abadiNya di dalam hal perjanjianNya dengan mereka yang telah Ia ciptakan. Allah adalah memang Pribadi yang selalu ada dan yang akan selalu ada untuk memberikan berkat-berkatNya, janji –janjiNya dan perjanjianNya kepada orang-orangNya!
Allah kita adalah abadi, Pribadi yang selalu ada. Diseluruh firmanNya, nama Allah dihubungkan dengan sifat diriNya, kekuatanNya, keberadaan abadiNya, belas kasihNya, kesetiaanNya, kebijakanNya, dan kasihNya. Perhatikanlah bagaimana nabi Daud menghubungkan nama Allah dengan kekuatan Allah: "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan... .Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:" (Mazmur 8: 1-4). Disini Allah digambarkan sedang memberikan keagunganNya melampaui langit-langit! Setelahnya Daud menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi yang telah menciptakan langit-langit, bumi dan manusia. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika nama dan pekerjaan Allah harus di hormati!
Di dalam percakapan kita setiap hari, sering kita mengutuki nama Allah yang sangat suci! Kita menggunakan nafas kita untuk mengutuk nama dari Dia yang memberikan kepada kita kehidupan. Nafas yang adalah hasil pemberian, kita gunakan untuk mengutuk nama Pribadi yang memberi nafas kepada kita! Banyak kali kita menggunakan suatu "ekpresi kalimat" yang mana kita memohon kepada Allah untuk mengutuki "seseorang". Baik orang miskin maupun kaya sering mengeluarkan kata-kata kotor dari mulut mereka. Mereka sering melakukan hal ini hanya untuk membuktikan "kejantanan/kehebatan", atau menghindari suatu tuduhan/asumsi terhadap diri mereka! Walaupun begitu, amatlah tidak mungkin menggunakan kata ini dengan rasa hormat jika dialamatkan kepada seseorang karena frasa ini memiliki arti yang sangat tidak baik. Dengan mengikutsertakan nama Allah di dalam frasa ini sungguh adalah merupakan suatu perbuatan yang tidak baik, karena Allah tidak pernah berkeinginan untuk melakukan hal yang kita ingin Ia lakukan. Allah tidak pernah berkeinginan untuk "mengutuk" seorang manusia di dalam cara yang kita pikirkan! Sungguh pikiran yang seperti ini adalah bida'ah yang menjijikkan! Hendaklah kita selalu mengingat bahwa pekerjaan Allah adalah pekerjaan keselamatan. Allah tidak akan mencabut pemberian hidup abadi kepada seorang manusia selama orang tersebut tidak menolak jalan Allah. Allah akan mencabut pemberian yang penting ini hanya jika dengan keinginan dan pilihannya sendiri, orang tersebut menolak jalan Allah. Ia berkata, "Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku" (Yesaya 66:2). Kita pun juga harus memiliki karakter yang sama seperti yang dikatakan di dalam ayat tersebut berkenaan dengan rasa takut dan hormat ilahi terhadap nama Allah. Nama Allah mewakili secara langsung karakter, firman dan tujuan dari Allah sendiri.
Pada saat ini manusia tidak hanya terbiasa untuk tidak menghormati nama Allah dan menyumpahi nama Allah untuk menjamin nazar mereka, tetapi mereka bahkan memohon dengan nama Allah di dalam bentuk sumpah atau nazar di dalam banyak upacara legal. Yesus Kristus mengatakan: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar." (Matius 5:34-35). Nama Allah sangatlah suci dan agung yang mana kita diperintahkan untuk tidak menggunakannya untuk menjamin kata-kata kita atau nazar kita! Bangsa Amerika adalah bangsa yang didirikan oleh orang-orang yang berkebiasaan membaca Alkitab dan mereka memberikan ijin bagi warga negaranya untuk memiliki kebebasan beribadah. Jika petugas negara menyuruh seorang warga negara mengangkat tangan dan "bersumpah", mereka mengetahui bahwa ketentuan tersebut dibuat sehingga anda dapat menggunakan kata "menegaskan" dan bukannya bernazar. Dan patutlah diketahui bahwa pernyataan "penegasan" dari orang yang takut akan Allah dapat lebih dipercaya dibandingkan sepuluh ribu nazar yang diberikan oleh seorang pembohong yang duduk di kursi saksi! Ketidaksopanan para pelaku bisnis, ahli politik, dan bahkan profesor di universitas dengan menyia-nyiakan nama Allah di kursi saksi telah membuktikan kebenaran dari pernyataan ini!
Berbicara tentang penggunaan ekspresi tertentu sebagai gelar keagamaan, Kristus mengatakan: "Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga." (Matius 23:9). Meskipun terdapat suatu penyalahgunaan yang sangat nyata dan jelas dari perintah ini pada beberapa organisasi keagamaan yang ada, pernyataan dari firman Allah ini adalah jelas bagi orang yang ingin mematuhinya. Satu-satunya Bapa rohani kita adalah Allah! Penerapan apapun bagi kata "bapa" yang digunakan bagi gelar keagamaan seorang manusia adalah suatu penghinaan bagi sang Pencipta yang telah menciptakan seluruh manusia. Manusia yang penuh dengan ketidak sempurnaan dan kelemahan menggunakan gelar seperti itu kepada diri mereka sendiri dengan asumsi sebagai gelar yang agung. Tentu saja kita harus memanggil orang tua pria jasmani kita "bapa", seperti yang Allah perintahkan di dalam perintah kelima. Suatu kesalahan umum dari nama suci adalah penggunaan istilah "reverend/pendeta/vicar" bagi manusia... .baik dia seorang minister/bukan, karena Allah hanya menggunakan gelar ini kepada diriNya sendiri: "Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat." (Mazmur 111:9). Kata "reverend" sesungguhnya harus digunakan hanya bagi pribadi yang memang layak untuk disembah! Yang pada kenyataannya tidak terdapat seorang manusia pun yang layak untuk mendapatkan gelar yang seperti ini! Bahkan pelayan Allah seperti rasul Paulus terwahyukan untuk menuliskan: "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik." (Roma 7:18). Oleh karenanya, setiap orang yang mempertimbangkan dirinya berharga untuk disembah, atau berhak untuk mendapatkan gelar "yang terhormat", akan pada suatu hari nanti bertobat dari pelanggaran perintah yang ketiga.
Di dalam mengajar murid-muridNya dan bahkan kita pada saat ini tentang bagaimanakah cara untuk berdoa, Yesus Kristus memberikan kepada kita semua suatu teladan yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dan untuk memiliki sikap hormat untuk menghormati pekerjaan dan namaNya. Di dalam frasa pembuka dari "Doa Bapa Kami/The Lord's Prayer," beberapa terjemahan Alkitab memiliki kesalahan di dalam hal pemberian tanda baca. Setelah frasa yang menyatakan pendekatan umat manusia kepada Allah yang berbunyi, "Bapa kami yang ada di sorga", sesungguhnya terdapat tiga permintaan yang dihubungkan bersama. Yang kemudian diikuti oleh suatu klausa yang menyatakan keadaan dari ketiganya dan bukan yang terakhir saja. Penterjemahan yang tepat sebenarnya adalah sebagai berikut: "Bapa kami yang ada di sorga, diagungkanlah namaNya, datanglah kerajaanMu, terjadilah kehendakMu, di sorga seperti di bumi."
Frasa "di sorga seperti di bumi" memiliki acuan tidak hanya kepada "terjadilah kehendakMu", tetapi juga kepada "datanglah kerajaanMu, dan kepada "diagungkanlah namaMu". Tiga perihal dari pengagungan nama Allah, kedatangan kerajaanNya, dan melakukan kehendakNya adalah hal-hal yang ada di dalam "Doa Bapa Kami". Ketiganya adalah merupakan fasa-fasa yang berbeda dari hal yang sama. Kita mengagungkan nama Allah dengan menyerahkan diri kita kepada kerajaan dan pemerintahanNya, dan dengan melakukan kehendakNya serta mematuhi hukum-hukumNya. Mempertahankan nama Allah secara fonetik sebagai suatu bentuk penghormatan adalah merupakan sebagian kecil dari pemenuhan perintah ketiga. Yesus bertanya: "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Lukas 6:46). Berdoa tanpa kepatuhan adalah suatu bentuk samar dari penghujatan! Orang yang menganggap dirinya agamais yang berbicara tentang agama dan Allah kepada orang lain, tetapi yang tidak mematuhi firman dan hukumNya sesungguhnya bersalah atas dosa yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang melakukan tindakan kedagingan tetapi yang tidak berpura-pura jika mereka memang melakukannya. Kemunafikan kaum beragama sesungguhnya lebih buruk dari pada tindakan pengumpatan yang dilakukan oleh orang di luar sana. Adalah suatu tindakan hujat dan penyia-nyiaan nama Allah jika seorang manusia memuji Allah, tetapi di sisi yang lain ia memberontak terhadap jalan dan hukum Allah! Demikian pula orang yang menyampaikan khotbah dan berdoa dengan kata-kata yang indah serta kusyuk tetapi yang melanggar perintah Allah, bahkan yang kecil sekalipun (Matius 5:19), sudah dikatakan melakukan penghuj atan ketika berdoa! Bagaimanapun juga, walaupun manusia seperti ini dapat menyesatkan dunia, ia tidak pernah dapat menyesatkan Allah!
Berbicara tentang "ahli agama" di zamanNya yang menolak untuk melakukan kepatuhan yang total kepada kehendak dan hukum Allah, Yesus mengatakan: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis:
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Markus 7:6-7) Di dalam cara yang sama banyak orang yang pada saat ini mengakui Allah dengan bibir mereka, tetapi yang menyia-nyiakan Allah di dalam penyembahan mereka! "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:2 1). Oleh karenanya, maka penyembahan mereka tersebut adalah sia-sia.
Biarlah Allah memberikan kepada anda keinginan untuk mematuhi kehendak dan hukumNya! Biarlah anda belajar untuk menyembahNya di dalam roh dan kebenaran. Biarlah anda belajar untuk menghormati dan mengagungkan nama besarNya. Ingatlah bahwa hal ini perlu anda lakukan karena namaNya mewakili kekuatan, kebijakan, kesetiaan, kasih, kebaikan dan kesabaran dan belas kasihNya yang tak terbatas. Hal ini mewakili karakter, dan pekerjaan, dan kebesaran hati dari Allah yang berkuasa untuk mengatur alam semesta!
Mengapakah anda dilahirkan? Apakah arti dari pada hidup anda? Apakah yang dimaksud dengan tujuan kehidupan yang sesungguhnya? Serta hukum-hukum kehidupan apakah yang harus diketahui sehingga tujuan kehidupan tersebut dapat dicapai? Sebarapa lamakah waktu yang anda habiskan setiap minggunya untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang penting ini? Kebanyakan orang sangat sibuk dengan urusan sehari-hari mereka untuk mengusahakan hal-hal yang mereka ingin selesaikan sehingga mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari hal-hal yang rohani tentang kehidupan. Jika ditanya tentang pelajaran Alkitab atau doa, kebanyakan orang akan menjawab bahwa "tidak ada waktu yang cukup" untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti itu.
Karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka pada pagi dan siang hari, demikian juga dengan tv, film, pesta dan olah raga di sore hari dan akhir pekan, maka rata-rata orang Amerika benar-benar tidak memiliki pengetahuan agama yang baik bahkan di dalam hal yang paling mendasar sekalipun. Dengan secara kekanak-kanakan mereka menolak kebenaran Alkitab yang mendasar, suatu penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang Amerika tidak dapat menyebutkan empat kitab Injil dengan benar! Sungguh bagi mereka Allah adalah Pribadi yang kelihatannya sangat jauh. Suatu pandangan umum adalah bahwa Alkitab hanyalah suatu kitab yang hanya untuk dibaca dan dipahami oleh "orang-orang tua dan pemberita Injil". Walaupun begitu, mereka mengatakan bahwa mereka "berharap agar kehidupannya menjadi lebih baik" suatu hari nanti. Oleh karenanya, maka pertanyaan yang ada sesungguhnya adalah kapankah? Kapankah mereka akan benar-benar memiliki waktu untuk sungguh-sungguh mengenal Allah? Kapankah mereka akan menyisihkan waktu untuk belajar Alkitab, berdoa kepada Allah Bapa serta bermeditasi akan hukum-hukum dan tujuan kehidupan? Mungkin saja jawaban dari kebanyakan orang adalah bahwa "mereka tidak pernah memiliki waktu". Memang mereka tidak akan pernah memiliki waktu jikalau mereka tidak belajar untuk mematuhi perintah Allah yang keempat! Kepatuhan terhadap perintah yang amat tidak diketahui ini adalah suatu faktor yang dapat membawa kehidupan seorang pria dan wanita mendekat kepada Allah sang Pencipta, dan kepada berkat-berkatNya serta bimbinganNya secara langsung.
Kita telah mendiskusikan dosa yang telah sangat lazim dilakukan oleh orang yaitu dengan menempatkan ilah lain di tempat Allah yang benar. Kita juga telah mempelajari bahwa Allah telah memerintahkan kita untuk menyembah diriNya secara langsung dan untuk menghindari segala penggunaan berhala, gambar, atau obyek untuk "mengingatkan" kita akan Pencipta yang agung, atau sebagai suatu "alat bantu" untuk menyembah diriNya. Kita pun juga telah diperingatkan akan kesia-siaan dari menggunakan nama Allah secara tidak benar. Hal ini disebabkan oleh karena nama Allah tersebut menyatakan kekuasaanNya, karakterNya, kekuatanNya, serta pekerjaanNya sebagai Pemimpin yang agung dari alam semesta ini. Pada kenyatannya, perintah yang keempat tersebut melengkapi bagian pertama dari Kesepuluh Perintah/Dekalog yang berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan Allah. Perintah ini menciptakan suatu perayaan/ibadah abadi dari suatu tanda persahabatan antara Allah dan manusia. "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya" (Keluaran 20:8-11).
Di dalam kesepuluh perintah, perintah keempat adalah perintah yang memiliki penjelasan paling panjang. Perintah ini diletakkan di tengah-tengah perintah yang lainnya dan karenanya terlindung. Bagaimanapun juga, perintah ini adalah perintah yang mana manusia sering "beralasan" untuk tidak melakukannya, dan berargumentasi tentangnya. Bahkan mereka berusaha untuk menghancurkan dan menjauhkannya dari perintah-perintah lainnya. Perhatikanlah bahwa perintah ini di buka dengan kata perintah "ingatlah". Hal ini membuktikan bahwa perintah tentang hari Sabat ini pada kenyataannya sudah dipahami oleh orang-orang pilihan Allah. Dan ketika Allah membuat hari Sabat sebagai suatu bagian dari perjanjianNya maka Allah mengingatkan mereka tentang perintah rohani yang sesungguhnya telah mereka pahami. "Ingatlah hari Sabat, untuk selalu mengkuduskannya." Jika anda diperintahkan untuk "mempertahankan" air di dalam keadaan dingin, maka anda pasti akan menjaga air tersebut untuk tetap dingin dan bukannya panas. Manusia fana tidak dapat membuat suci sesuatu hal. Oleh karenanya, untuk memahami secara penuh perihal penting dari perintah yang agung ini, kita butuh untuk belajar siapakah yang mengkuduskan hari Sabbat dan kapankah hari ini dirayakan! Yesus mengatakan: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." (Markus 2:27-28). Perhatikanlah bahwa disini Yesus mengatakan hari Sabat "diadakan/dibuat", dan karenanya maka hari Sabat pasti memiliki seorang Pribadi untuk mengadakannya/membuatnya. Perhatikan juga bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa Sabat hanya dibuat untuk orang Yahudi, tetapi untuk manusia. Dengan kata lain, hari Sabat adalah hari yang diperuntukkan bagi semua umat manusia. Kemudian Yesus menyatakan bahwa diriNya adalah "Tuhan" atas hari Sabat. Di dalam pernyataan ini dengan jelas Ia menyatakan diriNya sebagai Tuhan atas hari Sabat dan bukannya Penghapus/Peniada hari Sabbat. Di dalam kehidupanNya sebagai manusia Yesus merayakan hari Sabat. Banyak ayat di dalam keempat Injil yang menceritakan tentang instruksi-instruksiNya kepada para muridNya yang berkenaan dengan perihal bagaimanakah hari Sabat harus dirayakan. Demikian pula Yesus meluruskan cara perayaan hari Sabat yang benar dan membebaskannya dari tradisi-tradisi orang Yahudi yang di tambah-tambahi. Tetapi sebelum melanjutkan, marilah kita menjawab pertanyaan: "Siapakah yang menciptakan hari Sabat?"
Di dalam memahami perintah yang diperuntukkan bagi kita untuk mengingat hari Sabat dan mempertahankan kekudusannya, serta untuk memahami siapakah yang menciptakan hari Sabat pada mulanya, maka kita butuh untuk melihat kembali catatan kisah dari permulaan ciptaan Allah. Wasiat Baru memberikan kepada kita suatu kisah yang penting mengenai hal ini di dalam bab pertama Injil Yohanes. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yohanes 1:1-3). Disini kita menemukan bahwa Yesus Kristus digambarkan sebagai sang "Firman" (atau "Juru Bicara" menurut terjemahan yang lebih baiknya dari bahasa Yunani). Bacaan ini menyatakan kepada kita bahwa sesungguhnya Yesus itu sudah ada bersama-sama dengan Bapa dari permulaannya. Lebih jauh lagi dinyatakan bahwa tidak ada suatu pun yang tercipta tanpa Yesus Kristus! Sebagai Pribadi kedua di dalam Kepala Allah, Bapa menggunakan Yesus Kristus sebagai Pribadi yang mana segala ciptaan tercipta. Berkenaan dengan perihal Allah, rasul Paulus mendapatkan wahyu untuk menulis, "yang menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus," (Efesus 3:9).
Di dalam kitab Ibrani, kita menemukan Kristus yang digambarkan sebagai Anak Allah "maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta." (Ibrani 1:2). Dari ayat ini dan banyak bacaan Alkitab lainnya kita ditunjukkan kepada suatu kenyataan bahwa sesungguhnya Ia adalah pribadi di dalam Kepala Allah yang kemudian menjadi Yesus Kristus. Ia jugalah yang melakukan pekerjaan penciptaan. Ialah satu-satuNya Pribadi yang mengatakan "Jadilah terang dan terang itu jadi." Ia pulalah yang menciptakan dan menempatkan manusia di bumi, yaitu di Taman Eden. Secara khusus, berkenaan dengan pekerjaan penciptaanNya, penulis kitab Kejadian terwahyukan untuk menyatakan: "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kejadian 2:2-3).
Yesus mengatakan bahwa Sabat diciptakan untuk manusia. Sabat diciptakan oleh Dia yang di masa kemudian menjadi Yesus Kristus! Sabat dibuat sebagai suatu hal yang mendasar di dalam lingkungan kehidupan manusia dan yang diciptakan oleh Allah di dalam tujuh hari penciptaan. Perhatikanlah bahwa disini Allah "memberkati" hari ketujuh dan "mengkuduskan"nya. Hal "penghormatan" semacam ini tidaklah diberikan kepada enam hari lainnya. Ketika Allah memberkati sesuatu, Ia memberikan segala yang ada di dalam maksud, tujuan dan keberadaanNya di dalam sesuatu hal tersebut. Kata "mengkuduskan" berarti memisahkan sesuatu hal bagi tujuan dan kegunaan yang suci. Oleh karenanya, kita dapat melihat bahwa di dalam "penciptaan", Allah yang maha kuasa memberikan keinginaanNya kepada "waktu" dan memisahkan "waktu" bagi suatu tujuan dan kegunaan yang suci.
Dengan jelas hal penting di dalam latar belakang Sabat ini memberikan arti tambahan kepada perintah Allah yang berbunyi: "Ingatlah hari Sabat, untuk memelihara kekudusannya." Melalui Yesus Kristus, Allah membuat hari ketujuh dari satu minggu sebagai hari yang suci, dan dengan kekuasaanNya sebagai Pencipta Ia memerintahkan kita untuk menguduskannya! Sabat, oleh karenanya, adalah suatu saat yang suci. Hari ini diciptakan bagi manusia untuk menjadi suatu berkat yang besar bagi seluruh umat manusia! Pencipta kita mengetahui bahwa kita akan membutuhkan suatu masa istirahat dan beribadah pada tiap hari ketujuh, dan inilah sesungguhnya tujuan yang mendasar dari diciptakannya hari Sabat. Setiap dari kita memiliki suatu kecenderungan untuk sibuk dan berkutat dengan kegiatan, pekerjaan, serta kesenangan keseharian kita selama satu minggu. Pencipta kita mengetahui hal ini dan karenanya Ia mengkuduskan hari Sabat sebagai suatu saat yang suci, yang mana kita dapat dengan bersungguh-sungguh melupakan rutinitas keseharian kita serta mendekatkan diri kita kepada Allah sang Pencipta dengan belajar, merenung, dan berdoa. Di zaman yang modern seperti sekarang ini, umat manusia sebenarnya sangat membutuhkan saat/masa seperti ini. Hal ini dapat terjadi karena hari Sabat dapat memberikan umat manusia suatu hubungan yang baik dengan Allah Pencipta mereka. Sisihkanlah waktu untuk berpikir tentang Allah dan untuk menyembahNya, untuk berdoa, dan untuk mempelajari firmanNya, untuk merenungkan tujuan dari keberadaan hidup manusia serta hukum-hukum kehidupan Allah yang dinyatakanNya. Segala hal ini akan menambahkan kekuatan dan arti yang dalam bagi kehidupan manusia pada enam hari selanjutnya di dalam seminggu. Sabat adalah salah satu dari berkat terbesar yang pernah diberikan oleh Allah kepada keluarga manusia!
Memahami bahwa perintah Sabat adalah suatu perintah yang sama mengikatnya dengan perintah yang melarang manusia untuk membunuh dan berbuat cabul, maka baiklah bagi kita untuk meneruskan pembahasan tentang segala aspek dan aplikasi dari perintah Allah ini bagi kehidupan keseharian kita pada saat ini. Jauh dari hanya sekedar menjelaskan suatu permasalahan, perintah keempat sesungguhnya berisi dua perintah dasar: Pertama adalah, "Ingatlah, dan peliharalah kekudusan hari Sabat.", dan yang kedua adalah, "Enam hari lamanya engkau harus melakukan pekerjaanmu dan kegiatanmu."
Di dalam kekuasaanNya Allah menyatakan bahwa enam hari pertama dari seminggu di khususkan bagi urusan dan pekerjaan manusia. Adalah kehendak Allah bagi umat manusia untuk bekerja dan mencari nafkah kesehariannya. Orang yang tidak bekerja atau tidak mau bekerja di dalam enam hari adalah orang yang sama salahnya dengan orang yang bekerja pada hari ketujuh! Orang yang tidak mau bekerja biasanya berpakaian asal-asalan, sedangkan pikirannya yang menganggur dan tangannya yang tidak bekerja pada umumnya memimpin dirinya untuk melakukan hal-hal yang tidak bermoral dan penuh dosa. Bagian kedua dari perintah Sabat sama mengikatnya dengan yang pertama! Orang yang tidak pernah mau bekerja adalah benar-benar tidak layak untuk menyembah Allah! Cara bekerja yang jujur dan penuh dengan tanggung jawab dan tujuan adalah merupakan suatu bentuk penyembahan dan kepatuhan kepada Allah. Kita hidup di dunia yang penuh berisi dengan segala hal yang kita perlukan secara jasmani, dan kita butuh untuk "bekerja" untuk mendapatkannya! Inilah memang hal yang diinginkan oleh Allah dari mulanya, manusia ditempatkan di taman Eden "untuk mengusahakan dan memeliharanya" (Kejadian 2:15).
Bagaimanapun juga, dengan cara yang sama, seseorang yang tidak pernah berhenti mencari nafkah dan mengusahakan bisnisnya untuk menyisihkan waktu bagi Allah dan menyembahNya pada hari ketujuh seperti yang telah diperintahkan oleh Allah, maka orang tersebut tidak akan dapat mencapai potensi dirinya secara maksimal di dalam pekerjaan, kepelayanan dan bahkan penyelesaian akan suatu permasalahan. Semenjak sang Penciptalah yang memerintahkan hari Sabat, maka kita dapat mematuhi dan merayakan hari Sabat dengan rasa percaya diri yang kuat. Kita percaya bahwa Allah akan memberkati dan menyediakan kebutuhan kita karena kita melakukan perintahNya. Hari Sabat akan benar-benar dapat menjadi suatu masa istirahat dan pengembalian kesegaran rohani yang baik.
Secara normal, jika anda ingin mengambil cuti libur selama beberapa hari untuk beristirahat, anda sesungguhnya ingin untuk benar-benar terlepas dari segala urusan pekerjaan dan keuangan anda. Allah sebenarnya telah menjalankan suatu hukum yang besar dan agung. Kesepuluh Perintah Allah adalah hukum yang aktif dan hidup yang sama seperti hukum gravitasi. Hukum-hukum ini benar-benar ada dan bekerja secara otomatis. Dengan dukungan kekuatan Allah, hukum Sabat menyatakan bahwa jika anda berhenti bekerja dan menyembah Allah yang maha kuasa pada hari yang ketujuh di setiap minggunya, maka anda akan diberkati ketika anda bekerja selama enam hari. Hal ini akan memberikan kepada anda suatu berkat yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat anda dapatkan jika anda bekerja di dalam hari Sabat Allah!
Sadarkah anda apakah yang dimaksudkan dengan hal ini? Ketahuilah bahwa Allah sesungguhnya sedang memberikan kepada kita satu masa libur gratis pada setiap hari ketujuh yang mana Allah sendiri yang membayar masa libur kita tersebut! Masa libur ini tidak hanya bertujuan untuk mengistirahatkan badan jasmani kita, tetapi juga menjadi saat untuk menyembah Allah, untuk menyegarkan keadaaan rohani kita, serta untuk merenungkan dan melatih tujuan-tujuan rohani dan hukum-hukum kehidupan yang Allah berikan kepada kita. Di dalam merayakan hari ketujuh yang telah disucikan oleh Allah, manusia sesungguhnya di bawa kepada suatu saat yang mendekatkan diri mereka kepada Allah Pencipta mereka. Semenjak Allah telah mengkhususkan dan menyucikan hari yang penting ini, maka keberadaan dan berkatNya adalah suatu bukti yang kuat dan nyata bagi dan di dalam hari ini.
Saat di mana kita hidup pada masa sekarang ini adalah merupakan saat di mana manusia sangat sibuk dengan kegiatan mereka. Kelihatannya manusia hanya memiliki waktu yang sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk merenungkan tujuan rohani dan tujuan kehidupan mereka, suatu hal yang sesungguhnya perlu mereka pertimbangkan. Oleh karenanya, hendaklah kita mengetahui bahwa berkat yang besar dari hari Sabat Allah sesungguhnya adalah diberikannya saat bagi umat manusia untuk benar-benar berpikir dan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang penting di dalam kehidupan mereka dan bahkan untuk berkomunikasi dengan Allah Pencipta kita yang hanya sedikit orang saja yang pernah menjalaninya. Perayaan hari Sabat yang benar akan membuat manusia memiliki hubungan yang baik dengan Allah! Tanpa hubungan yang dekat dengan Allah, maka kita akan terputus dari tujuan keberadaan kita, dari hukum-hukum yang mengatur kesuksesan atau kegagalan kita di dalam kehidupan, dari pemahaman tentang apakah diri kita, kemana kita akan pergi, dan bagaimanakah kita dapat ke sana. Tanpa hubungan yang dekat dengan Allah Pencipta kita, hidup manusia akan kosong, penuh dengan kekecewaan, dan kesia-siaan. Ingatlah, umat manusia membutuhkan suatu hubungan yang dekat dengan Allah. Mereka membutuhkan kekuatan dan pemahaman rohani yang baik, dan juga berkat dan bimbingan Allah yang akan mereka peroleh jika mereka merayakan hari Sabat Allah dengan benar.
Yesus Kristus-seorang teladan yang baik dari bagaimanakah seorang Kristen sesungguhnya harus hidup, diajar oleh kehidupan dan tingkah lakunya sendiri bahwa Sabat adalah suatu saat pertemuan kudus (masa berkumpul yang diperintahkan) bagi umat Allah, seperti yang diajarkan di dalam Imamat 23:3. Teladan dan kebiasaan Yesus di catat di dalam Lukas 4:16, di sana dikatakan bahwa Yesus "menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab." Sabat yang sesungguhnya adalah suatu hari yang secara khusus diperuntukkan bagi penyembahan dan penghormatan terhadap Allah oleh mereka yang dipanggil menjadi pelayan-pelayanNya. Hari Sabat ini adalah suatu masa khusus yang dipergunakan untuk memberitakan dan menjelaskan firman Allah beserta hukum-hukumNya yang hidup. Adalah tugas bagi setiap umat Kristen untuk menemukan Jemaat Allah yang benar, jemaat dimana ia dapat benar-benar menyembah Allah di dalam "roh dan kebenaran". Suatu Jemaat yang dengan benar merayakan Sabat Allah dan mengajarkan umat Kristen untuk "hidup dari setiap firman Allah."
Terdapat banyak gereja yang percaya akan hari Sabat dan juga di dalam kepatuhan perintah keempat. Bagaimanapun juga, kebanyakan dari gereja-gereja tersebut, didalam ajaran dan tindakan mereka, melanggar satu atau lebih perintah-perintah Allah yang lain secara langsung. Ketahuilah bahwa Yesus hanya mendirikan satu Jemaat (Matius 16:18), yang mana jemaat tersebut melakukan seluruh perintah Allah. Sesungguhnya anda perlu untuk menemukan Jemaat ini. Untuk itu kami menyarankan anda untuk memesan buklet kami yang berjudul "Jemaat Allah di Sepanjang Masa." Kita juga menawarkan suatu pelayanan yang dapat membantu anda memahami keberadaan Jemaat Allah pada saat ini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anda miliki. The Living Church of God memiliki minister di seluruh bagian Amerika Serikat dan negara-negara di dunia. Para minister kami akan siap memberikan konseling kepada anda secara pribadi dan menjawab pertanyaan apapun yang anda miliki tentang Jemaat Allah atau perihal perayaan hari Sabat. Kami tidak akan pernah mengunjungi anda jika anda tidak meminta kami untuk mengunjungi anda terlebih dahulu. Hanya jika anda, dari diri anda sendiri, ingin membicarakan hal-hal rohani yang penting dengan pelayan Allah yang berkualitas dan setia, maka anda perlu dan dapat menghubungi kami. Kita akan sangat berbahagia untuk mengirimkan seorang dari minister kita untuk mengunjungi anda.
Belajarlah untuk merayakan hari Sabat di dalam cara yang positif! Gunakanlah hari ketujuh yang Allah sisihkan dan kuduskan sesusai dengan cara yang Ia inginkan, yaitu untuk beristirahat dari pekerjaan dunia, untuk berdoa, untuk belajar, dan untuk merenung Firman Allah serta tujuan dari keberadaan manusia. Lakukanlah hal yang baik kepada orang lain, misalnya untuk memelihara mereka yang sakit, serta untuk mengunjungi mereka yang mengalami kesusahan. Berkumpullah dengan umat Kristen benar lainnya di dalam hari Sabat jika hal ini memungkinkan bagi anda untuk menemukan perkumpulan terdekat mereka. Hari ketujuh yang Allah sucikan adalah suatu hari yang diperintahkan oleh Allah dan merupakan suatu waktu yang diberkati oleh Allah untuk beristirahat, menyembah dan memikirkan kunci-kunci penting dari arti kehidupan. Jika anda memiliki keragu-raguan tentang bagaimanakah anda harus merayakan hari Sabat, maka anda dapat memesan buklet kami yang berjudul "Hari Apakah Hari Sabat Umat Kristen?" Dengan memahami dan merayakan dengan benar perintah keempat untuk merayakan hari-hari Sabat Allah yang suci, maka hal tersebut adalah salah satu dari berkat terbesar yang diberikan oleh sang Pencipta kepada anak-anak manusia! Hal ini adalah suatu tanda, antara manusia dan Allah yang benar. Oleh karenanya ingatlah dan pertahankanlah kesuciannya!
Kejahatan dan ketidakhormatan kaum muda pada saat ini benar-benar mengkarakterkan keadaan zaman di mana kita hidup. Jumlah rumah tangga yang hancur pun juga meningkat. Kejahatan anak-anak muda benar-benar meroket! Beberapa tahun yang lalu, salah satu dari pihak berwajib yang dihormati di dalam hal menangani masalah remaja di Amerika, hakim Samual. S. Leibowitx, merencanakan untuk menemukan jawaban dari kefrustasian pemuda Amerika. Ia memutuskan untuk pergi ke negara barat yang hanya memiliki tingkat kejahatan remaja paling rendah: negara itu adalah Italia. Ia mencari tahu dari polisi dan petugas sekolah di seluruh penjuru negeri. Dan ternyata dari setiap pelosok Italia ia mendapatkan jawaban yang sama, yaitu bahwa remaja Italia tersebut memiliki rasa hormat terhadap pihak yang berwenang/penguasa. Hakim Leibowirtz mengunjungi rumah-rumah di Italia untuk menemukan alasannya. Ternyata di sana ia menemukan bahwa bahkan di rumah yang paling miskin sekalipun, istri dan anak-anak menghormati ayah sebagai kepala keluarga. Ia menemukan bahwa cara hidup modern yang berpegang pada prinsip "lakukan apa pun yang engkau sukai" dan cara hidup yang selalu mengijinkan seorang anak untuk melakukan segala sesuatu ternyata tidak dapat membuat seorang anak benar-benar berbahagia dan seimbang. Seorang anak sesungguhnya membutuhkan tembok-tembok pembatas dari kedisiplinan dan peraturan di dalam kehidupan mereka untuk menunjukkan kepada mereka seberapa jauh mereka dapat dan diperbolehkan untuk melakukan sesuatu hal. Sama dengan apa yang diharapkan baginya ketika ia dewasa nanti, demikian pulalah seorang anak harus didisiplin untuk melakukan hal-hal yang baginya tidak ingin ia lakukan. Dari masa kecil, seorang anak harus diajarkan untuk menghormati dan mematuhi orang tuanya.
Hakim Leibowetz menyimpulkan penyelidikannya di dalam kalimat yang menyatakan pemecahan permasalahan kenakalan remaja. Kalimat tersebut adalah: Letakkanlah kembali fungsi ayah sebagai kepala keluarga. Jawaban yang menarik bagi permasalahan kenakalan remaja diberikan oleh seorang individu yang terpandang. Yang mana jawaban tersebut jauh lebih dalam dari apa yang pernah disadari dan dipikirkan oleh orang. Jawaban tersebut masuk langsung ke sumber permasalahan, yang tidak lain adalah kurangnya rasa hormat terhadap kekuasaan, yang dimulai dari masa ketika bayi sampai dewasa. Asal permasalahan ini bersumber pada masa kanak-kanak, yaitu di rumah! Jauh sebelum seorang anak mengetahui keberadaan dari gereja, sekolah atau bangsa, ia sesungguhnya membentuk suatu sikap dan tingkah laku tentang bagaimanakah ia bertingkah laku terhadap mereka yang lebih tua di dalam lingkungan masa kecilnya, rumah dan tetangga. Dikembangkan pada saat kanak-kanak, karakter ini akan terus berdampak dan mempengaruhi pikiran dan tindakannya selama sisa hidupnya secara alami!
Keempat perintah pertama memberikan suatu definisi dari hubungan antara manusia dengan Allah. Perintah-perintah tersebut mengajarkan kepada kita tentang kebesaran dari kekuatan dan nama Allah serta membimbing kita untuk selalu mengingat Allah sebagai Pencipta dari kita semua. Perintah kelima di letakkan pertama kali dari perintah-perintah yang mengatur hubungan antar manusia. Perintah ini bukan hanya penting di antara perintah-perintah yang lain, tetapi juga, ketika kita memahami artinya secara mendalam, perintah ini juga berperan sebagai suatu "jembatan" di antara dua bagian dari hukum Allah. Karena kepatuhan terhadap perintah yang kelima sesungguhnya berhubungan secara langsung dengan kepatuhan dan pengagungan terhadap Allah sendiri! Pencipta kita mengetahui tentang hal ini ketika Ia mewahyukan perintah ini dengan menjadikannya "perintah pertama yang memiliki janji untuk diberikan jika dipatuhi" (Efesus 6:2,3). "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12). Mengapakah kita harus menghormati orang tua kita? Jawaban yang diberikan oleh Alkitab benar-benar menyatakan tingkat kedalaman perintah ini dan hal yang dimilikinya.
Jika saja setiap orang tua di bumi ini sadar akan pengaruh yang besar dari kepatuhan terhadap perintah kelima yang diberikan oleh Allah di dalam kehidupan seorang anak khususnya dimasa selanjutnya! Perintah ini adalah salah satu dari kesepuluh hal terbesar yang dinyatakan di dalam hukum rohani Allah yang abadi. Dibawah sistem Wasiat Lama, upah dari pelanggaran perintah ini yang baik dilakukan secara langsung maupun diingini adalah kematian! "Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati.Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati." (Keluaran 21:15, 17). Ayat-ayat ini menyatakan tentang bagaimanakah pentingnya perintah ini di mata Allah! Rumah dan keluarga adalah dasar dari suatu masyarakat yang baik. Hubungan antara anak-anak dan orang tua mereka adalah suatu hubungan yang dengan tepat mencerminkan suatu hubungan rohani antara umat Kristen dan Allah. Pelajaran-pelajaran penting tentang karakter di dalam hubungan tersebut adalah suatu hal yang sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak-anak tersebut selama sisa hidup mereka dan bahkan selama-lamanya! Di dalam pandangan anak kecil, orang tua itu memiliki peranan seperti Allah. Orang tua yang penuh kasih dan perhatian adalah sumber dari kecukupan, perlindungan, pengajaran, dan pemberi hukum. Pelatihan diri dini yang diberikan kepada anak-anak tentang hubungan yang penting ini akan sangat menentukan bagaimanakah mereka nantinya memiliki hubungan yang lebih luas yaitu dengan masyarakat. Dan akhirnya, hal ini dengan jelas akan berdampak terhadap hubungannya dengan Bapa rohaninya di sorga.
Wasiat Baru memperdalam dan memperluas arti dan pelaksanaan perintah ini di dalam banyak hal. Rasul Paulus menuliskan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:" (Efesus 6:1-2). Perintah untuk menghormati ayah dan ibu pada akhirnya diaplikasikan kepada kita di seluruh kehidupan kita. Suatu hal yang harus kita perhatikan disini adalah bahwa ternyata anak-anak secara khusus diperintahkan untuk mematuhi orang tua mereka "di dalam Tuhan". Karena kurangnya pengalaman dan pemahaman, seorang anak harus diajarkan untuk mematuhi orang tuanya secara langsung dan tanpa alasan apapun. Penjelasan dan alasan dapat dan sudah seharusnya diberikan kepada seorang anak sejalan dengan berjalannya waktu. Namun, pada saat ketika perintah orang tua diberikan, mungkin alasan masih belum dapat diberikan! Oleh karenanya adalah penting bagi seorang anak untuk diajarkan patuh tanpa bertanya tentang alasannya kepada orang tuanya. Karena, sampai saat ketika anak-anak muda mulai berkembang, orang tua sesungguhnya masih berada di posisi yang mewakili Allah. Dan Allah memberikan mereka tanggung jawab untuk mengajarkan dan menuntun anak-anak mereka dengan tepat.
Secara langsung orang tua sesungguhnya, dengan ikatan perintah kelima, diharuskan untuk membuat diri mereka dapat dihormati. Agar dihormati, seorang manusia harus juga bertingkah laku secara terhormat. Semua orang tua haruslah sadar bahwa mereka adalah wakil Allah bagi anak-anak mereka! Orang tua haruslah memiliki hidup yang baik, terhormat, dan berwibawa sehingga dapat dihormati oleh sang anak. Mereka juga harus mengajarkan kepada anak-anak mereka rasa hormat dan wibawa terhadap kedua orang tua mereka. Sejalan dengan anak-anak tumbuh dewasa, orang tua harus memberikan instruksi kepada anak-anak mereka tentang keberadaan Bapa rohani yang agung diatas segala yang hidup, Allah Pencipta langit dan bumi, Penguasa alam semesta yang kuat dan yang agung. Orang tua Kristen harus mengajarkan kepada anak mereka untuk menghormati dan mematuhi Bapa rohani mereka dengan iman dan kasih yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang yang mereka lakukan terhadap orang tua duniawi mereka. Pelajaran terbesar yang dapat diajarkan kepada seorang anak kecil adalah rasa takut dan patuh kepada Dia yang mengatur kehidupan! Oleh karenanya, anak-anak diajarkan untuk memiliki rasa patuh sehingga mereka akan belajar untuk menghormati orang yang memiliki kekuasaan atas hidup mereka/orang yang lebih tua. Pada waktunya sendiri, yaitu ketika pikiran mereka dibuka untuk mengetahui tentang Allah yang agung, maka mereka sudah akan memiliki suatu dasar yang penting dari karakter ilahi, yaitu kepatuhan yang bersumber terhadap kasih akan Allah, dan juga rasa hormat yang tinggi bagi semua hukum dan kekuasaan yang terkait.
Rasul Paulus menegaskan ulang tentang berkat yang ada pada perintah kelima: "supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." (Efesus 6:3). Kepatuhan terhadap perintah kelima secara otomatis akan menyebabkan berkembangnya kebiasaan dan karakter yang akhirnya akan memberikan umur panjang. Seorang muda yang sungguh-sungguh telah dilatih dan dibimbing dengan baik untuk mematuhi perintah kelima ini akan menjadi pribadi yang benar-benar akan menjauhkan diri dari kesemberonohan, kejahatan, teman yang tidak baik, dan bahkan pemberontakan melawan kekuasaan yang sering menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Dan, di dalam makna artinya yang dalam, mereka mempelajari untuk menghormati dan mematuhi orang tua mereka dan kemudian Allah sendiri. Hal ini akan membuat mereka memiliki "hidup yang lebih panjang di bumi." Karena, seperti yang dikatakan oleh Yesus; "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5).
Anak yang patuh akan memiliki berkat yang banyak setiap harinya. Demikian juga rasa aman yang akan dirasakan dan diberikan kepada anak yang demikian. Dan sama seperti yang dikatakan oleh hakim Leibowitz, seorang anak akan merasa bingung jika ia tidak diberitahu batas-batas dari hal-hal yang dapat dilakukannya. Namun jika seorang anak kecil diberitahukan tentang batas-batas kegiatan yang dapat ia lakukan dan tetap tinggal di dalam batas-batas tersebut, maka ia akan merasa lega akan batas-batas yang jelas tersebut dan tanggung jawab yang dimiliki oleh orang tua mereka bagi mereka. Dengan dilakukannya hal ini, maka rasa frustasi dapatlah dikurangi. Anak yang tidak patuh pada kenyataannya adalah anak yang mengalami frustasi, yang mana pikirannya dipenuhi dengan rasa bersalah dan pemberontakan. Seorang anak yang mencintai, menghormati dan mematuhi orang tuanya adalah seorang anak yang amat diberkati. Ia akan cenderung untuk hidup di dalam suasana kehidupan yang lebih berbahagia, penuh arti dan jauh dari permasalahan. Dan di dalam kehidupan rohaninya, ia akan memiliki alur kehidupan yang baik, dan tenang sejalan dengan ia menghormati orang tuanya dan menyembah Allah dengan hati yang gembira dan senang!
Sejauh ini kita telah mempelajari tentang pelaksanaan perintah kelima kepada anak-anak dan orang-orang muda. Bagaimanapun juga, hendaklah kita mengetahui perintah "menghormati" orang tua sesungguhnya bukan hanya diperuntukkan atau dialamatkan kepada anak-anak, tetapi juga kepada setiap orang.
Bahkan Anak-Anak Yang Sudah Dewasa Sekalipun Harus Tetap Menghormati Orang Tua Mereka
Mungkin akan terdapat suatu waktu ketika seseorang tidak perlu lagi untuk mematuhi orang tua mereka secara ketat. Namun ketahuilah bahwa tidak akan pernah ada saatnya ketika orang dipebolehkan untuk tidak menghormati orang tua mereka. Kata "menghormati" memiliki suatu arti yang jauh lebih besar daripada hanya kepatuhan. Kata ini menyatakan rasa hormat yang tinggi, sama seperti kata "layak", "kebaikan" dan "urutan". Hal ini menunjukkan suatu rasa hormat dan pengagungan yang tinggi. Seseorang yang mematuhi orang tua mereka dengan baik di masa kanak-kanak akan dengan sendirinya menunjukkan rasa hormatnya bagi orang tuanya di dalam penghargaan. Orang tersebut akan menghargai perasaan tenang dan pelatihan yang diberikan oleh orang tuanya di masa kanak-kanaknya. Rasa hormat ini akan ditunjukkan di dalam tingkah laku yang sopan, bijaksana dan baik. Sejalan dengan bertambahnya kematangan diri kita, semakin tahulah kita tentang segala usaha yang dilakukan oleh orang tua kita yang setia dan penuh kasih bagi kesejahteraan hidup kita. Bagaimana mereka telah menghabiskan waktu kerja yang sangat panjang dan lama untuk mencari nafkah bagi kita, mencurahkan pemikiran yang dalam bagi kehidupan kita dan bahkan berdoa dengan tidak henti-hentinya bagi kita. Bagi pria dan wanita yang baik, adalah suatu kesenangan untuk membalas kasih dan cinta yang diberikan oleh orang tua kepada mereka. Di hari tuanya, banyak orang tua yang sesungguhnya membutuhkan perhatian dan kekariban dari anak-anak mereka melebihi berkat yang lainnya. Oleh karenanya marilah kita sekarang berpikir dan bertindak untuk membalas kasih yang tidak terbatas yang telah diberikan oleh orang tua kita kepada kita!
Suatu hal yang memalukan dari masyarakat Kristen kita adalah banyaknya orang tua yang hanya mendapatkan uang jaminan hari tua yang sangat kecil yang mereka dapatkan dari agen-agen pemerintah. Di dalam banyak kasus, anak-anak sesungguhnya dapat tetapi tidak berkeinginan untuk menyediakan suatu kenyamanan tambahan bagi orang tua mereka. Yesus Kristus memberikan suatu penjelasan yang sangat gamblang tentang perintah kelima beserta penerapannya. Di masa ketika Ia hidup, banyak orang muda yang berusaha untuk menghindarkan diri mereka dari perihal menyediakan kebutuhan bagi orang tua mereka. Mereka mencoba untuk memaklumkan diri mereka dengan alasan-alasan yang sedemikian rupa. Mereka mengatakan bahwa dana yang sesungguhnya dapat ditujukan untuk membantu orang tua mereka telah diperuntukkan bagi pelayanan altar, yaitu yang disebut "Qorban/Qurban". Patutlah diketahui bahwa dana semacam ini bukanlah bagian dari persepuluhan Allah, tetapi suatu persembahan tambahan yang biasanya digunakan untuk mendapatkan kemurahan di dalam mendekati Allah. Menghadapi ahli agama yang munafik ini, Yesus mengatakan: ""Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati." (Markus 7:9-10). Sekarang perhatikanlah bagaimanakah orang-orang munafik ini "mengutarakan" pendapat mereka berkenaan dengan perintah ini! Yesus melanjutkan: "Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah--, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan." (ayat 11-13). Yesus mengutuk para orang munafik ini. Dengan jelas Ia mengatakan bahwa seorang Kristen haruslah memberikan bantuan jasmani dan keuangan kepada orang tua mereka yang sudah lanjut usia jika hal ini memungkinkan dan jika orang tua mereka berada di dalam keadaan yang membutuhkan. Orang tersebut tidak diperkenankan untuk memberikan alasan kepada dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa semua dana tambahan yang dimilikinya tersebut "diperutukkan bagi Allah"! Inilah suatu bagian kepatuhan kita terhadap perintah kelima.
Yesus Kristus menghidupkan pesan yang Ia ajarkan. Teladan hidupNya sendiri adalah suatu gambaran yang baik dari kepatuhan akan perintah kelima. Sesaat sebelum kematianNya, Yesus berkata: "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."(Yohanes 15:10). Melalui kepatuhan kepada Bapa sorgawiNya, dan kepada orang tua duniawiNya, Yesus tumbuh di dalam hikmat dan kematangan bahkan ketika ia masih remaja. Di dalam saat-saat menjelang kematianNya sekali pun, yaitu ketika Ia harus menderita di dalam kematian yang paling mengenaskan yang pernah dirancang oleh manusia, Yesus menghormati dan mengasihi ibuNya sampai akhir hayat. Sesaat sebelum ia meninggal di kayu salib, Yohanes menuliskan: "Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya." (Yohanes 19:26-27). Disini Yesus memberikan pesan terakhir kepada Yohanes untuk memelihara ibuNya, yaitu setelah kematianNya.
Pada saat ketika semua manusia dipenuhi dengan kepentingan bagi diri mereka sendiri, Yesus masih mengingat perintah kelima dan memberikan suatu kasih dan penghormatan kepada wanita yang melahirkanNya, yang memeliharaNya sejak kecil, yang mengajariNya Alkitab, dan yang tidak malu untuk menunggui anakNya menjelang kematianNya dengan meratapiNya. Ingatlah teladan sempurna dari Yesus Kristus! "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12).
Ini adalah suatu zaman yang penuh dengan kebencian dan kejahatan. Ini adalah suatu zaman yang penuh dengan persaingan, perselisihan dan kepenatan pribadi yang ketat. Bangsa-bangsa di dunia, beserta mereka yang hidup di dalamnya, mengarahkan pikiran dan hati nurani mereka kepada berbagai macam hal jahat yang akan mengarahkan kepada penghancuran global. Secara alami, keadaan ini merusak prinsip-prinsip dan ide-ide rohani umat manusia itu sendiri. Dampaknya dapat di rasakan pada saat ini, bahkan ketika anda membaca buklet ini. Kita telah melihat berkat-berkat yang datang melalui rasa kagum dan hormat kepada Allah, yaitu ketika kita memberikan rasa hormat yang tinggi terhadap nama dan pekerjaanNya, yaitu ketika kita memelihara kesucian hari SabatNya dan memelihara pengetahuanNya yang benar, dan menghormati bapa-bapa dan ibu-ibu kita di dalam kedudukan mereka sebagai orang tua. Hal ini secara langsung mencerminkan kedudukan Allah sebagai Bapa dan kasihNya akan semua ciptaan. Di dalam semua perintah yang telah kita bicarakan, kita telah melihat kasih, kebijaksanaan dan berkat. Dan ternyata demikian pulalah dengan perintah keenam.
Ditengah-tengah guntur, petir dan gunung Sinai yang bergoncang, suara Allah mengguntur menyatakan perintah keenam: "Janganlah membantai/Thou shalt not murder" (Keluaran 20:13, terjemahan Jewish Publication Society). Penterjemah Alkitab setuju bahwa kata "membantai" adalah kata yang lebih tepat untuk digunakan daripada kata "membunuh". Kata ini sesuai dengan kata asli Ibraninya Karena masihlah mungkin untuk membunuh, tetapi tidak membantai. (membantai adalah membunuh dengan brutal dan sadis-penterjemah). Hendaklah kita memahami bahwa orang Israel kuno hanya diberikan huruf hukum Allah, namun umat Kristen bukan hanya diberikan huruf hukum Allah tetapi juga harus hidup berdasarkan roh dan keinginan yang penuh dari hukum tersebut seperti yang diagungkan oleh Kristus sendiri. Di dalam huruf aslinya, hukum ini sesungguhnya menyatakan bahwa suatu tindakan membunuh atau pembunuhan/pembantaian yang diinginkan itulah yang dilarang. Ingatlah bahwa di dalam kitab perjanjian yang sama yang diberikan kepada Israel inilah Allah memerintahkan mereka untuk membunuh atau mengeksekusi mereka yang bersalah atas kejahatan yang besar (Keluaran 21:12-17). Juga, instruksi di dalam Bilangan 3 5:9-34 menunjukkan bahwa pembunuhan yang tidak direncanakan bukanlah termasuk pembantaian. Walaupun begitu, pembantaian terhadap manusia adalah dengan jelas suatu pelanggaran yang serius, yang mana seorang manusia yang melakukan pembantaian dengan tidak sengaja/tidak diingini tersebut haruslah tinggal di kota pelarian untuk beberapa tahun sampai imam tertinggi meninggal. Sama seperti Allah memerintahkan hukuman mati bagi tindakan kriminal yang serius dibawah huruf hukum taurat, maka perang yang diperintahkan bagi Israel untuk dilakukan tidak dapat dipandang sebagai tindakan pembantaian, namun sebagai pelaksanaan kehendak dari yang maha tinggi melalui instrumen manusia. Perhatikanlah di dalam Ulangan 7:1-2 bahwa Allah secara langsung memerintahkan Israel untuk menghabiskan seluruh suku penyembah berhala di tanah Kanaan. Dengan jelas, hal ini bukanlah peperangan yang dilakukan manusia atau suatu dendam dan amarah individu. Hal tersebut adalah suatu penyataan kehendak Allah yang maha agung yang memberikan kehidupan, dan yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan tersebut.
Perlulah diketahui, sejarah mengindikasikan bahwa bangsa-bangsa yang mendiami tanah Kanaan tersebut adalah bangsa-bangsa yang benar-benar sangat jahat, yang membakar hidup-hidup anak mereka sendiri sebagai acara pengorbanan manusia kepada dewa-dewa mereka. Inilah salah satu alasan mengapa sang Pencipta memerintahkan bangsa-bangsa tersebut untuk dimusnahkan. Perhatikanlah bahwa di dalam kasus ini, pembunuhan yang dilakukan tersebut diijinkan oleh Allah, sedangkan manusia hanyalah alat yang digunakan oleh Allah untuk melakukan kehendakNya. Tujuan utama Allah sesungguhhnya adalah bahwa umat manusia harus belajar untuk tidak melakukan pembunuhan. Dan meskipun hal tersebut diijinkan di dalam beberapa kejadian untuk dilakukan oleh manusia daging yang dalam hal ini umat Israel yang belum bertobat, haruslah kita mengetahui bahwa Allah pada saat ini menanamkan dan mengembangkan karakter di dalam diri manusia-manusia yang diperanakkan dengan rohNya karakter untuk mengasihi, melayani dan mempertahankan kehidupan dan bukan untuk menghancurkannya.
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa" (Kejadian 1:26). Manusia diberikan kehidupan oleh PenciptaNya. Manusia tidak memberikan kehidupan kepada dirinya sendiri. Dan juga manusia tidak berhak untuk mengambil kehidupan baik dari dirinya maupun orang lain. Kehidupan itu adalah suci karena kehidupan itu adalah pemberian Allah. Umat manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan dari seluruh ciptaan fisik, hanya umat manusialah yang memiliki jenis pikiran yang dimiliki oleh Allah. Allah adalah Penguasa dari segalanya, dan dari manusia daging Ia sedang menciptakan anak-anakNya sendiri yang akan pada suatu hari nanti berbagi pemerintahan bersama dengan diriNya sebagai Penguasa. Allah mengatakan "baiklah manusia memiliki kuasa...." Pada kenyataannya, umat manusia membutuhkan pengalaman untuk dapat mengembangkan karakter ilahi yang Allah inginkan untuk kita miliki. Sedangkan pengalaman itu sendiri membutuhkan waktu dan sesungguhnya terdapat banyak waktu di dalam kehidupan manusia. Allah memberikan kehidupan bagi suatu tujuan yang agung di dalam mempersiapkan seorang manusia untuk menjadi anakNya yang nantinya akan berada di dalam Kerajaan dan keluargaNya selamanya. Di dalam diri umat manusia tersebut mencakup pemberian hidup dan nafas kehidupan dan segala kemampuan kepada diri mereka. Hal ini adalah suatu pemberian yang sangat besar yang diketahui oleh umat manusia. Jika kehidupan ini dihentikan maka hal ini akan mengakhiri semuanya. Hal ini akan dengan sangat kejam dan tidak diharapkan menghancurkan segala harapan dan impian serta rencana dari seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa sang Penciptanya sendiri. Hal ini adalah suatu tindakan perampasan dari hak yang di miliki oleh Allah yang memberikan kehidupan pada mulanya dan yang karenanya memiliki kekuasaan untuk mengambilnya (Ayub 1:21). Oleh karena itu pembantaian di dalam segala bentuknya adalah merupakan salah satu dari sepuluh dosa terbesar; suatu pemusnahan dari makhluk ciptaan Allah yang tertinggi! Di dalam dampaknya, hal ini adalah suatu usaha untuk menghancurkan tujuan yang sesungguhnya dari sang Penguasa paling agung di alam semesta ini! Ingatlah bahwa sang Pemberi kehidupan atas seluruh makhluk adalah Allah. Manusia yang lemah dan tidak abadi sesungguhnya tidak memiliki urusan apapun berhubungan dengan pemberian Allah yang besar ini!
Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk "mengagungkan" hukum Allah dan "membuatnya dihormati" (Yesaya 42:2 1). Yesus memberikan suatu terang, seperti pada Kesepuluh Perintah, dengan menunjukkan tujuan dan arti rohaniah dari perintah-perintah tersebut di dalam kehidupan kekristenan yang sepenuhnya. Yesus mengatakan "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Matius 5:21-22). Disinilah kita mendapatkan informasi yang jelas tentang asal usul pembunuhan yang tidak lain adalah kebencian dan amarah. Kristus mengatakan bahwa jika kemarahan pribadi memenuhi hati seorang manusia, maka orang tersebut sesungguhnya berada di dalam bahaya penghakiman. Jika amarah tersebut memimpin seorang manusia untuk mengejek dan membenci sesamanya, maka manusia tersebut akan berada "di dalam bahaya" penghakiman Allah. Jika di dalam kepahitan dan ejekan seorang manusia mengatakan kepada sesamanya, "engkau bodoh," maka orang semacam ini akan "berada di dalam bahaya api neraka". Inilah penerapan yang diberikan oleh Yesus Kristus dari perintah keenam bagi kita. Patutlah diingat yaitu bahwa jika kita melabuhkan kebencian dan amarah di dalam hati kita, maka kita sesungguhnya melabuhkan keinginan membunuh di dalam diri kita. Pertama kalinya kita hanya memikirkannya, namun kemudian kita akan melakukannya! Roh Kristus membimbing kita tidak hanya untuk mengendalikan tindakan-tindakan kita, tetapi juga untuk mengendalikan pikiran dan sikap kita. Demikianlah juga kita harus memahami bahwa Perjanjian Baru adalah suatu proses ketika Allah menuliskan hukumNya di dalam hati dan pikiran kita (Ibrani 8:10). Allah berbicara melalui Paulus, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19). Pahamilah bahwa umat manusia tidak dapat mengendalikan amarah secara baik berdasarkan hikmat dan keadilan pada setiap aspek kehidupan. Hanya Allahlah yang memiliki hikmat dan kekuatan dan hak untuk melaksanakan amarah kepada umat manusia, bahkan "membunuh" jika diperlukan.
Umat Kristen yang benar sesungguhnya harus mempelajari bahwa Allah adalah nyata dan bahwa perlindungan dan amarahNya adalah adil dan nyata! Oleh karenanya, bagaimanakah seharusnya kita berhubungan dengan musuh kita? Alkitab mengatakan, "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (ayat 20-2 1). Hal ini membutuhkan kekuatan yang nyata dari karakter ingin membantu dan melayani sesama anda ketika seorang manusia dengan secara langsung ingin menghancurkan diri anda! Hal ini membutuhkan hikmat rohani untuk sadar bahwa sesama kita sebenarnya adalah seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Mereka melakukan hal-hal yang demikian oleh karena mereka pada saat ini salah arah baik di dalam tindakan dan pikiran mereka.
Kelihatannya, tindak kejahatan terbesar yang dilakukan oleh umat manusia adalah peperangan. Jutaan manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah telah dibantai tanpa belas kasihan selama berabad-abad di dalam peperangan yang tidak berguna, tidak masuk akal, dan bodoh. Yang mana, di banyak kasus, peperangan tersebut dengan nyata gagal untuk mencapai tujuan yang telah mereka nyatakan! Hukum Allah, seperti yang diagungkan oleh Yesus Kristus, benar-benar menentang setiap jenis peperangan! Hampir kebanyakan pemimpin besar agama dan politik dunia mengetahui konsekuensi/hasil daripada peperangan. Sebelum pecahnya Perang Dunia II, Paus Pius II menyatakan: "Setiap hal itu akan dapat diperoleh dengan kedamaian; dan tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh dengan peperangan." Salah seorang pemimpin militer dan juga juru bicara yang paling dihormati di zaman kita, Jenderal Douglas McArthur, menyatakan: "Sudah dari mulanya manusia ingin mencari kedamaian... .persekutuan militer, keseimbangan dari kekuatan-kekuatan yang ada, liga bangsa-bangsa, yang mana kesemuanya itu gagal dan hanya memimpin kepada peperangan yang dahsyat. Kehancuran yang parah dan total yang diakibatkan oleh peperangan pada akhirnya membuat manusia meninggalkan jalan pilihan ini. Bagaimanapun juga, kita memiliki kesempatan kita yang terakhir. Yang mana jika kita tidak memikirkan suatu sistem/cara yang lebih besar dan pantas, maka Armageddon akan segera terjadi. Sesungguhnya permasalahannya berhubungan dengan kehidupan keagamaan kita dan hal ini mengikutsertakan kehidupan rohani dan ibadah kita, yang tidak lain adalah suatu peningkatan karakter diri manusia yang akan disamakan/disinkronkan dengan kemajuan-kemajuan yang tidak tertandingi di dalam ilmu pengetahuan, seni, sastra dan segala perkembangan materi dan kebudayaan selama dua ribu tahun terakhir. Hal inilah yang harus kita pahami dan pikirkan secara sungguh-sungguh jika memang kita ingin menyelamatkan peradaban manusia. "Kesempatan terakhir" dari umat manusia adalah untuk bertobat dari dosa peperangan sebelum peperangan itu sendiri akan menghancurkan umat manusia, dan segala bentuk kehidupan dari planet ini! Jenderal MacArthur mengetahui bahwa permasalahan yang kita hadapi sesungguhnya bersifat dan berhubungan dengan kehidupan rohani kita, hal ini adalah masalah kekristenan yang mengikutsertakan pengetahuan tentang Allah yang benar! Selanjutnya ia menambahkan bahwa hal ini juga mengikutsertakan "perihal peningkatan karakter diri manusia."
Juru bicara paling hebat di sepanjang zaman adalah Yesus Kristus. Ia adalah seorang Juru Bicara dari pemerintahan atau Kerajaan Allah. Kristus mengatakan: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Sesungguhnya, terdapat suatu bentuk berhala yang sangat dihormati dan rumit yang telah menyebar masuk ke dalam dunia pada saat ini di bawah nama "Kekristenan". Tetapi dapatkah bentuk berhala yang rumit ini bertahan terhadap kata-kata Yesus Kristus yang jelas tanpa menyatakan secara langsung bahwa hidupNya, ajaranNya, dan rohNya sungguh-sungguh mengutuk perihal peperangan tersebut? Banyak kehidupan manusia yang berakhir sebelum waktunya, lebih banyak penderitaan yang diderita, lebih banyak rumah yang hancur, banyak waktu dan harta yang terbuang akibat ganasnya peperangan di sepanjang sejarah manusia! Pahamilah bahwa peperangan tersebut tidak pernah memecahkan masalah manusia atau membawa kedamaian yang sesungguhnya. Sebaliknya, peperangan hanya akan melahirkan peperangan! "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang." (Matius 26:52)
Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai Pembawa Pesan tentang pemerintahan atau kerajaan Allah. Ia tidak ikut di dalam kancah politik atau peperangan dunia. Di dalam pembelaanNya akan hidupNya dihadapan Pontius Pilatus, Ia mengatakan: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yohanes 18:36). Seperti yang telah kita nyatakan sebelumnya yaitu bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk mengambil kehidupan seorang manusia karena Dialah yang memberikan kehidupan tersebut. Oleh karenanya, hanya Allahlah yang memiliki hak untuk memerintahkan peperangan! Dan, seperti yang diajarkan oleh Yesus, Allah tidak memilih untuk menyuruh anak-anakNya/umatNya untuk melakukan perang bagiNya pada zaman ini. Yesus mengatakan bahwa pelayan-pelayanNya akan berperang ketika kerajaanNya ada di bumi ini, yang mana kerajaan tersebut belumlah datang pada saat ini. Melalui rasul Yakobus Allah menunjukkan bahwa perang tersebut sesungguhnya dihasilkan dari suatu jenis roh yang sangat bertolak belakang dengan roh yang Ia inginkan agar para pelayanNya miliki. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:1-2).
Yesus Kristus datang untuk memberitakan kabar baik tentang pemerintahan Allah. Pemerintahan tersebut di dasarkan atas kesepuluh perintah, yang tidak lain adalah hukum rohani Allah. Yesus mengagungkan hukum tersebut dan menunjukkan maksud dan tujuan rohaninya. Ia mengajarkan kepada kita bahwa jika kita membenci saudara kita, maka kita secara rohani telah bersalah dan melanggar perintah tentang pelanggaran untuk membunuh! Yesus mengajarkan bahwa manusia harus mematuhi hukum-hukum Allah dan mempersiapkan diri mereka bagi KerajaanNya yang tidak lama lagi akan datang, yaitu dengan membiarkan dan mengijinkan hukum-hukum Allah beserta karakter diriNya untuk diletakkan di dalam diri mereka. Ketika nantinya pemerintahan Allah ada di bumi maka hukumNya akan menyebar dan menjadi suatu standar dari tingkah laku bangsa-bangsa (Mikha 4:1-2). Pada saat itu, Allah sendiri akan mengadakan peperangan untuk menghukum bangsa-bangsa yang tidak mau mematuhi dan memberontak terhadap perihal hikmat dan keadilan Allah yang sempurna. Seperti bagi orang-orang dunia sendiri? "bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (ayat 3). Perang tersebut mengikutsertakan belajar untuk membenci dan membunuh. Orang-orang muda tidak akan lagi dipaksa untuk belajar suatu sikap bahwa untuk melawan hukum kasih Allah. Dwight D. Eisenhower pernah berkata "harapan manusia akan dunia yang damai tidak terletak pada basis-basis militer, melainkan pada suatu ide/pemikiran. Pemikiran tersebut adalah suatu konsep dari peranan hukum yang berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan sengketa di antara pemerintahan-pemerintahan yang ada." Baik di sadari atau tidak, mantan presiden ini menyatakan suatu fakta yang penting yaitu bahwa hanya pemerintahan Allahlah, yang didasarkan atas hukum-hukumNya, yang akan dapat memecahkan masalah dari umat manusia dan bangsa-bangsa! Yang mana umat Kristen yang benar haruslah bekerja dan berdoa bagi Kerajaan Allah yang damai, dan kita harus menyadari bahwa keinginan untuk perang adalah sesungguhnya keinginan untuk membunuh, dan oleh karenanya kita harus menghindarinya dengan seluruh kekuatan kita.
Berbicara dihadapan Liga Bangsa-Bangsa, pendeta Amerika, Dr. Harry Emerson Fosdick beberapa tahun yang lalu mengutarakan suatu pemikiran dengan kuat yang bahkan masih terngiang sampai hari ini: Kita tidak dapat menyatukan Yesus Kristus dan peperangan, itulah hal mendasar yang harus kita ketahui. Itulah suatu tantangan yang seharusnya mengetuk hati nurani umat Kristen. Peperangan sesungguhnya adalah suatu dosa sosial yang paling besar yang bersifat menghancurkan dan menyebabkan umat manusia menderita. Peperangan adalah sesungguhnya bukan suatu cara hidup kristen dan karenanya tidak dapat dibenarkan; segala metode dan dampak dari pada peperangan sungguh tidak pernah diinginkan oleh Yesus, dan peperangan adalah juga bukan suatu hal yang Ia kehendaki. Peperangan benar-benar bertentangan dengan segala doktrin kekristenan yang berhubungan dengan Allah dan manusia lebih daripada semua teori orang ateis yang pernah ada di bumi. Bukankah sesungguhnya merupakan suatu hal yang indah untuk melihat Gereja Kristen menganggap hal ini, perihal permasalahan moral di zaman kita ini, sebagai suatu permasalahan yang harus ia pecahkan, dan untuk menyaksikannya menjalankan sekali lagi fungsinya seperti di zaman para bapa leluhur, di dalam menyatakan suatu standar yang jelas untuk melawan doktrin berhala dari dunia pada saat ini, menolak untuk tinggal diam, serta untuk menempatkan Kerajaan Allah di atas nasionalisme dan memanggil dunia untuk berdamai. Hal ini bukanlah penyangkalan terhadap patriotisme tetapi justru beginilah cara patriotisme diwujudkan."
Hal utama yang harus diketahui adalah bahwa Yesus Kristus menentang seluruh bentuk dan keinginan dari membunuh. Ia menentang peperangan, dan bahkan suatu hari nanti Ia akan menghentikan segala peperangan yang ada! Ia menentang segala kejahatan, keirihatian dan kebencian. Yesus Kristus mengajarkan umat manusia "kebesaran hati" dan sucinya kehidupan manusia yang "diciptakan menurut dengan gambar dan rupa Allah". Bapa dari Yesus Kristus yang agung, Allah yang Maha Kuasa yang memerintah alam semesta dari takhtaNya di sorga, menggunturkan perintah "Janganlah engkau membunuh" kepada zaman yang dipenuhi dengan kejahatan dan pemberontakan.
Apakah "kecocokkan di dalam seks" adalah hal yang paling penting di dalam pernikahan? Pada zaman yang banyak dipenuhi dengan ketidakharmonisan dan kehancuran rumah tangga, serta kenakalan remaja dan ide-ide psikologi modern, banyak orang yang mengiyakan hal tersebut. Sayangnya kenyataan mengatakan hal yang berbeda. Semakin "modern" teori tentang pernikahan dilaksanakan, semakin tinggilah tingkat perceraian dan semakin rendahlah jumlah rumah tangga yang berbahagia. Adalah suatu hal yang tidak mengenakkan untuk melihat suatu kenyataan bahwa ternyata hampir separuh dari seluruh pernikahan di Amerika berakhir di pengadilan dengan perceraian. Pernikahan memang berakhir namun penderitaan, kekhawatiran dan rasa pedih tidak. Ketahuilah bahwa bagi anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang hancur, segala tahun-tahun kehidupan mereka yang dipenuhi dengan frustasi dan kehampaan pada kenyataannya hanyalah permulaan. Sebenarnya adakah arti yang nyata dari sebuah pernikahan yang harus dipahami oleh pria dan wanita modern? Adakah hukum-hukum dan prinsip yang diberikan oleh Allah yang dapat melindungi sebuah pernikahan umat Kristen dan membuatnya bahagia serta penuh arti?
Allah sang Pencipta menyisihkan dua dari sepuluh perintah rohaniNya yang disebut Kesepuluh Perintah untuk melindungi hubungan yang ada di dalam sebuah rumah tangga dan keluarga. Di dalam buklet ini, kita telah mendiskusikan perintah pertama dari kedua yang disisihkan oleh Allah tersebut: "Jangan berzinah." (Keluaran 20:14). Allah yang maha kuasa memberikan perintah ini untuk melindungi kesucian dan kehormatan dari pernikahan. Dengan segera setelah perintah yang keenam yang menyatakan tentang kesucian dari kehidupan seorang manusia, Allah memberikan hukum yang ketujuh ini untuk melindungi hubungan yang paling tinggi di bumi ini. Oleh karena pernikahan dan rumah tangga adalah dasar dari masyarakat. Kata-kata dari perintah ini secara langsung melarang percabulan sebagai suatu hal yang melanggar hak-hak suci dari hubungan pernikahan. Maksud dari pada perintah ini membuat jelas suatu kenyataan bahwa seluruh tindakan yang tidak suci sebelum pernikahan adalah suatu hal yang salah dan tidak baik bagi masa depan pernikahan, sedangkan ketidaksetiaan sebelum pernikahan itu sama melanggarnya dengan perzinahan yang dilakukan setelah pernikahan. Perintah ketujuh mencakup segala bentuk kegiatan seks yang tidak baik/suci, termasuk hubungan homoseksual yang dilakukan oleh pria dengan pria dan wanita dengan wanita, suatu hal yang merupakan dosa paling besar yang ada di dunia Barat pada saat ini. Pernikahan di dalam pandangan Allah adalah suatu hal yang berharga, benar, dan suci yang tidak boleh di nodai! Sesungguhnya, pernikahan dan rumah tangga yang tidak berbahagia atau hancur yang ada di zaman ini butuh untuk memahami arti dan tujuan besar dari pernikahan di dalam rencana Allah.
Adalah tidak mungkin untuk memahami arti yang benar dari pernikahan tanpa pertama kali memahami bahwa seks dan pernikahan tersebut diberikan dan disahkan oleh Allah. Dengan tidak mengikut sertakan Allah di dalam gambaran besar pernihakan, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang di zaman modern ini, maka mereka sesungguhnya tanpa disadari merendahkan persatuan pernikahan dan menjadikannya seperti hubungan binatang. Perhatikan tujuan Allah di dalam menciptakan pria dan wanita! "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Allah melihat bahwa seorang pria belumlah lengkap di dalam dirinya sendiri, dan akhirnya Ia memutuskan untuk menciptakan seorang "penolong" yang pantas bagi dirinya, seorang pribadi yang mana seorang pria dapat benar-benar berbagi kehidupannya. Jadi tujuan yang pertama dan utama dari pernikahan adalah untuk membuat pria dan wanita menjadi lengkap. Masing-masingnya tidak akan lengkap tanpa yang lainnya.
Seorang diri laki-laki tidak akan dapat memenuhi tujuan Allah yang agung akan penciptaan dirinya, ia tidak akan dapat belajar untuk mengembangkan karakter-karakter yang Allah inginkan. Oleh karenanya hendaklah kita mengingat bahwa Allah menciptakan wanita sebagai seorang "penolong" bagi pria dan, pada saat penciptaan, menunjukkan bahwa mereka harus tinggal bersama sebagai suami dan istri di dalam kesatuan daging, serta berbagi akan setiap hal di dalam kehidupan mereka, yang mana hal ini akan membuat kehidupan mereka penuh arti dan lengkap (paling tidak di dalam pengertian jasmani). Tujuan kedua dari seks dan pernikahan adalah untuk menurunkan anak-anak dan melatih mereka oleh karena Allah telah mengatakan kepada pria dan wanita "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Dengan menurunkan anak-anak maka datanglah tanggung jawab dari melindungi dan melatih mereka. Suatu rumah tangga dan pernikahan yang stabil dan berbahagia sangatlah berhubungan dengan pemeliharaan dan pelatihan anak yang benar. Dan Allah memerintahkan: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Ingatlah bahwa rumah tangga dan keluarga itu membentuk dasar dari suatu masyarakat yang baik! Pengembangan karakter itu sesungguhnya dipelajari di rumah, seperti kesabaran, pengertian, kebaikan, dan semua karakter yang Allah inginkan untuk ada di dalam diri kita selama-lamanya, sedangkan hubungan keluarga adalah salah satu tempat terbaik di mana karakter tersebut dapat dipelajari! Lebih baik dari tempat manapun, pengembangan dari kebaikan, rasa loyalitas dan tanggung jawab sesungguhnya dipelajari dalam rumah tangga yang berbahagia dan seimbang. Juga, untuk membuat diri kita lengkap, dengan memperanakkan dan melatih anak-anak, maka datanglah tujuan terbesar ketiga dari hubungan seks dan pernikahan. Hal tersebut tidak lain adalah untuk mengembangkan karakter diri di dalam lingkungan rumah dan hubungan keluarga. Ingatlah bahwa kerajaan dan hukum Allah tersebut di dasarkan atas kasih. Yesus mengatakan: " dalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:3 5). Untuk mematuhi hukum Allah tentang pernikahan, pria dan wanita haruslah saling sungguh-sungguh memberi di dalam setiap fasa dan tahapan dari kehidupan mereka.
Oleh karena hubungan pernikahan tersebut diperintahkan dan ditahbiskan oleh Allah, maka kesatuan pernikahan tersebut adalah merupakan suatu hubungan kesatuan yang suci. Dan karena sangat sucinya hubungan ini maka Allah di dalam FirmanNya, menggunakan kesatuan pernikahan ini sebagai suatu hal (suatu model atau paralel) yang sama dengan hubungan antara Kristus dan JemaatNya! Perhatikanlah Efesus 5:22-24: "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu". Disini Allah menunjukkan bahwa di dalam sebuah rumah tangga Kristen, seorang istri haruslah menyerahkan dirinya kepada suaminya yang berkedudukan sebagai kepala rumah tangga. Hal ini dilakukannya sama seperti ketika ia harus belajar untuk menyerahkan dirinya kepada Kristus sampai selama-lamanya! Di dalam hubungan yang suci ini, ia mempelajari suatu pelajaran yang penting dari rasa dan sikap setia yang abadi!
Kemudian para suami diberitahukan: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya... .Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." (ayat 25, 28). Yesus Kristus melayani, membantu, melatih, melindungi dan bahkan akhirnya memberikan diriNya sendiri bagi JemaatNya. Jadi para suami haruslah melindungi, menyediakan, memimbing, memberi semangat, mencintai dan memberikan diri mereka kepada istri mereka! Seorang pria Kristen haruslah menjadi kepala dari rumah tangganya dan ia harus menggunakan tugas dan kedudukannya tersebut untuk melayani dan memberikan perlindungan, bimbingan, dan kebahagiaan kepada istri dan keluarganya. Allah yang maha kuasa memberikan tanggung jawab kepadanya untuk menjadi seorang kepala yang baik! Karena pelajaran dan tujuan yang besar di dalam pernikahan, Allah mengatakan: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." (ayat 31). Di dalam persatuan pernikahan, pria dan wanita dibuat menjadi satu. Hubungan mereka ini menggambarkan hubungan yang abadi, saling mengasihi dan melayani sama seperti hubungan yang dimilik oleh Kristus dan JemaatNya. Oleh karenanya, tidak boleh terdapat suatu hal apapun diantara mereka.
Pelajaran pernikahan ini akan mengajarkan kepada kita kesetiaan yang abadi kepada Yesus Kristus Kepala kita! Dan oleh karenanya maka jika seseorang memisahkan diri dari pasangan yang diberikan oleh Allah kepada dirinya, hal ini memiliki pengertian suatu kegagalan untuk mempelajari pelajaran yang diinginkan oleh Allah untuk kita pelajari di dalam pernikahan. Hal tersebut adalah suatu pemberontakan kepada Allah yang maha kuasa, suatu penyangkalan terhadap kebijakanNya di dalam mensahkan persatuan pernikahan yang membuat kita menjadi "satu daging" dengan pasangan kita! Bagaimanakah kita dapat setia kepada Allah untuk selama-lamanya jika kita dengan egois menolak untuk setia kepada pasangan kita yang hanya hidup bersama kita untuk waktu yang sebentar saja? Bagaimanakah kita dapat setia kepada Allah jika kita gagal untuk mempelajari pengembangan karakter dari kesabaran, kebaikan, ketekunan, pengendalian diri, kasih dan kesetiaan di dalam persatuan pernikahan yang suci?
Sekarang jadilah semakin jelas mengapa Yesus Kristus mengajarkan kualitas bersabar/bertahan di dalam janji pernikahan. Ketika Yesus ditanya oleh orang Farisi yang munafik mengapa Musa mengijinkan perceraian di zaman Wasiat Lama, Ia menjawab: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." (Matius 19:8-9). Ingat dan ketahuilah bahwa suatu perceraian sesungguhnya hanya akan menghasilkan perceraian yang lainnya! Jika kita mencoba mengingat maka nyatalah bahwa perceraian yang sudah lazim terjadi pada saat ini sesungguhnya sangat jarang sekali atau hampir tidak pernah kita dengar 50 tahun yang lalu. Para pemimpin agama pada saat itu dan sebelumnya telah memperingatkan kepada kita bahwa jika perceraian itu di toleransi, maka kita tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keutuhannya. Sungguh itulah hal yang kita lihat pada saat ini! Suatu kebenaran dari peringatan ini! Kita sekarang melihat suatu kenyataan yang menyedihkan yaitu bahwa banyak pernikahan yang berakhir di pengadilan perceraian manusia! Sesungguhnya, apakah yang akan dapat didapatkan atau dilakukan oleh seorang manusia setelah perceraian? Tidak lain umumnya adalah mencari pasangan yang lain, yaitu pasangannya yang kedua atau bahkan pasangannya yang ketiga, atau keempat untuk memenuhi keinginannya. Yang mana Allah sesungguhnya menginginkan inidividu tersebut untuk memenuhi, mewujudkan, dan menyalurkan keinginannya di dalam pernikahan yang suci dan agung dengan pasangannya yang pertama yang di banyak kasus masih hidup di saat pernikahan yan berikutnya terjadi. Sungguh hal ini adalah suatu kenyataan yang menyedihkan dan suatu kemerosotan sebuah bangsa!
Meskipun Allah mengijinkan perceraian bagi beberapa keadaan tertentu, adalah sangat lebih baik bagi setiap pasangan pernikahan untuk belajar membantu dan melayani dan mengampuni antara satu dengan lainnya, oleh karena hal itulah yang akan dapat mempertahankan kesatuan pernikahan yang kuat. Suatu pernyataan dari Yesus yang amat terkenal sebagai pengecualian, "kecuali karena zinah [porneia]" (Matius 19:9), sesungguhnya haruslah dilakukan sebagai jawaban terakhir dan bahkan setelah doa, dan melalui sesi konseling yang panjang dan usaha yang bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan pernikahan. Hal yang sama diaplikasikan juga terhadap keputusan ijin rasul Paulus bagi umat Kristen untuk menikah kembali jika diterbengkalaikan oleh seorang pria yang tidak bertobat. (1 Korintus 7:15).
Pada saat ini kita dapat melihat bahwa pernikahan bukanlah sesuatu hal yang hanya berevolusi melalui perkembangan pemikiran manusia dan peradaban mereka. Oleh karenanya ketahuilah bahwa pernikahan itu sesungguhnya diberikan dan diperintahkan oleh Allah Pencipta. Ia mensahkannya sebagai suatu persekutuan yang suci yang menggambarkan kesetiaan yang abadi dari hubungan antara Kristus dan JemaatNya! Setiap bentuk perzinahan dipandang sebagai suatu hal yang sangat salah dan jahat. Hal ini terjadi oleh karena pernikahan tersebut adalah suci dan agung di dalam pandangan Allah yang maha kuasa. Perzinahan itu tidak hanya akan memedihkan kehidupan dan diri suami atau istri yang terkait, namun juga rumah tangga mereka dan anak-anak mereka. Hal ini adalah suatu hal yang tidak baik bagi masyarakat karena perzinahan tersebut dapat menghancurkan pondasi utama dari suatu masyarakat yang baik. Dan yang terlebih adalah karena perzinahan merupakan perlawanan terhadap Allah dan institusi yang telah Ia sahkan.
Di Amerika dan Inggris pada saat ini, mereka sebagai suatu masyarakat yang menolak Allah, sering kali mencari suatu pernikahan yang ideal versi Hollywood. Pria dan wanita dengan secara tidak kentara diberi semangat untuk menghancurkan perjanjian pernikahan, yaitu ketika istri atau suami masa muda mereka tidak dapat memenuhi pikiran dan keinginan egois mereka. Di dalam masyarakat "yang ruwet dalam hal pernikahan", manusia gagal untuk mempelajari pelajaran-pelajaran dasar dari karakter yang sesungguhnya dapat dan harus diajarkan oleh pernikahan, karakter untuk memperhatikan pasangannya, kesabaran, belas kasihan, kerendahan hati, kepelayanan dan kesetiaan mereka yang abadi. Demikian juga, mereka gagal untuk memikirkan penderitaan dan frustasi anak-anak dari pernikahan mereka, anak-anak tersebut akan mendapatkan luka yang sulit diperbaiki baik di dalam kehidupan dan pikiran mereka, yang mana kesemua luka tersebut akan terus mereka bawa ke masa depan, dan bahkan kemungkinan akan berdampak kepada kehidupan dan pernikahan mereka di masa mendatang.
Sesungguhnya, meskipun Allah mengijinkan beberapa pernikahan dan rumah tangga kandas oleh perceraian, perceraian pada kenyataannya adalah sesuatu yang dibenci oleh sang Pencipta kita. "Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!" (Maleakhi 2:26). Sekali lagi, " .....Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu." (ayat 14). Dengan jelas Allah membenci perceraian meskipun Ia mengijinkannya. Untuk mempelajari pelajaran-pelajaran yang Allah inginkan di dalam pernikahan, umat Kristen yang benar harus "mendekatkan diri" kepada pasangan mereka baik di dalam tubuh, pikiran dan tingkah laku. Mereka harus dengan tekun berusaha untuk saling memahami, berbagi rencana, harapan dan mimpi dengan lepas dan gembira. Dan dengan bantuan Allah, mereka akan dapat menyingkirkan berbagai macam nafsu dan pikiran berzinah yang muncul di dalam diri mereka. Dosa akan nafsu birahi akan lebih dapat dipahami ketika anda menyadari tentang bagaimana sucinya hubungan seks di dalam pernikahan bagi Allah sang Pencipta. Dan ingatlah bahwa keinginan untuk berzinah dan bercerai dan nikah kembali itu biasanya di mulai dari dalam hati.
Perhatikan tentang bagaimanakah Yesus Kristus menerangkan hal ini ketika Ia menyucikan dan memperbesar aplikasi serta arti daripada hukum Allah: "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya" (Matius 5:27-28). Disini Yesus mengajarkan kepada kita bahwa anda ternyata sudah dinyatakan melanggar perintah ketujuh ketika anda membiarkan pikiran anda dipenuhi dengan nafsu birahi seks terhadap orang lain. Ingatlah bahwa suatu tindakan tersebut dilahirkan dari suatu pemikiran. Hal ini adalah bagian dari pengembangan karakter Kristen bagi setiap orang yang takut akan Allah untuk mempelajari, membimbing dan mengarahkan pikiran-pikiran mereka jauh dari segala nafsu dan keinginan yang tidak pantas.
Sementara itu, di dalam dunia industri yang mengendalikan media paling realistik dan hidup yang dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang muda untuk bertindak, film dan televisi memberikan penekanan atas produksi mereka yang terus meningkat di dalam hal seks atau kekerasan, atau kombinasi dari keduanya. Sesungguhnya masyarakat modern kita sedang membayar suatu upah yang mengenaskan bagi dosa mengerikan yang menyebar ini! Semakin banyak rumah tangga yang dihancurkan oleh perzinahan yang dilakukan baik oleh salah satu atau bahkan kedua pasangan. Jumlah rumah tangga yang hancur di dalam perceraian juga meningkat. Semakin banyak anak yang ditinggalkan tanpa kasih sayang, dan bimbingan dari kedua orang tuanya! Sedangkan hubungan sebelum pernikahan yang disebut "perzinahan" oleh Allah adalah suatu tindakan yang tidak pantas yang semakin menjadi wabah diantara anak-anak muda di dalam masyarakat pada saat ini. Dan segala hal yang kita teliti tadi adalah hal-hal dapat menyebabkan kita melanggar perintah ketujuh! Anak-anak muda yang merendahkan dan menghancurkan kebahagiaan pernikahan masa depan mereka melalui hubungan seks pra nikah akan sungguh-sungguh merusak kehidupan masa depan mereka di dalam kehidupan sekarang ini. Dan jikalau mereka tidak bertobat dan berhenti melakukan hal yang tidak pantas ini, maka dengan kata lain mereka memaksa Allah untuk mengeluarkan mereka dari kerajaanNya dan membatalkan untuk memberi mereka hidup yang kekal yang sesungguhnya dapat membahagiakan mereka (1 Korintus 6:9- 10). Ingatlah bahwa hukum Allah itu selalu ditujukan untuk kebaikan kita dan untuk kebaikan orang-orang di sekitar kita. Dan karenanya maka hukum-hukum tersebut haruslah dipatuhi. Sesungguhnya kita harus memiliki rasa takut untuk diperhitungkan sebagai orang-orang "asusila" yang layak untuk "dihancurkan" di dalam lautan api dan bara, yang tidak lain adalah kematian kedua! (Wahyu 21:8).
Allah memberikan beberapa nasihat yang penting bagi mereka yang tergoda untuk melakukan percabulan atau perzinahan. Di dalam zaman yang dipenuhi dengan rangsangan dan nafsu seks ini adalah sangat berguna untuk mendengarkan nasihat ini jika anda memang ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah dan mendapatkan hidup yang kekal. Allah mengatakan, "Jauhkanlah dirimu dari percabulan! (1 Korintus 6:18). Ia tidak mengatakan kepada anda untuk membiarkan pikiran anda mengagumi ide-ide dan keinginan-keinginan seksual. Ia juga tidak berkata jika anda dapat membiarkan diri anda sendiri berhubungan dengan seseorang yang sudah berpasangan atau seseorang yang secara seksual anda tergoda. Ia juga tidak berkata bagi anda untuk melihat film atau acara televisi atau membaca buku yang dengan salah dapat membangkitkan gairah keinginan seksual anda. Allah berkata bahwa anda harus dapat dengan sekuat tenaga mengeluarkan segala hal buruk sejauh-jauhnya! Ia mengatakan kepada anda untuk keluar dari segala keinginan yang dapat mengarah kepada godaan dosa seks.
Seks bukanlah suatu mainan yang dapat dibuat mainan atau dibuat eksperimen. Melainkan seks haruslah dipandang sebagai suatu berkat yang diberikan oleh Allah didalam persatuan pernikahan yang suci dan agung yang diperintahkan dan disahkan oleh Allah sang Pencipta. Seks haruslah dipandang dengan rasa hormat sebagai suatu ungkapan dari rasa kasih yang tidak egois di dalam persatuan Kristen yang menggambarkan kesetiaan abadi dari hubungan yang dimiliki oleh Kristus dan JemaatNya! Generasi pada saat ini sungguh sangat butuh untuk mempelajari arti dari kesetiaan yang abadi di dalam pernikahan dan rumah tangga! Untuk melakukan hal ini diperlukan baik tulisan dan sikap dari pada perintah ketujuh: "Jangan berzinah" (Keluaran 20:14).
Setelah Allah, dari puncak gunung Sinai, menggunturkan perintah-perintah yang menyatakan kepada manusia tentang bagaimanakah cara menyembah yang benar atas diriNya dapat dilakukan, beserta hukum-hukum yang melindungi hubungan paling suci antar manusia, yaitu rumah tangga, keluarga dan kehidupan manusia itu sendiri, Allah kemudian memberikan perintah yang kedelapan. Perintah yang kedelapan ini berhubungan dengan perlindungan atas hak milik dan barang pribadi: "Jangan mencuri" (Keluaran 20:15).
Oleh karena manusia tidak berpikir bahwa Allah yang memberikan perintah itu adalah nyata, dan mereka pun juga tidak memiliki rasa takut untuk mematuhi hukumNya, maka kita pada akhirnya mengalami banyak pencurian barang-barang yang lebih tinggi dari waktu-waktu sebelumnya. Ternyata kita juga merusak perintah ke delapan di dalam banyak cara melalui suatu sistem moral yang semakin lama semakin melemah. Setelah mendiskusikan beberapa hal mendasar untuk menipu pesaing bisnis atau pelanggan mereka, para eksekutifmengangkat pundak mereka dan berkata: "Wah, bisnis itu ya begitu itu". Atau setelah suatu pertemuan yang berkenaan dengan penggunaan pengukuran yang tidak semestinya, kualitas yang tidak baik atau iklan yang menipu, seorang pelaku bisnis akan berkata: "apakah bedanya? Jika saya tidak melakukannya maka orang lain pasti akan melakukannya."
Ketika menipu pemerintah atau membutakan pajak pendapatan, sebuah frasa umum Amerika yang digunakan untuk mengurangi rasa bersalah seseorang adalah: "biarlah Uncle Sam berlelah-lelah pada saat ini. Bagaimanapun juga, pemerintah sudah terlalu banyak mengambil uang. Jadi bagaimana? Ya, jadi harus bagaimana? Apakah hal ini "hanya urusan bisnis"? Memang, tetapi ketahuilah bahwa hal ini adalah urusan bisnis Allah, dan Ia telah memberikan suatu hukum yang menyatakan: "Janganlah mencuri". Ketika anda melanggar hukum Allah, maka anda akan hancur! Karena hukum Allah adalah hukum yang nyata, dan aktif sama seperti hukum gravitasi. Ketika anda melanggarnya, anda akan menuai hukuman dan hal tersebut adalah pasti.
Berdasarkan firman Allah dan hukumNya, hanya terdapat dua jalan yang benar yang mana anda dapat memiliki sesuatu. Pertama kali adalah oleh pemberian yang cuma-cuma atau oleh warisan dari sesama atau dari Allah sendiri. Yang kedua adalah dengan kerja keras yang jujur di mana anda dapat mendapatkan upah yang sah. Selain dua cara yang ada tersebut, maka segala cara yang digunakan oleh manusia untuk memiliki sesuatu hal adalah mencuri, yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Perintah kedelapan mengkonfirmasikan kepemilikkan barang secara sah dan melarang pencurian. Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa secara prinsip, perintah kedelapan melarang segala bentuk komunisme yang menolak hak manusia untuk memiliki suatu barang. Hal ini juga melarang pencurian internasional atas barang-barang dan harta milik baik warga negara mereka sendiri maupun negara lain oleh pemerintah-pemerintah di dunia. Dan, sebagai suatu hal yang memalukan selama bertahun tahun, sesungguhnya semua bangsa telah bersalah atas pelanggaran hukum Allah ini! Orang muda pada saat ini belajar untuk melakukan pencurian di dalam skala yang besar dan rapi terorganisir. Bukan saja mereka mencuri ribuan barang-barang dari toko, sekolah dan bahkan gereja, tetapi juga secara teratur mereka mengorganisir suatu sistem yang kompleks dan rumit untuk menipu di dalam ujian dan latihan baik sekolah dan kampus. Karena sering kali hal ini dipandang hanya dengan sebelah mata dan dianggap tidak berbahaya, maka hal ini tumbuh dengan sangat pesat seperti yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Tetapi apa yang belum diberitahukan kepada orang muda adalah bahwa mencotek di dalam ujian adalah mendapatkan nilai secara ilegal yang mana hal ini sama dengan mencuri. Dan oleh karenanya maka hal ini secara langsung melanggar perintah Allah yang kedelapan!
Para pelaku industri dan pedagang yang menggunakan takaran timbangan yang tidak akurat atau palsu, atau kualitas bahan produk yang jelek dengan tujuan menyesatkan khalayak umum adalah sama salahnya dengan melanggar perintah kedelapan yaitu melakukan tindakan pencurian! Ia berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dengan cara yang tidak sah dari produknya. Dengan melihat keuntungan yang tidak halal ia berharap mendapatkan sesuatu yang ekstra untuk sesuatu yang tidak ada. Secara prinsip, dengan jelas ia melakukan pencurian! Walaupun begitu, di dalam banyak kasus dari tindakan yang tak mengenal hukum dan penuh dengan penyesatan seperti ini, Allah sesungguhnya mengetahuinya.
Salah satu dari dosa terbesar di dalam bidang komersial zaman ini adalah perihal iklan yang menyesatkan. Para konsumen dipimpin untuk memiliki suatu pengharapan bahwa "pil" tertentu, sebagai contohnya, akan dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan berat badan, meningkatkan potensi, mengembalikan rambut yang tipis, atau apapun yang dapat disebabkannya. Dan, pada banyak kasus, pernyataan ini sesungguhnya adalah suatu kebohongan yang dilakukan tanpa keraguan. Praktek seperti ini, di dalam dampaknya, sesungguhnya mencuri dari orang yang membayar produk tersebut untuk mendapatkan hasil yang dijanjikan. Pada banyak kasus, korban-korban dari kebohongan besar ini tidak hanya dirampok uangnya tetapi juga kesehatan, kebahagian dan kesejahteraan pikiran mereka. Banyak pelaku bisnis dan pemimpin masyarakat yang terkenal mendapatkan posisi ini melalui berbagai macam penyesatan dan pencurian masal!
Sungguh kita butuh untuk bangkit! Hanya karena suatu dosa dapat dilakukan di luar tubuh dengan kelihatan seperti "terhormat", hendaklah kita mengingat bahwa Allah sesungguhnya adalah sang Hakim. Tentang hal ini Ia berfirman, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (1 Korintus 6:9-10). Walaupun hanya sedikit yang mengetahuinya, hendaklah kita selalu mengingat bahwa Allah sesungguhnya berkeinginan agar pelayanNya mendapatkan kemakmuran secara jasmani, selama mereka mendapatkannya secara jujur, yaitu selama mereka mendapatkannya secara jujur dan tidak memfokuskan hati mereka kepada hal-hal tersebut. Rasul Yohanes menuliskan: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja" (3 Yohanes 1:2).
Lebih jauh lagi, kita harus menyadari bahwa suatu kekayaan dari seorang ahli industri yang pudar oleh karena tingginya angka kematian yang tidak seharusnya terjadi di dalam perusahaannya adalah suatu keuntungan yang didapatkannya dengan tidak benar, yang mana menurut Hukum Allah ia adalah seorang pencuri jika bukan seorang pembantai! Prinsip di belakang perintah kedelapan secara terus menerus dilanggar di dalam hubungan antara pemilik perusahaan dan buruh. Yakobus mendapatkan firman untuk memperingatkan pengusaha yang tidak jujur: "Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu." (Yakobus 5:4). Hal ini juga sama benarnya, khususnya di era yang penuh dengan perkumpulan buruh yang penuh korupsi ini, yaitu bahwa banyak pekerja yang melakukan pencurian terhadap para pemilik perusahaan mereka! Mereka melakukan hal ini dengan cara mau menerima upah mereka tetapi tidak melakukan pekerjaan mereka dengan sepenuh tenaga. Hal ini adalah mencuri! Terlalu sering seorang pekerja berbicara kepada rekannya: "Perlahan saja kerjanya teman, anda bekerja terlalu keras. Jika anda bekerja terlalu keras seperti itu maka kita semuanya harus melakukannya juga!" Para pekerja Inggris dan Amerika banyak sekali menghabiskan waktu kerja mereka secara tidak proporsional di dalam acara "minum teh", "minum kopi" dan "merokok". Yang mana hal ini sedikit banyak menyebabkan dunia industri kita terkalahkan di dalam era perang perdagangan dunia pada saat ini. Kurangnya produktivitas akan berdampak kepada nasib dari orang-orang Amerika Serikat dan Inggris! Perintah Allah yang kedelapan pada kenyataannya memiliki suatu pesan bagi sang pemilik perusahaan dan pekerjanya. Bagi yang memiliki perusahaan: "Upah satu hari yang sesuai bagi pekerjaan satu hari" Bagi buruh: "Pekerjaan satu hari yang sesuai bagi upah satu hari". Tetapi mencuri dari sesama kita bukanlah satu-satunya prinsip yang diikut sertakan di dalam perintah kedelapan. Allah memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak dibandingkan manusia manapun (Hagai 2:8).
Di dalam Malakhi 3, berbicara kepada keturunan Yakub atau Israel modern, Allah berkata: "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!" (ayat 8). Allah disini mendakwa bangsa Israel modern (negara-negara berbahasa Inggris modern) dengan tuduhan merampok sang Pencipta dan PekerjaanNya! Oleh karenanya, tidaklah mengherankan bahwa hanya terdapat sedikit agama yang benar yang tersisa di bumi kita pada saat sekarang ini! Demikian pula tidak mengherankan jika terjadi banyak kebingungan dan penyesatan dengan menggunakan nama Kekristenan! Allah melanjutkan: "Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (ayat 9-10).
Hal ini adalah merupakan suatu tantangan yang besar dari Allah yang maha kuasa! Allah mengatakan bahwa Ia akan memberkati anda jika anda mulai melakukan persepuluhan seperti yang Ia perintahkan, yaitu melalui iman didalam diriNya dan firmanNya. Banyak sekali kasus di dalam sejarah yang dapat diceritakan tentang bagaimanakah Allah benar-benar memberkati orang yang melakukan persepuluhan bahkan di dalam hal jasmani. Ia mungkin tidak selalu melakukannya dengan cepat sejalan dengan anda harus mematuhiNya dan melatih iman anda untuk sementara waktu. Tetapi sejalan dengan anda melayani, mematuhi dan mempercayai diriNya, Allah akan melakukan bagianNya. Berkat anda akan sungguh-sungguh datang! Perhatikanlah surat yang menggembirakan ini yang ditulis oleh seseorang yang benar-benar percaya akan janji Allah: "Beberapa minggu yang lalu saya benar-benar berada di dalam suatu masa kesulitan ekonomi. Saya menerima sepuluh sen. Walaupun saya tergoda untuk tidak melakukan persepuluhan sebesar satu sen, pada akhirnya saya melakukan persepuluhan. Beberapa hari setelahnya saya menerima satu dolar. Sekali lagi saya tergoda untuk tidak melakukan persepuluhan karena kebutuhan yang banyak, namun pada akhirnya saya melakukan persepuluhan juga. Sekarang baru saja saya menerima 40 dollar dan sejalan dengan itu saya cepat-cepat memberikan persepuluhan kepada anda. Saya belajar untuk setia karena demikian adanya Allah setia kepada saya."
Penerapan positif yang pasti dari perintah kedelapan di nyatakan di dalam surat Wasiat Baru kepada jemaat di Efesus. "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." (Efesus 4:2 8). Pada satu sisi, bacaan ini mengutuk pencurian, di sisi yang lain, bekerja dan memberi adalah suatu garis besar dari jalan hidup dari penerapan positif dari perintah yang di perintahkan oleh Allah. Kekayaan dan harta milik adalah suatu hal yang didapatkan dari kerja yang jujur, yang bukan hanya untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan pribadi tetapi agar kelebihan yang ada dapat diberikan kepada sesama yang membutuhkan. Hukum Allah di dalam artinya yang mendalam dengan jelas menyatakan bahwa seorang manusia tidak hanya dikatakan mencuri dengan mengambil harta milik orang lain, tetapi juga ketika mereka menolak untuk bekerja sehingga mereka dapat berbagi dan memberi kepada orang lain yang membutuhkan! Umat Kristen yang benar harus "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13).
Sebagai manusia yang diperanakkan oleh Allah, kita nantinya akan menjadi sama seperti diriNya (Matius 5:48). Yesus mengatakannya: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Pelajaran positif dari perintah kedelapan juga disimpulkan di dalam kata-kata Yesus yang inklusif ini, Kristus: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:3 5). Jika, melalui rohNya, kita dapat benar-benar belajar untuk hidup oleh kata-kata tersebut, maka kita akan benar-benar dapat memenuhi arti dan tujuan daripada perintah kedelapan tersebut!
Ini adalah zaman yang penuh dengan kebohongan yang kompleks, standar ganda dari moralitas, atau sindrom "Enron". Ini adalah zaman dari pengacara, pemimpin industri, petugas pemerintah dan profesor kampus yang bertampang terhormat tetapi yang melakukan sumpah palsu di bangku para saksi dan bahkan di hadapan Senat Amerika Serikat. Zaman ini adalah juga zaman yang memiliki fakta yang menarik dari jutaan orang yang percaya kepada teori evolusi yang datang ke gereja-gereja dengan bertingkah laku seolah-olah percaya kepada Allah sang Pencipta yang tertulis di dalam Alkitab. Kristus benar-benar mengutuk para orang munafik di zamanNya. Dan karenanya apakah yang akan Ia katakan tentang generasi kita ini?
Di dalam bukunya, Sex, Vice and Business (Seks, Keburukan, dan Bisnis), seorang pengarang terkenal Monroe Fry menuliskan tentang "keinginan dari masyarakat untuk melakukan tindakan buruk ketika hal itu dipandang mendatangkan suatu keuntungan yang tidak langsung bagi para kolega bisnis mereka." Di dalam bukunya ditunjukkan tentang apa yang telah diketahui oleh ribuan orang dewasa yaitu bahwa gereja dan para pemimpin sipil yang cukup terhormat sesungguhnya juga berkeinginan untuk mendukung kegiatan judi, prostitusi dan narkotika jika hal itu mendatangkan suatu keuntungan. Bagi masyarakat umum, mreka tampil dan tampak sebagai penopang dari kebaikan dan kehormatan. Bagi mereka yang mendapatkan keuntungan dari bisnis prostitusi, narkotik atau gembong judi besar, mereka siap untuk melakukan "transaksi rahasia." Mereka siap untuk menggunakan pengaruh atau posisi sipil mereka untuk membiarkan suatu kejahatan dan tindak kriminal yang terorganisir berkembang di dalam masyarakat, dan mereka akan terus melakukannya selama mereka dapat memperoleh keuntungan finansial. Dengan tegasnya, mereka menjalankan kebohongan! Pengetahuan tentang seberapa jauhnya masyarakat "Kristen" kita didasarkan atas kemunafikan yang seperti ini amatlah mengejutkan! Bagaimanapun juga, kita harus membayar suatu penalti yang besar, karena kita telah melanggar perintah Allah yang kesembilan. Di dalam buklet ini, Kesepuluh Perintah dinyatakan secara rinci, yang mana kita telah melihat bahwa dosa terbesar adalah ketika kita mengesampingkan Allah, dan menaruh sesuatu yang lebih tinggi dariNya di tempat yang sesungguhnya diperuntukkan untukNya. Hal ini pada akhirnya akan memimpin kepada berhala, penghinaan terhadap nama Allah, pelanggaran hukum SabatNya, tindakan yang tidak menghormati orang tua, pembunuhan, percabulan dan pencurian. Prinsip yang sama juga diterapkan terhadap perintah Allah yang kesembilan.
"Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." (Keluaran 20:16). Hanya di dalam mencari dan menjadi saksi akan kebenaran maka manusia terhubung dengan Allah. Karena Allah pada kenyataannya adalah kebenaran! Yesus mengatakan: "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17). Dan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6). Apapun kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh seorang manusia, namun jika ia berkeinginan untuk berbicara dengan berterus terang tentang keadaannya yang sebenarnya, serta mengenal dan memperhatikan kebenaran ketika ditunjukkan kepadanya, maka orang tersebut akan dihormati dan mendapatkan bantuan untuk memecahkan masalah kelemahan pribadinya.
Aplikasi rohani yang lebih dalam dari perintah kesembilan sesungguhnya adalah besar. Ketahuilah bahwa di alam semesta ini terdapat Allah yang Maha kuasa yang jalan-jalan dan hukum-hukumNya adalah benar. Oleh karenanya, seorang manusia yang jujur yang berkeinginan untuk berbicara dengan terus terang dan benar, dan berkeinginan untuk memahami kebenaran ketika kebenaran itu ditunjukkan kepadanya, ia akan dengan pasti bertobat kepada Allah yang benar dan kepada jalan-jalan hidupNya! Tetapi jika seorang manusia senang mengucapkan kata-kata yang tidak baik, memiliki kebiasaan berbohong kepada orang lain (dan bahkan dirinya sendiri), di mana karakter dan mentalnya sangatlah sesat sehingga menghalangi pemahaman akan kebenaran Allah. Hal ini baru akan berhenti jika pikiran orang tersebut dibersihkan! Itulah mengapa hal ini sangat penting, yaitu bahwa meskipun orang memiliki perbedaaan pada banyak hal, pada kenyataannya kita semuanya harus belajar untuk hidup dan untuk berbicara sesuai dengan fakta yang ada dan tidak bersaksi dusta. Bagaimanapun juga, kita pada saat ini hidup didalam suatu masyarakat yang secara terus menerus di penuhi dengan berbagai macam bentuk ketidakbenaran, kemunafikan, dan penye satan diri. Jika kita memang menginginkan karakter Allah untuk dibangun di dalam diri kita, dan untuk mewarisi hidup yang abadi, maka kita harus memikirkan dan memperhatikan perintah yang kesembilan dengan berhati-hati di dalam segala hal, serta belajar untuk mematuhinya.
Ingatlah bahwa perintah yang kesembilan tersebut melindungi setiap orang benar, bahkan di dalam hal melindungi reputasi seseorang. Mungkin tidak ada dosa yang lebih tercela daripada bersaksi dusta/fitnah, suatu kebohongan yang diciptakan dan disebarkan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain. Seorang pencuri hanya mengambil barang jasmani yang biasanya bisa diganti. Tetapi saksi dusta akan merampok reputasi dan kebanggaan seorang manusia dari mata sesamanya dan kesempatan untuk mengembalikan reputasi secara sepenuhnya tersebut amatlah sulit.
Keuntungan langsung dari dapat bergantung kepada perkataan seorang manusia tidak hanya akan melindungi reputasi baik seseorang dan menghilangkan pembuangan waktu yang sia-sia dari beberapa kali masa investigasi bagi setiap pernyataan dan laporan, namun hal tersebut juga akan menghindarkan orang yang tidak pantas untuk menduduki posisi yang membutuhkan tanggung jawab yang besar. Sungguh hal tersebut akan membersihkan masyarakat kita! Sering, pada saat ini, seluruh bangsa dipimpin oleh para pemimpin yang dapat berkuasa hanya karena kemampuan mereka untuk memperdaya dan menyesatkan orang-orang mereka sendiri! Di seluruh dunia, kita melihat para diktator muncul dan memberikan pengikut-pengikut mereka janji-janji yang kosong. Dengan berbagai macam propaganda yang licik, seorang pemimpin dapat membuat orang percaya akan suatu kebohongan besar yang dirinya sendiri tahu. Dan setelahnya muncullah saat-saat yang tidak menentu, tahun-tahun yang tidak pasti yang dipenuhi dengan amarah dan kefrustrasian sampai akhirnya suatu bencana besar terjadi. Suatu bencana yang akhirnya mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya.
Bahkan di dalam negara-negara yang demokratis, manusia sering direkomendasikan untuk menduduki jabatan yang tinggi, bukan karena kemampuan dan keintegritasan orang tersebut, tetapi berdasarkan apa yang kelihatan bijaksana di dalam politik partai. Para pemimpin politik dan pemerintah yang melakukan praktek seperti ini dengan jelas "memiliki kesaksian palsu" terhadap rekan sebangsanya sendiri! Mereka melakukan praktek berbohong dan juga membantu mereka yang melakukan hal yang sama. Di dalam bidang industri dan bisnis, marilah kita berpikir tentang begitu besar sesungguhnya keuntungan yang akan didapat oleh masyarakat jika setiap perusahaan mempromosikan produk mereka secara jujur dan dengan bersungguh-sungguh berkeinginan untuk melayani kebutuhan para konsumen! Dampak dari hal ini akanlah sangat menakjubkan! Pikirkanlah suatu masyarakat dimana setiap merek dari pasta gigi dan sereal untuk sarapan, sebagai contohnya, bukanlah suatu tiruan atau variasi dari produk yang sama, melainkan suatu produk tunggal yang paling baik pada jenisnya yang tertentu, dengan harga yang benar-benar cocok, dan yang secara benar pula diiklankan! Jika saja anda melakukan hal ini pada setiap sisi kehidupan masyarakat, maka anda akan mendapatkan suatu keadaan kehidupan yang penuh dengan kesejahteraan dan kedamaian. Ketahuilah bahwa hal ini bukanlah suatu nasihat isapan jempol belaka. Hal ini memang adalah berkat yang akan datang pada masyarakat yang benar-benar mematuhi perintah Allah yang kesembilan! Jika anda berkeinginan untuk hidup tanpa berkesudahan di dalam masyarakat yang berpedoman kepada Allah, maka Allah yang memberikan anda hidup dan nafas kehidupan memerintahkan: "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." (Efesus 4:25).
Prinsip mendasar dari segala dosa adalah kesia-siaan/kesombongan: "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." (Pengkhotbah 1:2). Alasan yang nyata dari mengapakah kebanyakan manusia menolak Allah yang benar adalah bahwa karena mereka ingin untuk menjadi "ilah" pada pandangan mereka sendiri dan teman-teman mereka. Inilah yang disebut dengan kesia-siaan. Setiap dosa yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya berakar pada prinsip mendasar ini. Demikian juga dengan segala bentuk kebohongan.
Orang berbohong karena mereka lebih mempedulikan harga diri, kebanggaan serta kepentingan diri mereka sendiri dibandingkan dengan kesejahteraan sesama mereka. Mereka berbicara kebohongan dan bertindak tidak benar oleh karena mereka lebih takut terhadap apa kata orang dibandingkan dengan apa yang dikatakan oleh Allah yang maha kuasa! Tindakan dan perkataan keseharian dari hampir semua manusia sungguh menyatakan kebenaran dari pernyataan ini. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes tentang bahkan para pemimpin agama di zamanNya, "Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah." (Yohanes 12:43). Baik kaum pria maupun wanita sering kali merasa malu dengan apa yang mereka sebut "kegagalan" di dalam bidang atau perihal sosial. Mereka akan melakukan tindakan penipuan, pemalsuan, dan kebohongan untuk menghindari atau menutupi "kegagalan" yang seperti ini.
Tetapi dari cara pandang yang secara instrinsik "benar" dan bersifat "abadi", sesungguhnya hal yang harus mereka takutkan adalah dosa. Oleh karena, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:3 1). Yesus mengatakan: "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." (Matius 5:11). Karenanya adalah lebih baik jika kita semuanya keluar dari perasaan khawatir yang berlebihan tentang berbagai macam hal sepele yang dapat dipikirkan oleh manusia dan mulai memiliki pemikiran yang jauh tentang apa yang dipikirkan oleh Allah yang maha kuasa! Dengan melakukan hal ini maka kita akan dapat belajar untuk menghentikan segala kemunafikan baik di dalam hal bisnis, kehidupan sosial, politik, dan tentu saja di dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan. Ingatlah bahwa banyak dari mereka yang tidak terpandang dari dunia yang penuh dengan penipuan ini sesungguhnya telah menerima berkat dari Allah dan menjadi ahli waris dari hidup yang kekal. Janganlah pernah lupa bahwa Yesus Kristus dibunuh oleh karena dosa saksi dusta dan kebohongan! "Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain." (Markus 14:56).
Semenjak melalui kesombongan manusia ingin mempercayai hal apa pun yang terkenal pada saat ini, mereka pada kenyataannya membohongi baik diri mereka maupun teman-teman mereka sendiri untuk percaya kepada teori-teori agama dan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya tidak berdasarkan pada suatu fakta yang nyata! Allah memperingatkan kita untuk menghindari segala bentuk kemunafikan yang seperti itu: "Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman." (Roma 1:18).
Manusia menindas kebenaran. Allah mengutuki mereka yang dengan nyata menekan kebenaran dari keberadaan dan tujuanNya di bumi ini! Allah berkata bahwa para filosof dan ahli pikir yang sia-sia dari dunia ini sesungguhnya "tidak dapat berdalih" untuk menerima suatu kenyataan bahwa Allahlah yang benar-benar menciptakan alam semesta ini, yang mana pada saat ini Ia sedang memerintah berdasarkan kekuatanNya (ayat 20). Kebanyakan ilmuwan dan ahli agama yang percaya pada teori evolusi yang sesungguhnya berasal dari Setan tersebut sesungguhnya harus mengetahui hal ini dengan lebih baik. Karena pada kenyataannya memang beberapa di antara mereka mengetahui dengan lebih baik! Tetapi mereka memang lebih senang dengan apa yang menggembirakan manusia dan oleh karenanya mereka melakukan kebohongan! Allah berkata bahwa mereka pada kenyataannya "tidak dapat berdalih"!
Dan di lain pihak terdapat para pelayan dan murid-murid Alkitab yang terus menerus mengajarkan dan melaksanakan apa yang mereka ketahui sebagai kepercayaan dan kebiasaan bangsa berhala kuno yang dikutuki oleh firman Allah. Di dalam banyak kasus, sesungguhnya mereka mengetahui lebih baik! Mereka tidak akan "kenal ampun". Pengajaran yang berkelanjutan dari hal kebohongan rohani dan ilmu pengetahuan ini adalah suatu hal yang pada kenyataannya sedang membutakan dunia ini untuk mengetahui keadaan alamiah Allah yang nyata dan tentang rencana dan tujuanNya yang benar di bumi ini. Ini adalah suatu akibat yang sangat mengenaskan dari kesaksian yang palsu, penyesatan diri sendiri dan kebohongan. Selama pemimpin yang dianggap "berpendidikan" dari dunia ini terus menyesatkan diri mereka dan orang lain di sekitar mereka tentang keberadaaan, kekuataan dan rencana Allah yang sesungguhnya, maka peradaban kita akan hancur!
Di dalam kehidupan pribadi anda, oleh karenanya, pelajarilah tentang betapa pentingnya mengatakan kebenaran, mempercayai kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran. Berhati-hatilah untuk tidak mendasarkan kehidupan anda pada kebohongan, baik itu kebohongan yang bersifat pribadi, politik, ilmu pengetahuan atau penyimpangan nilai-nilai kebenaran agama. Dan ingatlah bahwa kebenaran Alkitab adalah kebenaran yang akan membebaskan anda (Yohanes 8:32). Di dalam pidato pribadi anda, hendaklah anda berhati-hati di dalam berkata-kata. Janganlah lupa bahwa seorang manusia itu di nilai dari kata-kata yang dikeluarkannya. Adalah hampir tidak mungkin untuk membantu seseorang yang telah terbiasa berbohong, karena tanggapan apapun yang sesungguhnya dapat membantu hanya akan mungkin menjadi suatu kecurangan yang lainnya. Salah satu kualitas dasar dari karakter Allah adalah bahwa Ia adalah kebenaran. Jika kita tidak dapat berpegang kepada firman Allah, maka kita tidak akan memiliki jaminan pengampunan dari dosa-dosa kita yang lama, atau bantuan ketika kita sedih pada saat ini, atau bahkan upah masa depan dan hidup yang abadi.
Jika anda tidak dapat bergantung kepada firman atau janji-janji Allah, dimana Ia pada kenyataannya memiliki kasih yang sangat besar beserta seluruh kebijakan dan kekuatan, sesungguhnya dimanakah anda akan berada? Pernahkah anda memikirkan hal tersebut dengan menggunakan sudut pandang ini sebelumnya? Karakter yang sangat berkebalikan dengan karakter Allah adalah karakter yang dimiliki oleh Setan. Dan sama seperti yang dinyatakah oleh Yesus Kristus: "Apabila ia [Setan] berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Sedangkan mereka yang mengikuti Satan di dalam penolakannya untuk hidup di dalam kebenaran akan memiliki nasib yang sangat menyedihkan menunggu mereka: "Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya,....dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Wahyu 21:8). Ingatlah bahwa di dalam pandangan Allah "bohong putih" itu tidak dibenarkan. Kebenaran yang tidak sejujurnya, tipu muslihat, dan penyesatan adalah hal-hal yang sangat dikutuki oleh firman Allah. Yesus mengatakan: "firmanMu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17). Hendaklah kita hidup oleh firman Allah yang menyatakan bahwa kita akan mewarisi hidup yang kekal di dalam kerajaan yang berdasarkan pada nilai-nilai yang benar. Ini adalah pesan dari perintah yang kesembilan.
Apakah anda mengetahui jika survei yang dilakukan akhir-akhir ini sesungguhnya telah menyatakan bahwa kesulitan-kesulitan finansial yang telah mewabah di banyak keluarga pada saat ini sebenarnya tidak dikarenakan oleh faktor pendapatan yang rendah? Agaknya, mereka disebabkan secara langsung oleh karena faktor pendapatan yang berlebih sehingga dapat menjangkau berbagai macam barang-barang mewah, dan memenuhi keinginan pribadi mereka, serta faktor kebiasaan untuk membeli barang secara angsuran! Dimana iklan-iklan sering menyarankan perihal "beli sekarang dan bayar nanti." Oleh karenanya haruslah kita berpikir bahwa apakah anda memang sangat membutuhkan untuk membeli barang tersebut pada saat ini? dan apakah anda memang sanggup untuk membayarnya "kemudian"?
"Keeping up with the Joneses/Berkutat dengan kecanduan" adalah suatu slogan orang Amerika yang terkenal. Iklan-iklan yang sangat menekan yang ditayangkan secara berulang-ulang dan berkesinambungan sesungguhnya mendorong hal ini untuk terjadi. Hal ini akan membuat orang berpikir bahwa amatlah salah jika mereka tidak berjuang dan berkompetisi untuk mendapatkan barang-barang yang dimiliki oleh tetangga mereka. Pendapat modern dibalik hal ini adalah bahwa "dapatkanlah segala sesuatu sementara mendapatkan itu adalah baik." Tekanan yang tak henti-hentinya, yang biasanya membuat orang berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak uang dan materi, telah menyebarkan lebih banyak penyembahan berhala. Hal ini akan menyilaukan pikiran dan hati jutaaan manusia untuk mengenal kehidupan dari Allah.
Beberapa tahun yang silam, sebuah materi bacaan Kristen, The Canadian Churchman, menulis suatu artikel yang menyahat hati tentang dampak penyembahan berhala dari kecintaan akan benda ini pada anak-anak muda Afrika yang mempelajari ilmu teologia di Amerika Serikat dan Kanada. Seorang anak muda berkata: "Sebelum saya belajar disini, saya adalah seorang Kristen yang baik. Saya bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan dapat menjadi tenaga medis misionaris.
Bagaimanapun juga, sekarang saya adalah seorang atheis. "Mengapa hal ini dapat terjadi?" tanya sang pewawancara dengan terkejut. "Semenjak saya datang ke sini," jawabnya, "saya menjadi tahu bahwa sesungguhnya orang kulit putih memiliki dua allah. Yang pertama adalah apa yang ia ajarkan kepada kita, dan yang kedua adalah kepada siapakah ia berdoa. Sebuah sekolah Presbyterian mengajarkan kepada saya bahwa doktrin-doktrin kesukuan dari nenek moyang saya yang berupa penyembahan patung dan kepercayaan kepada sihir adalah suatu hal yang salah dan sangat menggelikan. Namun pada kenyataannya di sini anda menyembah patung-patung yang lebih besar, yaitu mobil dan perangkat-perangkat elektronik. Secara jujur saya tidak dapat melihat perbedaannya."
Anda terkejut? sudah tidak semestinya kecuali jika kita memang terlalu dekat dengan dosa kita sehingga kita tidak dapat melihatnya. Hendaklah kita sadar bahwa walaupun kita memang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai "masyarakat Kristen", pada kenyataannya kita hidup di dalam masyarakat yang berdasarkan hawa nafsu dan kerakusan terhadap kepemilikan akan barang secara lebih dan lebih! Tingkah laku ugal-ugalan untuk berkompetisi dengan orang lain untuk mendapatkan sesuatu pada kenyataannya adalah merupakan sumber penyebab dari tidak hanya masalah finansial, tetapi juga penyebab utama dari banyak sakit jasmani dan mental, kehancuran rumah tangga, dan hidup yang penuh frustasi. Dan yang paling penting, penyembahan berhala seperti ini akan membuat seorang manusia benar-benar tidak memiliki waktu, kekuatan, atau bahkan keinginan untuk mengenal Allah yang mana hukum-hukum dan jalan-jalanNya yang hidup sesungguhnya akan membawa kedamaian dan kebahagiaan batin yang nyata.
Kebanyakan dari manusia gagal untuk menyadari bahwa Kesepuluh Perintah itu sesungguhnya adalah hukum yang hidup, masih berlaku dan aktif sama halnya dengan hukum gravitasi. Kesepuluh perintah tersebut adalah hukum yang secara langsung berjalan dengan otomatis. Oleh karenanya jika anda melanggarnya, maka hukum itu akan menghancurkan anda! Itulah juga apa yang ada dengan perintah Allah yang kesepuluh. Meskipun pelanggan terhadap hukum tersebut dapat dilakukan secara rahasia, namun upah yang didapatkan akan sangat nyata dan pasti! "Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu." (Keluaran 20:17).
Dari keseluruh perintah yang ada, perintah yang kesepuluh mengacu khusus hampir kepada hubungan antara manusia dengan manusia. Kekuatan dari perintah ini terletak di dalam kata-kata ini: sesamamu, sesamamu, miliknya, miliknya, miliknya, miliknya, sesamamu." Ini adalah perintah yang melindungi hak milik perseorangan bahkan sampai tujuh kali, dimana keinginan seseorang untuk memiliki barang milik sesamanya dibatasi sampai tujuh kali. Tidaklah salah untuk sungguh-sungguh mengingini seorang istri, pelayan, atau sapi atau keledai. Tetapi jika kekaguman atas sebuah benda itu ternyata tidak dapat diraih, maka rasa kekaguman tersebut akan menjadi satu dengan perasaan ingin memiliki sehingga terlanggarlah perintah kesepuluh. Meskipun perintah ini secara jelas berkaitan dengan perihal hubungan manusia dan hubungan di dalam hal fisik, persyaratan rohani yang dibutuhkan dari perintah ini pada kenyataannya lebih berat dibandingkan segala hal yang disebutkan. Perintah ini benar-benar mengendalikan bahkan segala pemikiran di dalam pikiran dan hati manusia. Kebanyakan manusia melihat dosa sebagai suatu hal yang terjadi di luar tubuh atau sering kali hanya bersifat jasmani. Mereka tidak menyadari bahwa karakter yang suci dan benar yang Allah inginkan ada di dalam diri kita pada kenyataannya membutuhkan pikiran-pikiran kita untuk benar-benar murni seperti pikiranNya.
Ingatlah bahwa tindakan tersebut mengikuti pikiran. Apa yang anda pikirkan, itulah juga siapakah anda. Jika anda secara sembunyi-sembunyi menolak standar Allah dan jalanNya, jika di dalam hati anda memiliki suatu keinginan yang sangat besar akan sesuatu hal yang tidak dapat atau tidak pernah akan anda miliki secara sah berdasarkan berkatNya, maka-cepat atau lambat, pemberontakan mental ini akan menghasilkan dosa. Tindakan-tindakan ini pada akhirnya akan menentang Allah, dan melanggar hukumNya. Hal ini dapat terjadi oleh karena pikiran-pikiran yang telah ada selama ini!
Perintah ini menembus seluruh "aspek kehidupan luar Kekristenan", serta menunjukkan tentang apakah seorang manusia telah sungguh-sungguh menyerahkan keinginannya kepada sang PenciptaNya atau tidak! Sungguh bahwa perintah ini adalah merupakan suatu prinsip yang meneliti hati manusia dan menakutkan. Tetapi hal ini adalah suatu perintah dimana anda harus belajar untuk mematuhi, yaitu jikalau anda memang ingin mendapatkan hidup yang kekal serta keagungan di dalam Kerajaan Allah. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus," (Filipi 2:5). Melalui Roh Allah di dalam diri kita, kita harus melakukan suatu perjuangan iman, yaitu dengan memadamkan seluruh hawa nafsu yang ada di dalam diri kita, dan pada akhirnya mendapatkan kesuksesan di dalam "Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus," (2 Korintus 10:5). Hal ini adalah suatu tujuan yang agung dari seorang Kristen yang benar, yaitu untuk benar-benar mendapatkan kepenuhannya di dalam kebangkitan.
Namun kita perlu tumbuh di dalam karakter Allah selama di dalam kehidupan ini. Kita harus belajar, seperti Henok, Nuh, Abraham dan pelayan Allah lainnya, untuk berjalan bersama dengan Allah. Kita harus berjalan di dalam jalanNya, melakukan apa yang Ia lakukan, serta berpikir sama seperti diriNya, melihat pikiran normal manusia biasanya dipenuhi dengan keegoisan, kesia-siaan, keinginan untuk bersaing, keserakahan, kebencian, dan nafsu. Itulah pikiran yang terputus dari jalan-jalan dan pikiran-pikiran Allah (Yesaya 55:8-9). Itulah mengapa Yesus menekankan tentang betapa pentingnya bagi pikiran kita untuk berubah, insyaf dan bersih ketika Ia berkata: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8).
Khususnya semenjak Perang Dunia II, kehidupan di dalam masyarakat barat telah semakin cepat. Kita diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak uang. Kita di buru untuk memiliki waktu yang nyaman, dan mendapatkan segala sesuatu yang bisa kita dapatkan dari kehidupan. Di dalam setiap sisi kehidupan, kita diajarkan untuk bersaing dengan sesama kita untuk mendapatkan kehormatan sosial dan kemajuan di dalam kecukupan materi. Kita akhirnya benar-benar kecanduan untuk memiliki lebih dan lebih barang/kekayaan jasmani yang mana keadaan ini tidak dikenal pada dua atu tiga generasi sebelumnya. Kita dipaksa untuk menghabiskan lebih daripada apa yang dapat kita hasilkan, dan bahkan untuk bekerja diluar kemampuan kita. Dengan liciknya iklan-iklan senang membujuk kita dengan perkataan, "Anda berhutang terhadap diri anda sendiri.", yaitu jika kita tidak membeli sebuah mobil, atau tidak makan pada restaurant yang mahal, atau tidak melakukan sebuah perjalanan yang mahal. Penekanan yang ada di sini adalah hanya untuk menerima dan pada diri sendiri. Pada skala internasional, bangsa-bangsa di dunia bertempur dan membantai atas dasar sikap hati yang seperti ini. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:1-2).
Sering kali, seorang kapitalis berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak uang daripada apa yang dapat ia dapatkan dengan mudah secara adil. Oleh karenanya, ia merampok karyawannya dengan memberi upah yang terlalu sedikit, dan menghabiskan terlalu sedikit dana untuk memperbaiki kondisi dan keamanan bekerja. Demikian pula, buruh-buruh pada zaman ini sering disesatkan oleh perserikatan buruh yang ceroboh sehingga mereka akhirnya berkeinginan untuk mendapatkan uang yang lebih dari pada yang bisa mereka dapatkan secara jujur. Melalui penipuan politik dan tekanan yang terorganisir, mereka berpikir bahwa mereka dapat mendapatkan sesuatu tanpa berusaha.
Mengapakah orang yang disebut "penulis" menulis suatu novel paperback yang murah berdasarkan hal-hal yang sia-sia seperti hal-hal yang cemar/mesum, menjijikkan, dan kebodohan anak-anak muda? Mengapakah para penerbit mau mencetak produk-produk yang tidak baik tersebut yang dapat menurunkan standar manusia akan kasih, kebaikan, dan idealisme ke level yang lebih rendah daripada binatang? Anda akan dapat dengan cepat melihat ratusan contoh-contoh besar dari keserakahan di dalam masyarakat kita jika mata anda benar-benar terbuka. Bagaimanapun juga anda harus berkeinginan untuk melihat keserakahan/keiri hatian anda sendiri! Hendaklah anda bertobat dari dosa anda tersebut dan memohon kepada Allah untuk memberikan anda kasih dan kekuatan sehingga anda dapat melawan dosa-dosa tersebut. Generasi kita membutuhkan firman dari Anak Allah yang berbunyi: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Pahamkah anda akan hal tersebut? Kesuksesan dan kebahagiaan anda yang nyata di dalam kehidupan ini oleh Kristus dikatakan tidak dapat benar-benar diukur dengan seberapa baru dan kuatnya mobil yang anda kendarai, jenis rumah yang anda tinggali, pakaian yang anda pakai, atau bahkan makanan yang anda makan. Pada kenyataannya, kebahagiaan adalah keadaan pikiran manusia. Kebahagiaan akan datang jika anda dapat memiliki Roh dan pikiran dari Kristus di dalam pikiran anda sendiri. Yesus mengatakan: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Lukas 9:5 8). Kasih, kebahagiaan dan kedamaian yang Yesus teladankan sesungguhnya berasal dari sikap hidup yang memberi dan melayani, dan bukan berasal dari perihal kekayaan jasmani yang bisa didapatkan oleh Yesus. Yesus, Anak Manusia, dapat mengalahkan kesombongan dan keserakahan/keirihatian manusia karena Ia menempatkan kepelayanan akan Allah lebih utama dari segala sesuatunya. Setelah menceritakan tentang bagaimanakah orang yang belum insaf itu mencari dan khawatir tentang keperluan dan kenyamanan jasmani, Ia memerintahkan: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka segala sesuatuNya akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:3 3).
Dalam hal ini perintah yang terakhir berjalan bersama-sama dengan perintah yang pertama. Karena segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah yang anda cari dan inginkan, pada kenyataannya anda menginginkannya dengan iri hati. Jika di dalam pikiran dan hati anda, anda memiliki nafsu, keiri hati/keserakahan untuk memiliki sesuatu hal yang lebih dari pada mematuhi Pencipta dan menerima berkat-berkatNya, maka hal tersebut akanlah menjadi berhala bagi anda. "Keserakahan.....adalah penyembahan berhala" (Kolose 3:5). Jadi apapun yang anda idolakan, anda menempatkannya pada posisi Allah yang benar Dan oleh karenanya maka anda melanggar perintah yang pertama: "Janganlah anda allah lain dihadapanKu. (Keluaran 20:3). Rasul Paulus mengatakan: "Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?" (Roma 16:6).
Ketika anda mulai memiliki keserakahan atas hal-hal jasmani, maka sesungguhnya anda "melayani" hal-hal jasmani tersebut. Anda menghabiskan waktu, tenaga dan bahkan uang anda untuk hal-hal yang semacam ini. Di dalam situasi yang seperti ini anda tidak memiliki baik waktu maupun tenaga untuk benar-benar mempelajari Alkitab, atau menghabiskan satu jam di dalam doa yang khusyuk dihadapan Allah yang telah memberikan kehidupan dan nafas hidup kepada anda. Anda akan mendapati diri anda sebagai pribadi yang kikir dan penuh rasa iri hati akan uang yang sesungguhnya merupakan hutang yang belum anda bayar kepada Pencipta anda untuk membiayai kebenaranNya. Di dalam perihal yang sederhana ini, anda sesungguhnya telah menjadikan hal-hal jasmani yang anda iri hatikan dan ingini tersebut sebagai "ilah" anda. Dan karena anda sungguh-sungguh melayani dan menyembah hal-hal tersebut, maka anda hanya memiliki sedikit waktu, kekuatan dan kekayaan untuk melayani Allah yang benar dengan segala hati, kekuatan dan pikiran anda.
Pahamkah anda sekarang? Keirihatian/keserakahan adalah sesuatu hal yang jelek karena hal itu memutuskan anda dari hubungan anda dengan Allah beserta segala berkat dan kasihNya, yang mana segala kekayaan jasmani sesungguhnya ditujukan untuk digunakan bagi kepelayanan dan keagunganNya. Dan di dalam praktek kesehariannya keirihatian itu melanggar prinsip dasar dari jalan kehidupan yang diatur oleh perintah Allah dan oleh Yesus Kristus sendiri. Yesus menyimpulkan prinsip ini ketika Ia berkata: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).
Di dalam belajar untuk melayani sesama anda dengan kasih, kesungguhan dan kepandaian, dan juga untuk melayani Allah yang benar, anda akan merasakan suatu kepenuhan dan kebahagiaan yang nyata di dalam kehidupan ini. Dan didalam Dunia Yang Akan Datang, anda akan diberikan kehidupan dan keagungan yang abadi di dalam pemerintahan yang agung berdasarkan Kesepuluh Perintah. Suatu jalan yang sesungguhnya dari kasih, memberi dan melayani sesama dan bahkan menyembah dan meninggikan Allah yang hidup yang telah memberikan perintah-perintah ini bagi kebaikan abadi kita.
Banyak yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus menggantikan Hukum BapaNya dengan beberapa perintah-perintah "baru"! Sesungguhnya, bagaimanakah kebenaranNya? apakah Kesepuluh Perintah tersebut masih tetap harus dipatuhi?
Sekarang ini adalah zaman dimana manusia senang melakukan pemberontakan melawan segala hukum dan kekuasaan. Bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan digulingkan, rumah-rumah dan sekolah-sekolah dihancurkan oleh berbagai macam kekacauan yang disebabkan oleh berbagai macam pemberontakan.
Suatu pandangan akan tanggapan manusia pada saat ini terhadap frasa kata di dalam doa Yesus yang berbunyi "Datanglah KerajaanMu, Jadilah KehendakMu", diberikan oleh seorang minister Ohio beberapa tahun yang lalu. Minister tersebut menulis "Kami Tidak Memaksudkan Hal Itu". Kita tidak menyenangi pemerintahan, atau tidak mudah menyerah bahkan jika Ia adalah Raja dari sorga sekalipun amatlah sangat nyata bahwa kebanyakan manusia pada kenyataannya telah sungguh-sungguh berdoa dengan cara yang seperti ini, "Janganlah datang KerajaanMu, dan terjadilah kehendakku."
Didalam bab sebelumnya pada buklet ini, kita telah melihat dan mempelajari penerapan yang positif dari Kesepuluh Perintah di dalam setiap aspek kehidupan pribadi kita sebagai hukum-hukum yang hidup dan aktif. Tetapi pada saat ini banyak pelayan dan pengajar Alkitab yang salah mewartakan dengan mengatakan bahwa Kesepuluh Perintah telah "dihapuskan" karena perintah-perintah tersebut telah digantikan oleh perintah-perintah Yesus yang "baru".
Apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah yang "baru"? apakah perintah-perintah tersebut menggantikan atau melawan Kesepuluh Perintah? dan apakah yang dinyatakan oleh Alkitab tentang perihal yang sangat penting ini? Pertama kalinya, marilah kita memperhatikan salah satu tujuan penting bagi kedatangan Yesus Kristus ke bumi ini di dalam manusia daging. Yesaya menubuatkan tentang Yesus: "Ia akan meninggikan hukum dan membuatnya terhormat/agung" (Yesaya 42:2 1). Disini kita menemukan bahwa Kristus datang tidak untuk meniadakan hukum, tetapi untuk "mengagungkan/memperbesar"nya. (KJV).
Meninggikan atau memperbesar sesungguhnya memiliki arti yang sangat berkebalikan dengan mengubah atau meniadakan sesuatu. Meninggikan atau memperbesar memiliki arti untuk menyatakan sesuatu hal secara rinci, atau memperluas artinya. Tentu saja kehidupan Yesus dan ajaranNya menyatakan kepada kita tentang bagaimanakah Ia memang selalu melakukan hukum Bapa.
Yesus mengatakan: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17). Yesus melakukan apa yang diucapkanNya tersebut. Baik di dalam kehidupan dan ajaranNya, Yesus menggenapi hukum. Ia mengagungkan dan memperbesarnya dengan teladanNya yang sempurna. Ia melakukannya dengan segala kepenuhannya, jauh diatas hanya sekedar huruf untuk melakukan perintah tersebut. Bahkan Ia juga mematuhinya mulai dari hal keinginan hati beserta tujuan rohani yang ada di dalam hukum Bapa yang sempurna tersebut.
Mereka yang mengetahuiNya sebagai seorang guru tidak pernah dapat mengatakan bahwa Ia telah menempatkan tradisi manusia untuk menggantikan Perintah Allah. Ia benar-benar mematuhi Kesepuluh Perintah di dalam kata-kata dan di dalam perbuatan. Ia mengajarkan dan menghidupkan perintah-perintah tersebut sebagai jalan hidup yang sempurna.
Ia berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:19)
Dengan jelas, kita harus memiliki keinginan untuk menjadi "kuat" di dalam Kerajaan Allah. Kita sudah seharusnya memiliki keinginan untuk mengalahkan segala kekurangan kita semaksimal mungkin, dan memiliki kesempatan untuk melayani dengan baik dan sekuat mungkin! Oleh karenanya, kita harus dengan bersungguh-sungguh dan nyata berjuang untuk melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Allah bahkan yang "paling kecil" sekalipun. Sekarang apakah anda berpikir bahwa perintah tentang hari Sabat adalah merupakan perintah yang "paling kecil"? Jika ya maka anda harus melakukan dan mengajarkan perintah tentang hari Sabat Allah sama seperti yang Ia perintahkan, yaitu dengan mengikuti teladan Kristus yang sempurna untuk memperingati hari ketujuh yang suci tersebut, dan bukannya "hari matahari"!
Ketika seorang muda datang kepadaNya serta bertanya tentang jalan yang dapat memimpin orang kepada hidup yang abadi, Yesus berkata: "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Alla" (Matius 19:16-18).
Orang muda tersebut bertanya, "perintah yang manakah?"
Yesus menjawab, "'janganlah membunuh,' 'janganlah berbuat zinah....'" dan kemudian meneruskannya dengan menyebutkan beberapa perintah dari Kesepuluh Perintah. Yesus Kristus sesungguhnya mengetahui jalan yang akan memimpin seorang manusia kepada keselamatan! Ia berkata bahwa jalan yang membawa manusia kepada keselamatan itu adalah kepatuhan akan hukum Allah Bapa dan kepasrahan akan kehendakNya.
Yesus mengatakan: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:2 1).
Jadi jauh dari meniadakan Kesepuluh Perintah, Yesus pada kenyataannya mematuhi perintah-perintah Allah (Yohanes 15:10). Kristus adalah "cahaya" yang Allah kirim kedalam dunia untuk menunjukkan kepada manusia tentang bagaimanakah mereka harus hidup. Setelah kematian dan kebangkitanNya, Kristus mengirim para rasul dengan perintah ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah" (Matius 28:19-20).
Para rasul ada bersama-sama dengan Kristus ketika Ia berkata kepada orang muda tersebut: "Lakukanlah perintah-perintah Allah". Mereka telah mendengar Yesus mengagungkan dan memperbesar perintah-perintah Allah di dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7).
Para rasul telah menyaksikan kepatuhan Kristus akan Kesepuluh Perintah dan mengetahui bahwa kepatuhanNya adalah teladan yang sempurna. Oleh karenanya ketika Yesus Kristus mengirimkan mereka ke setiap bangsa dengan misi untuk mengajarkan mereka tentang segala hal yang telah Ia perintahkan kepada mereka, tidak terdapat suatu keraguan pun di dalam pikiran mereka bahwa segala hal tersebut adalah termasuk Kesepuluh Perintah Allah.
Kepatuhan terhadap Kesepuluh Perintah adalah suatu dasar ajaran dari Kristus dan para RasulNya. Namun sekarang apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah "baru" dari Yesus? Apakah perintah-perintah baru tersebut pada akhirnya meniadakan kewajiban kita untuk secara sungguh-sungguh melakukan Kesepuluh Perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama?
Walaupun banyak orang berpikir bahwa terdapat banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan tentang suatu perintah "baru", pada kenyataannya hanya terdapat satu tempat saja di dalam seluruh Alkitab di mana Yesus mengatakan Ia memberikan suatu perintah yang "baru". Ayat referensi yang lain yang ditulis oleh rasul Yohanes sesungguhnya adalah merupakan prinsip-prinsip yang sama seperti yang akan kita lihat.
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35).
Yesus memberikan perintah yang "baru" ini pada saat malam terakhir dari masa hidupNya sebagai manusia daging di bumi ini. Melalui ajaran dan teladanNya, Ia telah menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa tindakan melakukan perintah-perintahNya tersebut tidak lain adalah tindakan kasih.
Kita menunjukkan kasih yang nyata terhadap Allah ketika kita bersungguh-sungguh menyembah dan mematuhiNya, yaitu dengan tidak mengijinkan "ilah-ilah" lain, berhala-berhala, gambar-gambar atau hal apapun di hadapanNya dan selalu menghormati namaNya serta merayakan hari Sabat ketujuhNya yang Ia sucikan, yang juga dirayakan oleh Yesus dan para rasul! Dan kita menunjukkan kasih bagi mereka yang ada disekitar kita ketika kita secara bersungguh-sungguh mematuhi keenam perintah terakhir.
Kristus telah menyimpulkan hukum Allah di dalam dua prinsip besar: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37, 39). Sesungguhnya pada bagian terakhir dari penyimpulan hukum Allah ini Yesus mengutip secara langsung dari Wasiat Lama (Imamat 19:18)!
Jadi apakah hal yang "baru" dari perintah Yesus tentang mengasihi kepada sesama?
Jawabannya adalah sangat jelas. Prinsip dari mengasihi sesama sesungguhnya bukanlah hal yang baru, namun Yesus mengagungkan prinsip tersebut di dalam kehidupanNya yang sempurna memberikan suatu cahaya yang baru di dalam keinginan dan kedalaman rohani dari perintah ini.
Ingatlah hal yang ditekankan oleh Yesus, "Sejalan dengan Aku mengasihi dirimu, demikian pulalah engkau harus saling mengasihi."
Teladan pribadi Yesus akan kasih dan pelayanan adalah suatu pengagungan yang paling besar dan penuh arti dari kasih atas sesama seperti yang diperintahkan oleh Allah. Di dalam kehidupanNya, Ia menunjukkan tentang bagaimanakah kasih tersebut benar-benar dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari.
Tiga kali suara dari Yang Maha Tinggi mengguntur dan bergema di langit menyatakan tentang bagaimanakah Allah merasa puas dengan kehidupan yang di miliki oleh Yesus. Bahkan seorang pejabat Roma, Pontius Pilatus, berkata: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya." (Yohanes 19:4).
Hal ini terjadi oleh karena Yesus menghidupkan jalan hidup yang memberi. Yesus menjalankan prinsip hidup memberi kepada sesama. Semua itu tercermin ketika ia mengajar khayalak ramai, mujizat penyembuhanNya akan orang sakit, tindakanNya melakukan mukjizat untuk memberi makan khayalak ramai atau tindakan yang penuh dengan kerendahan hati seperti membasuh kaki para rasul. Yesus selalu memiliki tindakan memberi dari diriNya.
Yesus Kristus yang penuh dengan tindakan kasih dan memberi ini juga berkata kepada para pemimpin agama di zamanNya, "Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?" (Matius 23:33).
Apakah kata-kata yang aneh ini berasal dari seorang manusia yang penuh dengan kasih? Bukan. Melainkan kata-kata ini sesungguhnya adalah perwujudan dari bagaimanakah kasih yang sempurna itu terkadang dikatakan dan dilakukan bagi kebaikan orang lain yang mana pada saat kata-kata tersebut dikatakan, orang-orang tersebut tidak dapat menghargainya.
Ketahuilah bahwa Yesus mengasihi orang-orang Farisi tersebut! Di dalam kasihlah Yesus mengatakan kata-kata ini untuk membangunkan mereka dari kehidupan beragama yang munafik dan keliru yang dapat mencelakakan jiwa mereka. Ingatlah bahwa bagi orang-orang Farisi yang sama itu pulalah Yesus telah meninggal. Kepada orang-orang Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka itulah Yesus berdoa. Adalah kepada Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka Yesus berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." (Lukas 23:34).
Adalah di dalam kasih yang sempurna dan yang penuh dengan pengertian itulah Yesus sesekali menarik diri untuk beristirahat, merenung atau berdoa. Karena Ia tahu bahwa hanya dengan mempertahankan kedekatan dengan Allah Bapa dan menjadi alat di dalam kehendak dan kuasaNya sejalah maka ajaran dan keberadaan Yesus sebagai manusia akan dapat memperkaya kehidupan orang lain.
Yesus tidak bertindak seolah-olah Ia mengasihi sesama. Ia benar-benar mencintai mereka dengan kasih yang sempurna. Melalui Roh Kudus Allah di dalam diriNya itulah Ia dari dalam hatiNya berkeinginan untuk mengasihi serta melayani sesamaNya. Dan hal itu dilakukanNya bagi kebaikan mereka yang sesungguhnya.
Ia dengan bersungguh-sungguh menghidupkan kata-kata yang pada saat setelahnya ditunjukkan oleh Paulus. Ia mengatakan: "Adalah lebih baik memberi daripada menerima" (Kisah Para Rasul 20:3 5). Dengan cara inilah perintahNya yang memerintahkan manusia untuk saling mengasihi satu dengan yang lain "bahkan sama seperti aku mengasihi dirimu" benar-benar menjadi suatu perintah yang "baru" dan luas di dalam mengatur hubungan antara manusia.
Banyak orang beragama berpikir bahwa Yesus memiliki suatu jenis "kasih" yang sentimentil di dalam hatiNya, yang mana bagaimanapun juga Ia tidak sungguh-sungguh mematuhi perintah-perintah Allah secara nyata.Tetapi hendaklah kita mengetahui bahwa kebenarannya adalah bahwa Yesus Kristus melakukan dan mematuhi setiap Sepuluh Perintah baik secara huruf dan Roh, dan hal ini pulalah yang harus dilakukan oleh para pengikutNya. Sama dengan apa yang telah kita lihat, Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Ia telah mematuhi perintah-perintah Bapa (Yohanes 15:10).
Untuk membuat perintah-perintah ini menjadi sangat jelas, Yesus Kristus tidak pernah memiliki ilah lain dihadapan Allah yang benar. Ia tidak pernah melakukan penyembahan berhala atau menyia-nyiakan nama Allah. Yesus merayakan hari Sabat yang disucikan oleh Allah dan memiliki kebiasaan pergi ke sinagoga untuk beribadah pada hari itu (Lukas 4:16).
Yesus mengagungkan orang tuaNya, dan Ia tidak pernah membunuh, bercabul, mencuri, berbohong atau mengingini. Ia memberikan suatu teladan di dalam langkah-langkah hidupNya yang kita harus ikuti (1 Petrus 2:2 1). Pada saat ini, seorang umat Kristen yang benar adalah seorang manusia yang menyerahkan dirinya kepada Allah sehingga Kristus dapat benar-benar menghidupkan kehidupanNya di dalam diri orang tersebut melalui berdiamnya kekuatan Roh Kudus di dalam dirinya. Oleh karena rasul Paulus mengatakan: "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20).
Seorang Kristen yang benar tidak seharusnya hanya memiliki iman di dalam Kristus, tetapi harus juga hidup oleh iman Krsitus yang ditempatkan di dalam dirinya oleh Roh Kudus. Kristus, melalui Roh Kudus, harus benar-benar hidup didalam umat Kristen yang benar. Ingatlah bahwa Kristus akan menghidupkan kehidupan yang sama di dalam diri anda hari ini sama dengan apa yang Ia lakukan lebih dari 1900 tahun yang lalu, yang mana hal ini tidak lain adalah memberikan suatu teladan kepada kita. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8).
Yesus, di dalam keadaan diriNya sebagai makhluk daging, "telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15). Dicobai ya tetapi di dalam kehidupanNya sebagai makhluk daging Ia mematuhi Kesepuluh Perintah. Dan dengan keberadaan Roh Kudus di dalam diri para murid, Kristus akan melakukan perintah-perintah tersebut di dalam diri mereka, yaitu melalui kepatuhan mereka dan kerelaan mereka untuk membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri mereka.
Adalah kasih Kristus, kekuatanNya di dalam diri kita, yang dapat mematuhi hukum rohani Allah. Hal ini adalah karena Yesus Kristus dari dulu dan juga sekarang memang mematuhi Allah Bapa.
Di dalam surat yang ditulis oleh Yohanes, rasul yang dikasihi oleh Yesus, kita juga akan menemukan referensi akan suatu perintah "baru".
"Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang." (1 Yohanes 2:7-9).
Disini sang rasul mengarahkan jemaat kepada "firman" Allah yang memang sudah ada ditengah-tengah mereka mulai dari mulanya. Tetapi kemudian ia menyebutkan suatu hal yang "baru". Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa hal yang baru ini sesungguhnya adalah kasih rohani yang dalam yang harus dimiliki oleh jemaat Kristus terhadap sesamanya. Tidak ada ruang sedikit pun bagi kebencian, iri hati atau kedengkian bagi kasih yang semacam ini.
Tetapi sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kasih keKristenan ini "meniadakan" atau mengubah "Kesepuluh Perintah" Allah?
Jawabannya tentu saja tidak!
Malah sebaliknya, kasih keKristenan ini justru mempertegas dan memperbesar kasih umat Kristen pada masing-masing individu bagi sesamanya. Kasih ini mencakup kepatuhan yang lebih besar daripada huruf-huruf di dalam Kesepuluh Perintah namun kasih ini tidak menggantikan Kesepuluh Perintah tersebut!
Seperti yang Yohanes tuliskan di dalam suratnya yang kedua: "Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya." (2 Yohanes 5-6).
Disini Yohanes mendefinisikan kasih Kristen sebagai kasih yang diwujudkan di dalam tindakan mematuhi perintah-perintah tersebut!
Kita diajarkan untuk tidak hanya mengasihi orang-orang Allah dan Kristus, namun juga untuk mencintai jalan hidup mereka, yaitu karakter mereka yang diekpresikan di dalam Kesepuluh Perintah. Kristus tidak hanya mengajarkan kepatuhan terhadap perintah-perintah tersebut namun Ia juga hidup dan menghidupkan perintah-perintah tersebut!
Dan seperti yang ditambahkan oleh Yohanes: "Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak." (ayat 9).
Ketika kita melihat sisi positif dari perintah-perintah yang "baru", kita menemukan bahwa perintah-perintah tersebut sesungguhnya memperkuat perintah-perintah yang lama! Mereka menggaris besarkan suatu jalan hidup dari pada kasih, memberi, melayani, yang mana hal ini hanya bisa didapatkan melalui Kristus sendiri yang hidup di dalam diri kita.
Dengan menghilangkan segala keegoisan, kita sesungguhnya dapat belajar untuk mengasihi orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita. Itulah doktrin Wasiat Baru! Hal ini jauh lebih mengikat dibandingkan huruf– huruf dari perintah-perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama.
Bagaimanapun juga, perintah baru tersebut tidak menggantikan perintah-perintah di dalam Wasiat Lama, melainkan mereka justru memberikan nilai yang lebih besar kepada arti rohani dari perintah-perintah tersebut. Dan perintah-perintah "baru" ini sendiri mengarah kepada kesempurnaan yang besar di dalam kehidupan Yesus.
Ketahuilah bahwa Yesus pada kenyataannya mematuhi Kesepuluh Perintah secara sungguh-sungguh dan bahkan di dalam arti rohaninya sekalipun. Ia adalah "cahaya terang" kita, yaitu teladan kita.
Menggambarkan prinsip tentang bagaimanakah kita harus mengasihi sesama rasul Paulus menyatakan: "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat." (Roma 13:10). Hendaklah kita mengingat bahwa kasih rohani Allah tersebut mengalir melalui suatu dasar seperti air sungai mengalir melalui dasar sungai. Dasar tersebut sebenarnya adalah Kesepuluh Perintah.
Di dalam mematuhi Kesepuluh Perintah secara sempurna, yaitu di dalam setiap fasa dan sisinya, kehidupan Yesus sesungguhnya adalah suatu kehidupan yang memancarkan kasih itu sendiri dan kasih itu adalah pemenuhan dari hukum Taurat Allah. Perintah yang "baru" yang Ia berikan mengarahkan kita kepada teladanNya yang sempurna, yaitu teladan dari kepatuhan kepada Bapa, kebaikan dan kepelayananNya kepada semua orang.
Jutaan umat Kristen telah diajarkan bahwa hal yang perlu mereka lakukan hanyalah "mengasihi Yesus" atau memiliki "kasih Allah". Tetapi sekarang apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan "kasih" tersebut? Bagaimanakah Allah sendiri menceritakan keapda kita tentang bagaimanakah kasihNya dapat ditunjukkkan? Pada akhir zaman Kerasulan, beberapa dekade setelah kebangkitan Yesus, Allah memberikan wahyu kepada rasul Yohanes (sahabat Yesus yang paling dekat di antara para rasul) untuk menceritakan kepada kita: "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat," (1 Yohanes 5:3).
Ingatlah bahwa Yesus menghidupkan hukum Allah di dalam segala hal yang Ia pikirkan, Ia katakan dan Ia lakukan. Di dalam kehidupan kita sebagai makhluk daging, tidak ada satu pun dari kita yang dapat menjalankan hukum Allah dengan sempurna. Tetapi hukum Allah harus menjadi "pola" dari kehidupan kita. Kita diperintahkan untuk "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (2 Petrus 3:18), pola kehidupan kita mengikuti hidup Kristus akan lebih sempurna sejalan dengan bergantinya tahun.
Biarlah Allah membantu anda untuk mengikuti teladan AnakNya di dalam mematuhi hukumNya. Dan biarlah anda, melalui penyerahan dan kepatuhan diri, mengembangkan karakter Allah. Oleh karenanya, dengan belas kasihNya melalui pengorbanan Kristus, dan melalui penyerahan diri yang total biarlah anda membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri anda melalui Roh Kudus, maka anda akan diberikan hidup yang abadi di dalam Kerajaan Allah!